
...💖💖💖...
"Itu Nona Naira, tunangannya pak Pram." Ucap Aisah, gak mungkin kan kalo gw bilang mereka udah nikah.
"Serius lo, Sah?"
"Kapan gw bohong, ka?" Tanya Aisah pada seniornya.
Setelah beberapa lama, Pram menemani Naira menghabis kan waktu di restoran ice krim, hape Pram yang berada di saku kemeja nya berdering.
Dreeet dreeet dreeet.
Pram menjawab panggilan telepon nya, dengan ke dua matanya yang terus mengawasi Naira, yang tengah celingkukan seperti sedang mencari ke beradaan seseorang.
"Ada apa, Dev?" Tanya Pram dingin.
[ "Tuan Pram di mana? Sesil mengabari, jika terjadi hal yang tidak di inginkan di hotel yang ia pimpin." ]
Pram mengerutkan keningnya, dengan wajah tenang iya bertanya, "Masalah apa?"
[ "Beberapa karyawan ke percayaan Tuan besar Aji, yang sudah di lengserkan, melakukan demo di parkiran gedung, Tuan." ]
Kalo pun Sesil bisa menghadapi mereka, sangat riskan untuk Sesil dapat menghadapi nya, apa lagi jika tua bangka itu mengikut serta kan orang bayaran.
"Minta lah Haikal, untuk kerahkan beberapa orangnya untuk membantu Sesil!"
[ "Apa saya perlu turun tangan, Tuan?" ]
Jika aku larang, Dev pasti akan tidak tenang dalam bekerja. "Pergi lah! Jangan lupa kabari aku, Dev"
[ "Terima kasih, Tuan atas pengertian nya." ]
"Jangan banyak bicara, cepat pergi, bantu wanita mu! Berhati hati lah, Dev!"
Pram menyimpan kembali hape nya ke dalam saku kemeja yang berbalut jasnya.
Naira yang masih kesal dengan Pram, mendengar ada masalah pun bertanya.
"Apa ada masalah, ka? Apa kaka tidak ke sana untuk melihatnya?" Tanya Naira dengan menatap Pram yang tampak tenang.
"Biarkan Dev dan yang lain untuk menanganinya, aku masih punya hal penting yang harus aku urus!"
"Apa yang lebih penting kalo bukan urusan pekerjaan? Apa sepenting itu, sampe kaka gak perduli sama pekerjaan?" Naira menelisik Pram, dengan matanya yang menatap tajam.
Pram mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lekat wajah Naira.
"Apa kau sungguh ingin tahu, masalah apa yang paling penting selain pekerjaan?" Tanya Pram dengan menatap nakal Naira.
"Jangan mesummm ka jadi orang tuh! Malu sama umur, malu sama bini!" Gerutu Naira dengan mengerucutkan bibirnya, dasar aki aki, rubahhh tua, gak inget umur, udah punya bini, apa lagi kalo bukan para model yang penting buat ka Pram... nyebelin.
__ADS_1
Pram menarikkk tubuhnya, mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya.
"Pelayan!" Seru Pram.
"Aisah, lo aja gih yang samperin mejanya pak Pram. Ngeri kalo gw yang harus ke sana!" Ujar senior Aisah.
"Pak Pram gak gigit ko, udah jinak kalo ada Nona Naira." Modal bismilah aja lah, mudah mudahan aja pak Pram manggil cuma buat bayar, bukan buat ngamuk.
Meski dengan langkah kaki yang berat, Aisah tetap menghampiri meja Pram.
"Iya, pak?" Aisah berdiri dengan kepala yang menunduk.
"Terima kasih, ya!" Pram mengeluar kan beberapa lembar uang merah dari dompetnya dan menyerahkan nya pada Aisah, "Sisanya ambil untuk membeli ke perluan mu!" Ucap Pram datar.
"I- ini benaran, pak? Banyak sekali pak?" Aisah menatap lembaran uang yang ada di tangannya kini.
Pram menyimpan kembali dompet nya dalam saku celananya.
Pram beranjak dan langsung menggendong tubuh Naira, Naira melingkarkan tangannya pada leher Pram.
"Terima kasih pak, Nona." Ucap Aisah.
"Ada juga aku, makasih ya ka?" Naira melambaikan tangannya pada Aisah.
Pram kembali ke ruang kerjanya bersama dengan Naira yang berada di gendongannya.
"Apa kau akan melanjutkan pendidikan kan mu, sayang?" Tanya Pram.
"Kuliah maksud kaka?"
Pram mendudukan Naira di sofa, saat sudah sampai di ruang kerjanya.
Memangku ke dua kaki Naira di atas ke dua pahanya. Pram mengecek lagi kaki Naira.
"Kaki ku hanya lecettt ka, udah gak apa!"
"Wanita sialannn itu mengatakan apa saja pada mu, hem?" Pram mengelusss pipi Naira dengan tangannya.
"Tidak ada." Naira memalingkan wajahnya dari Pram, jangan batin Nai.
"Jangan bohong, sayang! Bibir mu bisa berbohong, tapi tidak dengan mata dan hati mu!" Oceh Pram.
"Au ah gelap, sok tau. Aku mau pulang aja!" Naira beranjak dengan menurunkan kakinya dari pangkuan Pram.
Grap.
Pram menggendong Naira kembali, dengan ke dua tangannya.
"Aku bisa jalan, ka! Biarin aku pulang sama bang Haikal aja!" Ketus Naira.
__ADS_1
"Haikal masih sibuk dengan tugas dari ku, biar kau pulang dengan ku saja!" Kilah Pram.
Pram dan Naira ke luar dari ruang kerja Pram.
Naira mengerutkan keningnya, "Tugas apa ka? Kaka kasih tugas apa lagi buat bang Haikal?"
"Yang pasti tugas penting, tugas yang hanya Haikal yang bisa aku percaya untuk menanganinya."
Pram dan Naira memasuki lift menuju lantai 1. Hingga sampai di lobby hotel, tatapan sinis dan cemoohan ke luar dari beberapa orang yang melihatnya.
"Itu kan pak Pram, siapa wanita yang di gendong nya itu ya?" Tanya seorang ibu yang tengah duduk di sofa yang ada di lobby hotel.
"Itu kekasih pertama nya pak Pram. Cantik kan, masih muda lagi. Dengar dengar sih, mereka akan bertunangan." Ucap wanita, yang ada di hadapannya dengan balita yang ada di pangkuannya.
"Jeng kata siapa?"
"Kan masuk berita, bahkan sampai trending topik di beberapa media."
Reina tersenyum palsu, saat Pram melewati nya, sedangkan Naira tetap tersenyum ramah, pada siapa saja yang menyapa dan menunduk hormat pada Pram yang tengah menggendongnya.
Mobil lamborghini terparkir menyambut Pram di depan lobby. Salah seorang scurity, membuka kan pintu mobil bagian sebelah kemudi.
Sedangkan seorang pria, berwajah seram dengan berpakaian serba hitam, ke luar dari kursi kemudi.
Naira mengerutkan keningnya, mobil siapa lagi nih? Masa iya mobil ka Pram. Kan biasanya sedan mewah berwarna hitam kalo gak putih.
Pram mengenakan sabuk pengamannn pada pinggang Naira. Lalu Pram memutar tubuhnya berjalan ke arah kemudi.
"Jika ada masalah pada hotel, langsung hubungi Haikal atau pun Dega!" Pesan Pram sebelum mendudukan dirinya di kursi belakang kemudi.
Pram melesat meninggalkan hotel, dengan menggunakan mobil lamborghini bewarna hijau lumut.
"Apa tadi yang kaka bicarakan sama pria menyeramkan itu?" Tanya Naira dengan menatap Pram.
"Tidak ada. Jadi, apa kau sudah punya pilihan, akan melanjutkan pendidikan mu ke mana?" Tanya Pram.
"Bukannya sekarang juga aku lagi ngelanjutin pendidikan ya? Pendidikan seumur hidup malah!" Naira menyeringai pada Pram.
Pram mengerutkan keningnya, "Maksud mu?"
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊
__ADS_1