
...💖💖💖...
Serli mengeluarkan hapenya dari saku seragam sekolahnya, "Nih." Menyodorkan hapenya ke arah ku.
Aku mengetikkan nomor telpon di hapenya lalu ku tempelkan hape Serli ke telinga kanan ku.
"Ayo dong angkat, hal-."
Baru mau bilang halo, hape ada yang merebut dari tangan ku.
Memang posisi ku membelakangi pintu yang menuju taman, hingga aku pun tidak tahu jika ada yang melangkah masuk ke taman.
Serli sudah terpana duluan dengan pesonanya pak Pram, aku dalam mulut bahaya pun ia tidak menyadarinya.
"Apaan sih!" Seru ku marah pada orang yang kurang ajarrr merebut hape yang tengah aku tempelkan di telinga ku.
Saat aku menoleh, mati dah gw!
Pak Pram menatap ku dengan pandangan yang sulit untuk aku artikan.
"Hapenya, pak!" Seru ku berusaha meraih hape yang masih berada dalam genggamannya. Pasti udah di jawab itu telponnya.
"Apa kau lupa! Aku hanya memberi mu izin untuk menghabiskan waktu sore mu dengan teman mu ini, Naira!" Seruan pak Pram penuh penekanan menatap sekilas wajah Serli.
Waduh, kayanya ini orang kaga seneng banget Naira megang hape! Batin Serli.
Ku lihat Amarta yang tadi berdiri di samping ku kini mundur 2 langkah dari ku dan menatap ke bawah.
Amarta menundukkan kepalanya ke rumput, haduh ... sepertinya pak Pram marah pada Nona Naira, apa aku juga ikut melakukan kesalahan karena membiarkan nona Naira menghubungi seseorang dengan hape temannya ini ya? Bagaimana dengan pekerjaan ku ini? Terancam lah sudah, gaji besar ku melayang jika sampai aku di pecat.
"Pak, aku hanya menelpon!" Seru ku menatap tajam balik si rubah tua ini alias pak Pram.
"Dedi!" Pak Pram berteriak memanggil nama pak Dedi, si kepala pelayan.
__ADS_1
Pak Dedi berlari dan menghampiri pak Pram, ia menunduk hormat pada tuannya, "Tuan memanggil saya?" Tanya pak Dedi, ada kekacauan apa lagi ini? Perasaan tadi wajah pak Pram baik baik saja, sekarang malah terasa awan mendung menyelimuti hati Tuan Muda Pram.
"Antarkan nona ini ke luar!" Pram menatap tajam Serli.
Deg.
Pak Pram mengusir Serli dengan cara yang halus. "Bapak gak bisa gitu dong!" Seru ku marah, enak aja maen usir temen gw seenak bacot lu.
Serli menatap tajam pak Pram, gila ini orang, maen usir usir gw aja, siapa sih dia?
"Tapi, pak! Masih ada yang ingin saya bicarakan dengan Naira, dia itu sahabat saya, kenapa bapak jadi mengatur hidup Naira seenak bapak begitu?" Cerocos Serli, gadis manis yang gak tinggi tinggi amat namun kalo sudah bicara suka ceplas ceplos dan mudah tersulut emosi.
Pak Pram mencondongkan tubuhnya dan berkata di telinga ku, "Apa harus aku mengatakan siapa aku yang sebenarnya pada sahabat mu ini? Heem! Jika kau tidak keberatan? Aku tidak masalah untuk mengatakannya!" Pak Pram menjauhkan wajahnya dari ku dengan sudut bibir yang di tarik ke atas.
"Dasar rubah tua, seenaknya saja mengatur kehidupan ku!" Gerutu ku kesal.
Aku menatap Serli, "Sebaiknya lu pulang dulu, Ser." Aku menatap tajam pak Pram yang tanpa ekspresi itu, "Ada yang harus gw bicarain sama ini orang, rubah tua!" Rutuk ku, baru juga ada temen ... sekarang harus sendiri lagi, apa lah daya ku menghadapi mu pak Pram suami kejam ku, aku harus bisa membuat pak Pram takluk pada ku ini.
"Biar aku antar Serli dulu sampai depan!" Seru ku menatapnya tajam dengan menarik tuas yang ada pada kursi roda yang aku gunakan ini.
"Silahkan!" Seru pak Pram dingin.
Dasar rubah tua, bakul bekas.
"Ayo Ser, biar gw anter sampe depan!" Seru ku dan Serli pun berjalan di samping ku.
Dua langkah Serli berjalan, ia langsung memutar badannya dan menghampiri pak Pram.
Aku melihat Serli yang berdiri di depan pak Pram, "Serli!" Seru ku, mau apa dia menghampiri pak Pram? Semoga Serli tidak mencari masalah dengan rubah tua.
"Ada apa lagi?" Tanya pak Pram dingin.
Serli memicingkan mata dan menyambar dengan kasar hapenya yang masih di genggaman tangan pak Pram, Serli menarik sudut bibirnya ke atas, "Saya mau mengambil barang yang memang milik saya dan bukan milik anda!" Serli lantas kembali menghampiri ku.
__ADS_1
Ia tersenyum,, "Aku hanya mengambil hape ku, Nai... gak usah khawatir gitu, aku tahu apa yang ada dalam pikiran mu!" Serli tersenyum pada ku.
Pram Menatap pak Dedi, "Ikuti mereka!"
Pak Dedi langsung mengikuti kami berdua.
Pram menatap tajam Amarta, "Aku sudah bilang kan pada mu! Tugas mu bukan hanya mengganti gips pada kaki istri ku, kau juga bertanggung jawab untuk kesehatannya, aku hanya ingin kakinya cepet pulih!"
"Maaf, Tuan ... Apa hubungannya dengan kesehatan nona Naira? Nona kan hanya berbicara lewat telpon temannya, saya juga terus berada di samping nona Naira, apanya yang salah tua?"
"Jelas kau salah, harusnya kau itu tidak membiarkan istri ku menghubungi siapa pun!" Terang pak Pram yang semakin membuat Amarta bertambah binging.
Pak Pram ini aneh, bagaimana bisa berbicara di telepon bisa membuat kesehatan nona Naira jadi menurun. Yang benar saja!
Jika anak ini lebih lama berada di samping Naira, bisa bisa Naira jadi sama sepertinya, terlalu banyak bicara.
"Pergi kau dari hadapan ku! Kau ku pecat!" Seru pak Pram yang langsung berjalan meninggalkan taman.
Sedangkan Amarta masih terpaku tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, gila duit gw melayang, baru kali ini gw kerja yang dalam waktu beberapa jam langsung di pecat.
Sementara itu .
"Maaf ya Ser, atas perlakuan tidak mengenakkan pak Pram sama lu!" Seru ku.
"It's oke, gw gak apa apa kok. Btw dia siapa lo sih, sampe segitunya amat ngatur ngatur hidup lu! Tau gitu nih ya, kalo kata gw mending lu balik lagi tuh tinggal sama nenek lu, ngapain juga lu tinggal di sini, banyak aturan kayanya mah ini rumah."
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit
__ADS_1