Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Berdebat


__ADS_3

...💖💖💖...


"Ka Pram! Aku masih lapar." ucap Naira dengan manja, dengan duduk menyandar di atas ranjang rawatnya.


Krukkk krukkk.


"Biar ka Pram yang lanjut menyuapi mu makan siang, kaka ipar!" Takeshi menyerahkan nampan yang berisi makan siang Naira, ke tangan Naira.


Tanpa di interuksi, Takeshi langsung merebut bingkisan yang di bawa Pram, membawanya ke sofa.


Tatapan Pram terus mengarah dingin pada Takeshi, giginya menggeretuk, sialannn ini bocah... berani beraninya mencari ke sempatan, ingin dekat dengan istri ku? Awas saja jika suatu saat kau mengikuti jejak Daren! Langsung ku habisiii kau saat itu juga!


Zang dan Toda saling tatap, melihat Pram dan Takeshi secara bergantian.


"Apa aku tidak salah lihat?" tanya Zang pada Toda.


"Aku rasa ada yang salah di sini!" cicit Toda.


"Apa kalian hanya akan diam? Tidak melanjutkan makan siang?" tanya Takeshi dengan menyantap burger yang Pram bawakan.


Naira menatap burger yang di santap Takeshi dengan tatapan yang menginginkan, menelan salivanya dengan sulit.

__ADS_1


Naira mengadah pada Pram, "Kaka, aku juga mau itu! Kenapa ka Pram tidak membelikan nya untuk ku!" rengek Naira.


Pram menatap mata bulat Naira, keningnya mengkerut, harusnya aku marah pada mu, karena tidak bisa menjaga jarak dengan Takeshi, tapi tetap saja aku tidak bisa marah pada mu! Terlebih saat ini, melihat kondisi mu yang tidak memungkinkan mu untuk mandiri.


"Kaka! Mau burger!" rengek Naira dengan manja, merasa di abaikan Pram.


"Ah? A- apa, kau menginginkan apa?" tanya Pram dengan tergagap, merasa dirinya kurang fokus.


"Ihss burger yang di makan Takeshi, kenapa kaka tidak membelikan nya untuk ku?" cicit Naira dengan mengerucutkan bibirnya.


Bugh.


Zang dan Toda menjatuhkan bobot tubuh mereka di atas sofa, menghimpit tubuh Takeshi.


"Aku juga ingin! Kaka tau aja kita udah lama gak menikmati sajian seperti ini!" cicit Toda, yang kini menyeruput minuman soda dari dalam bingkisan yang Pram bawa.


Pram berkata dengan suara yang menggema, membuat Toda, Zang dan Takeshi menatap Pram. Si pemilik suara.


"Hei kalian! Berikan sini pada ku! Apa kau tidak dengar... istri ku menginginkannya!" sungut Pram.


Toda terkekeh dengan menyikut lengan Takeshi, "Wow! Singa angot! Ini baru ka Pram, tadi bukan ka Pram ahahaha."

__ADS_1


"Tadi itu orang lain, biasanya ka Pram akan langsung main tangan pada kita, jika di antara kita... ada yang menyinggung ka Pram. Tapi apa, tadi ka Pram membiarkan ka Takeshi begitu saja." ujar Zang.


"Sialannn jadi kalian ingin melihat ka Pram memukulll ku? Yang benar saja kalian ini!" sungut Takeshi dengan menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kenapa malah mereka bertiga yang jadi berdebat? Apa mereka melupakan aku yang masih lapar? Lupa dengan jadwal ku minum obat?" gumam Naira yang masih bisa di dengar Pram.


Pram mengecup bibir Naira sekilas.


Cup.


"Aku tidak melupakan mu!" Pram menyeringai menatap Naira, lalu menatap ke tiga pria jepang yang tengah berdebat di atas sofa panjang.


Naira mengikuti arah tatapan Pram, "Apa yang akan kaka lakukan pada mereka?"


"Kau lihat saja, apa yang bisa kau lakukan pada mereka!" seringai licik dan tatapan yang sulit di artikan, di perlihatkan Pram pada Naira.


Pram melangkah menghampiri Zang, Toda dan Takeshi dengan tangan yang mengepal.


"Ka Pram! Jangan cari masalah! Ini rumah sakit ka! Ka!" sungut Naira.


......................

__ADS_1


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


__ADS_2