Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Ke ahlian baru untuk Pram


__ADS_3

...💖💖💖...


Takeshi menjawabnya dengan tergagap, ia menelan salivanya dengan sulit, "I- itu ka, anu... Harumi ---"


Bugh.


Pram melayangkan tonjokannn di perut Takeshi, membuat Takeshi seketika langsung membungkuk. Memegangi perutnya yang kena tonjokan tangan Pram. Dengan wajah meringis kesakitan.


"Apa yang sudah aku katakan pada mu sebelumnya heh! Jangan sampai wanita itu lari! Apa kau tuli hah!" ucap Pram dengan suaranya yang tertahan.


"Maaf ka, aku lalai. Tapi aku sudah memerintahkan anak buah ku untuk mengeceknya. Karena Nona Harumi melarikan diri dengan di bantu penghianat." Takeshi menjelaskan pada Pram.


Pram menggaruk kepalanya dengan frustasi,"Kau tahu... seberapa bahayanya Harumi jika dia sampai lepas? Ingat apa yang sudah kau lakukan padanya! Bisa saja dia melaporkan mu ke polisi! Memberi tahu polisi, tempat di mana kau menyiksanya! Itu markas mu! Tempat mu menjalankan bisnis ilegal mu!" ucap Pram panjang lebar.


"Maaf, ka!" ucap Takeshi dengan kepala tertunduk.


"Hubungi anak buah mu, dalam waktu 5 menit, sembunyikan barang ilegal kalian di ruang bawah tanah. Lenyapkan tempat mu menyiksaaa wanita sialannn itu!" ucap Pram dengan tegas.


Takeshi langsung menjalankan apa yang di perintahkan Pram padanya.


Sementara Takeshi menghubungi anak buahnya, Pram langsung menghubungi Dava.


[ "Wih ada angin apa nih, kaka besar sendiri yang langsung menghubungi ku?" ] suara Dava yang terdengar senang, langsung memenuhi gendang telinga Pram lewat sambungan teleponnya.


Pram memijat keningnya dengan jemarinya, "Jangan banyak bicara bocah ingusan! Cepat lakukan apa yang aku tugaskan pada mu!" ucap Pram tanpa berbasa basi dulu. Langsung memberikan perintah pada Dava dengan nada yang serius.


[ "Tugas apa ka?" ] tanya Dava dengan mode serius.


Dava yang sudah sangat hafal dengan Pram. Tau betul jika Pram menghubunginya sendiri, pasti ada urusan yang sangat urgent dan tidak bisa di buat candaan.


"Aku ingin dalam waktu 3 menit, kau retas CCTV yang ada di gedung xxxx jalan xxx."


[ "Itu sih hal kecil ka, kirain tugas apa." ] ucap Dava yang meremehkan.


Sementara Takeshi yang mendengar perintah Pram untuk Dava, langsung menelan salivanya dengan sulit, mengingat dirinya bukan lah hacker yang tidak mengerti urusan it. Maka baginya itu tugas yang paling berat, dan tidak mungkin bisa untuk Takeshi lakukan.


"Cepat kau kerjakan saja, jangan banyak bicara." Pram langsung memutuskan sambungan teleponnya, tanpa menunggu jawaban dari Dava.

__ADS_1


Pram bertanya pada Takeshi, dengan gerakan kepalanya yang mengangkat sedikit ke atas.


"Aku sudah melakukan apa yang kaka katakan pada ku." ucap Takeshi.


"Langsung kau perintahkan untuk anak buah mu, segera menghabisi Harumi jika mereka melihatnya! Pastikan Harumi lenyap." ucap Pram dengan sorot mata tajam, tangan yang mengepal.


Dreeet dreeet dreeet.


Sebelum Takeshi menghubungi anak buahnya kembali, ia langsung mendapat panggilan telepon dari salah satu anak buahnya.


[ "Kami sudah melakukan apa yang bos perintahkan, dan sekarang apa lagi bos, yang harus kami kerjakan?" ]


"Perintahkan pada yang lain, jika di antara kalian ada yang melihat Nona Harumi, jangan sungkan untuk melenyapkannya. Pasti kan jika wanita itu benar benar lenyap."


[ "Baik bos, akan aku sampaikan pada yang lain." ]


"Sembunyikan senjata kalian di tempat yang aman, aku tidak ingin kalian gegabah, membuat kepolisian menaruh curiga pada markas kita."


[ "Apa bos yakin, pihak ke polisian akan datang ke markas? Aku rasa ini terlalu berlebihan bos. Aku yakin Nona Harumi tidak akan berani melaporkannya pada pihak ke polisian. Nona Harumi bisa kabur dari tempat ini saja, sudah menjadi ke beruntungan untuknya." ]


Bugh.


"Kau jangan mengajari ku, dasar bodoh! Menjaga satu wanita saja tidak becus, sekarang malah sok ingin mengajari ku? Mau ku habisiii kau hah!" bentak Takeshi yang kini tersulut emosi.


[ "Ma- maaf bos, a- aku sa- salah. Aku tidak akan mengulangi ke salahan ku lagi." ]


Pram menggeleng gelengkan kepalanya, menatap tajam Takeshi, "Dasar bodoh! Bagai mana jika Naira sampai curiga dan menghampiri kita ke sini hah!" sungut Pram.


Dari arah belakang Pram, hal yang di takutkan Pram terjadi.


"Apa yang harus aku curigai, ka?" tanya Naira dengan kening yang mengkerut, menatap Pram dengan penuh tanda tanya.


Pram membalikkan tubuhnya, menatap penuh selidik pada Naira yang kini berjalan semakin dekat ke arahnya, "Sejak kapan kau berada di sana, sayang?" tanya Pram dengan datar.


Takeshi melanjutkan perkataannya pada anak buahnya di telpon dengan suara yang pelan, hingga Naira hanya mendengarnya dengan samar samar.


"Apa yang sebenarnya, yang sedang kaka sembunyikan dari ku?" cicit Naira, yang kini menatap Pram tajam, yang hanya berjarak satu langkah dengannya.

__ADS_1


Pram diam sesaat, memutar otak agar Naira tidak menaruh curiga padanya dengan asal bicara.


"Jawab ka, apa yang kaka sembunyikan dari ku? Kenapa kaka takut aku curiga? Memang apa yang aku curigai dari kalian berdua?"cecar Naira yang tidak sabar, untuk mendengar alasan Pram.


Pram melangkah, membawa Naira kembali masuk ke dalam rumah, dengan tangan yang merangkul bahu sang istri.


"Aku batalkan ke putusan ku untuk melanjutkan pendidikan mu. Tidak masalah kan untuk mu?" tanya Pram dengan santainya, mengalih kan perhatian Naira, merupakan suatu ke ahlian baru untuk Pram.


Naira mengerutkan keningnya, "Jelas itu akan menjadi masalah untuk ku, ka! Apa alasannya kaka membatalkan untuk aku melanjut kan pendidikan ku?" tanya. Naira dengan wajah yang tidak senang.


"Apa kau marah? Harusnya kau tidak akan marah pada ku kan? Setelah kita kembali ke Indonesia, kau akan di sibukkan dengan kuliah mu, belum lagi kau ingin membuka cabang baru untuk kedei mu, belum lagi luka di punggung mu... itu butuh waktu yang tidak sebentar untuk mu pulih seperti sedia kala, sayang!" ujar Pram panjang lebar.


Pram membawa Naira kembali ke ruang di mana ada Toda dan Zang yang masih asik menyantap santapan dan cemilan, dengan minuman bersoda tanpa ada minuman alkohol, jauh dari apa yang biasa Zang, Toda dan Takeshi lakukan.


Yang biasanya jika mereka tengah merayakan suatu hal, maka minuman beralkohol tidak akan jauh dari mereka, serta beberapa wanita penghibur yang akan menemani mereka selama berpesta.


Tapi jika Pram sudah membuat aturan, maka mereka bertiga tidak akan ada yang berani membantah nya. Perkataan Pram, sama saja dengan aturan yang harus mereka lakukan. Tanpa ada kata bantahan.


"Eh, apa aku tidak salah dengar. Kaka ipar akan membuka cabang kedai. Apa kaka ipar seorang pengusaha?" tanya Toda.


"Apa yang kaka ipar jual di kedai? Bir kah? Wiski? Shochu, soba cha, amazake, chuhai, awamori, umeshu?" oceh Zang, yang malah menyebutkan beberapa jenis minuman beralkohol khas Jepang selain dari sake.


Naira membola, telinganya begitu asing dengan apa saja yang baru di sebutkan oleh Zang.


"Hah? Apa itu? Itu nama minuman atau jenis makanan?" tanya Naira setelah mendudukan dirinya di atas karpet, dengan menyandarkan kepalanya di lengan Pram.


"Sudah, kau tidak usah perdulikan perkataan Zang!" cicit Pram dengan santainya.


Takeshi kembali, bergabung bersama dengan yang lainnya, tatapannya mengarah pada Pram. Tidak ada lagi tatapan ke marahan yang tadi ia perlihatkan pada Takeshi. Yang ada hanya tatapan hangat dan datar saat bersama dengan Naira dan yang lainnya.


Takeshi membatin, apa sebesar ini pengaruh Naira untuk ka Pram? Ka Pram bisa menjadi dirinya sendiri, tapi di saat jauh dari Naira, tatapannya amat membunuh jika sedang kesal.


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2