Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Siapa saja


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


"Lo punya musuh gak? Apa ada yang lo curigain gitu?" Tanya Serli.


"Gw ga ngerasa punya musuh. Gak ada orang yang gw curigain juga." Ucap Naira dengan menghembus kan nafasnya dengan kasar.


Serli memelankan suaranya, "Mungkin gak sih kalo... ini perbuatan Ratna? Secara dia kan paling gimana gitu sama lo!"


"Hus, itu namanya suuzon. Jatohnya fitnah kalo bukan Ratna pelaku yang sebenarnya, gimana coba?" Elak Naira.


"Gw jadi gak sabar nih, pengen cepet cepet ke rumah sakit, gimana ke adaan Novi ya?" Tanya Serli.


"Udah mendingan ko. Gak separah ka Ayu." Ucap Naira.


Naira menoleh ke arah Daren, kira kira tadi ka Pram ngomogin apa ya sama Daren? Ko gw jadi penasaran gini ya?


Serli menoleh ke arah Elsa dan Juni, Elsa sama Juni kan satu tempat kerja sama Novi, tapi ko mereka ga ada luka sedikit pun sih? Tapi, masa iya Juni sama Elsa yang ngelakuin ini ke Naira?


πŸ‚Gedung pencakar langitπŸ‚


Sedang seriusnya Pram dan Dev membahas hotel cabang Bandung. Haikal mengetuk pintu dari luar ruang kerja Pram.


Tok tok tok tok.


"Maaf bos, ini saya Haikal. Apa saya boleh masuk?" Seru Haikal.


Pram mengerutkan keningnya menatap ke arah pintu, bukannya aku perintah kan anak itu ke Bandung... untuk menyelidiki bagai mana ke hidupan Naira selama di Bandung sebelum akhirnya Naira bertemu dengan ku? Kenapa sekarang malah kembali?


Dev membatin dengan memperhati kan wajah bosnya, ada apa dengan ke duanya ya? Ini pasti hal yang sangat penting. Tadi juga Haikal menunggu pak Pram datang.


"Kembali ke ruangan mu, Dev!" Perintah Pram dengan mengibas kan tangannya, mengusir Dev ke luar dari hadapan nya.


"Baik pak." Seru Dev dengan beranjak dari duduknya, membawa serta kembali berkas yang kini sudah di tanda tangani Pram.


"Masuk Haikal!" Seru Pram.


Haikal menunduk hormat saat berpapasan dengan Dev, begitu pun sebaliknya.


"Maaf bos, saya kembali." Ujar Haikal setelah berdiri di depan meja kerja Pram.


"Bukan kah aku meminta mu untuk ke Bandung?" Tanya Pram dengan datar.


"Justru itu bos, bos sendiri yang memberikan saya perintah, untuk menyelidiki dan mengikuti Nona Karin dan sekarang... bos meminta saya untuk ke Bandung. Jadi saya harus mendahulukan perintah bos yang mana?" Ujar Haikal.


Pram membuang nafasnya dengan kasar, astaga aku melupakan nya.

__ADS_1


"Suruh Dega untuk ke Bandung, dalam waktu seminggu... tidak tidak, seminggu terlalu lama. Dalam waktu 3 hari, ia harus kembali dengan membawa informasi yang aku butuhkan." Ucap Pram dengan yakin.


Haikal terperangah, "Apa bos? Tiga hari? Apa itu tidak terlalu singkat?" Mana mungkin Dega bisa menggali informasi dalam waktu 3 hari, bos gila ini mah.


Pram menjawab batin Haikal, "Jika 3 hari masih kurang cukup, aku rasa 1 hari cukup baginya. Untuk menjalan kan tugas dari ku!" Pram menyeringai dengan tatapan mata nya yang tajam.


"Ah tidak bos, 3 hari itu waktu yang cukup lama ko. Iya, i- itu waktu yang cukup untuk Dega." Benar benar bos ini kalo sudah menyangkut Nona Muda inginnya instan.


Pram membatin, bagai mana pun juga, aku harus tahu... ada rahasia apa di balik Naira yang menyimpan benda yang bukan pemberian ku!


"Ada lagi? Kau bisa kerjakan tugas mu kan! Cari tau, apa yang di ingin kan Karin hingga membuatnya nekat membakar kedei Naira dan siapa saja yang terlibat dalam hal ini, aku rasa ke dua bocah itu patut kita curigai."


"Siap bos, kalo begitu saya permisi bos." Ucap Haikal yang menunduk hormat lalu ke luar dari ruangan kerja Pram.


Pram mengamati kembali wajah Naira di galeri foto yang ada di hape butut yang sudah di perbaiki.



Pram menarik sudut bibirnya, "Apa ini? Bukan wajah anggun yang di perlihatkan, Naira ku malah memperlihatkan pipinya yang mengembung, astaga bibir mu Nai, membuat ku ingin melumattt nya!" Gerutu Pram.



"Senyum mu itu manis sekali, sayang. Berbeda saat kau mengatakan aku rubahhh. Rasanya ingin aku mengurung mu dalam kamar."




"Ini pasti diri mu, bocah kuncir dua... tapi lucu. Aku harap, kelak anak kita akan menggemaskan seperti diri mu, pintar seperti aku, pandai seperti ku. Anak ku pasti akan mewarisi ke tampanan ku, jika ia laki laki. Ia juga akan mewarisi ke cantikan mu jika ia perempuan." Gumam Pram.


Pram menyandarkan kepalanya pada kursi ke besarannya, menatap langit langit ruang kerjanya.


"Kapan masa itu akan datang, masa di mana aku hidup bahagia dengan diri mu dan anak anak kita kelak, Nai!" Ucap Pram dengan penuh harap.


πŸ‚ Rumah sakitπŸ‚


Rion, Angga dan Mega menemani Ayu dan Novi, sampai jam makan siang baru lah ke tiganya undur diri untuk pamit pada orang tua Ayu yang sudah kembali.


"Yang akur ya kalian!" Oceh Mega yang bergantian menatap Ayu dan Novi.


"Gw selalu akur, Mega. Dia aja tuh yang gak pernah akur sama gw!" Celetuk Ayu.


"Lo banyak banyak istirahat ya, Nov! Lo juga ka Ayu, harus banyak tidur, banyak istirahat." Oceh Rion pada ke duanya.


"Lo tenang aja, Rion! Sampai waktunya kedei buka, gw pasti udah sehat. Emang dia noh, pasti masih harus melewati beberapa tahapan lagi buat sembuh." Novi melirikkan matanya pada Ayu.

__ADS_1


"Sialannn lo bocah, bukannya bilang makasih sama gw!" Ejek Ayu.


"Thanks ya ka, berkat lo, gw jadi singkat masa sehatnya." Celetuk Novi dengan tergelak.


Novi membatin dengan menatap Ayu nanar, sebenarnya gw kasian sama ka Ayu, tapi nasi udah jadi bubur... kalo bisa gw putar kembali waktu, gw juga gak mau ka Ayu yang ada di posisi saat ini. Gw bener bener berhutang nyawa sama ka Ayu. Lo pahlawan gw ka Ayu.


"Lo masih sakit, Nov! Belom waras!" Sungut Ayu.


Mega dan Rion geleng geleng kepala di buatnya.


"Udah biasa ya, Ri!" Seru Mega yang kini terbiasa melihat tingkah Ayu dan Novi.


"Bener banget lo!" Rion membenarkan perkataan Mega.


Bapaknya Ayu, Bowo ikut bersuara, "Kamu tuh Yu, selalu aja ceplas ceplos. Gak malu apa sama temen temen mu itu? Kamu itu udah gak muda lagi loh! Kamu punya Chika."


"Iya, pak!" Seru Ayu.


"Kita pamit dulu ya, Yu, Nov!" Seru Angga dengan beranjak dari kursi dan menghampiri ke duanya bergantian.


"Terima kasih ya, nak... sudah mau meluangkan waktu untuk menjenguk dan menemani." Oceh Bowo.


"Iya pak, kita ini kan keluarga. Bapak jyga jangan lupa istirahat yang cukup, jangan sampe sakit!" Ucap Angga.


"Iya, nak. Terima kasih ya!"


Kini hanya ada Novi, Ayu dan pak Bowo di ruang rawat.


Novi membatin, apa mungkin kotak itu ada sama paman Haikal. Apa paman Haikal masih menyimpan kotak itu? Atau kotak itu sudah berpindah tangan ke orang lain? Bisa gawat nih kalo sampe Naira tau dan nyariin itu kotak.


"Woy! Mikirin apa lo, bocah gak ada sehat!" Ejek Ayu yang memperhati kan Novi diam membisu dengan pandangannya yang menatap langit langit ruang rawat.


"Gw lagi mikirin nasib itu kotak ka, gimana nasibnya ya itu kotak." Gumam Novi.


"Udah di bawa santai aja, kan lo sendiri yang tadi bilang... kalo Naira sendiri itu, lupa sama barang yang coba lo selamatin itu! Gimana si lo! Cari ribet sendiri!" Sungut Ayu dengan santainya.


Ayu membatin, kenapa pak Haikal belum juga ke sini ya? Kapan ya pak Haikal bakal dateng ke sini?


Ceklek.


......................


...πŸ’– Bersambung πŸ’–...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2