Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Memancing curiga


__ADS_3

...💖💖💖...


"Setelah ini, tamat lah riwayat mu Nona Harumi!" ucap Pram dengan penuh penekanan.


Dreet dreet dreet.


Ketenangan Pram yang sedang mendengar suara teriakan Harumi terusik, saat hapenya yang ada di saku celananya bergetar.


"Siapa yang berani mengganggu ke tenangan ku!" gerutu Pram dengan mengeluarkan hapenya dari dalam saku celananya.


Keningnya mengkerut, melihat nama yang terpatri di layar hape-nya, "Ada apa Zang menghubungi ku? Apa mungkin Naira sudah siuman?" gumam Pram.


"Kapan kau akan kembali ke rumah sakit, ka?" tanya Zang dengan ketus.


"Setelah aku puas menyiksaaa Harumi, ada apa? Apa istri ku sudah siuman?" tebak Pram dengan suara yang datar.


"Tidak, istri mu masih belum sadar kan diri. Tapi hape yang ada di atas nakas, dari tari berdering terus, dari tadi notifikasi chat juga masuk terus." ucap Zang.


"Biar kan saja. Kalo perlu, kau bisa menonaktifkan hapenya." ucap Pram dengan santainya.


Zang yang ada di sebrang sana, dapat mendengar suara teriakan Harumi meski hanya sesaat.


"Apa kau membiarkan wanita itu di siksaaa ka Takeshi?" tebak Zang.


"Menurut mu, apa aku akan menyiksanya secara langsung?" Pram bertanya balik pada Zang.


Zang membuang nafasnya dengan kasar, "Sudah lah, tidak ada guna nya berbicara dengan mu ka! Dah... aku hanya ingin menyampaikan itu." Zang langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Anak itu selalu saja mau tau urusan ku!


Pram beranjak dari tempatnya, ia memasuki sebuah ruang, yang tampak senyap dengan dinding kedap suara.


Ruangan yang terdapat satu kursi goyang, Pram pun langsung mendaratkan bobot tubuhnya di kursi goyang itu, menyandarkan punggung dan kepalanya, dengan tangannya yang menempelkan benda pipih miliknya ke telinganya, setelah sebelumnya mendiel nomor Haikal.


Tidak berapa lama dering tunggu menggema, indra pendengaran Pram langsung dapat mendengar suara Haikal.


[ "Bos, untung saja bos menelpon saya... saya dengar dari Dega, Nona Muda mengalami kecelakaan... bagai mana dengan ke adaan Nona Muda, bos?" ] tanya Haikal yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa cemasnya.


Pram mengerutkan keningnya, "Aku belum mengajukan pertanyaan dengan mu, kau sudah mencecar ku dengan pertanyaan pertanyaan tidak bermutu mu itu hem!" sungut Pram yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa kesalnya, mendengar Haikal yang begitu perhatian pada Naira.


Pram membatin dengan tangan yang mengepal, memancing curiga ku saja! Jangan jangan Haikal juga menyukai Naira ku! Enak saja! Tidak bisa di biarkan!


[ "Iya, maaf bos... saya tidak bermaksud memburui bos... jadi ada apa bos? Apa ada perintah yang harus saya lakukan?" ] tanya Haikal.


"Bagai mana dengan Daren? Apa bocah tengik itu sudah mengakui, apa alasan ia melakukan hal sekejiii itu pada Naira?"


[ "Masih berkilah bos, namun dari bukti yang kami temukan. Tuan Muda Daren menjurus pada perasaan suka pada Nona Muda. Dengan kata lain... Tuan Muda Daren, memiliki perasaan pada Nona Muda." ] terang Haikal.


Tidak seperti biasanya, suara Pram tampak terdengar meragu di indra pendengaran Haikal, saat Pram mengutarakan ke putusannya pada Haikal.


"Aku ada tugas untuk mu, habisiii Daren. Jika dia masih bersikeras memiliki rasa pada Naira! Tapi jika dia sudah menyerah dengan perasaannya, kirim dia ke Belanda!"

__ADS_1


Haikal tidak langsung mengiyakan perintah Tuannya, justru Haikal memberikan pertanyaan pada Pram.


[ "Apa bos yakin? Lalu bagai mana dengan Tuan besar, bos? Tuan besar juga sudah menghianati bos. Jika di biarkan tetap berada di Indonesia, saya khawatir dengan nyawa Nona... bisa saja suatu hari nanti, Tuan besar Aji masih mengincar Nona Muda!" ]


Pram menajamkan pandangannya, aku tidak bisa... membiarkan nyawa Naira dalam bahaya untuk yang ke dua kalinya.


"Kalo begitu, kau urus Aji dan Daren untuk terbang ke Belanda, pastikan ke duanya tidak bisa kembali menginjakkan kakinya di Indonesia." ujar Pram dengan tegas, tanpa ada gurat ke raguan di hatinya.


[ "Akan segera saya laksanakan, bos. Tapi bos... maaf jika saya ingin tahu, saya hanya mencemas kan keadaan Nona Muda, tidak ada maksud lain!" ] ujar Haikal yang ingin tahu ke adaan Nona Muda-nya.


"Benar tidak ada maksud lain?" tanya Pram dengan penuh selidik.


[ "Tuan, saya sudah menganggap Nona Muda itu sebagai adik saya. Saya masih tahu batasan saya, Tuan!" ] ucap Haikal dengan sungguh sungguh.


"Dokter sudah melakukan tindakan operasi, hanya saja Naira masih dalam pengaruh obat bius. Aku masih harus menunggu, beberapa jam ke depan untuk ia membuka ke dua matanya." terang Pram.


[ "Semoga Nona akan baik baik saja Tuan, aku yakin... Nona Muda bukan wanita yang lemah, yang mudah menyerah dengan ke adaan. Nona salah satu wanita yang tegar, yang pernah aku temui setelah Sesil." ] ujar Haikal.


"Aku tahu itu! Apa ada masalah dengan kedai?"


[ "Tidak ada masalah dengan kedai, Tuan." ]


"Ya sudah, kalo begitu. Aku ingin penerbangan Daren dan bapak tua bau tanah, segera kau urus! Saat aku kembali ke Indonesia... aku tidak ingin melihat wajah ke duanya!"


[ "Siap bos." ]


Pram memutuskan sambungan teleponnya. Menyimpan kembali hapenya di dalam saku celananya.


Pintu ruangan Pram, di ketuk dari luar oleh seseorang.


"Ini aku, ka!" suara Takeshi terdengar dari luar pintu.


"Masuk lah!"


Pram membiarkan Takeshi memasuki ruangan Pram, ruangan yang tidak terlalu besar, namun mampu memberikan rasa nyaman bagi orang yang ada di dalamnya.


Takeshi berdiri di depan Pram, melihat pria yang ia hormati, tengah duduk bersandar pada kursi goyang.


"Apa kau sudah menjalankan tugas mu pada wanita itu?" tanya Pram dengan menatap datar Takeshi.


"Untuk soal itu, kaka tidak usah khawati. Aku sudah membuatnya tidak lagi berdaya, ahahaha." ucap Takeshi dengan tergelak, "Wanita itu bahkan tidak akan bisa beranjak dari atas tempat tidur untuk beberapa hari ke depan." tambah nya lagi dengan bangga.


Pram langsung beranjak dari duduk nya, "Bearti sekarang sudah waktu nya untuk ku, memberikan pelajaran pada Nona Harumi!" ucap Pram dengan tatapan memburu.


Takeshi mengerutkan keningnya, "Apa maksud ka Pram? Bukannya ka Pram sudah menyerahkan wanita ular itu pada ku? Membiar kan aku yang mengurusnya?" cecar Takeshi.


Pram menepuk bahu Takeshi dengan tatapan yang datar, "Anggap itu bonus untuk mu, karena sudah berhasil membawa wanita itu pada ku! Impas kan! Aku cukup adil ke pada mu?"


"Apa boleh aku meminta wanita itu untuk ku?" tanya Takeshi dengan menatap dalam mata Pram, aku tidak mungkin membiarkan ka Pram menghabisiii Harumi, karena aku sudah lama mengincar wanita itu, wanita yang sulit untuk aku dapatkan, tapi lewat ka Pram... dengan mudah aku memilikinya.


Pram menyeringai, "Sejak kapan kau menyukai wanita ular itu? Apa tidak ada wanita baik baik... yang bisa kau jadikan teman hidup mu?"

__ADS_1


Takeshi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia mengikuti Pram yang berjalan meninggalkan ruangan itu. Terus mengikuti langkah kaki Pram tanpa bertanya.


"Sejak lama aku menyukainya ka, tapi untuk menjadikan dia wanita ku... rasanya tidak ka, aku hanya akan menjadikannya salah satu mainan ku. Mainan yang dapat aku jadikan tambang emas, sekaligus juga menjadi pemuasss ranjang bos berduit yang datang ke bar." terang Takeshi.


"Terserah kau saja lah. Tapi jika aku dengar ia berhasil lolos, dan aku melihatnya ada di depan mata ku, jangan salahkan aku jika senjata api ku yang berbicara." ucap Pram dengan tegas.


Dengan senang Takeshi mengiyakan perkataan Pram, "Aku setuju ka! Aku tidak akan membiarkan wanita itu lolos dari tempat ini. kaka tenang saja! Aku akan menjadikan hidup bagai di neraka untuk Nona Harumi."


Takeshi membuka pintu, kamar yang ia jadikan tempat untuk menyiksa Harumi.


Pram melangkah masuk di ikuti Takeshi, Pram menatap sinis pada Harumi yang tergeletak di atas ranjang dengan tubuh yang di tutupi selimut. Nampak pakaian Harumi yang tidak lagi berbentuk, tergeletak di lantai.


Takeshi menyeringai, ka Pram pasti sangat puas dengan hasil karya ku!


Sreek.


Pram menyingkap selimut yang menutupi tubuh polos Harumi


Pram menatap datar tubuh polos Harumi, dengan ke dua tangan yang terikat. Tanda ke pemilikan dan jejak kuku yang melukai permukaan kulit juga nampak di beberapa bagian tubuh Harumi yang mulus.


Takeshi mengarahkan wajah tidak sadarkan diri Harumi pada Pram, nampak wajah harumi yang lebam. Bagian tangan serta kaki nampak lebam.


Pram mengerutkan keningnya, "Apa kau sekasar ini, saat bermain dengan wanita?" tanya Pram pada Takeshi.


Pram meminta Takeshi, untuk menitupi tubuh polos Harumi dengan selimut, dengan isyarat mata dan tangan.


"Tentu saja tidak... bagi wanita yang benar benar ingin aku jajahi tubuhnya ka, tapi ka... wanita ini menolak ku, terpaksa lah aku bermain kasar. Dan satu lagi ka, ternyata wanita ini sudah tidak perawannn ka!" terang Takeshi.


"Untuk apa kau mengatakan itu pada ku? Kau pikir aku perduli?" sungut Pram.


"Ya kali ka Pram ingin tahu."


Pram melangkah ke luar meninggalkan ruang, di mana Harumi masih terkulai tidak sadar kan diri.


Ke duanya memutuskan kembali ke rumah sakit, Pram nampak gusar. Ia terus memikirkan Naira.


"Kau tahu ka, ternyata Nona ular itu cukup kuat juga bermainnya. Aku sampai butuh waktu untuk membuatnya ke'yok." terang Takeshi dengan sesekali melirik kan matanya pada Pram.


"Berapa lama aku harus menahan diri untuk tidak menyentuh mu, sayang!" gumam Pram kecil.


Takeshi yang masih mendengar gumaman Pram, malah tergelak.


"Ahahahhaa sabar ka... belum ada satu hari, biarkan kaka ipar istirahat sejenak. Setidaknya sampai kaka ipar sembuh dan luka jahitan di punggungnya mengering." cerocos Takeshi.


Tak.


"Awhh."


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


__ADS_2