Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Hanya mimpi


__ADS_3

...💖💖💖...


Pram menggendong Naira ke luar dari gedung bioskop, "Kalian akan baik baik saja, sayang! Ayo buka mata mu!" kalimat itu lah yang terus ke luar dari bibir Pram.


Bugh.


Bahu seseorang dengan sengaja menyenggol bahu Pram dengan cukup keras, membuat tubuh Pram oleng namun tidak membuat Pram jatuh.


Pram berlari dengan cepat, dengan membawa tubuh Naira.


"Tolong beri aku jalan!" seru Pram saat melewati remaja yang sedang berkerumun di dekat eskalator.


Security yang melihatnya langsung menghampiri Pram, "Ada apa, Tuan?" matanya tertuju pada wanita, yang ada dalam gendongan dengan perut yang mengeluarkan darah segar.


"Kita lewat pintu karyawan saja, Tuan!" seru security dengan panik.


"Kalo begitu, cepat tunjukkan jalan nya!" sungut Pram dengan menatap Naira, memperhatikan wajah Naira yang kini memucat.


Security menyeringai, menuntun Pram dengan arahannya, menelusuri lorong yang di lewati karyawan.


Pram mengerutkan keningnya, menatap ke depan hanya ada lorong kecil dan gelap.


"Apa kau tidak salah memberikan arahan?" tanya Pram dengan meragu.


"Tidak Tuan, jika Tuan mengikuti jalan ini. Ini akan membawa Tuan lebih cepat sampai di tempat ambulance berada." ucap security dengan yakin.


Pram tampak ragu melangkah, mengikuti arahan scurity. Security meyakinkan kembali Pram.


"Cepat lah Tuan, anda tidak memiliki banyak waktu. Lihat kondisi istri anda! Dia bisa ke habisan darah, itu sangat berbahaya untuk janinnya dan nyawa istri Tuan sendiri." ucap scurity.


"Kaaa! Jangan ambil jalan ini jika kaka ragu... kita lewati jalan yang biasa saja! Aku masih kuat!" ucap Naira dengan suara pelan, matanya semakin berat untuk tetap terjaga.


"Kau akan menyesal Tuan, jika tidak mendengarkan arahan ku. apa lagi di lantai bawah mall sedang ada acara musik, itu akan semakin menghambat jalan anda." ucap security lagi dengan menatap tajam Naira, kurang ajarrr wanita ini, sudah mau mati masih banyak bicara! Kalian bertiga akan mati bersama, nikmati lah ajal mu Nona.


Pram menggeleng gelengkan kepalanya, dengan yakin ia berlari menjauhi security itu dan tidak memperdulikan teriakan security.


Tap tap tap tap.


"Hai, berhenti! Anda jalan ke arah yang salah, Tuan!" teriak security dengan menyusul langkah Pram.


"Siapa yang menyuruh kalian hah! Aku akan membayar kau lebih... jika kau mau membantu ku! Berapa pun yang kau ingin kan, akan aku berikan!" ucap Pram dengan terus berlari, tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Harta mu tidak akan mampu membayar nyawa seseorang yang sudah kau habisi, Tuan!" ucap security dengan dingin, tangannya menarik lengan Pram, "Biarkan wanita itu mati!"


"Enak saja! Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada anak dan istri ku!" Pram menyingkir kan tangan security itu dari lengannya.

__ADS_1


"Ahahhaha kau akan tamat Pramana Sudiro!" suara tawa menggelegar dari security, terdengar di telinga Pram.


"Persetannn dengan kalian!" Pram terus berlari, hingga ia menerobos kerumunan pengunuung mall.


Banyak pasang mata yang melihat Pram iba, dan ada pula yang menatap sinis.


"Lewat sini, pak!" ucap seorang wanita dengan pakaian suster, saat melihat Pram ke kuar dari mall.


Mobil ambulans melanju dengan cepat, dengan suara sirine yang membengkak telinga.


Pram menggenggammm jemari Naira, mengusap peluh yang ke luar dari keningnya.


Alat bantu pernafasan juga terpasang di hidung Naira.


"Selamatkan bayi kita, ka! Aku mohon, selamatkan nyawanya!" ucap Naira dengan terputus putus.


"Kau tidak boleh berkata seperti itu! Aku pasti bisa membawa kalian ke rumah sakit. Tidak akan terjadi apa apa dengan kalian!" ucap Pram dengan ujung mata yang menitikan air mata.


Pram memarahi supir ambulans dengan suara yang lantang, "Heh supir! Cepat sedikit bawa mobilnya! Kau bodoh atau bagai mana sih! Cepat selamatkan istri dan anak ku!"


"Sabar Tuan, kami sedang mengusahakan untuk membawa istri anda ke rumah sakit!" ucap suster yang berada di dalam ambulans bersama dengan Pram dan Naira.


"Kapan sampainya, sus!" bentak Pram dengan mata yang menatap marah pada suster.


Niiiiiit.


Alat monitor jantung, yang terpasang dengan tubuh Naira berbunyi nyaring.


Membuat Pram mengerutkan keningnya, menatap bingung ke arah monitor dan wajah Naira.


"Naira... bangun! Kau harus bangun! Kau tidak boleh pergi! Bangun! Bangun Nai! Bangun! Aku tidak mengizinkan mu untuk pergi! Bangun!" teriak Pram di depan wajah Naira, dengan tangannya yang mengguncang bahu Naira.


Naira yang merasa terusik dengan tidurnya pun mengerjapkan ke dua matanya, ia dapat mendengar suara Pram yang tamoak tidak tenang.


Naira membuka ke dua matanya, menoleh ke arah Pram. Dengan ke dua matanya, Naira dapat melihat raut wajah ke takutan dari seorang Pramana Sudiro.


Naira bangkit dari tidurnya, memilih duduk sambil berusaha membangunkan Pram yang tengah mimpi buruk.


Pram yang masih terpejam, dengan bermandikan peluh sebesar biji jagung, dengan kepala yang bergerak ke kanan dan ke kiri, seakan tidak terima dengan apa yang terjadi dalam mimpinya


"Jangan, jangan pergi! Aku tidak mengizinkan mu untuk pergi!" racau Pram.


Naira menatap bingung Pram, apa yang sebenarnya terjadi dalam mimpi mu, ka? Kenapa kau tampak begitu terpuruk.


"Ka, bangun ka! Siapa yang tidak kaka izinkan untuk pergi?" Naira menepuk nepukkan pipi Pram, berusaha membangunkan Pram dari tidurnya.

__ADS_1


Pram membuka ke dua matanya, dengan posisi beranjak dari tidurnya, membuat Naira terlonjak mundur dari posisi duduknya.


"Naaaai!" teriak Pram dengan sekencang kencangnya, dadanya naik turun, deru nafas yang tidak beraturan.


"Ka? Kau mengagetkan ku!" gerutu Naira dengan mengurut dadanya.


Pram menoleh ke arah Naira, di lihatnya dengan seksama, Naira ku masih hidup?


Grap.


Pram memeluk tubuh Naira.


Cup cup cup cup.


Pram menghujani wajah Naira dengan kecupan, dengan bulir bening yang ke luar dari sudut matanya.


"Aku sangat menyayangi mu, sayang! Jangan pernah tinggalkan aku!" ucap Pram dengan memeluk tubuh Naira dengan erat.


Naira mengelusss punggung Pram, "Aku tidak kemana mana ka, tenang ya! Kan sekarang sudah ada aku." ucap Naira dengan lembut.


"Aku sangat takut Nai, mimpi itu seperti nyata." Pram melerai pelukannya, menatap wajah Naira yang tampak masih bingung.


"Itu kan hanya mimpi kaka, ke nyataannya aku masih milik mu ka! Aku masih ada di hadapan mu kan?" ucap Naira dengan yakin.


Grap.


Pram membawa Naira ke dalam pelukannya kembali.


"Pokonya aku minta pada mu, apa pun yang aku kata kan... kau sebagai istri ku harus menuruti perkataan ku, kau tidak boleh sedikit pun membantah ku! Kau mengerti itu kan?" ucap Pram dengan suaranya yang bergetar.


"Iya ka, aku akan menuruti apa yang kaka katakan. Emang kaka mimpi apa sih? Mimpi serem ya?" cicit Naira.


"Jangan banyak bertanya! Biarkan aku memeluk mu." ucap Pram.


Pram kembali terlelap, Naira yang merasakan semakin berat bobot tubuh Pram. Menidurkan Pram kembali, Naira menjadikan dada Pram sebagai bantalan kepalanya, ia merebahkan kepalanya di dada Pram, tanggannya menyapu wajah Pram yang basahhh dengan air mata.


"Aku baru tahu lo, ternyata ka Pram bisa nangis juga! Tapi aku penasaran, apa yang ada di dalam mimpi ka Pram? Kenapa ia begitu ke takutan untuk ke hilangan. Kehilangan siapa ya?" Naira memutar bola matanya, menerka nerka apa yang terjadi dengan Pram.


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


Makasih yang sudah dengan setia membaca sampe sekarang 😊😊

__ADS_1


__ADS_2