Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Asma stres


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Jantung ku berdegup kencang, begitu sesak di saat orang yang tidak pernah aku dengar membentak kali ini membentak ku, berkata dengan nada tinggi di telinga ku.


Dada ku terasa sesak, ku pegang dada ku dengan erat, ku coba mengatur nafas, ku bayangkan bagaimana pak Pram memperlakukan ku dengan lembut, namun telinga ku masih terngiang jelas saat pak Pram membentak ku, dada ku semakin sesak.


Pak Pram merasakan tubuh ku yang bergetar dalam dekapannya, "Ada apa dengan mu, Naira!" Tanya pak Pram dengan cemas, ia pun mencengram pipi ku untuk memastikan apa yang terjadi pada ku.


Pak Pram semakin cemas saat melihat ku yang kesulitan saat bernafas, kenapa jadi begini? Tadi dia baik baik saja!


"Dev! Kita ke rumah sakit!" Teriak pak Pram.


"Tapi ini sudah hampir sampai rumah, pak!" Seru pak Dev.


"Masa bodo, cepat kita ke rumah sakit! Naira tidak bisa menunggu dokter sampai ke rumah!" Serunya lagi.


Pak Dev melihat ke belakang dari balik kaca spion mobil, waduuuuh bisa gitu... nyawa ku bisa jadi taruhan kalau sampai terjadi apa apa pada Nona Naira!


Pak Dev yang merupakan mantan seorang pembalap pun langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan menyalip beberapa kendaraan di depannya.


"Cepat Dev! Lelet sekali!"


Astaga pak, ini saya sudah ngebut, sudah nyalip, masih juga di kata lelet.


Ku lihat wajah pak Pram yang ketakutan.


"Sabar ya Nai, kita akan segera ke rumah sakit!" Serunya lembut.


Aku berusaha mengatur nafas ku, ingin bicara namun rasanya dada ku sesak untuk berkata, hanya bibir ku yang bergerak meski pun tanpa suara dan tersengal sengal berharap pak Pram mengerti, "Aku tidak apa apa, tenang lah."


"Apa? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Nai!" Pak Pram di buat kesel sendiri karena tidak bisa mengerti pergerakan bibir ku.


Pak Pram memeluk ku erat, jangan sampai terjadi apa apa padanya.


Dada ku malah semakin sesak dengan dekapannya, ku dorong dadanya agar memberi ku jarak dan ruang, yang ada dia malah semakin erat memeluk ku, "Pak."


Pak Pram melihat ku yang berbafas dengan susah, kalo kata ikan lagi cengap cengap. Tau kaga orang lagi asma, kaya gitu Naira sekarang. Asmanya kambuh di saat ia merasa tertekan, tidak bisa mengendalikan emosinya. Itu yang Pram belum tahu dari Naira.


"Apa Nai? Ada yang kau butuhkan?" Tanya pak Pram yang mulai mengendurkan dekapannya.


"A- a- ku bu- tuh ru- wang, ja- ngan pe- luk." Ucap ku meski terputus putus karena harus mengambil nafas.

__ADS_1


"Astaga Naira, wanita lain sangat ingin berada dekat dengan ku, tapi kamu malah ingin aku menjauh? Menjauhi mu? Kau tidak ingin aku peluk?" Tanya pak Pram bingung dengan kemauan ku.


"Pak, Nona Naira sepertinya sesak pak, orang yang sesak dalam bernafas memang butuh ruang, coba bapak arahkan Nona untuk menarik nafas perlahan." Ujar pak Dev.


"Tau apa kau tentang Naira!" Pak Dev malah dapat bentakan dari pak Pram.


Di saat pak Pram ingin memeluk ku, ku tahan dengan tangan ku yang menyentuh dadanya.


"Baik lah kalo itu mau mu!" Pram kesel.


Aku tidak tega melihat mu seperti ini, Nai!


Aku masih berusaha menarik nafas dengan perlahan, lalu membuangnya, berharap cara ini bisa membuat nafas ku kembali normal.


Pak Dev menghentikan mobilnya saat sudah sampai di rumah sakit, pak Pram tidak menunggu pak Dev membukakan pintu, ia langsung membukanya sendiri dan membopong ku berlari ke ruang dokter Samuel.


Melewati ruang resepsionis dan IGD, pak Pram hanya tertuju pada ruang praktek Samuel.


Surter yang berjaga di depan ruang kerja dokter Samuel tampak kaget melihat pak Pram yang berlari dengan di ikuti pak Dev.


"Cepat buka pintunya!" Bentak pak Pram.


Astaga ini orang kenapa mudah sekali membentak, batin ku dengan tangan memegang dada sebelah kiri ku.


"Pram?" Doker Samuel tercengang melihat pak Pram menggendong ku dan menidurkan ku di atas ranjang rawat.


"Cepat periksa, bodoh!" Umpat pak Pram.


Batin pak Dev menatap dokter Samuel, yang sabar ya dok, saya juga tadi di bentak... Alhamdulillah saja jadi ada temannya yang mendapat bentakan dari pak Pram.


Dokter Samuel langsung menangani ku dengan pak Pram yang tampak khawatir dengan keadaan ku meski sudah lebih baik dari yang tadi saat di mobil.


Setelah beberapa menit, aku duduk di pinggiran ranjang rawat dengan panjang yang menjadi sandaran ku.


Pak Dev membuatkan resep obat lalu di serahkan pada pak Dev, sambil menunggu pak Dev mengambil obat, pak Pram pun bertanya pada Samuel.


"Apa yang terjadi padanya?" Tanya pak Pram dingin.


Dasarrr rubah tua, kalo gak dingin, kaku kaya kanebo, tadi aja panik ngeliet aku yang sesak seperti tadi.


"Apa kau memiliki riwayat asma?" Tanya dokter Samuel yang berdiri di depan ku.

__ADS_1


Aku hanya menganggukkan kepala.


"Apa itu asma?" Tanya pak Pram, "Apa itu membahayakan?"


Dokter Samuel pun menjelaskannya pada pak Pram.


"Asma akibat stres merupakan asma yang di picu oleh tekanan." Terang dokter Samuel.


"Katakan dengan jelas!" Seru pak Pram yang masih belum mengerti arah pembicaraan dokter Samuel.


"Apa kau menekanya? Itu yang memicu terjadinya stres, hingga membuat istri mu jadi seperti ini, seperti yang kau lihat." Ujar dokter Samuel.


"Apa maksud mu?" Tanya pak Pram.


Sedangkan aku hanya mendengarkan saja, jangan kan untuk memberikan pak Pram penjelasan, untuk bicara saja aku masih butuh waktu, lebih baik ku hirup udara dan mengembalikan pernafasan ku seperti sedia kala itu jauh lebih baik.


Dakter Samuel duduk di kursinya, "Kau tahu Pram, asma yang disebabkan oleh stres dapat dipicu oleh apa pun yangΒ menyebabkan stres, konflik dalam hubungan pribadi, dalam hal ini ku lihat kau terlalu banyak menuntut." Dokter Samuel menyeringai, dia tahu betul Pram itu yang seperti apa.


Pak Pram mengusap lengan ku dengan tangan yang besar, aku tidak akan membuat mu berada dalam posisi seperti ini lagi!


"Apa yang bisa aku lakukan?" Tanya pak Pram yang bertanya tanpa berfikir dulu, seketika akalnya jongkok jika berhubungan dengan Naira yang sulit bernafas, baginya kini Naira adalah separuh nafasnya.


Dokter Samuel geleng geleng kepala mendapati pertanyaan Pram, "Kau bisa memberikannya makan makanan yang seimbang dan sehat, mempertahankan berat badan yang sehat, tidur yang cukup, berolahraga secara teratur, dan membatasi kafein."


"Apa Nai tidak perlu di rawat?" Tanya pak Pram.


"Fasilitas mu di rumah jauh lebih canggih dari yang ada di rumah sakit ini, apa kau lupa itu!" Seru dokter Samuel.


"Baik lah, aku juga tidak akan membiarkan istri ku Naira ini terlalu lama di ruangan mu!" Pram menggendong ku dan membawa ku pulang ke rumah.


Di dalam mobil pak Pram tidak hentinya memandangi wajah Naira yang tertidur meski masih merasa sesak, tapi dengan posisinya yang menyanda pada dada bidang pak Pram, malah membuatnya mengantuk dengan nafas yang tersengal.


"Sepertinya hukuman untuk mu tertunda, baik lah jika itu bisa membuat mu sembuh lebih cepat, aku tidak keberatan!" Pak Pram menurunkan egonya.


Pak Dev melirik pak Pram dari balik kaca spion mobil, tumben pak Pram mau mengalah, kasiahan sekali adik kecilnya pak Pram, jadi harus menunggu sampai Nona Naira membaik.


Bersambung....


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis author gabut.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


Makasih banyak udah mau baca.


__ADS_2