
...πππ...
Sesil menarik sudut bibirnya ke atas menatap wajah Desi yang menggemaskan, "Masuk!" Sesil mempersilahkan Dev untuk masuk ke dalam ruang rapat.
Ceklek.
"Apa pak Dev juga ikut rapat? Kenapa juga pak Dev ada di sini!" Gerutu Siti, wanita matang yang menjabat sebagai kepala HRD.
Tap tap tap tap.
Mata Dev tertuju pada Sesil yang tengah berdiri di depan para peserta rapat.
"Semakin memukau saja!" Gumam Dev melihat Sesil yang tersenyum ke arahnya.
"Apa rapatnya sudah selesai?" Tanya Dev yang semakin mendekat ke arah Sesil.
Sesil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "Masih ada beberapa menit lagi, apa kau mau menunggu!" Seru Sesil yang melirik ke arah kursi yang harusnya ia duduki.
"Papah." Celoteh Desi dengan ke dua tangan yang terulur ingin meraih Dev.
Mata dev tertuju pada sosok balita yang memanggilnya, "Aiiih, sayang! Kau juga ikut mama bekerja!" Dev menggendong Desi dengan ke dua tangannya yang kekar.
Desi tampak senang berada dalam gendongan Dev.
"Apa? Jadi pak Dev dan bu Sesil itu suami istri?" Gumam Siti dengan pelan, wajah kecewa nampak nyata di wajah Siti.
"Waaah aku baru tahu tahu loh ternyata pria beruntung yang mendapatkan hati bu Sesil itu pak Dev." Seru kepala devisi bagian ke amanan.
"Cocok ya! Yang satu cantik, yang satu tampan, anaknya unyu unyu gemesin!" Seru kepala devisi bagian marketing.
"Mao dong bu cariin saya yang model pak Dev, udah ganteng, sayang lagi sama anak istri?" Seru kepala devisi bagian accounting.
"Kau lihat itu, banyak yang menginginkan ku untuk menjadi prianya!" Dev mendekatkan dirinya pada Sesil.
"Jaga bicara mu pak Dev, mereka hanya belum tahu sibuknya diri mu. Setelah mereka tahu, mereka akan menyesal sudah mengatakan nya!" Gerutu Sesil.
Dev mengambil alih rapat tanpa seizin Sesil, "Terima kasih atas sanjungan rekan rekan sekalian. Dengan ini rapat saya nyatakan selesai, kalian di perbolehkan untuk meninggalkan ruang rapat!" Seru Dev dengan jarinya yang di genggammm oleh jemari mungil Desi.
Sesil membola, "Dev!" Sesil berseru dengan geram, seenaknya saja mengambil alih rapat yang sedang aku pimpin.
"Maaf kami ada urusan!" Dev menggenggam tangan Sesil dan membawanya ke luar dari ruang rapat.
Tanpa di perintah, baby sister yang masih muda itu mengikuti langkah kaki Tuan-nya.
"Ada apa sih, Dev! Kau harus profesional Dev! Ini masih lingkungan kerja!" Seru Sesil.
"Sudah kau ikut saja ke mana pun aku membawa mu." Ujar Dev, "Iya kan sayanganya papah?" Dev bertanya pada Desi yang terus tergelak saat Dev membawanya melangkah.
"Ihs kau ini Dev! Tidak bisa kah kau biarkan aku sampai selesai bekerja?" Tanya Sesil.
Dev mengembangkan senyumnya pada Desi, tidak menghiraukan Sesil dan baby sister yang kini berada dalam kotak besi menuju lantai 1.
"Kita mau ke mana, Dev?" Tanya Sesil.
"Nanti kau akan tahu." Ujar Dev yang mencubit gemas pipi chabi Desi, "Putri papa!" Seru Dev.
"Putri ku juga Dev!" Seru Sesil dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Ting.
Meta dan Melan di buat terkesima dengan melihat Dev yang tengah menggendong Desi.
"Astaga, bener lo itu pak Dev suaminya bu Sesil!"Seru Melan.
"Ih, gw juga ngelietnya begooo." Ujar Meta.
Dev menghentikan langkah kakinya tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Sesil.
"Tolong kau antar baby sister ku ini sampai rumah!" Dev berseru pada salah seorang satpam yang bertugas di luar pintu utama hotel.
"Beres pak bos!" Seru pak satpam.
"Makasih sus." Tas kecil milik Desi berpindah tangan ke Sesil.
__ADS_1
Dev melepaskan genggaman tangannya dan membukakan pintu mobil di sebelah kemudi untuk Sesil.
Dev masuk ke dalam mobil dengan menyerahkan Desi dalam pangkuan Sesil.
"Kita berangkat!" Seru Dev yang mulai mengemudikan laju mobilnya meninggalkan hotel.
"Pasti kau akan pergi lagi kan?" Sesil bertanya dengan tatapan mata yang tajam pada dev.
"Kau memang istri yang paling pengertian!" Dev mengelus sayang pucuk kepala Sesil.
Sesil berceloteh pada Desi dengan menggenggam jemari mungilnya, "Kau lihat itu! Papa mu akan sibuk kembali!" Seru Sesil mengejek Dev.
Desi malah tergelak mendengar perkataan Sesil.
Tangan Dev terulur mengelusss sayang pipi chabi Desi, "Anak papa yang paling pengertian!" Seru Dev.
"Basi!" Gerutu Sesil.
π Kediaman Pramanaπ
Pak Dedi membukakan pintu mobil untuk Tuan-nya Pram.
"Selamat datang, Tuan!" Seru pak Dedi yang di abaikan oleh Pram.
Pram ke luar dari dalam mobil di ikuti Naira.
"Selamat datang, Nona!"
"Selamat sore kali pak, masa selamat datang sih!" Seru Naira.
"Iya, selamat sore Nona. Apa Nona ingin langsung makan?" Tanya pak Dedi.
Pram melangkah masuk lebih dulu sedangkan Naira berjalan di belakangnya sambil mengoceh dengan pak Dedi.
"Jangan sekarang deh pak, nanti malam aja."
"Baik Nona, apa ada yang ingin Nona Muda makan untuk nanti malam?"
Naira tampak berfikir, "Malam ya, enaknya itu makan yang pedes dan berkuah, tapi apa ya!"
Mata Naira berbinar, saat di otaknya menemukan makanan apa yang akan ia makan untuk nanti malam, makan bakso kayanya enak nih, sambil mojok di pinggir jalan sama ka Pram, ahahay.
Naira mempercepat langkahnya memasuki lift yang sudah ada Pram di dalamnya menatap tajam ke arah Naira.
Naira menggandeng lengan Pram, wajahnya mengadah menatap wajah Pram yang datar tanpa ekspresi, "Kaka, nanti malam mau ya, bisa kan kita makan ---"
"Tidak, kita makan di rumah saja. Biar aku suruh koki untuk menyiapkan bakso untuk mu makan nanti malam!"
Pram menyela perkataan Naira yang belum selesai ia katakan.
Naira menghentakkan ke dua kakinya, "Kaka ihs, aku gak mau makan di rumah. Aku maunya kita makan di pinggir jalan, di warung bakso yang pake tenda itu ka! Ayo lah ka, mau ya!" Naira membujuk Pram dengan menggoyangkan lengan Pram yang ada pada gandengannya.
"Aku bilang tidak ya tidak!" Seru Pram dengan suaranya yang datar, tidak tahu kah di luaran sana masih banyak yang akan mengincar ku lewat diri mu! Entah ada berapa Nusi lagi di luaran sana yang akan membalas dendam pada ku!
Naira menghentakkan ke dua kakinya dengan berseru, "Kaka, aku ingin makan bakso di pinggir jalan, ada tenda, ada banyak yang makan juga! Aaakkkkhh... mau baksooooo ka Praaaam!"
Pram geleng geleng kepala, astaga Naira, kenapa kau sulit di kendalikan saat sedang datang bulan sih!
Ting.
Pram melangkah ke luar dari dalam lift menuju kamar.
"Kaka! Bisa kan kita makan di luar!" Naira berseru dengan manja, kakinya terasa berat untuk ia melangkah menuju kamarnya.
Penjaga yang bertugas di depan kamar Pram menoleh ke arah Tuan-nya kini.
Pria besar dengan wajah sangar menahan tawanya saat melihat Nona Muda-nya berjalan dengan malas untuk mengikuti langkah Pram, astaga Nona, pasti ada yang sedang Nona inginkan tapi sayangnya Tuan Pram tidak mengizinkannya.
Pram menatap tajam pria yang berjaga di depan pintu kamarnya, "Apa kau lihat lihat? Urus pekerjaan mu yang di bawah!" Seru Pram mengusir penjaga untuk meninggalkan tempatnya kini dengan suaranya yang datar.
"Baik pak, saya permisi!" Penjaga membungkuk hormat dan berlalu pergi meninggalkan lantai 3 dengan menuruni anak tangga.
"Ka Pram, aku ingin bakso! Hari ini aku belum memakannya ka!" Naira merengek pada Pram dengan menyeret kakinya untuk tetap melangkah.
__ADS_1
Pram mengepalkan tangannya, anak ini! Tidak tahu apa aku khawatir padanya, di luaran banyak musuh yang berkeliaran!
Pram melangkah kembali ke arah Naira, yang baru beberapa langkah dari pintu lift.
Naira pura pura menangis, "Hiks hiks hiks aku mau bakso, makannya nanti malam."
Hap.
Pram menggendong tubuh Naira dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Tadi kau sendiri yang bernafsuuu untuk menggoda ku saat di dalam mobil. Sekarang kau harus bertanggung jawab, Naira istri kecil Pramana Sudiro!" Seru Pram saat melangkah menuju tempat tidur.
Naira memukul mukul dada bidang Pram dengan tangannya, "Itu kan tadi, sekarang aku lagi gak mood buat godain ka Pram." Naira mengerucutkan bibirnya.
"Aku yang akan membuat mood mu kembali baik!" Pram membaringkan Naira di atas tempat tidur.
"Masih sore kaaaa, lagi juga aku kan lagi berhalangan!" Naira memiringkan tubuhnya menatap ke luar balkon yang ada di dalam kamarnya, kayanya enak banget malam malam makan bakso di pinggir jalan, ada tendanya, ada langit malam di terangin bintang, hadeeeh kena angin malam sepoy sepoy gimana gitu rasanya.
Tangan Pram terulur melepas sepatu flat yang terpasang di kaki Naira.
"Apa kau sangat ingin makan bakso di luaran?" Tanya Pram dengan tangannya yang melepasss jas yang ia kenakan.
Naira mengangguk dengan cepat, "Tentu saja! Bisa kan kita makan bakso di pinggir jalan nanti malam ka?" Tanya Naira dengan mata yang berbinar kembali.
Pram membuang nafasnya dengan kasar, melepasss sabuk yang melilit pada pinggangnya.
Naira beranjak dari tidurnya dan berjalan dengan lututnya di atas kasur hingga ke tepian.
Sreek.
Bugh.
Tangan Naira menarik jemari Pram, membuat Pram jatuh terduduk di atas kasur.
Pram mengerutkan keningnya, saat jemari Naira melepasss kancing pada kemeja yang tengah ia kenakan.
Pram menarik sudut bibirnya ke atas, sejauh mana usaha mu untuk membujuk ku Naira!
Naira menatap wajah Pram, dengan alisnya yang di mainkan naik turun, "Apa lihat lihat? Kaka baru tahu aku ini manis? Manis ku mengalahkan manisnya gula, tau gak!" Seru Naira dengan pedenya.
Pram menatap jengah Naira, "Apa itu suatu rayuan atau gombalan? Dari mana kau belajar menggombal?" Tanyanya dengan tangan Pram yang menarik pinggang Naira hingga Naira berada dalam pangkuan Pram.
"Apa saja terserah kaka, mau bilang itu rayuan atau gombalan, dari mana lagi kalo bukan dari mu, aku belajarnya ka!"
"Kalo begitu lanjutkan merayu ku di kamar mandi!" Pram menggendong Naira dan membawanya ke dalam kamar mandi.
"Ihs kaka mah, gini amat ya cuma pengen dapetin makan bakso doang juga!" Gerutu Naira dengan tangannya yang mencubit dada Pram.
"Lakukan atau kau tidak boleh ke luar dari rumah!" Pram mendudukan Naira di pinggiran westafel.
Tangan Pram melepasss dress yang tengah Naira kenakan, membuangnya ke sembarang arah.
Mata Pram menatal tajam pada si kembar yang menyembul dari balik kain berenda.
"Tapi kan ka ---"
"Eeemmmmhh." Pram menyeranggg Naira dengan ciumannn yang dalam, melumattt bibir Naira yang sedari tadi terus merengek, melumattt bibir Naira dengan tangannya yang meresss buah kembar Naira.
Desahannn dan erangannn ke luar dari bibir Naira saat bibir Pram bermain pada puncak salah satu si kembar.
"Eemmmgggh, kaaa, aaaah." Tangan Naira menarik rambut Pram dan tanpa sadar tangannya semakin membenamkan wajah Pram pada dadanya.
"Aaahhh, kaaa! Ennggghh."
Pram mengarahkan tangan Naira pada senjatanya yang berdiri tegak.
......................
...π Bersambung π...
...πππππ...
Salam manis author gabut π
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen ππ