Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Tamat lah riwat mu, Nusi!


__ADS_3

...💖💖💖...


Pram mengerutkan keningnya, "Kenapa kau tidak meminta pendapat ku hem?"


Naira membola dengan ngedumel, "Tuh kan kaka curang, aku kan mengatakannya dalam hati!"


"Tapi aku sudah mendengarnya! Sekarang katakan pada ku, konsep apa yang kau miliki itu hem? Konsep yang belum terealisasi!" Seru Pram dengan merekatkan pelukannya pada Naira.


"Ihs nyebelin bener bener ini ka Pram!"


Dreet dreet dreeet.


Hape Pram yang ada di saku celana bergetar.


Pram merogoh sakunya dan mengabaikan panggilan telepon dari nomor yang tidak di kenalnya.


"Siapa ka yang menelpon?" Tanya Naira saat Pram belum juga menjawab panggilan yang masuk ke hapenya.


Pram mengerdikkan bahunya, "Entah lah, nomor tidak di kenal!" Seru Pram dengan memperlihatkan layar hapenya pada Naira.


"Di jawab aja ka, mungkin aja telpon penting." Ujar Naira yang langsung mendudukan dirinya di kursi.


"Dasar anak nakal, duduk di pangkuan ku itu lebih enak!" Gerutu Pram.


Naira menyilangkan ke dua tangannya di depan dada, "Angkat dulu itu telpon ka, siapa tahu aja telpon penting!" Seru Naira dengan acuh, bisa aja kan itu telpon dari salah satu penggemar wanita ka Pram! Huhff, dasar rubahhh yang gak setia!


"Aku setia pada mu sayang!" Pram membenamkan bibirnya pada bibir ramun Naira.


Dreeet dreet dreet.


Dengan beraninya Naira merebut hape yang ada di tangan Pram dan melihat tampilan layarnya ternyata nomor yang sama.


"Aku angkat ya ka? Siapa tau kan telpon dari para wanita mu itu ka!" Rasanya sakit sekali saat mengatakan wanita mu, seakan aku ini apa di mata ka Pram?


Pram merangkul Naira dan membawanya bersandar pada dadanya yang bidang.


"Angkat saja jika itu bisa menjawab pikiran negatif mu pada ku!" Seru Pram dengan suaranya yang dingin.


"Baik lah, aku yang angkat!" Sungut Naira.


"Assalamualaikum." Ucap Naira saat panggilan telepon dari hape Pram di jawabnya.


Suara seorang pria dengan suara berat menjawabnya.


[ "Waalaikum salam, selamat pagi Nona. Apa benar ini adalah nomor telepon bapak Pramana Sudiro?" ]


"Selamat pagi juga pak, iya benar. Ada apa ya pak dengan ka Pram?"


[ "Apa bisa kami bicara dengannya, Nona!" ]


"Maaf sebelumnya saya bicara dengan siapa ya?" Tanya Naira sebelum menyerahkan hapenya pada Pram.


[ "Kami dari pihak kepolisian Nona, ingin mengundang pak Pram untuk datang ke kantor polisi atas kasus yang sedang kami selidiki atas kematian ibu Widia." ]


Naira membola, "Apa?" Kenapa pak polisi sampai ingin mengundang ka Pram ke kantor polisi? Gak mungkin kan ka Pram terlibat atas meninggalnya ibu Widia?


Kening Pram mengkerut mendengar batin Naira dan tangan satunya terulur untuk merebut hape-nya dari tangan Naira.


Naira hanya diam saat Pram berhasil merebut hapenya dari genggaman tangannya dan menatap Pram dalam diam.

__ADS_1


"Iya, halo!" Seru Pram saat benda pipih sudah menempel di telinganya.


[ "Selamat pagi pak, apa benar bapak adalah pak Pramana Sudiro? Putra dari pak Aji Sudiro?" ]


"Iya benar."


[ "Kami dari pihak kepolisian mengundang bapak untuk datang ke kantor polisi terkait atas kematian bu Widia, apa bisa bapak datang ke kantor polisi?" ]


"Kapan?"


[ "Lebih cepat lebih baik, pak!" ]


"Jam 10 pagi ini saya akan memenuhi undangan bapak." Ujar Pram dengan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


[ "Baik pak, atas kehadiran bapak kami tunggu." ]


"Iya."


[ "Kalo begitu saya tunggu kehadiran bapak di kantor ya, pak!" ]


"Iya, pak." Pram menjawab singkat panggilannya dan memutuskan sambungan teleponnya lalu menyimpan kembali benda pipih itu ke dalam saku celananya.


Tangan Naira terulur memegang dada Pram, "Kaka tidak terlibat kan? Ibu Widia meninggal bukan karena kaka kan?" Tanya Naira dengan suara yang bergetar dan meragu. Ka Pram gak mungkin terlibat.


Aku tidak bodoh meninggalakan jejak begitu saja, Naira! Tangan Pram terulur mengelus kepala Naira, "Apa kau khawatir pada ku hem? Aku tidak terlibat sayang! Wanita itu mati karena sakit!" Pram berkata dengan meyakinkan Naira.


Wanita itu sakit, sakit jiwa karena telah mengusik ketentraman keluarga mama dan papa ku, membuat mama tiada, wanita itu berhasil mengotori pikiran papa ku hingga ia amat membenci ku, begitu pun aku yang amat membenci Aji, pria tidak punya hati.


Pram menggenggam jemari Naira yang berada di atas dadanya.


Mobil yang di tumpangi Pram berhenti di depan gerbang sekolah Naira, "Maaf, bos... kita sudah sampai di depan sekolah Nona!" Seru Haikal.


"Aku masuk dulu ka! Aku harap benar kaka tidak terlibat!" Seru Naira dengan tatapan mata yang penuh harap.


Cup cup cup cup.


Pram menyapu wajah Naira dengan kecupan singkat, "Kau tenang saja!" Seru Pram dengan seutas senyum yang terukir di bibirnya.


Pram melumattt bibir Naira, membelittt lidah Naira dan memperdalam ciumannn mereka dengan esapannn yang di lakukan Pram pada lidah dan bibir Naira.


"Belajar lah yang benar!" Seru Pram dengan melambaikan tangannya pada Naira saat melihat Naira berjalan bersama dengan sahabat Novi memasukiii gerbang.


"Kita ke markas, Haikal!" Seru Pram.


"Baik bos!"


Haikal melajukan mobil menuju markas dengan kecepatan sedang.


"Bagai mana, apa pria itu sudah mengaku?" Tanya Pram pada Haikal.


"Dia bekerja sendiri bos, untuk balas dendam karena sudah di pecat oleh bos dan karena bos menarik kembali fasilitas yang sudah bos berikan padanya selama ia menjadi kepala devisi, ia juga ke hilangan keluarganya bos karena pemecatan yang terjadi padanya.


Pram menajamkan matanya dengan tangan yang mengepak, "Enak saja menyalahkan ku! Sudah jelas dia yang berbuat salah, salah karena sudah menyalah gunakan jabatan yang sudah aku berikan di hotel."


Mobil sampai di markas.


Pram melangkah ke luar saat pintu mobil di buka oleh pria berbadan besar yang memang sudah tahu jika Pram akan datang.


Brak.

__ADS_1


Pram mendobrak pintu kamar di mana nampak Nusi yang sudah meringkuk di atas lantai dengan tubuh yang babak belur di hajarrr oleh anak buah Pram.


Pram menjambak rambut Nusi hingga pria itu mendongak ke arah Pram.


"Harusnya sudah dari dulu kau, aku habisiii bajingannn!" Seru Pram dengan penuh penekanan.


Nusi menyeringai dengan tatapan mata yang tajam pada Pram, jika saja tangan ku tidak dalam ke adaan terikat, kau bos sialannn yang akan aku habisiii dengan sisa tenaga yang aku miliki!


"Begitu ya? Sudah babak belur seperti ini masih punya nyali untuk memukul dan menghabisiii ku? Waaah benar benar nyali mu besar juga! Baik akan aku kabulkan permintaan terakhir mu!"


Bugh.


Pram menghempaskan kepala Nusi ke lantai hingga wajahnya menciummm lantai dengan keras.


"Buka ikatannya!" Seru Pram pada salah satu anak buahnya yang ada dalam ruang itu.


Ikatan pada tangan dan kaki Nusi di lepas, Pram menatap mengejek ke arah Nusi yang mencoba untuk berdiri dengan susah payah.


Bugh.


Tubuh Nusi kembali terjatuh ke lantai dengan ke dua lutut yang mencium lantai.


"Ayo, kata mu ingin menghajarrr ku! Sini! Kau bisa mendaratkan pukulan mu di sini, sini, atau di sini!" Tangan Pram terulur meminta Nusi untuk melangkah maju ke arahnya, Pram menunjuk pipi kanan dan pipi kirinya dan dadanya.


"Bajingan kau pak Pram! Bos gila! Karena mu aku kehilangan keluarga ku!" Tangan Nusi mengepal, berusaha untuk berdiri kembali dan melangkah perlahan ke arah Pram.


Pram tergelak dengan tangan kanannya yang berada di belakang punggungnya siap mengeluarkan apa yang bersembunyi di balik punggungnya.


"Ahahaha, itu salah mu sendiri Nusi! Harusnya kau berpikir dua kali untuk mencurangi ku! Menyalah gunakan jabatan yang sudah aku percaya kan pada mu! Tentu semua fasilitas yang kau nikmatiii tidak akan hilang dari mu!"


"Kurang ajar kau pak Pram! Tidak seharusnya kau memecat ku kan! Kau bisa saja memberikan maaf atas ke hilafan ku!"


Bugh.


Nusi memukul angin saat Pram berhasil menghindar dari pukulannya.


Bugh.


Kembali Nusi memukul angin saat tangannya mengincar wajah Pram.


Bugh.


Nusi memukul angin di saat mengarahkan pukulan ke arah dada Pram namun Pram mundur selangkah dari tempat ia berdiri.


"Tamat lah riwayat mu, Nusi!" Pram menyeringai.


Sreek.


Dor dor dor.


......................


...💖 Bersambung 💖...


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉

__ADS_1


__ADS_2