Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Tidak perlu merutuki ku


__ADS_3

...💖💖💖...


Pram beranjak dari duduknya dan berdiri di samping Naira.


"Akkkhhh." Naira berteriak.


Saat ke dua tangan Pram yang kekar membawa Naira ke dalam gendongannya dan membawanya meninggalkan meja makan dengan di ikuti pak Dedi yang membawa kan tas sekolahnya Naira.


"Ka, aku belum selesai sarapannya ih!" Keluh Naira dengan tangannya yang melingkar di leher Pram, bibirnya mengerucut tajam.


"Kau sendiri yang bilang kau bisa terlambat jika aku makanya lama!" Pram menjawabnya dengan dingin.


"Emang aku bilang gitu ya?" Naira bertanya dengan polosnya dengan ujung matanya yang melirik, pura pura lupa dengan perkataannya.


Pram berseru menyebut nama pak Dedi, kepala pelayan di kediaman nya.


"Dedi!"


Pak Dedi yang sudah mengerti dengan seruan Pram pun menjawabnya.


"Benar apa yang sudah di katakan Tuan Pram, Nona Muda." Ujar pak Dedi.


"Ihs pak Dedi!" Sungut Naira sebal saat pak Dedi mengiyakan apa yang di katakan Pram.


Naira menatap Pram sebal saat dirinya di dudukkan di dalam mobil, jelas aja pak Dedi akan membela ka Pram, ka Pram kan Tuannya.


Pram hanya mengulam senyum mendengar keluhan batin Naira, dasarrr bocah.


Sepanjang perjalanan menuju sekolah Naira, Pram tidak banyak bicara. Pikirannya melalang buana memikirkan dari mana Naira bisa mendapat kan hape jadul yang menurutnya bearti.


Pram sudah mengingat hape itu, hape yang pernah dengan sengaja ia jatuhkan dari tangannya, di rebut kembali dari tangan Naira lalu dengan seenaknya, Pram hempas kan hape itu ke dinding berakhir dengan di injak dengan sepatunya tanpa perasaan hingga hape itu kini mati dan tidak berfungsi lagi. Bahkan layar hapenya retak.


Pram berfikir jika selama ini Naira sudah membuang benda rongsok kan itu, tapi siapa sangka jika ternyata Naira masih menyimpan hape itu di kedai.


Pram membatin dengan sesekali melirik Naira yang tampak masih kesal dengannya.


Apa mungkin hape itu pemberian dari kekasihnya? Miskin sekali kekasihnya, hanya memberikan nya hape butut.


Atau apa iya itu hape di berikan oleh cinta pertamanya? Ihs kenapa aku kesal sekali jika benar itu pemberian dari pacar atau kekasihnya!


Tapi apa Naira selama ini pernah menjalin cinta dengan pria lain? Atau aku, pria pertama yang dekat dengannya?


Awas saja kau Naira, jika sampai masih berhubungan dengan kekasih mu atau apa lah itu, akan aku habisiii mereka dengan tangan ku! Berani mereka bersaing dengan ku!


Tangan Pram mengepal dengan rahangnya yang mengeras, tidak rela jika pemikirannya tentang Naira itu benar adanya.


Mata Naira bertemu pandang dengan Pram, saat ke duanya sama sama ingin melirik satu sama lain.

__ADS_1


"Apa liet liet?" Sungut Naira dengan kesal, ke dua tangannya menyilang di depan dadanya.


"Siapa juga yang melihat mu! Dasarrr ge'er, kau saja yang senang melihat wajah tampan ku ini!" Oceh Pram dengan acuhnya.


Naira membola, astaga kaga salah itu? Apa tadi ka Pram bilang? Aku ge'er, ka Pram yang ge'er, dasarrr rubahhh tua gak punya malu!


Naira pura pura mengeluarkan isi perutnya di depan Pram dan berkata dengan ketus, "Uuuuwek, najong!"


Naira memalingkan wajahnya dari Pram dengan kasar, memperhati kan jalan yang mulai macat.


Dreeet dreeet dreeet


Hape Naira bergetar.


Naira merogoh hapenya yang ada di saku roknya. Ia mendapat chat dari Serli.


"Lo masuk sekolah, Nai?" Tanya Serli lewat chatnya.


"Iya gw masuk, ini lagi di jalan."


"Gw baru tau kabar Novi dari Elsa, tar lo ikut ke rumah sakit gak? Gw mau nengokin besti gw." Serli mengajak Naira untuk menjenguk Novi.


Naira tidak langsung membalas chat dari Serli, melaikan ia menoleh ke arah Pram, kalo mau nengokin Novi ke rumah sakit, bearti gw harus dapat izin dulu dong dari ka Pram, ka Pram ngizinin gak ya?


Pram menyeringai namun wajah nya tetap memandang lurus ke depan berpura pura acuh pada Naira, pasti aku akan mengizin kan mu Nai... itu pun jika kau yang memintanya dengan cara mu, apa mungkin kau akan merayu ku? Membujuk ku? Memohon pada ku?


"Pasti, kita berangkat bareng ke rumah sakit. Biar lo bareng gw aja, ok!" Balasan chat yang Naira kirim ke nomor Serli.


"Ok!"


Naira menyimpan kembali hapenya ke dalam saku rok yang tenagh ia kenakan.


Naira berdehem dan menarik nafasnya dalam dalam.


"Aku pasti bisa." Gumam Naira menyemangati dirinya sendiri.


Pram membatin dengan kening yang mengkerut, bisa apa sih anak ini.


Naira menggelayut manja di lengan kekar Pram, berkata dengan manja pula, "Ka Pram!"


Pram melirik Naira dengan senyumnya yang sinis.


"Ada apa?" Tanya Pram dengan ketus. Biar lah aku sok jual mahal dulu kalo kata anak seumuran Naira itu jaim... ia aku jaim dulu pada Naira, yah sekali kali mengerjai istri nakal ku ini tidak apa lah, hihihi.


Naira mengukir senyumnya yang paling manis menatap dalam ke dua mata Pram dengan hati yang merutuki Pram.


Dasarrr rubahhh mesummm, rubahhh gila, rubahhh tua, ga tau apa kalo aku ini lagi berusaha merayunnyaaa, jangan ketus gitu napa ya! Bikin susah aja sih! Gini banget ya, ngadepin ka Pram buat merayunya.

__ADS_1


Steet.


"Akkhh." Pekik Naira.


Dengan sekali tarikan Parm menarik tubuh Naira ke dalam pangkuannya.


Jemari Pram bergerak di belakang kepala Naira, turun hingga sampai di tengkuk Naira dan menahannya.


Pram mendekatkan wajahnya dan berseru di area leher Naira dengan hembusan nafasnya yang membuat bulu bulu halus Naira meremang.


"Jika ingin merayu, tidak perlu merutuki ku dalam hati mu, sayang!" Ucap Pram.


Naira tergagap, "Ka- Pram, a- aku si- siapa bilang aku merutuki ka Pram." Tenang Naira, tenang.. hanya ka Pram, tidak akan membuat mu mati.


"Aku tidak akan membuat mu mati, sayang! Tapi jika aku tahu kau memiliki pria lain selain aku, kau akan dengar berita kematian pria itu!"


Pram melumattt bibir Naira, menuntutnya pada ciuman yang dalam dengan menyesappp lidah Naira dan memilinnn nya, satu tangannya ia gunakan untuk meremas gundukan kembar Naira dengan perlahan.


Naira memejamkan ke dua matanya menikmati setiap sentuhannn tangan Pram dan setiapa apa yang Pram lakukan padanya, mengikuti permainan Pram dan tanpa Naira sadari tanganya bergerak liarrr di dada bidang Pram.


Dengan perlahan Dev menghenti kan laju mobil sedan putih yang di tumpangi Pram dan Naira tidak jauh dari gerbang sekolah.


Pram melepaskan pagutannya dari bibir Naira dan menyapu bibir basahhhh Naira dengan jempolnya.


"Permainan mu kurang hottt, sayang!" Seru Pram dengan menyeringai, pada hal aku berharap lebih dari ini.


Pipi Naira merona, malu di katakan itu oleh Pram.


Bugh.


Naira memukul dada bidang Pram dengan kepalan tangannya.


Naira berbisik dengan suaranya yang manja dan mendayu dayu di telinga Pram sedangkan ke dua tangan Pram membantunya merapihkan tampilan istrinya.


"Kalo mau yang lebih hottt, tunggu aja di kamar... tapi pulang sekolah aku izin ke rumah sakit jenguk Novi dan ka Ayu ya, my hubby!"


Dari luar kaca mobil di ketuk.


Tok tok tok


......................


...💖 Bersambung 💖...


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉


__ADS_2