Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Melanjutkan rencana


__ADS_3

...💖💖💖...


"Maaf bos, kami tidak tahu jika kami di ikuti."


"Alasan saja kalian!" Aji geram di buatnya.


Prang.


Aji memukul guci yang ada di dekatnya dengan tongkat yang ada di tangannya.


"Bodohnya aku, mempertahankan anak buah yang bodohhhh seperti kalian!" Gumam Aji.


"Kami bodoh juga karena bos, memberikan perintah tanpa memberi tahu kami. Jika orang yang harus kami hadapi adalah Tuan Pram."


Aji menatap tajam pria yang bicara padanya, "Berani kau mengatakan anak sialannn itu Tuan? Siapa yang sebenarnya membayar mu, hah!" Bentak Aji dengan matanya yang menatap tajam.


"Saya memilih berhenti bekerja dengan bos. Apa yang saya dapatkan, tidak sesuai dengan tenaga yang saya ke luarkan untuk bos!" Pria itu melengos begitu saja meninggalkan Aji.


"Sialannn kau ya!" Aji mengepalkan tangannya dengan matanya yang hendak ke luar.


"Kalo begitu, saya juga bos! Saya mengundurkan diri dari bodyguard bos!" Pria yang satunya mengikuti langkah temannya.


Aji berteriak dengan memukulkan tongkatnya ke setiap benda yang ada di dekatnya.


"Waaaaaa, sialannn kalian. Anak buah tidak becussss!"


Brak brak prang prang prang.


Aji yang tidak lagi sekaya dulu, namun masih dengan hati yang keras, berusaha untuk mengguling kan Pram dari perusahaan miliknya yang kini sudah di kuasai Pram.


Namun sayangnya, rencana yang sudah Aji susun, tidak berjalan sebagai mana dengan apa yang sudah ia rencanakan.


Pria berbadan besar itu masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di halaman rumah Aji.


Pria itu bicara dengan seseorang di telpon, sambil duduk di belakang kemudi, "Saya sudah menjalankan apa yang bos perintahkan."


[ "Kerja bagus. Bagai mana dengan teman mu!" ] Tanya seseorang dari sebrang sana.


"Sedang melangkah ke luar meninggalkan rumah besar bos." Ucapnya dengan matanya yang tertuju pada temannya.


[ "Kalian masih ingat kan apa yang sudah aku perintahkan pada kalian!" ]


"Tenang saja bos. Kami akan menjalankannya."


Kini ke duanya menjalankan apa yang sudah di tugaskan bos baru mereka.


...🍂 Gedung pencakar langit 🍂...


Pram tengah sibuk dengan setumpuk berkas yang ada di atas meja kerjanya.


Ceklek.


Dev masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.


"Ada apa lagi, Dev?" Tanya Pram tanpa menoleh ke arah seseorang yang masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Orang ku sudah berhasil menggagalkan rencana Tuan Aji, Tuan." Ucap Dev dengan berdiri di depan meja kerja Pram.

__ADS_1


"Bagus. Ada lagi selain itu?"


"Tidak ada, semua berjalan dengan lancar."


"Bagai mana dengan villa yang aku minta? Sudah berdiri dengan sempurna?" Pram menutup berkas yang ada di hadapannya, menatap Dev dengan penuh selidik.


"Untuk pembangunannya, akan selesai dalam waktu 3 hari, Tuan."


"Bagus, kerjakan dengan sempurna." Oceh Pram, "Ingat Dev! Aku tidak ingin ada yang kurang dalam peroses pembangunan itu!" Pram menekankan kembali pada Dev akan villa yang kini tengah di bangun.


Dev melirik pergelangan tangannya, "Maaf Tuan, sudah waktunya untuk menghadiri meeting di luar.


"Kau siapkan berkasnya." Pram beranjak dengan mengenakan jasnya.


"Semua sudah siap, Tuan."


Pram berjalan di depan dengan Dev yang berjalan di belakangnya.


Pram dan Dev melakukan meeting dengan kliennya di resto yang terdapat di bangunan itu juga.


...🍂 Sekolah Naira 🍂...


"Waktu kalian tersisa 5 menit lagi ya! Ayo cepat kerjakan tugas kalian dengan teliti!" Ucap pak Asep dengan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Singkat amat si pak waktunya!" Ujar Juni.


"Yah elah, waktunya di perpanjang 10 menit aja lagi pak!" Keluh Novi.


"Sudah sudah, jangan banyak bicara kalian. Waktu terus berjalan, jangan buat ke ributan ya!"


Naira beranjak dari duduknya dengan menyantel kan tas di bahunya, membawa serta lembar jawaban dan soal ke meja guru yang berada di depan.


Naira hanya melambaikan tangan nya ke arah Novi dengan senyum di bibirnya.


Serli mengoceh dengan kepalanya yang ia condong kan ke belakang sedikit.


"Berisik lo! Siapa suruh lo gak belajar semalam!"


"Kampretttt lo, gw kan kudu ke kedei. Emang lo kaga pake nyari duit lagi!" Elak Novi mencari alasan padahal setelah pulang dari kedei ia tidak langsung pulang, melainkan menyempatkan diri untuk makan bersama dengan Haikal.


Kini Serli beranjak dari kursinya dengan membawa serta tas di punggungnya, lembar jawaban dan lembar soal di tangannya.


"Ah kampretttt lo pada, ninggalin gw!" Keluh Novi.


"Novi! Kamu sudah selesai? Ayo cepat kumpulkan ke depan!" Pak Asep menatap tajam pada Novi.


"Dikit lagi pak!"


Naira dan Serli menunggu Novi di depan kelas, dengan duduk di kayu panjang yang di jadikan kursi.


'Kelas adem banget ya sekarang." Serli menyapu pandangnya pada lapangan yang terdapat di depannya.


"Dih lo mah, kelas dari dulu juga udah adem. Kan pake pendingin ruangan. Gimana sih lo!" Ucap Naira dengan tangannya yang merogoh hape dari saku roknya.


"Bege lo! Bukan itu maksud gw! Setiap kelas juga adem ada pendingin ruangan."


"Terus maksud lo, adam karena apa?" Tanya Naira dengan tangannya yang mengetikkan pesan pada layar hape-nya.

__ADS_1


"Bang Haikal di depan kan?" Pesan yang Naira kirim untuk Haikal.


"Iya Nona, saya di depan bersama dengan Dega."


Serli menolehkan wajahnya ke arah Naira, "Adem karena sekarang gw gak perlu lagi liet muka Ratna yang selalu cari masalah ke lo!"


Bersamaan dengan Novi yang baru saja ke luar dari kelas. Dengan ke dua tangannya yang langsung merangkul di bahu Serli dan Naira.


Novi berujar dengan suaranya yang di buat pura pura menangis. "Kalian tega banget sih gays, ninggalin gw di dalam sendirian hiks hiks hiks!"


"Lebay lo! Lo di dalam juga gak sendirian, masih ada yang laen kan!" Serli dan ke duanya kini beranjak meninggalkan depan kelas menuju gerbang sekolah untuk melanjutkan kegiatan mereka masing masing.


"Gw duluan ya gays, jemputan gw udah nyampe noh!" Serli menunjuk ke arah mobil yang sudah terparkir tidak jauh dari gerbang.


"Ok, hati hati lo!" Seru Naira.


"Lo mau ikut gw sekalian gak, Nov? Mumpung gw lagi baik nih, nawarin lo buat bareng!" Serli berdiri di depan pintu mobil yang sudah ia buka.


"Kaga deh, lo duluan aja!" Tolak Novi.


"Yo wis lah kalo gitu! Gw duluan ya gays!" Serli masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya, tidak lama pak Mamat melajukan mobilnya menunggalkan sekolahan majikannya.


"Gw bareng lo kan Nai?" Novi mengerlingkan matanya pada Naira.


"Lo cacingan apa sakit mata, Nov?" Ledek Naira dengan bergidik ngeri melihat tingkah Novi.


"Sialannn lo, gw lagi ngerayu lo ini ceritanya!" Novi menyenggol lengan Naira dengan lengannya.


"Ya, gw juga sekalian nih mau ke kedei. Melanjutkan rencana yang tertunda."


Novi mengerutkan keningnya, "Rencana apaan?"


Naira dan Novi menyebrangi jalan dengan di bantu Haikal yang ikut menghampiri ke duanya. Membantu ke duanya menyeberangi jalan hingga sampai di mobil dengan selamat.


Naira dan Novi duduk di kursi belakang.


"Kita ke kedei ya, bang!" Ucap Naira pada Haikal yang berada di belakang kemudi.


"Siap Nona." Jawab Haikal dengan melirikkan matanya pada Novi lewat kaca spion mobil.


"Nona Muda lo bukan Novi ege!" Ledek Dega yang menangkap lirikan Haikal untuk Novi.


"Sialannn lo!"


Belum lama mobil yang membawa Naira melaju, Haikal mengerem mendadak.


Ciiiit.


"Awh."


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2