Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Harus sadar diri


__ADS_3

...💖💖💖...


Memberikan sensasi kenikmatan yang baru ku rasa dari sentuhan tangan pria yang kini jadi suami kejam ku, kadang eror kadang baik.


Pram menye sap gundukan kembar dan menggigitnya, memberinya tanda kemerahan.


Tok tok tok.


Suara pintu di ketuk.


Mata ku tertuju pada pintu yang saat itu di ketuk, alhamdulillah dewa penyelamat ku datang tepat pada waktunya. Tapi apa ini, ada yang mengganjal di atas pangkal paha ku.


Siallll ada saja pengacau! Tidak tahu apa! Adik kecil ku sudah mengeras meminta pelepasan!


Pak Pram menatap wajah ku dengan kesal, kenapa bocah ini selalu beruntung di saat aku akan menerkamnya!


"Emmm pak, sepertinya ada yang mencari bapak itu!" Ku tarik sudut bibir ku dan memperlihatkan sederet gigi putih ku.


Namun salah dalam artian pak Pram.


"Awas kau ya! Mau mengejek ku! Hem!" Seru pak Pram sembari bangkit dari tubuh ku.


"Siapa juga yang mengejek mu, pak!" Aku duduk dan merapihkan pakaian ku kembali.


Tok tok tok.


"Tuan, ada Tuan Aji di bawah!" Tidak hanya ketukan pintu, kini seruan pak Dedi juga menggema.


"Iya! Aku mendengarnya!" Pak Pram berteriak menanggapi pak Dedi yang memanggilnya.


"Tunggu di sini!" Serunya yang lantas pergi untuk membuka pintu di saat diri ku sudah rapih dengan seragam ku kembali.


Ku tatap dan ku sentuh dada ku yang kini berselimut seragam, kenapa ada rasa nyeri ya? Apa yang baru saja pak Pram lakukan pada ku? Hampir saja aku terbuai, aku masih tidak rela jika pak Pram menyentuh ku di saat ia masih berhubungan dengan wanita lain.


Sadar Naira, siapa aku dan siapa pak Pram, kau harus sadar diri akan posisi mu saat ini.


Ku gelengkan kepala ku yang penuh kekacauan, "Ihs siapa juga yang mau pergi." Ketus ku, sambil menunggu pak Pram ku ambil hape ku yang semalam baru di belikan rubah tua.


Jari ku berselancar di hape melupakan apa yang sudah pak Pram lakukan pada ku, wah ternyata sudah ada kartu simnya, apa rubah tua itu yang menyimpannya?


Ceklek.


"Bosnya aku atau kau?" Tanya pak Pram di saat pintu sudah ia buka.


Haduuuh, sepertinya aku sudah membangunkan singa yang sedang kelaparan. "Maaf pak, di bawah ada pak Aji." Ujar Dedi.


"Jika dia butuh, suruh dia menunggu!" Seru pak Pram yang lantas menutup pintu dengan keras.


Brak.


"Mengganggu saja!" Gerutu Pram.


Dedi mengurut dadanya sambil berjalan meninggalkan kamar Pram, dassarrr Tuan sedeng, tidak bisa apa menutup pintu dengan pelan.


.


Pram memperhatikan Naira yang sedang bermain hape dengan duduk di pinggiran kasur dari ujung rambut sampai ujung kaki, usianya masih terbilang muda, tapi siapa sangka di balik seragamnya memiliki ukuran yang lumayan memuaskan ku, "Apa kau serius ingin pergi ke sekolah?" Tanya pak Pram mengagetkan ku.


"Serius lah! Masa aku bercanda." Ujar ku.


"Aku mandi dulu, jangan ke mana mana!" Serunya yang lantas menutup pintu bathroom.

__ADS_1


Apa pak Pram akan mengizinkan ku ke sekolah?


Ceklek.


Baru pintu tertutup sudah di buka lagi dengan kepala pak Pram yang menyembul ke luar.


"Awas ya, jika kau berani meninggalkan kamar ini! Tau sendiri akibatnya." Ucap pak Pram.


Rupanya hati kecil Pram masih belum bisa terima dengan kebodohannya yang langsung ke luar dari kamar dan mencari Naira yang tadi tidak ia lihat saat bangun tidur.


"Sudah mandi sana, rubah tua!" Seru ku santai.


"Aku tidak main main dengan perkataan ku, Naira!" Serunya lagi.


Bugh.


Ku lempar bantal ke arah pak Pram namun sayangnya tidak mengenainya dan jatuh di lantai.


"Bawel! Aku tidak mau telat ke sekolah, pak!" Seru ku kesal.


Bugh.


Pak Pram menutup pintu bathroom.


Di dalam bathroom Pram langsung melepas pakaian yang melekat di tubuhnya dan membiarkan air dingin yang berasal dari shower membasahi tubuhnya yang atletis, sembari tangannya menuntaskan has ratnya dengan bermain solo.


"Aku pasti sudah gila, menginginkan gadis itu untuk menjadi milik ku seutuhnya!" Gumam Pram.


Pram menarik sudut bibirnya ke atas, tapi tidak ada salahnya aku menginginkan gadis itu, dia kan istri ku, di mata agama dia istri ku yang sah. Maka aku berhak atas apa yang ada pada tubuhnya. Pram membenarkan apa yang ada dalam pemikirannya


Di dalam kamar.


Aku sedang membuka grup chat yang di dalamnya hanya ada aku, Serli dan Novi.


Serli


Lo masuk kan Nai?


Novi


Harus masuk lo Nai, ada banyak pertanyaan di otak gw yang harus lo jawab.


Serli


Gw juga, ada banyak pertanyaan yang seliweran di kepala gw.


Novi


Pokonya nanti kita ketemu di sekolah.


Serli


Mana sih ini bocahnya!


Novi


Masih tidur kali.


Serli


Apaan? Gak sholat subuh lo?

__ADS_1


Novi


Gw lagi bolong.


Naira.


Berisik lo pada, masih pagi udah nyampah di chat.


Serli


Panjang umur lo.


Naira


Gw gitu.


Novi


Jangan kabur lo Nai dari kita.


Serli


Gw aja kali, lo gak!


Novi


Sialannn lo, Ser.


Naira


Sebodo lu pada.


Lagi asik ngerumpi di chat. Ada sepasang kaki yang besar dengan bulu harus di betis, buliran air yang menempel di kakinya, tanpa di intruksi mata ku menelusuri sampai handuk yang melilit di pinggang orang yang habis mandi itu.


Saliva ku sulit tertelan saat ku lihat perut kotak kotak seakan menggoda iman ku.


Pak Pram tersenyum melihatnya dan menarik satu tangan ku dan mengarahkannya pada perutnya yang membentuk roti sobek.


"Bilang saja terus terang jika kau itu ingin menyentuhnya! Bagus kan bentuk perut ku ini!" Serunya yang mengatakan dengan gamblang pada gadis polos imut seperti ku.


Ku tarik tangan ku dari perutnya dan ku palingkan badan, "Pak Pram apa apaan sih! Pake baju tuh sana! Gak sopan berdiri di depan anak gadis pake handuk doang. Ujar ku ketus dengan wajah bersemu, jantung ku kenapa ya? Berdegup dengan kencang, kaya abis lari maraton.


Ku lihat pak Pram meletakkan handuknya di atas kasur tepat di samping ku duduk.


Gila pak Pram gak punya malu.


"Pak Pram kenapa pake baju di sini? Kan ada walk in closed, kenapa gak pake di sana aja?" Satu tangan ku menunjuk ke arah walk in closed.


"Memang siapa tadi yang menyiapkan baju kerja ku dan menaruhnya di atas kasur?" Tanya pak Pram santai sambil mengenakan pakaiannya.


Ah kenapa aku jadi bodohhh gini ya! Itu kan aku sendiri yang menaruhnya di sini.


Pak Pram berbisik di telinga ku, "Sepertinya kau harus terbiasa dengan bibir ku ini!"


"Apa?"


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊

__ADS_1


No komen julid nyelekit


__ADS_2