
...💖💖💖...
"A- anu itu maksud ku, kita makan dulu yu!" Pram mengalihkan perkataannya, dengan membawa Naira masuk ke dalam restoran itu.
"Ka Pram butuh minum deh ini mah!" gumam Naira.
Setelah mengantri dan mendapat kan makanannya, Pram langsung membayarnya di kasir. Baru lah ke duanya memilih kursi dan menyantap makanan mereka.
"Setelah ini, putuskan apa yang akan kau cari untuk tuker kado mu itu, sayang!" Pram mengingatkan kembali Naira.
"Iya, bawel banget si ka!"
Setelah mengisi perut, dengan berjalan santai Pram menggenggammm jemari Naira, menyusuri beberapa toko yang ada di dalam mall.
Pram dan Naira memasuki salah satu toko aksesoris, Pram terus menempel di sisi Naira, meski pun di dalam toko hanya terlihat dirinya dan sepasang muda mudi. Dengan 3 orang karyawan toko yang mengenakan rok di atas paha.
Naira melihat lihat aksesoris yang ada di depan matanya, sedangkan pemuda yang tengah bersama dengan kekasih nya, tampak mencuri pandang dengan menatap Naira dengan pandangan yang mesummm.
Membuat Pram yang memergoki nya gerammm namun, harus menahan diri untuk tidak memberikan pelajaran pada pemuda itu.
Tanpa ragu lagi, Pram mengajak Naira ke luar dari toko itu, setelah mendengar batin si pemuda.
Wow catik juga nih cewek, seksiii lagi, itunya juga gede. Tapi itu cowo siapanya sih? Ngelietin gw gitu baget!
Pram membuang nafasnya dengan kasarrr, "Seperti aku melupakan sesuatu, sayang!" Pram menuntun Naira ke luar dari toko itu.
"Tapi ka, tadi aku lihat ada yang bagus itu." ucap Naira yang merasa berat langkahnya, untuk meninggal kan toko aksesoris itu.
"Kita cari di toko lain." tanpa sepengetahuan Naira, Pram mengirim pesan di hape-nya.
"Cepat masuk ke toko aksesoris xxx di lantai 3, cari pemuda yang bersama dengan kekasihnya, ambil ke dua mata pemuda itu!"
Pesan yang Pram kirin ke nomor Haikal. Tanpa menunggu lama, Haikal langsung membalas pesan dari bosnya itu.
"Laksanakan bos."
Pram menyeringai dan langsung menyimpan kembali, hapenya ke dalam saku celananya.
"Meski pun dalam hati, pria itu tidak berhak untuk menilai mu seperti itu sayang!" gumam Pram pelan.
Naira yang mendengarnya samar samar pun bertanya, "Ka Pram ngomong apa?"
"Tidak ada." Pram menyunggingkan senyumnya pada Naira, dan merangkul tangannya di bahu istri kecilnya itu.
Pram membawa Naira kembali ke lantai satu, memasuki toko aksesoris lainnya, membiarkan Naira melihat lihat benda apa yang akan ia beli.
Pilihan Naira jatuh pada lampu meja dengan karakter kartun.
"Ayo ka, kita bayar." ucap Naira dengan benda pilihannya yang ada di tangannya.
"Apa tidak ada sesuatu yang ingin kau beli untuk ku, sayang?" tanya Pram, yang selama ini belum pernah di belikan apa pun oleh Naira.
__ADS_1
Naira mengerutkan keningnya, "Kaka mau di belikan apa? Barang barang kaka juga kan sudah banyak, apa yang tidak kaka miliki?"
"Apa pun itu. Asal dari mu." ujar Pram.
"Ya udah nanti aja." Naira berjalan ke arah kasir dan membiarkan Pram yang membayarnya, Pram pula yang menenteng belanjaan Naira itu dengan tangannya.
Naira menggandeng tangan Pram, menarikkk nya ke luar dari toko itu dan memasuki toko distro yang berada di depannya.
Tanpa bertanya pada Pram, Naira mengambil 2 buah jaket tebal, dengan ukuran yang berbeda dari pajangan. Lalu berjalan ke kasir untuk di bayar Pram.
"Jaket ini untuk siapa, sayang?" tanya Pram yang kini bertambah barang bawaan di tangannya.
"Tentu saja... itu untuk ku dan untuk kaka, hehehe." terang Naira dengan memperlihatkan sederet gigi putihnya pada Pram.
Pram menghentikan langkah kakinya, "Apa? Warna hijau lumut?"
Naira mengangguk kecil, "Apa ada masalah dengan itu? Itu kan pilihan ku ka, kaka ga boleh menolaknya." tegas Naira, yang seolah tahu apa yang ada dalam pikoran Pram.
"Pilihan mu, tapi aku tidak suka dengan warna itu sayang!" gerutu Pram.
"Belajar menyukainya dong." celetuk Naira
Naira kembali menggandeng lengan Pram, mengajaknya untuk kembali melangkah, "Apa kaka ingin jalan jalan sebentar?" Naira mengadah kan wajahnya, menatap Pram.
"Kita ke supermarket aja, beli cemilan untuk kau bawa besok." kini Pram yang melangkah lebih cepat dengan semangat.
"Cepet sekali moodnya berubah." gumam Naira.
Pram menitipkan barang belanjaan istrinya itu di petugas, sebelum melangkah masuk ke supermarket.
Pram memasukkan cemilan serta minuman botol apa saja ke dalam troli, yang menurutnya akan Naira suka.
Di saat Naira baru memasukkan satu bungkusan cemilan berukuran besar, melihat isi trolly yang di dorong Pram, ia membola.
"Astaga ka Pram! Ini mau aku yang makan atau aku yang berjualan di puncak? Ini banyak banget ka! Gak sekalian aja tokonya yang di beli?" celetuk Naira yang bicara asal.
Pram menyeringai, "Ini semua untuk kau bawa lah. Ide mu boleh juga, sayang. Biar aku suruh Dev untuk mengurusnya ya!" Pram memasukkan tangannya, ke dalam saku celananya hendak mengeluar kan hapenya.
"Ka, aku cuma bergurau!" ucap Naira yang semakin tidak habis fikir dengan Pram.
"Tidak apa sayang, itu juga merupakan salah satu usaha, untuk melebarkan sayap usaha ku, bukan begitu?" Pram menanggapi nya dengan santai, menempelkan benda pipih itu pada daun telinganya.
Naira geleng geleng kepala, astaga... sesulit itu kah, bergurau dengan seorang pengusaha model ka Pram?
Pram langsung mengutarakan isi hatinya, setelah panggilannya di jawab oleh Dev. Sedangkan Naira, hanya bisa memperhatikan apa yang di katakan Pram pada Dev.
"Dev! Cari tempat yang strategis, kau urus caranya untuk membuka sebuah supermarket." terang Pram.
[ "Apa? Buka sebuah supermarket, Tuan?" ] suara Dev tampak terkejut mendapati perintah dari atasannya.
"Iya, aku mau toko ku itu buka dalam waktu satu bulan dari sekarang!" ucap Pram.
__ADS_1
[ "Apa Tuan? Satu bulan?" ]
Pram langsung memutuskan sambungan teleponnya, tanpa memperdulikan Dev.
Pram menangkup wajah Naira, "Kenapa kau melihat ku seperti itu, hem?"
"Sudah lah. Kita bayar belanjaan dulu ka!" Naira menyingkirkan tangan Pram dari wajahnya. Ia berjalan lebih dulu, mengarahkan Pram menuju kasir.
Pram mengerdikkan bahunya, "Apa ada yang salah dengan ku? Kenapa Naira tampak tidak suka, dengan apa yang aku lakukan?" Pram bertanya pada dirinya sendiri. Namun sejurus kemudian ia mengikuti Naira.
Pram meminta tolong, pada salah seorang karyawan supermarket, untuk membawakan semua belanjaannya ke mobilnya.
Sedangkan dirinya, menggandeng Naira dengan tangannya yang menenteng paper bag.
Naira tidak banyak bicara setelah kejadian di supermarket. Hingga malam menjelang. Naira sudah mengemasi apa yang akan ia bawa untuk besok.
"Apa kaka tidak mengemasi barang barang kaka, untuk ke Singapura besok?" tanya Naira, yang melihat Pram hanya duduk menyandar di atas kasur dengan kaki yang berselonjor.
"Aku tidak perlu berkemas sayang, sudah ada Dev yang pasti, sudah menyiapkan segala yang aku butuhkan." terang Pram.
"Owh begitu ya."
"Ayo sini!" Pram meminta Naira, untuk duduk di atas pangkuannya, saat melihat istrinya itu sudah selesai berkemas.
Naira melangkah dengan malas, merangkak di atas kasur, dan mendudukan dirinya di atas pangkuan Pram.
Pram melingkarkan tangannya di perut Naira, Pram menyandarkan Naira pada tubuhnya, menyusuri leher sang istri dengan bibirnya.
"Ku perhatikan setelah kita kembali dari belanja, kau tampak kurang bersemangat, ada apa? Apa yang mengganggu pikiran mu, sayang?" tanya Pram dengan lembut.
Naira menatap Pram, membuat Pram menghentikan aksinya dan menatap ke dua mata bulat Naira.
"Aku bicara pun tidak akan merubah keputusan ka Pram, bukan?" Naira berkata dengan dingin.
Pram mengerutkan keningnya, "Keputusan apa?"
"Kaka mau buka supermarket, karena aku kan?" tanya Naira.
"Tentu saja, memang jika bukan untuk mu, untuk siapa lagi? Itu untuk masa depan kita juga nantinya sayang!" terang Pram yang memberikan pengertian pada Naira.
"Emang hotel masih kurang, ka? Hotel aja udah buat kaka sibuk, sekarang nambah usaha supermarket, apa gak makin sibuk ka? Giamna cara kaka ngatur waktu buat istirahat." Naira mencemaskan kesehatan Pram, dengan ke sibukan nya yang seabrek.
"Kau tidak perlu mencemaskan itu, aku kan punya Dev, ada Haikal, Dega dan beberapa orang ke percayaan ku, yang bisa aku suruh untuk mengurusnya." Pram mengecup pecuk kepala Naira.
Pram menangkup wajah Naira, "Jadi kau sedang mencemaskan ku hem?"
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊