
...💖💖💖...
Atmaja mengelusss kepala Naira, "Apa kau bahagia dengan pria tua itu, sayang?" tanyanya dengan menatap tajam Pram.
"Kata pria tua itu lebih cocok untuk mu, Atmaja! Pria bau tanah?" ledek Pram dengan suara yang datar.
"Sssstttt kalian berdebat mulu, gak ada habisnya apa ya? Mau sampai kapan kalian berdebat seperti ini hem?" ujar Naira.
"Sampai papa mu, bisa bersikap lebih baik pada ku!" ucap Pram datar yang lantas meninggalkan ke duanya.
"Katakan pada papa, jika kau tidak bahagia padanya. Kembali lah ke rumah, tidak akan terjadi apa apa pada papa!" ucap Atmaja dengan sungguh sungguh.
Naira mengelusss punggung Atmaja, menyandarkan kepalanya pada lengan Atmaja, "Papa tidak usah khawatir kan aku, aku bahagia dengan pernikahan ini! Ka Pram sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Dia tidak bersikap kejam lagi pada orang lain." ujar Naira yang mengira Pram sudah berubah.
"Itu kan kata mu, bagai mana jika suatu saat... kau melihat dengan mata kepala mu sendiri, si cecunguk Pramana Sudiro menghabisiii nyawa seseorang di depan mu? Apa kau sanggup melihat ke kejamannya, nak?"
"Pemikiran ku tidak sejauh itu pah!"
🌄🌄🌄
Langit senja nampak indah, membuat siapa saja yang melihatnya akan terpukau.
Sebelum Pram dan keluarga Naira meninggalkan lokasi wisata, pemilik tempat wisata menyempat kan diri untuk bertemu dengan Pram.
__ADS_1
Ia juga memberikan buah tangan, untuk pengunjung yang sudah berani membayar mahal, untuk menyewa tempat yang biasanya di buka untuk umum itu.
"Pak Pramana Sudiro!" serunya saat melihat Pram dan yang lain ingin meninggalkan tempat lokasi.
Pram dan yang lain pun menghenti kan langkah kakinya, membalikkan tubuhnya dan saling berhadapan dengan si pria yang memanggil Pram.
Pram mengerutkan keningnya, "Iya, anda memanggil saya?"
"Kenalkan pak, saya Wahyu Nugroho... pemilik dari tempat wisata ini!" serunya dengan mengulurkan tangannya ke depan.
Pram menyunggingkan senyumnya sedikit, membalas uluran tangan pria yang ada di hadapannya, hingga ke duanya berjabat tangan.
"Senang bisa bekerja sama dengan anda! Berkat anda, saya jadi memiliki waktu privasi dengan keluarga istri saya!" Pram melirikkan matanya pada Naira, dengan tangan kanannya merangkul bahu Naira.
Pram mengerutkan keningnya, menatap tajam Wahyu Nugroho, sialann... enak saja kau mau menjadi kan wanita ku ini sebagai milik mu yang ke dua... dalam mimpi pun tidak akan ku biarkan!
"Orang lain saja menilainya seperti itu!" sungut Atmaja dengan tatapan mengejek Pram.
Naira mengadahkan wajahnya menatap Pram, tangan kirinya terulur melingkar di pinggang Pram, dengan satu tangan kanan mengelusss dada Pram, seolah menyuruhnya tenang menanggapi perkataan Wahyu Nugroho dan papanya.
Pram berbisik di telinga Wahyu Nugroho, "Coba saja kau dekati istri ku, maka dalam waktu 24 jam. Tempat ini akan rata dengan tanah!" lalu Pram menjauhkan diri nya dari Wahyu Nugroho.
Wahyu Nugroho menelan salivanya dengan sulit, kerongkongan nya seakan mengering, dengan keringat dingin, bibir bergetar, Wahyu Nugroho berujar, "A- anda tenang saja, saya tidak akan sejauh itu."
__ADS_1
Wahyu Nugroho menyodorkan barang yang ada di tangannya pada Pram, "Se- sebagai buah tangan dari saya."
Di dalam mobil menuju rumah orang tua Naira.
"Apa yang kaka katakan pada orang itu? Kenapa tiba tiba saja orang itu jadi tergagap gitu, ka?" tanya Naira dengan tatapan yang menyelidik.
Bukan Pram yang menjawab, tapi Atmaja yang menjawab dengan ketus, "Apa lagi yang bisa di lakukan nya, kalo bukan mengancamnya!" tebak Atmaja dengan ketus.
"Papa! Jangan mojokin ka Pram terus dong!"
"Seperti nya kau butuh waktu dengan ku berdua papa mertua, biar kau bisa tau siapa yang kau hadapi!" Pram menyeringai, menatap Atmaja dari kaca spion mobil.
"U- untuk apa? A- aku tidak butuh waktu berdua dengan mu! E- enak saja!" Atmaja menjawabnya dengan gugup.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊
__ADS_1