
...💖💖💖...
"Entah itu ada yang menjebak papa, atau ini kecelakaan... tetap saja, mama mau Papa berterima kasih pada Pram!" kekeh Heni dengan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Atmaja menoleh ke arah Heni, "Dasar wanita, maunya menang sendiri!"
Malam semakin larut, dinginnya udara malam di puncak, membuat siapa saja yang tertidur pasti ingin tetap berada dalam kehangatan.
Naira yang semakin pulas dalam dekapannya Pram, sedangkan Atmaja semakin di buat gelisah. Tidak dapat memejamkan ke dua matanya, ia terus seperti baju lecek yang minta di gosok. Berjalan mondar mandir di dalam kamar. Dengan kata kata Heni yang terus berseliweran di kepala dan telinga nya.
"Sialll gara gara Pramana, aku jadi tidak bisa tidur... memang berapa sih, uang yang ia ke luarkan untuk keluarga korban, sampai mau menyetujui Pram, tidak membawa masalah ini ke jalur hukum!" gerutu Atmaja dengan menggaruk kepala nya dengan frustasi.
Atmaja menatap hapenya yang ada di atas nakas, dekat tempat tidur nya.
Atmaja mendiel nomor telepon Aziz, orang yang selama ini menjadi kaki tangan Atmaja.
"Maaf, nomor yang anda tuju... tidak menjawab, silahkan hubungi beberapa saat lagi!" mesin operator.
Kenapa tidak di angkat juga! Apa jangan jangan dia enak enakan tidur? Sedangkan aku di sini tidak bisa tidur? Anak buah kurang ajarrr!
Atmaja mencoba menghubungi Azis kembali, setelah 3 kali panggilannya di abaikan, dan di jawab operator.
Saat panggilan yang di lakukan Atmaja akhirnya di jawab oleh Aziz, terdengar suara Aziz yang baru bangun tidur, menjawab teleponnya dengan malas,
[ "Ehhh, siapa ini? Gak tau apa ini masih larut! Bisa kan hubungi aku besok pagi saja! Kau itu mengganggu waktu tidur ku aja!" ] gerutu Aziz tanpa melihat nama si penelpon.
Atmaja menjawabnya dengan suara yang naik 2 oktaf, "Aziz! Begini cara mu bicara dengan atasan mu hah!"
Suara Aziz langsung berubah menjadi tergagap.
[ "Ma- maaf pak, sa- saya pikir si- siapa yang menelpon saya malam malam begini! A- ada apa ya pak? A- apa ada masalah pak? Sa- sampai bapak malam malam begini menelpon saya?" ] tanya Aziz seperti seolah melupakan kecelakaan yang menimpa truk milik tempat ia bekerja.
"Aku mau bertanya pada mu, truk pengangkut kayu yang mengalami kecelakaan, belum jelas siapa yang mengendarainya kan! Lalu bagai mana dengan hukuman, untuk pemilik usaha jika terdapat korban meninggal dan luka?" tanya Atmaja yang tidak mengerti soal hukum.
[ "Jika terdapat korban meninggal, dan jika terbukti pemilik usaha lalai, makan ini hukumannya akan lebih berat lagi pak, bisa di denda miliyaran dan hukuman kurungan penjara di atas 20 tahun." ] terang Aziz yang nengambil kesimpulan dengan garis besarnya.
Atmaja tercengang mendengar ocehan Aziz, ke dua kakinya seakan lemas tidak bertulang, ia langsung terduduk di lantai, dengan bersandar pada tempat tidurnya.
"Apa? Denda miliyaran? Kurungan penjara di atas 20 tahun? Itu sama saja dengan aku mendekam di penjara seumur hidup! Dan seketika keluarga ku bangkrut!"
[ "Tapi jika keluarga korban meninggal menuntut, hukumannya bisa lebih berat lagi pak!" ]
"Kau tidak sedang bermain main dengan ku kan Aziz? Kau jangan menakut nakuti ku, Aziz!" Atmaja mengelap keningnya yang mengeluarkan keringat dingin.
[ "Mana berani saya bercanda pak, ini saya berkata dengan serius." ]
Atmaja langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
"Bagai mana pun juga, a- aku tidak ingin di penjara... aku tidak ingin masalah ini sampai ke jalur hukum. Benar apa yang di ucapkan mama, aku harus berterima kasih pada Pramana. Berkat bantuannya, keluarga korban yang meninggal, tidak menuntut ku ke jalur hukum."
__ADS_1
Atmaja beranjak dan berjalan ke arah kamar mandi, ia membasahi wajahnya dengan air, menatap pantulan dirinya di depan cermin wastafel.
"Tapi jangan berharap, aku langsung setuju dan memberikan restu untuk mu, Pramana! Aku masih belum bisa menerima mu, di tengah tengah keluarga ku sepenuhnya!"
...🌑🌑🌑...
Sebelum Naira mengerjapkan ke dua matanya, Pram yang sudah terjaga langsung menghubungi Haikal.
"Pagi ini, sebelum jam 6... kau sudah harus berada di rumah orang tua Naira. Bawakan aku pakaikan, untuk soal berita kecelakaan yang terjadi selama, aku tidak ingin melihat beritanya di mana pun!" ucap Pram tegas dengan suaranya yang baru bangun tidur.
[ "Astaga bos, kau menelpon ku di pagi buta hanya ingin mengatakan itu aja bos? Gak ada tugas penting lainnya bos?" ] protes Haikal.
"Kerjakan saja apa yang aku katakan pada mu, Haikal!" Pram mengakhiri sambungan telepon nya, meletakkan hapenya di atas nakas, dekat sisi ia tidur.
Kalo begini kan aku bisa tenang, tidak perlu lagi mengenakan baju butut ini!
Pram memejamkan kembali ke dua matanya, memeluk erat tubuh Naira. Membayangkan betapa serunya perjalanan yang akan ia habiskan bersama dengan Naira, esok hari hingga beberapa hari ke depan.
Naira mengerjapkan ke dua mata nya, merasakan berat pada perut dan kakinya, di saat ia akan beranjak dari tidurnya.
"Astaga ka Pram! Bangun ka! Udah subuh! Sholat yuk!" Naira mengguncang bahu Pram.
"Hemmm, aku masih mengantuk! Bangunkan aku jam 6. Nanti jam 7 kita akan kembali ke villa." ucap Pram dengan memunggungi Naira, dengan ke dua mata yang masih terpejam.
"Cepet banget sih udah mau balik ke villa aja, emang kaka gak mau lebih lama lagi tinggal di sini? Kaka kan belum tau seluk beluk rumah ku ini, tempat aku di lahirkan dan di besarkan." cicit Naira dengan mengucek ke dua matanya, menyingkirkan selimut dari tubuh nya.
Naira melakukan sholat subuh tanpa Pram. Setelah selesai dengan sholatnya, Naira memanjat kan doa kepada sang pencipta.
Sarapan kali ini, di rumah keluarga Atmaja tampak berbeda, jika biasa nya sarapan akan di hadiri oleh mereka bertiga di meja makan, kini keluarga itu tampak lengkap dengan ke hadiran Naira dan Pram yang ikut bergabung di meja makan.
Kali ini Pram mengenakan pakaian nya sendiri, setelah Haikal menjemputnya dengan membawa serta apa yang di minta Pram.
Saat di tengah tengah sarapan, Dito menyinggung soal kecelakaan yang menimpa salah satu truk pengangkut kayu, milik usaha furniture orang tuanya.
"Mah, itu semalam gimana... apa masalahnya sudah selesai? Aku nyari beritanya di media online ko gak ada ya? Di televisi juga gak ada yang memberitakan soal kecelakaan itu." cicit Dito.
"Kau tidak akan menemukan berita nya di media mana pun!" terang Pram tanpa mengalihkan perhatian nya pada sarapannya.
Naira mengerutkan keningnya, "Maksud ka Pram?"
Atmaja dan Heni menatap bingung Pram. Berbeda dengan Dito yang bersorak kagum.
"Benarkan? Waaah ini pasti ada hubungannya dengan orang orang yang bekerja di belakang ka Pram, bukan begitu ka Pram?" tebak Dito dengan wajah penasaran.
Atmaja mengalihkan perhatiannya pada putra bungsunya, "Maksud kamu apa, Dito?"
"Ihs papa payah nih, masa gitu aja gak tahu. Jadi kalo di mana mana tuh ya, kecelakaan apa lagi makan korban. Pasti akan masuk berita, pah, mah! Tapi sampai saat ini, kita masih adem adem aja, gak dengar atau lihat pemberitaan di media yang menginfokan kecelakaan semalam." terang Dito.
"Benar juga apa yang di katakan Dito." ujar Heni.
__ADS_1
"Bearti aku aman dong, tidak akan ada polisi yang akan datang ke rumah untuk memintai ku ke terangan!" Atmaja bernafas dengan lega, mengurut dadanya dengan tangan kanannya.
"Maaf papa mertua, untuk itu polisi pasti akan datang untuk mencari papa mertua, untuk di mintai ke terangan." Pram menyeringai, seketika wajah piasss nampak di wajah Atmaja.
"Tapi masalah korban kecelakaan itu, kamu sudah menyelesaikan nya kan nak Pram?" tanya Heni memastikan kembali dengan wajah seriusnya.
"Mama mertua tidak usah khawatir untuk masalah itu, saya dapat menjamin... jika keluarga korban tidak akan mungkin menuntut, perusahaan yang sudah mencelakai keluarganya." Pram menatap Atmaja dengan tatapan yang meremehkan.
"Kenapa bisa begitu ka? Apa yang membuat kaka seyakin itu? Kaka tidak melakukan yang aneh aneh pada keluarga korban kan?" Naira menatap Pram dengan penuh selidik.
"Harusnya kau tanyakan itu pada papa mu, apa papa mertua sudah siap... untuk menghadapi ke mungkinan jika keluarga korban menuntutnya? Menjalani hukuman, jika terbukti papa mu bersalah dalam kecelakaan ini! Coba tanyakan pada papa mu!" Pram meminum air dari gelas yang ada di hadapannya.
"Pah?" Naira menatap papanya, meminta papanya menjawab apa yang di katakan Pram.
Atmaja menatap tajam Pram, sialannn bocah ini, baru juga aku mau mengucapkan terima kasih... tapi sekarang lihat, apa yang di lakukan nya? Menakut nakuti ku dengan gertakannya.
Pram menjawab gerutuan Atmaja meski dalam hati, "Itu bukan gertakan, papa mertua. Tapi lebih mengingatkan, jika aku tidak turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan yang papa mertua hadapi saat ini." ucap Pram dengan santainya.
Atmaja mengelap keringat dingin yang keluar dari keningnya, sialannn bocah ini. Tau saja aku menggerutu dalam hati.
Pram melihat Naira yang sudah selesai dengan sarapannya, ia pun langsung pamit pada orang tua Naira yang kini menjadi mertuanya.
Pram beranjak dari duduknya, "Pah, mah... terima kasih atas sarapannya, saya dan Naira pamit undur diri dari rumah ini." terang Pram dengan menggenggammm pergelangan tangan Naira, Naira langsung beranjak dari duduknya.
Naira menatap Pram, seakan tidak rela jika harus meninggalkan rumah orang tuanya saat ini juga, "Beneran sekarang, ka? Tidak bisa kah, tinggal beberapa saat lagi di sini!"
Dalam duduknya Atmaja mencibir Pram dengan kata kata pedasnya, "Dasarrr menantu tidak tau sopan santun, masih pagi sudah mau meninggalkan rumah mertua. Benar benar tidak tahu sopan santun."
Heni menggenggammm jemari Atmaja, "Jangan begitu pah! Ayo ucap kan apa yang harusnya papa ucapkan pada nak Pram!"
Heni dan Atmaja beranjak, begitu pun Dito. Yang turut serta mengantar Naira dan Pram, sampai ke mobil sedan hitam mewah Pram.
"Meski aku berat untuk mengatakan nya, tapi terima kasih karena kau sudah mau membantu ku ke luar dari masalah ini." ucap Atmaja dengan terpaksa pada Pram.
"Aku tidak akan berat dan ragu untuk mengatakan ini pada mu papa mertua. Aku bisa saja menarik kembali, apa yang sudah aku lakukan untuk mu, papa mertua. Dan membiarkan mu mendekam di penjara, dengan membayar denda pada pihak ke polisian, santunan kepada keluarga korban." Pram menyeringai dan menepuk bahu Atmaja dengan santainya.
Atmaja mengepalll kan ke dua tangannya, matanya kenatap tajam Pram, pria yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan yang meremehkan Atmaja.
"Ka Pram! Ihs mancing mancing emosi papa aja sih!" Naira memarahi Pram.
Pram hanya mengerdilkan bahunya dan masuk ke dalam mobil.
"Papa juga nih! Kalo ngucapin terima kasih harus yang tulus dong pah! Biar gitu juga kan ka Pram sekarang suami Nai!" sungut Naira yang lantas memeluk ke dua orang tuanya.
"Anak mama sudah bisa berkata dengan bijak!" Heni mengelusss kepala Naira.
...💮💮💮💮💮...
......................
__ADS_1
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤