
...💖💖💖...
Pram menatap dengan tajam, "Masih berani kau bertanya soal materi pekerjaan di saat aku tengah gelisah! Heh!" Serunya dengan suara dingin.
Dev membuang mukanya perlahan, aiiih salah lagi saya ini di depan bos yang lagi bucin... Nona Naira lain kali anda harus ikut ke mana pun Tuan Muda pergi.
Pram melirik jam tangan bermerek yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, apa saat ini bocah nakal itu memikirkan ku? Awas saja jika bocah itu tidak memikirkan ku, akan aku beri dia pelajaran, beraninya tidak merindukan ku! Apa hanya aku saja yang merindukannya? Tidak tidak tidak, itu tidak boleh terjadi pada ku.
Pergulatan batin Pram membuatnya terlihat aneh dan jika saja bukan Dev yang sedang duduk bersamanya, besar kemungkinan orang akan menilai Pram setengah waras, dengan bibir yang komat kamit mesti tidak bersuara dan sesekali menggelengkan kepalanya dengan kasar, membuat Pram terkesan gilaaa.
"Huuuuh." Dev membuang nafasnya kasar mendapati tingkah bosnya, bila singaaa tengah di mabuk cinta, orang yang waras pun jadi kurang, kurang obat, kurang bisa berfikir secara rasional, heh... rasional anda lenyap tuan.
"Awas kau berani merutuki ku!" Dumel Pram yang melirik dev tengah kedapatan menatap jengah bosnya.
"Bos, lebih baik bos tidur saja... saat pesawat landing pasti akan saya bangunkan!" Dev memberikan saran pada bosnya Pram.
Pram menatap dengan tajam dan kening mengkerut, "Tumben ide. mu ini pintar?"
Bugh bugh bugh.
Pram menepuk bahu Dev dengan senyum yang merekah, "Kali saja aku bisa bertemu dengan bocah nakalll itu!"
Dev mengerutkan keningnya, kan Nona Naira sedang tidak di sini, bagai mana bisa Tuan Pram bertemu dengan Nona Naira? Apa aku salah memberikan pak Pram ide? "Maksud anda, pak?" Tanya Dev dengan bingung.
Pram melipat kedua tangannya di depan dada, "Dasar bodohhh, makanya pakai otak mu biar bisa berfikir secara rasional, aku akan bertemu dengan istri nakal ku lewat mimpi lah! Memang mau lewat mana lagi!" Pram meledek Dev.
"Apa?" Dev terperengah, dasarrr bos gilaaa, bukannya dia manusia yang tidak berfikir secara rasional? Kenapa sekarang jadi aku yang terkesan bodoh?
Pram memejamkan matanya, tidak berselang lama Dev mendengar suara dengkuran halus dari bibir tajam Pram.
"Saking saja bos ku! Kalo bukan, sudah ku depakkk kau pak dari pesawat ini!" Gerutu Dev.
Dengan ke dua mata yang terpejam, Pram meracau, "Berani kau mengumpat ku, heh!" Suara Pram terdengar tegas di telinga Dev.
Dev membola, hah? Masih tidur saja berani mengumpat ku? "Ti- tidak pak, sa- saya hanya sedang bergurau!"
Pram meracau lagi, "Dasarrr kau bocah nakalll, jangan lari kau ya dari ku! Jika berhasil ku tangkap, ku telan kau!"
Dev bernafas lega, "Huuuh, ku pikir pak Pram sedang menggerutu pada ku, ternyata orang kejammm ini sudah berada jauh dalam mimpinya." Dev geleng geleng kepala melihat bos nya Pram yang tertidur dengan meracau.
Dev melambaikan tangan kanannya ke depan wajah Pram dengan memanggil nama bosnya serta, memastikan jika benar bosnya sudah terlelap tidur.
__ADS_1
"Tuan! Tuan Pram? Apa anda mendengar saya, Tuan!"
Huh, aku bisa tidur sejenak lah. Dev pun ikut memejamkan matanya untuk sesaat.
🍂Di tempat lain 🍂
Pelajaran di mulai kembali, pak Didi yang mengisi jam pelajaran pun memasuki kelas Naira dengan buku paket di tangannya.
"Siang anak anak!" Seru pak Didi yang berdiri di depan kelas, membelakangi papan whaitbord.
"Siang, paaaaak!" Seruan para siswa siswi.
"Sebelum bapak memulai pelajaran, tolong Ratna dan Naira ke ruang guru sekarang juga!" Perintah pak Didi dengan tegas.
"A- apa, pak? Sa- saya di panggil ke ruang guru?" Tanya Ratna dengan terbata bata.
Sopur menoleh ke arah Ratna, "Lo buat masalah apa lagi?" Tanya sopur dengan suara yang pelan.
"Buat apa ya, pak?" Tanya Naira.
"Biar nanti bu Rita yang akan mengatakan langsung pada kalian, sekarang kalian boleh meninggalkan kelas!" Ucap pak Didi yang tidak ingin mendengar bantahan dari ke dua murid nya.
"Kenapa lo di panggil, Nai?" Tanya Novi dengan tatapan bingung.
Naira beranjak dari tempat duduknya dengan bantuan tongkat penyanggah, gw gak akan tau permasalahannya kaya apa kalo gw belum ke temu sama bu Rita.
"Oke deh pak, biar saya tanyakan langsung sama bu Rita... saya permisi ya pak!" Seru Naira yang berjalan lebih dulu.
"Jika urusan mu dengan bu Rita sudah selesai, harap kembali ke kelas ya, Nai!" Pak Didi mengingatkan Naira.
"Siap, pak!"
Pak Didi menatap punggung Naira yang ke luar dari kelas, entah apa lagi ujian mu Nai, malah sebentar lagi ujian sekolah.
Ratna masih bergeming di tempat duduknya dengan ke dua tangan yang saling meremasss, duh gw harus bisa cari alesan ini, jangan sampe gw di hukum, bukan gw yang salah, salah bu Rita sendiri kenapa pake ada di toilet putri dan bukan ke toilet guru.
Daren menatap curiga pada Ratna, ada yang gak beres ama itu anak! Kenapa juga wajahnya jadi pucat pasi gitu!
Pak Didi berjalan ke meja guru, mendapati Ratna yang masih berada di dalam kelas, "Ratna, tunggu apa lagi?" Pak Didi menatap Ratna dengan menggelengkan kepalanya, "Cepat ke ruang guru dan temui bu Rita!" Seru pak Didi.
Ratna tidak bergeming, Sopur pun berinisiatif untuk menepuk lengan Ratna dengan berkata, "Ratna!"
__ADS_1
Prak prak prak.
Dengan spontan Ratna bangkit dari duduknya sambil berkata dengan kencang, "Iya bukan gw!"
Pak Didi yang melihatnya semakin mengerutkan keningnya dengan sorot mata yang tajam, anak ini masih belum ada kapoknya.
Anak anak yang lain menyorakinya, "Wuuuuuuu!"
Suara sorakan teman temannya membuat Ratna tersadar, mampusss gw.
Ratna bertanya pada Sopur lewat gerakan kepalanya, apa yang terjadi?
"Mending lo ke ruang guru gih, lo udah di tunghuin bu Rita... Naira juga udah jalan ke sana ko!" Seru Sopur.
Tanpa permisi lagi, Ratna menghentakkan kakinya dengan kasar dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang guru.
🍂Di gedung pencakar langit 🍂
Seorang pria paruh baya sedang duduk menyandar di kursi kebesarannya dengan tangan kanan yang memegang rokok, menghembuskan asap rokoknya ke udara.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape yang ada di atas meja kerjanya bergetar.
Pria itu pun langsung menjawab panggilan teleponnya.
[ "Lapor, Tuan... saya berhasil menukarnya!" ]
"Bagus! Apa ada orang yang curiga pada mu?"
[ "Saya jamin tidak ada yang curiga, Tuan... karena ke duanya sudah take-off menuju Tokyo." ]
"Bagus! Cepat kembali dan bawa barangnya ke hadapan ku!"
[ "Baik, Tuan." ]
Kini pria paruh baya itu mematikan puntung rokok nya ke dalam asbak dengan gemas tangannya menekan bara yg menyala hingga padam.
"Jika kau tidak mau membantu ku! Lihat apa yang bisa aku lakukan terhadap mu!" Seringai licik nampak di sudut bibirnya.
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁