
...💖💖💖...
Pram menelan salivanya dengan sulit, "Apa kalian sependapat, dengan apa yang di katakan istri kecil ku ini?" Tanya Pram dengan beranjak dari duduknya.
"Bagai mana?" Tanya Dewi, pada rekan yang duduk di sebelahnya.
"Aku setuju dengan Nona, apa ini akan mengancam nyawa ku?" Ucap Riri.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku tidak akan memberikan kalian hukuman, katakan saja dengan jujur!" Pram berdiri di belakang kursi Naira, tangannya menengger di ke dua bahu Naira.
"Apa ka Pram serius dengan perkataan kaka itu?" Tanya Naira dengan menoleh kan wajahnya ke samping, menatap lekat wajah suaminya dengan rahang pipi yang tegas.
"Aku tidak pernah berbohong dengan mu, sayang!" Ucap Pram yang menarik sudut bibirnya ke atas.
Naira menepukkan tangannya, pada salah satu tangan Pram yang ada di atas bahunya.
"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat ke luar dari sini!" Ucap Pram pada Haris yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Sa- saya mohon pak... jangan pecat saya." Haris mengatupkan ke dua tangannya di depan dada.
Haris memohon pada Pram untuk tidak di pecat, bagi siapa saja yang di pecat dari hotel Pramana, maka akan sulit baginya mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Beda halnya dengan karyawan yang mengundurkan diri.
"Boleh aku tahu, sudah berapa lama pak Haris bekerja untuk, ka Pram?" Tanya Naira, yang membuat kepala devisi lainnya, menatap ke arah Naira dengan tatapan mata tanda tanya.
"Apa yang akan Nona lakukan, jika tahu berapa lama pak Haris bekerja untuk pak Pram?" Gumam Dewi dengan suara pelan.
"Apa mungkin Nona akan memaafkan pak Haris?" Gumam Riri dengan suara yang pelan juga.
Bowo geleng geleng kepala, baru kali ini ada pelaku korup yang lolos dari hukuman, jika sampai Nona benar meminta pak Haris untuk di maafkan.
"Tujuh tahun Nona, semenjak hotel pak Pram di bangun, saya sudah mengabdikan diri pada hotel ini." Ujar Haris.
"Gimana ka? Mau langsung di pecat?" Naira bertanya pada Pram.
"Pasti, tidak ada ruang untuk orang korup di perusahaan ku ini!" Ucap Pram tegas, dengan tatapan sinis pada Haris.
"Pak Haris emang udah buat salah, apa gak sebaiknya di beri kesempatan terakhir ka?" Tanya Naira dengan tatapan yang memohon.
Haris menatap Naira dengan tatapan berbinar, aku baru melihat... ada wanita yang baik seperti istri pak Pram, jika saja tidak ada Nona. Aku pasti sudah habis di pukuliii pak Pram.
"Dengar kalian semua, apa yang aku tekankan pada kalian... sebelum tekan kontrak?" Tanya Pram dengan lantang.
"Tidak ada korupsi, pak." Jawab Dewi mewakili kepala devisi lainnya.
"Apa hukuman bagi pelakunya?" Tanya Pram lagi.
"Pecat dan hukuman lainnya, pak." Ucap Bowo dengan suaranya yang lantang.
__ADS_1
Naira mengerutkan keningnya, "Hukuman lainnya?" Naira mengulang apa yang di katakan Bowo.
Sebelum Naira tahu lebih banyak lagi, hukuman yang di maksud Bowo. Pram langsung memberikan perintah pada Dev, lewat tatapan matanya.
Dev menganggukkan kepalanya, berjalan dengan pasti, melangkah mendekati Haris.
Dev berkata dengan pelan, saat sudah berdiri di belakang Haris, "Jangan paksaaa aku untuk bertindak kasarrr pada mu, pak Haris!" Dev menempelkan punggung Haris, dengan mulut senapan yang ada di tangan kanannya.
Naira menatap curiga pada Haris dan Dev.
Haris menggigit bibir bawahnya, dengan wajah piasss, keringat dingin menghinggapi tubuhnya, Haris berfikir keras, jika aku melawan, detik ini juga aku akan matiii. Lebih baik aku menurut saja dengan pak Dev.
Pram menyeringai dengan menatap tajam Haris, sekali korup, tidak akan ada ruang untuk mu bergerak di tempat usaha ku! Bahkan tidak akan ada satu perusahaan pun, yang akan menerima mu untuk bekerja di tempatnya.
Haris melangkah, Dev dengan cepat menyelipkan kembali senapannya di balik punggungnya dengan tertutup jasnya.
"Jadi untuk pengganti dari pak Haris, apa ada nama lain... yang bisa kalian rekomendasikan?" Tanya Pram dengan menatap kepala devisa lainnya.
Meeting kembali berjalan dengan lancar, Naira pun mulai mengerti, tidak mudah untuk Pram dalam menangani setiap hotelnya. Bagai mana cara Pram menangani setiap masalah, bagai mana caranya mengambil sikap. Hingga tanpa terasa meeting berjalan sampai 1 jam setengah, meeting devisi yang paling singkat, selama hotel Pram berdiri.
Naira dan Pram ke luar dari ruang meeting lebih dulu, Pram terus menggenggam jemari Naira, dan menghujaninya dengan ciumannn. Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor menuju lift. Dengan Dev yang berjalan di belakang Tuan-nya.
"Kaka ihs, geli!" Naira menarik tangannya dari bibir Pram.
"Kapan acara perpisahan sekolah mu itu akan berlangsung, sayang?" Tanya Pram.
"2 hari lagi, ka." Ucap Naira, "Apa kaka akan mengantar ku ke sekolah?"
Dalam diam Dev membatin, bagus Tuan... katakan saja pada Nona Muda, jika Tuan memang berniat untuk mengikuti ke mana Nona Muda pergi. Kalo perlu, katakan saja kalo Tuan tidak bisa jauh dari Nona Muda.
Pram mengerutkan keningnya, saat mendengar batin Dev. Kurang ajarrr kau Dev, semua yang kau katakan itu kenapa benar semua! Pasti akan aku lakukan, meski pun Naira tidak tahu.
Dalam setiap perkataan Pram, di situ pula terselip tekat Pram untuk melakukan apa yang sudah ia katakan.
Naira membola dan berdiri di depan Pram, membuat langkah Pram terhenti, dengan tatapan yang penuh selidik, "Kaka tidak serius dengan perkataan kaka itu kan?"
Pram mengelusss pipi Naira, "Hehehehe, mana mungkin aku punya banyak waktu untuk mengikuti mu sampai ke villa? Aku juga kan banyak pekerjaan, bukan begitu Dev?" Pram terkekeh dengan melirik Dev.
Dev gelagapan untuk menjawab pertanyaan Pram, "Eh? Oh iya itu, bertepan dengan acara Nona, Tuan ada perjalanan bisnis ke Singapura." Ucap Dev asal dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Awas ya kalo beneran, kaka nanti sampe ngikutin aku sampe ke villa!" Naira menatap tajam Pram.
Pram menggenggam jemari Naira, melangkah kan kakinya kembali masuk ke dalam lift yang ada di hadapannya.
"Aku tidak bisa menjamin itu sayang. Bagai mana kalo aku lebih cepat menyelesaikan pekerjaan ku? Sepertinya aku akan merasa jenuh, tanpa adanya diri mu di rumah!" Ucap Pram.
"Maaf Nona, kenapa jika Tuan sampai mengikuti Nona ke vila, tempat acara perpisahan sekolah Nona berlangsung? Bukannya Nona akan senang, karena ada Tuan yang menghadirinya?" Tanya Dev dengan asumsinya sendiri.
__ADS_1
"Kalo ka Pram ikut, yang ada aku sendiri murid yang di dampingi orang tua. Sedangkan yang lain pergi sendiri." Ujar Naira.
"Apa? Orang tua? Kau anggap aku orang tua, sayang?" Tanya Pram.
"Ihs, kaka orang dewasa kan? Apa coba kalo bukan orang tua? Biar kan aku pergi sendiri ka!" Ucap Naira saat ke tiganya sudah ke luar dari lift.
"Cukup Dev, kau kembali lah ke ruang kerja mu!" Oceh Pram yang mencegah Dev, untuk mengantar nya sampai ke mobil.
"Baik Tuan." Dev kembali masuk ke dalam lift.
Sementara Pram tetap melangkah, hendak melewati lobby hotel. Dengan merekatkan tangannya di pinggang Naira.
"Kita gak balik ke ruang kerja kaka lagi?" Naira mengadahkan wajah nya, untuk dapat melihat wajah Pram.
"Tidak akan, aku akan mengajak mu ke suatu tempat." Ucap Pram.
"Tunggu! Tas sekolah ku, masih ada di ruang kerja kaka."
"Buar saja, nanti Dev yang akan mengantarnya ke rumah." Ucap Pram dengan santai.
"Tapi ka!"
"Tidak ada kata tapi." Ucap Pram yang tidak ingin di bantah.
Tampak di depan pintu utama lobby hotel, mobil sedan mewah berwarna abu muda terparkir. Dengan Haikal yang berdiri bersebelahan dengan scurity yang bertugas saat itu.
Pram dan Naira masuk ke dalam mobil, setelah Haikal membuka kan pintu mobil untuk Tuan-nya.
"Memang kita mau ke mana, ka?" Naira menyandarkan kepalanya pada lengan Pram.
"Kau tebak saja, kita ini mau ke mana!" Ujar Pram yang mengecup pucuk kepala Naira, rambut Naira harus sekali.
"Bang Haikal, coba beritahu aku... sebenarnya kita ini mau ke mana?" Tanya Naira dengan menatap Haikal yang tengah mengemudi.
Sementara Pram menatap tajam Haikal lewat kaca spion mobil, awas saja jika kau berani mengatakannya, Haikal.
Haikal yang hendak melirikkan matanya, lewat kaca spion mobil malah beradu pandang dengan bosnya, Pram.
Haikal membatin, sialll kenapa jadi Nona yang bertanya pada ku?
"Kenapa diam, bang? Aku kan sedang bertanya dengan mu!" Oceh Naira.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊