
...💖💖💖...
"Kita kemana, pak?" Tanya Dev saat mesin mobil sudah di nyalakan.
"SMA Pelita Jaya!" Seru Pram dengan bersandar pada sandaran mobil.
"Apa, pak?" Dev tercengang dengan menoleh ke arah Pram yang ada di kursi belakang.
"Cepat jalan! Membuang waktu ku saja!" Seru Pram dengan ketus.
"Baik, pak!" Dev mengembalikan posisi duduknya seperti semula, lalu melajukan mobil sedan hitam mewah itu menuju tempat yang di sebutkan Pram.
Pram merogoh hapenya yang berada di dalam saku celananya. Lalu jarinya berseluncur di hape pintar.
Dev melirik Pram yang duduk di kursi belakang lewat kaca sepion mobil.
Mau apa sih pak Pram pergi ke SMA Pelita Jaya? Pikir Dev.
Pram menempelkan benda pipih itu ke salah satu telinganya, "Kau tidak perlu menjemputnya!" Seru Pram tanpa menunggu jawaban dari orang yang ia telpon.
Pram menelpon supir pribadi yang baru tadi pagi ia tugaskan untuk mengantar kemana pun Naira pergi.
Mata Pram tertuju pada Dev yang tengah meliriknya lewat kaca spion mobil.
"Ada yang ingin kau tanyakan, Dev?" Tanya Pram.
Pak Pram tahu aja, kalo memang ada yang ingin aku tanyakan padanya, "Eh emmm itu, pak... Jika saya boleh bertanya, bapak ada perlu dengan seseorang kah di SMA Pelita Jaya?" Tanya Dev
Pram diam seolah dirinya sedang berfikir, entah kenapa saat ini aku sangat ingin bertemu dengan gadis pembuat onar itu tapi tidak mungkin juga jika aku mengatakan yang sejujurnya pada Dev! Bisa bisa Dev mentertawakan ku dan Naira akan semakin besar kepala.
"Pak Pram!" Dev memanggil Pram dengan suara yang di naikan satu oktaf.
Pram tersadar dari lamunannya, berkat Dev, "Sudah, jangan banyak bertanya... fokus saja pada jalan dan kemudi, awas kau kalo sampai mengerem mendadak, gaji mu ku potong!" Ketus pak Pram.
Dev di buat kesel sendiri mendengar jawaban dari pak Pram, aihsss pak Pram mulai kurang obatnya, tadi kan dia sendiri yang bertanya pada ku ada yang ingin kau tanyakan? Nyesel gw tadi nanya, bos eror. Dev menggeleng gelengkan kepalanya tidak habis fikir dengan bosnya.
"Tidak usah merutuki ku, Dev!" Seru Pram dengan wajah datar.
__ADS_1
"Tidak pak, mana mungkin saya berani merutuki bapak!" Seru Dev, saya hanya berani merutuki bapak dalam hati.
"Hem." Pram fokus pada layar hapenya, menatap foto dirinya bersama dengan Naira dulu saat melakukan ijab kabul.
Dasar kau gadis nakal, kau apakan hati ku ini? Belum ada 1 hari aku jauh dari mu, tapi hati ku selalu memikirkan mu.
Hati Pram yang keras pada wanita, yang hanya menganggap wanita sebagai makhluk lemah yang bisa di manfaatkan jika di butuhkan, Pram yang menilai rendah harga diri wanita dengan menganggap setiap wanita dapat di beli dengan barang serta uang, kini pola pikirnya terkikis setelah kehadiran Naira yang menjadi istrinya.
Hati Pram di obrak abrik dengan tingkah Naira yang tegar, tegas, galak, apa adanya, cuwek dan apa yang ada pada diri Naira bagi Pram itu sangat lah menggoda imannya.
Mobil yang membawa Pram dan Dev kini berhenti di sebrang gerbang sekolah Naira.
"Apa kita tidak langsung masuk saja, pak?" Tanya Dev.
"Tidak perlu, kita tunggu saja di sini sampai dia ke luar dari gerbang." Ujar Pram.
Ooooh aku mengerti sekarang kenapa pak Pram meminta ku mengantarkannya ke sini! Kenapa tidak terpikirkan oleh ku ya! Kalo ternyata pak Pram ingin menjemput nona Naira.
Pram duduk dengan tegak di dalam mobil sambil menyelesaikan pekerjaannya, sesekali ia akan melihat ke arah gerbang sekolah untuk memastikan apa Naira sudah pulang atau belum.
Dev juga sudah berkali kali menawarkan diri untuk bertanya pada pak satpam sekolah untuk menanyakan jam pulang, namun Pram selalu menolaknya dengan alasan sebentar lagi pasti akan pulang.
"Huh, kemana anak itu!" Seru Pram melihat ke arah gerbang sekolah namun belum muncul gadis yang ia tunggu.
"Apa nona mengatakan pada tuan, jam berapa ia akan pulang sekolah?" Tanya Dev.
"Dia tidak mengatakan apa pun."
"Biar saya turun sebentar, pak! Saya akan pastikan jam berapa nona Naira akan pulang." Ujar Dev yang lantas ke luar dari mobil lalu menyebrang jalan.
"Aku tidak sabar ingin membuat bocah nakal itu terkejut saat melihat aku yang menjemputnya, suami kerennya, suami gagahnya, siapa lagi kalo bukan Pramana Sudiro." Pram membanggakan dirinya sendiri.
Kini Dev berdiri di depan pos satpam yang berada di samping gerbang sekolah.
"Permisi, pak!" Seru Dev saat melihat pak satpam.
"Iya, ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya pak satpam.
__ADS_1
"Begini pak, saya mau tanya.. untuk anak kelas 3 SMA, kira kira pulang jam berapa ya, pak?" Tanya Dev.
Ada rasa curiga yang menghinggapi jiwa pak satpam, apa lagi dengan pertanyaan Dev, keningnya mengkerut dan matanya menatap tajam ke Dev.
Dev yang di tatap seperti itu merasa tidak nyaman dan langsung mengerti apa maksud tatapan tajam dari pak satpam.
"Saya sedang menunggu anak dari majikan saya, pak!" Terang Dev yang mematahkan pikiran buruk dari pak satpam itu sendiri.
"Ooh saya kira bapak ini penjahat yang modusnya bertanya, tapi ternyata saya salah, maaf ya pak karena saya sudah berfikir buruk tetang anda."
"Saya orang baik baik pak... oh iya jadi jam berapa anak kelas 3 SMA bubar ya pwk. " Ujar Dev
"Hahaha iya saya sudah tahu itu, tadi bapak sendiri yang sudah menjelaskannya pada saya!"
"Anak kelas 3 pulang jam 2 lewat 30 menit, pak!" Seru pak satpam.
"Sedikit lagi." Dev menjeda perkataannya, "Ya sudah kalo begitu, terima kasih ya pak informasinya, saya permisi pak!" Dev pamit pada pak satpam lalu menyebrangi jalan menuju mobil yang sudah terparkir kembali,
Hati Pram nampak senang melihat Dev yang sudah kembali ke dalam mobilnya, namun rasa senangnya ia sembunyikan dengan wajahnya yang kaku.
"Bagaimana? Apa informasi yang sudah kau dapatkan? Apa sedikit lagi Naira pulang?"
"Kita masih harus menunggu setengah jam lagi, pak!" Seru Dev.
Tidak lama... yang di tunggu pun akhirnya muncul dari pandangan. Hati Pram di penuhi bunga saat mendapati Naira tengah berjalan ke luar dari gerbang dengan bantuan tongkat penyanggah.
Naira berdiri di dekat gerbang sekolah sambil merogoh hapenya, mencoba menghubungi sang supir.
Akhirnya aku bisa melihat mu sayang. Tanpa di sadari Pram, ia menarik sudut bibirnya ke atas.
Pak Pram hanya melihat wajah Naira saja bisa sesenang itu. Namun hal itu di lihat nyata oleh Dev dari kaca sepion,
"Turun, Dev!" Pram meminta Dev untuk turun dan menghampiri Naira
Bersambung....
...💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit