Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Kepergokkk


__ADS_3

...💖💖💖...


"Ka Prammmmmm!" Naira berteriak menyerukan nama suaminya.


Naira menggaruk kepalanya dengan frustasi, membayangkan jika esok ia berangkat sekolah, bagai mana tatapan para temannya.


"Aaaaaaaaaaakkh kaaaaaa!"


Naira beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu dengan tergesa gesa, "Awh!" Naira memegangi pinggulnyaaa, "Gilaaaaa, maennya udah dari semalam pegelnya masih berasa! Dasarrrr rubahhh mesummm, awas ya ka Pram!" Sungut Naira dengan kesel yang sudah sampai di ubun ubunnya.


Naira membuka pintu ruang rahasia milik Pram.


Matanya menatap tajam pada Pram yang masih sibuk dengan laptopnya, dasarrrr rubahhh mesummm! Masih bisa fokus kerja dia!


Naira melangkah dengan pasti, sedangkan Pram menahan tawanya saat mendengar batin Naira yang terus merutukinya.


Naira berdiri di depan Pram.


"Kaka!" Naira menegur Pram dengan suaranya yang nyaring tangan kiri berada di pinggang, tangan kanannya mengarahkan layar hape-nya pada Pram.


Pram memundurkan kursinya dengan tangannya yang langsung menarikkk pergelangan tangan kanan Naira.


Sreeek.


Naira jatuh terduduk di atas pangkuan Pram, "Baru bangun tidur sudah marah marah, ada apa? Hem? Apa masih kurang yang semalam? Atau kau masih mau makan es krim?" Pram melingkarkan ke dua tangannya pada pinggang Naira, berkata dengan menyusuri leher Naira.


Bulu bulu halus yang ada pada leher Naira di buat meremanggg merasakan hembusan nafas Pram yang memabukkan.


"Kaka iiiihhh!" Naira menggerakkan kepalanya, ke gelian dengan hembusan nafas Pram.


"Apa sayang! Kau merindukan ku! Merindukan belayan ku!" Seru Pram yang terus menggoda Naira.


Semburat merah muncul di ke dua pipi Naira, "Apa sih ka! Aku mau marah nih sama ka Pram!" Ke dua tangan Naira terulur menangkup pipi Pram dan membawanya untuk menatap mata bulat Naira.


Pram mengerutkan keningnya, "Marah ko bilang bilang!"


"Maksud kaka itu apa bilang kaka ini tunangan ku sama pihak sekolah!" Naira mengerucutkan bibirnya, entah kenapa ada rasa takut menyeruak dalam hatinya, harusnya ia senang dengan pengakuan Pram.


Kini gantian ke dua tangan Pram ikut menangkup ke dua pipi Naira, "Kau harusnya bersyukur pada ku, aku tidak mengatakan izin untuk istri ku kan!" Pram memainkan alisnya naik turun.


Naira menarik nafasnya dengan dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, sabar Naira, sabaaaaaarrrr.

__ADS_1


Pram menggerakkan kepalanya, "Apa lagi hem?" Tanya Pram.


"Itu sama aja kaka membunuhhh ku! Kaka mau mendepakkk ku dari sekolah ya? Seneng gitu liet istrinya yang cantik ini gak lulus sekolah SMA? Gak punya ijazah? Iya gitu, puasss?" Naira meluapkan isi hatinya pada Pram dengan bibirnya yang terus mengoceh tanpa ada rem untuk menghentikannya.


Pram menelan salivanya dengan susah saat melihat bibir Naira yang terus bergerak, astaga Naira bibir mu itu semakin lama di pandang sepertinya sangat sayang jika harus aku lewatiii!


Dengan beraninya tangan Naira terulur membekap mulut Pram, "Kalo bini lagi ngomel itu di dengerin ka!" Sungut Naira.


Pram menyingkirkan tangan Naira dari mulutnya, "Ku pikir kau sedang bernyanyi?" Ledek Pram.


"Ihs dasarrr kaka mesummm di ajak ngomong serius juga! Nyeselin!" Naira beranjak dari atas pangkuan Pram.


Sreek.


Bugh.


Pram menarikkk tangan Naira lagi hinggga tubuh Naira condong ke belakang di atas ke dua paha Pram.


"Aku belum memberi mu izin untuk beranjak kan!" Seru Pram dengan suaranya yang dingin dengan sorot mata yang tajam.


"Ihs, aku mau bangun ka!" Naira berusaha untuk bangkit dari posisinya namun tangan Pram menahan tubuh Naira dengan tangannya yang kekar menahan pinggang Naira.


Naira ikut menatap tajam ke dua mata Pram, aiiiih kaka mulai lagi!


Pram menyeringai, rupanya kau sudah mulai mengerti dengan tatapan ku Naira!


"Mulai lagi deh! Kaka aku ----- eeeemmmh."


Bibir Naira yang hendak mengoceh di sumpalll dengan bibir Pram yang sudah tergodaaa dengan gerakan bibir Naira yang terus mengomel. Menyesappp benda kenyal Naira yang berwarna pink, menelusuppp kan lidahnya ke dalam mulut Naira, menyesappp lidah Naira, memilinnn nya, menyapuuu deretan gigi Naira yang tersusun rapih.


Naira membola, "Emmmmhhh emmmmmh." Ka Pram payah, gimana kalo sampe ada orang yang masuk ke dalam ruang kerja kaka, bisa gawat kan! Mereka pasti akan berfikir buruk tentang ku!


Pram menikmati permainan lidahnya di dalam mulut Naira, menatap mata Naira dan hatinya mentertawakan ke takutan yang kini menyeruak dalam diri Naira, bisa bisanya kau berfikir seperti itu, hem! Dasarrr bocah nakalll. Di sini tidak akan ada yang berani merendahkan mu, kau lupa siapa diri mu?


Ceklek.


Dev masuk ke dalam ruang kerja Pram.


"Pak, besok saya -----" Mati gw masuk di saat yang gak tepat.


Dev melihat ke dua bosnya yang sedang berciumannn dan menghentikan langkah kakinya, Dev berbalik badan.

__ADS_1


Naira mendorong dada Pram. Tangan kekar Pram membantu istri kecilnya untuk berdiri.


Dasar Dev bodohhh, masuk ke ruangan ku di saat yang tidak tepat!


"Kalo gitu saya kembali lagi nanti, pak!" Dev langsung meninggalkan ruang kerja bosnya, mengurungkan nietnya.


"Dev!" Suara Pram menggelegar menyerukan nama Dev.


Dengan langkah yang berat akhirnya Dev membalikkan badannya dan berjalan maju ke meja kerja bosnya, Pram.


Dev membatin, mati dah gw, jangan sampe bos Pram marah apa lagi ngamuk.


Pram mendudukan Naira kembali ke dalam pangkuannya, "Ka Pram bodohhh, dasarrr rubahhh mesummm!" Gerutu Naira.


Wajah Naira terus menunduk tidak berani melihat ke depan Dev, wajahnya benar benar malu karena di pergoki tengah berciumannn.


Tangan mungil Naira mencubiti paha Pram yang tengah ia duduki.


Pram menatap tajam wajah Dev yang kini berdiri di hadapan Pram meski terhalang meja kerja, "Mengganggu saja kau!" Gerutu Pram.


"Maaf pak, saya hanya ingin menyerahkan ini." Dev menyodorkan berkas kerjaan pada Pram, "Besok saya akan berangkat ke Bandung, pak! Jadi hari ini saya izin pulang cepat pak!" Dev mengatakan apa yang ingin ia katakan pada Pram.


Naira mendongak melihat wajah Pram dengan keningnya yang berkeringat, Bandung? Pak Dev mau pergi ke Bandung?


Tangan Pram terulur meraih berkas yang Dev berikan dan mulai membuka berkasnya, "Iya, Dev akan berangkat ke Bandung untuk urusan pekerjaan, ada cabang Hotel yang membutuhkan bantuannya." Ujar Pram tanpa mengalihkan perhatiannya pada berkas.


"Kenapa gak ka Pram aja yang berangkat ke Bandung? Kan ka Pram bosnya?" Naira mengalungkan ke dua tangannya pada leher Pram.


Dev membatin, tuh kan benar apa kata ku, kenapa tidak pak Pram aja yang ke Bandung? Sepertinya Nona tidak keberatan jika harus berangkat ke Bandung!


Pram menatap tajam Dev, "Tidak usah banyak bicara kau Dev!"


......................


...💖 Bersambung 💖...


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉

__ADS_1


__ADS_2