Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Dev tidak kehilangan akal


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Di atas kasur, Dev membuka tas kerja yang ia bawa berniat ingin mengeceknya.


Mata Dev membola melihat isi tas yang ia bawa, "Apa apaan ini!"


Dev mengeluarkan satu persatu isi dari dalam tasnya, bukan lagi laptop yang ia bawa yang berada di dalamnya, melainkan hanya berlembar lembar kertas kosong.


Dengan ke dua tangan yang mengepal, tatapan mata tajam, siapa yang berani melakukan ini semua!


Semua data penting yang ia perlukan ada di dalam laptop itu dan sekarang laptop itu justru raip.


Jika orang lain yang ada di posisi Dev, orang itu pasti akan kebakaran jenggot dan berusaha mencari keberadaan laptopnya.


Tapi hal itu tidak berlaku untuk Dev, Dev tidak kehilangan akal untuk mengatasi masalah yang tengah ia hadapi


Jika bosnya saat ini tengah beristirahat setelah melakukan penerbangan, ia justru langsung bersiap untuk meninggalkan kamar hotel dengan dompet yang selalu ada di saku celana belakangnya.


"Aku harap ini belum terlambat." Gumam Dev, dengan mengenakan celana jins panjang dan t-shirt berwarna putih lengan pendek menunjukkan bentuk tubuhnya yang atletis, ia bergegas meninggalkan kamar hotelnya.


Di dalam lift dengan menggunakan earphone, Dev menghubungi seseorang yang ia percaya.


"Apa kau sedang sibuk?" Tanya Dev dengan dingin saat sambungan teleponnya tersambung.


[ "Aku selalu ada waktu untuk mu, pasti kau sedang membutuhkan bantuan ku kan!" ]


"Jangan banyak omong kosong kau ya! Kau masih menyadap laptop ku kan!" Tanya Dev langsung pada intinya tanpa perlu berbasa basi.


[ "Cih... ada juga tanya kabar ku... bukan langsung pada intinya Dev!" ] Gerutu pria di sebrang sana.


"Mau bantu aku atau tidak!" Dev geram.


[ "Huh, katakan!" ]


"Laptop ku hilang, semua berkas penting ada di dalamnya, kau ----"


Belum selesai Dev berkata, pria itu memotong pembicara Dev.


[ "Apa? Bagai mana mungkin bisa hilang, Dev?" ]


Dev mengerang dengan tangan mengepal, "Kau potong perkataan ku, ku habisiii kau ya!"


[ "Ihs, tadi kau sendiri yang bilang butuh bantuan ku!" ]


"Aku tidak mau berdebat dengan mu, dasarrr bodohhhh! Intinya kau tau kan apa yang harus kau lakukan pada laptop ku dan berkas berkas penting lainnya!" Oceh Dev.


[ "Baik lah, jika aku berhasil... kirimkan aku laptop keluaran terbaru... diel!" ]


"Oke!"


Sambungan terputus dengan bertepatan Dev yang sudah sampai di dalam salah satu gerai laptop yang berada di dalam hotel itu, hotel tempat Dev menginap di tunjung dengan mall yang buka 24 jam di dalamnya.


Dev membeli laptop yang sama dengan miliknya yang raip dan langsung kembali ke dalam hotel setelah berhasil membeli barang yang ia butuhkan.

__ADS_1


Sampai di depan kamar hotel, Dev melihat pintu kamar Pram yang tampak tenang.


"Ku harap Tuan Pram tidak bertindak bodoh karena merindukan Nona Naira!" Gumam Dev yang lantas memasuki kamar hotelnya.


Dreeet dreeet dreeet.


Dev tersenyum mana kala melihat pesan dari seseorang yang ia tunggu.


"Misi berhasil. Ku tagih bayaran ku!" Isi pesan yang masuk ke dalam hape Dev.


Dev kembali menghubungi orang yang mengiriminya pesan.


"Apa orang yang mencuri laptop ku itu sudah membuka data pada laptop ku?" Tanya Dev dengan serius.


[ "Tidak, orang itu belum membuka berkas penting mu." ]


"Syukur lah... Cek rekening, mu!" Oceh Dev.


[ "Aku kan meminta mu belikan laptop, kanapa transfer?" ]


"Kau bisa membelinya sendiri, aku tidak ada waktu untuk mencari barang yang kau mau... aku sibuk!" Dev memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya itu.


Dev mengeluarkan laptop yang baru saja ia beli, memasukkan nama email dan kata sandinya, tidak membutuhkan waktu lama, Dev menarik sudut bibirnya ke atas mana kala berkas berkas penting sudah krmbali pada laptopnya.


"Tidak sia sia bocah itu menjadi hacker." Gumam Dev.


πŸ‚Di tempat lainπŸ‚


Sore itu juga aku meninggalkan kedei dengan mengajak serta Novi bersama ku dan setelah itu menjemput Serli untuk menginap di rumah ka Pram.


Haikal yang duduk di belakang kemudi terus menatap tajam lewat kaca spion mobil sesekali melirik dan berdehem untuk penumpang yang berada di belakangnya yang tengah duduk bersebelahan dengan Nona Muda nya.


Haikal hanya bisa ngedumel dalam hati, ihs, bawel sekali... jika saja gadis itu bukan sahabat Nona, sudah ku lempar gadis itu dari dalam mobil.


"Apa kau lihat lihat! Fokus sana tuh sama jalan!" Oceh Novi yang tampak kali ini terlihat bar bar.


"Ihs... aku tidak sedang melihat mu, Nona... jangan ge'er!" Oceh Haikal dengan katus.


"Ihs, siapa juga yang ge'er... aku tahu kau itu dari setadi terus melirik ku! Dasarrr pria kulkas!" Gerutu Novi.


"Udah jangan pada debat, nanti turun ke hati lo!" Ledek ku yang ingin menengahi antara Novi dan Haikal.


Novi melirik tajam Haikal, "Sorry ya, paman ini gak level buat gw, Nai!" oceh Novi.


Haikal membola saat dirinya di panggil paman oleh Novi, "Apa? Paman?"


Haikal membuang nafasnya dengan kasar, "Maaf Nona, anda juga bukan level saya!" Seru Haikal dengan tatapan meremehkan Novi.


Novi melipat ke dua tangannya di depan dada, "Terserah apa kata mu, paman!" Novi memberi penekanan pada saat ia mengucapkan kata paman.


Bagi Novi ini kali pertama baginya merasa seperti seorang ratu, di belakang mobil yang di tumpangi terdapat mobil lain yang berjalan di belakangnya seolah sedang mengawalnya pada hal itu sedang mengawal Naira yang ada di dalamnya.


"Terus nanti kita bakal tidur bareng kan, Nai?" Tanya Novi.

__ADS_1


"Iya lah kita bertiga kaya dulu lagi, ngemil, gibah, seru seruan sebelum tidur... tapi inget ya, besok kita mesti sekolah loh!" Seru ku mengingatkan Novi.


"Ih beres itu mah." Gw gak bisa bayangin nih, gimana gedenya nanti kamar yang bakal gw tempatin yah biar kata bertiga ora ngapa lah ya, malah seru bisa seru seruan bareng. Beruntung banget gw punya sohib kaya lo Nai, kekayaan laki lo ga membuat lo berubah dengan sikap dan tingkah laku lo, lo tetep sama... sohib gw yang gw kenal.


Mobil sedan hitam mewah berhenti di depan pagar besi berwarna putih, rumah berlantai 2 namun jika di bandingkan dengan kediaman Pramana, rumah Serli tidak lah ada apa apanya.


"Benar ini rumahnya, Nona?" Tanya Haikal.


"Iya bener ko." Jawab ku.


Tidak lama ke luar gadis remaja dengan tas di punggungnya yang seumuran dengan Naira ke luar lewat gerbang yang di lalui untuk pejalan kaki.


Pak satpam yang bertugas menutup kembali gerbangnya.


Naira tampak membuka kaca pintu mobilnya.


"Sorry ya gw lama!" Seru Serli saat melihat siapa yang ada di dalam mobil.


"Gak ko, kita baru juga nyampe... lo duduk di depan aja Ser!" Pinta ku.


"Oke!" Serli memutar jalannya dan membuka pintu mobil lalu mendudukkan dirinya di kursi depan sebelah Haikal. Haikal tampak acuh dan dingin.


Haikal membatin, aku harap Nona ini tidak sebar bar teman Nona itu. Mata Haikal melirik sepintas wajah Novi, cantik tapi sayangnya bar bar.


Serli melepas tas punggungnya dan memanggunya.


"Kita jalan sekarang, Nona?" Tanya Haikal dengan melirik Nona Muda nya lewat kaca spion mobil.


"Cus lah, bang!" Oceh ku.


Haikal hanya geleng kepala saat mendengar ku memanggilnya dengan kata bang.


Haikal membatin meski dengan tangan yang fokus pada stir kemudi, mata fokus pada jalan, mau di bantah seperti apa pun... Nona tampak tidak perduli, jangan sampai Tuan Pram salah paham dengan ku, aiiih Nona.


"Jadi gimana nih!" Seru Serli.


"Apanya yang gimana, Ser?" Tanya ku.


"Bener pak Pram udah kasih izin buat gw sama Novi nginep di tempat lo, Nai?" Serli memperjelas pertanyaannya.


"Udah ko, ka Pram udah kasih lampu hijau... malah semuanya udah di siapin sama pak Dedi." Ujar ku.


"Apaan?" Tanya Serli.


"Ah lu Ser, kaya gak tau aja.. itu sajen kita kalo lagi pada ngumpul." Oceh Novi.


"Wah seru tuh." Oceh Serli yang sudah konek dengan perkataan ku.


"Yeeeeh matep jiwa, kita begadang aja yuk!" Seru Novi.


Pletak.


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...

__ADS_1


Salam manis author gabut


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2