
...πππ...
"Gini banget ya nyari duit, mentang mentang bos. Seenaknya kasih tugas, malah gw lagi mimpi ketemu janda, hadeeeh. Janda apa kabar mu?"
Dava berkutat dengan waktu, memperbaiki hape jadul yang rusak dengan layar kaca yang retak di bawah cahaya lampu meja, dengan ke dua matanya yang terkantuk kantuk.
Sedangkan Haikal tertidur pulas di sofa, memanfaatkan waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Haikal larut dalam mimpi buruknya, setidaknya perkataan ibunya Novi sedikit mempengaruhi pikirannya.
Matanya yang terpejam, kening yang mengkerut, kepalanya yang menggeleng menunjukkan dirinya yang gelisah dalam tidurnya, bisa di bilang mimpi buruk.
Haikal berseru dengan tubuhnya yang langsung terduduk, nafasnya yang ngos ngosan, "Jangan, bu!"
Haikal menatap le sekitarnya, "Untung gw cuma mimpi!" Gumam Haikal dengan bernafas lega.
Sedangkan Dava terkejut di buat nya dan langsung menoleh dengan kening yang mengkerut, "Kenapa lo, bang?" Tanya Dava dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap heran Haikal.
"Mau tau aja lo!" Jawab Haikal dengan ketus.
"Busettt dah, galak amat... abis mimpi apa kali lo, bang!" Oceh Dava.
Haikal tidak memlerduliksn Dava dan ia beranjak ke arah kamar dan mencuci wajahnya mandi dan karena matahari sudah nampak menyinari bumi.
Haikal berdiri di depan westafel dengan menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Gw harus bisa buktiin ke ibunya Novi, kalo gw bisa di andelin, gw bukan cuma pria matang yang bisa ngandelin otot, tapi pria yang bisa bertanggung jawab. Pria yang pantas buat putrinya dan gw bukan seorang pedofilll."
__ADS_1
π Kediaman Pramanaπ
Naira dan Pram tengah menikmati sarapannya di meja makan.
Dalam diam Naira memperhatikan wajah Pram, mata panda Pram menjadi pusat perhatiannya.
Naira membatin, apa ka Pram semalam kurang tidur ya? Tapi emang iya juga sih kita kan balik dari rumah sakit aja udah jam 2 dini hari.
Pram melirik Naira, "Tanyakan saja jika kau ingin bertanya, Naira putri!" Oceh Pram.
"Ihs ka Pram mah. Kaka semalam tidur gak sih?" Tanya Naira dengan tangannya yang terulur menyuap kan nasi goreng pada mulut Pram.
"Tidur!" Pram menjawab dengan singkat dan acuh.
Naira tampak berfikir, ke dua matanya menatap Pram dengan sebal, ihs jawabnya jutek amat sih, ka Pram salah minum obat kali ya pagi ini!
"Lalu, kenapa mata kaka ada kantongnya? Itu kan artinya kaka kurang tidur!"
Pram menarik sudut bibirnya ke atas, di hatinya merasa taman bunga yang bermekaran dengan warna warni yang indan.
Pram menatap Naira, apa Naira mulai perhatian pada ku? "Apa itu bentuk kecil dari perhatian mu pada ku? Hem!!" Tanya Pram dengan senyumnya yang menggoda.
"Ihs di tanya salah, di cuwekin juga salah. Tau gitu mending aku gak usah tanya!" Gerutu Naira.
Pak Dedi yang berdiri tidak jauh dari ke duanya, namun masih berada dalam satu ruang makan di buat tersenyum dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil Nona Muda-nya.
Pak Dedi membatin, akhirnya Nona Muda menunjukkan bentuk perhatian nya pada Tuan Pram.
__ADS_1
Pram menyeringai dengan tangannya yang menggenggammm jemari Naira di atas meja.
"Aku senang kau bertanya seperti itu pada ku!" Tapi jika aku tahu siapa yang sudah memberikan benda butut itu pada mu, hingga dia jauh lebih bearti dalam hidup mu, maka kau harus terima hukumannya, Naira. Tidak ada yang boleh lebih berarti selain aku di hati mu.
"Sudah makan lah ka, bisa telat aku nanti ke sekolah kalo kaka makannya lama!" Gerutu Naira.
Pram membola, sialannn bocah ini. Yang makannya lama itu kan dia, bukan aku!
Pak Dedi membatin dengan tangannya yang menepuk jidatnya sendiri, aiiih Nona Muda... baru di puji udah gak sadar sudah membangunkan esmosi Tuan Pram.
Pram meneguk air putih yang ada di gelasnya dan menaruh gelas itu dengan kasar di atas meja dan berbunyi.
Bugh.
Naira menatap aneh Pram, "Ada apa lagi, ka?" Tanya Naira dengan wajah tanpa dosanya.
Pram beranjak dari duduknya dan berdiri di samping Naira.
"Akkkhhh." Naira berteriak.
......................
...π Bersambung π...
...πππππ...
Salam manis author gabut π
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π