
...💖💖💖...
"Apa kau bisa menjelaskan semua ini, Naira putri?" tanya kepala sekolah dengan tegas.
Naira berusaha menjelaskan nya pada pak kepala sekolah, berusaha setenang mungkin dalam setiap kata yang ke luar dari mulutnya.
Meski dengan tangan yang mengepal, tidak pernah terbayangkan ia akan berada di situasi yang sulit seperti ini, situasi terjepit di antara beberapa pasang mata yang menatapnya hina dan rendah.
Naira menarik nafasnya dalam dalam, "A- aku dan dia memang sudah menikah pak, tapi aku menikah dengannya bukan karena kecelakaan. Aku tidak hamil duluan, tapi memang ada suatu masalah yang mengharuskan aku menjalani pernikahan ini."
"Alaaah paling lo yang ngejebak pak Pram, mana mungkin pak Pram nikah sama lo yang cuma anak orang biasa, orang tua gak jelas!" sela Julia, yang memang tidak suka dengan Naira.
"Siapa bilang Naira, orang tuanya gak jelas? Orang tua Naira salah satu pengusaha terbesar furniture di Bandung, puas lo!" sanggah Novi yang menjawabnya dengan kesal, menatap tajam teman satu sekolah nya, yang sudah mempertanyakan orang tua Naira.
"Eh diem lo Nov! Lo kan gak tau, temen lo ini... ngakunya aja mengharuskan nikah sama pak Pram. Yang ada, temen lo ini ke senengan nikah sama orang nomor 3 di asia ini! Pengusaha cuy! Coba kalo nikah sama gembel, masih gak tuh dia bilang terpaksa?" ejek Bima, ketua osis.
"Kalian jangan ngejat Naira kaya gitu dong! Kalian emang tau apa permasalahan orang? Kaya sendiri nya gak punya masalah aja, ngerasa kalian paling bener bisa ngatain orang, ngerendahin orang seenaknya!" Serli ikut membela Naira.
"Eeeeh bacot kalian gede, kalian belain karena Naira ini sahabat kalian kan!" sungut Sopur dengan tatapan tajam pada Serli dan Novi.
Novi geleng geleng kepala, melihat Sopur yang ikut menyudutkan Naira, "Salah Naira apa sih sama lo, Sopur?"
Sopur tidak menjawab pertanyaan Novi, ia hanya diam menatap Naira dengan ke tidak sukaannya, karena lo Nai, gw ke hilangan sahabat gw. Karena lo, gw jadi gak tau ke beradaan Ratna, masih hidup kah atau udah mati.
"Sudah sudah! Kenapa jadi ribut gini! Kalian tenang semuanya!" ujar pak kepala sekolah.
__ADS_1
"Gak bisa gini, pak... gimana kalo nanti nama sekolah jadi jelek karena ini orang!" sungut Lusi, dengan tatapan mengejek Naira.
"Iya pak, udah ke luarin aja Naira dari sekolah. Kalo perlu, ijazahnya gak usah di keluarin!" sungut Arman.
"Kalian bisa tenang kan? Apa kalian yang harusnya berada di luar biar ruang ini menjadi tenang?" ucap pak Asep dengan tegas.
"Naira bisa jelaskan apa alasannya, hingga kamu menikah dengan pak Pram?" tanya bu Rita.
"Maaf bu, cukup saya dan keluarga yang tahu masalahnya, tidak baik jika orang luar ikut mengetahuinya. Lagi pula, aku dan pak Pram tidak merugikan nama sekolah. Aku sudah berusaha untuk menjaga nama baik sekolah, dengan menutupi status asli ku yang sudah bersuami." terang Naira.
"Tuh kan, bapak denger sendiri. Enak banget dia kasih alesannya!" ucap Sopur, dengan menunjuk jari telunjuk kanannya ke arah Naira.
Dari arah pintu ruangan, seseorang bertepuk tangan, berbarengan dengan ruang yang tadinya gelap, kini menjadi terang saat lampu di hidupkan.
Pram bertepuk tangan, dengan tatapan yang nyalang. Berdiri tegak dengan balutan serba hitam. Sedangkan Haikal berdiri di belakangnya setelah menyalakan lampu.
"Jadi begini cara kalian, anak yang tidak tahu apa apa menghakimi, istri ku? Maaf pak kepala sekolah, apa bapak lupa dengan apa yang sudah saya katakan tempo hari?" Pram menyeringai.
Novi membatin dengan tatapan matanya, yang mengarah pada Haikal, aiiih ayang paman, itu mulu baju yang di pake, udah kaya kaga ada baju laen apa ya?
Naira mengerutkan keningnya, ka Pram ada di sini? Sejak kapan? Tunggu deh, apa yang udah di omongin ka Pram dan pak kepala sekolah?
"Saya ingat itu dengan baik ko, pak Pram. Hanya saja ini di luar kendali saya." terang pak kepala sekolah, yang memang sudah mengetahui status Naira dan Pram.
Naira mengerutkan keningnya dengan mata yang membola, "Ka Pram kenapa bisa ada di sini? Jangan bilang ini ulah mu, ka Pram!"
__ADS_1
Naira malah menuduh Pram yang membongkar statusnya, dengan menyebarkan foto pernikahan mereka berdua.
"Jangan menuduh ku, sayang. Harusnya kau menaruh curiga pada salah satu teman mu! Karena dia lah biang dari ke kacauan ini semua!" Pram melangkah menghampiri Naira, yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Naira menggelengkan kepalanya, tampak tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Pram pada nya, "Apa? Salah satu teman ku? Mana mungkin!"
Sopur membatin, jangan sampe mereka tau, kalo ke kacauan ini gw yang buat, gw dapetin foto foto itu juga kan dari hape Naira sendiri, itu sama aja dong dengan Naira yang ngebongkar ini semua sendiri. Gw cuma bantuin Naira buat klarifikasi statusnya di depan yang lainnya.
Pram yang mendengar batin Sopur, hanya menyeringai dengan menatap sekilas pada anak itu.
Naira menyapu pandangannya, pada setiap temannya yang ada di sana, siapa yang melakukan ini? Ini gak mungkin perbuatan Novi, Serli kan? Atau ini perbuatan Daren?
"Kau masih tidak bisa menebak nya, sayang?" Pram merangkul tangannya pada bahu Naira.
Naira mendongakkan kepalanya, menatap marah pada Pram, "Jangan main tebak tebakan ka! Kalo tau, kenapa gak di sebut aja namanya siapa?"
"Haikal!" Pram berseru memanggil nama Haikal.
"Siap, bos."
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊