
...πππ...
Dari arah luar, Juni membuka pintu belakang mobil untuk mengambil hapenya yang terjatuh di jok mobil.
Ceklek.
Haikal membuka ke dua matanya, sial, siapa lagi yang dateng!
Haikal langsung melepaskan pagutannn bibirnya dari bibir Novi, bersikap biasa saja tangannya melepasss konci mobil dari kontaknya.
"Eh sorry, gw kira udah kaga ada orang!" Juni nampak canggung saat Haikal ke luar dari dalam mobil dengan wajahnya yang datar.
Juni mengerutkan keningnya saat melihat Novi sedang duduk termangu di tempatnya, "Lo lagi ngapain, Nov? Apa lagi yang lo tunggu?" Tanya Juni dengan tatapan yang menyelidik, tadi kan yang bawa mobil pak Haikal, apa mungkin ini anak berdua ada main ya? Ah bukan urusan gw juga!
Novi tersadar dari lamunannya, "I- ini gw juga mau ke luar kok!" Novi langsung ke luar dari dalam mobil.
Novi celingukan mencari ke beradaan Haikal, laki laki yang berhasil merebut ciumannn nya kembali, namun juga sudah meruntuhkan hati Novi pada laki laki.
Paman Haikal ke mana ya? Cepat banget ngilangnya!
Juni kembali mendapati Novi tengah celingukan seperti orang yang bingung, pada hal selama mengenal Novi, Juni tidak pernah melihat Novi yang seperti ini.
"Gw cari yang lain, pada ke mana sih?" Kilah Novi.
Juni menunjuk ke arah depannya yang tidak jauh ada beberapa pedangan dengan gerobaknya dengan tenda biru.
"Onoh, pada di sono. Kalo lo berdiri di sini, yang ada lo di lietin tuh sama para pengawal yang badannya gede gede. Mao lo di karungin sama mereka?" Juni melirikkan matanya ke arah kanannya, yang merupakan paviliun kediaman Pramana.
"Ihs ogah gw, kalo di karungin paman Haikal sih gw gak nolak hahahha." Novi tergelak.
Brak.
Novi menggeprak bahu Juni, "Ayo jalan lah. Gw udah laper nih!"
Juni geleng geleng kepala melihat tingkah Novi, "Dasarrr bocah eror, udah angot dia ke dirinya yang semua." Gerutu Juni yang lantas menyusul langkah Novi bergabung bersama dengan yang lainnya.
Dari ke jauhan Haikal menatap Novi dengan tangan yang mengepal, dasarrr bocah plangton. Tidak bisa kah menjaga sikap mu dari pria lain?
πDi kamar Pram dan Nairaπ
Pram menemani Naira yang tengah belajar dengan serius, melihat Naira yang tengah duduk melantai, bubu buku di atas meja, sesekali dagu ya menopang wajahnya yang tertempel di atas meja.
Sedangkan Pram mengerjakan pekerjaannya dengan menggunakan laptopnya dengan duduk tegak di atas sofa sambil memangku laptop di atas ke dua pahanya.
Dreet dreet dreet.
Hape Pram yang ada di atas meja bergetar.
Naira meraih hapenya yang sama sama ada di atas meja, namun tidak ada pesan yang masuk.
Naira melirik sepintas hape Pram yang ada di depan Pram di atas meja.
"Ihs kaka, hape mu mengganggu tuh!" Keluh Naira dengan bibir yang mengerucut.
Pram mengerutkan keningnya dan menoleh pada Naira, "Masa sih?"
Naira menganggukkan kepalanya, "Aku pikir hape ku yang menerima pesan, gak taunya dari hape kaka!" Seru Naira yang melanjutkan kembali belajarnya.
Tangan Pram terulur mengambil hape-nya yang ada di atas meja, melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Semuanya sudah siap bos, teman teman Nona juga baru saja sampai."
__ADS_1
Pram menyunggingkan senyumnya saat Dega melaporkan jika semua yang ia minta sudah beres. Kini tinggal cara Pram untuk mengatakannya pada Naira yang masih belajar.
Pram menghentikan ke sibukan dan menaruh laptopnya di atas meja, menyandarkan punggungnya di sofa dengan ke dua tangan yang merentang.
Pram membuang nafasnya dengan kasar, "Apa kau masih lama, hem?" Tanya Pram dengan lembut.
"Sedikit lagi, memang ada apa sih ka? Mau ajak aku makan bakso di luaran ya?" Naira menoleh dengan menunjukkan sederet gigi putihnya pada Pram dengan mata yang berbinar.
"Jangan ge'er kau ya! Malam ini kita tidak akan ke mana mana, di luar berbahaya!" Seru Pram yang beranjak dari duduknya berjalan ke arah balkon, melihat apa yang terjadi di bawah sana.
Pram membatin, perfek.
"Ah kaka mah gitu, udah mesummm ternyata gak tepatin janji juga!" Naira mengerucutkan bibirnya dan menyudahi bajarnya, mood nya hancur seketika saat Pram mengatakan tidak akan ke mana mana.
Naira menyimpan tasnya di tempatnya. Lalu naik ke atas tempat tidur dan meraih hape-nya.
Pram menarik sudut bibirnya ke atas meski hampir tidak terlihat, begitu saja sudah ngambek, bagai mana jika dia tahu aku membuat kan kejutan untuknya? Dia pasti akan menyukainya!
"Apa kau tidak ingin berganti baju?" Tanya Pram saat berdiri di samping Naira yang tengah bermain game dari hapemya.
Naira mengerutkan keningnya, menatap tajam pria yang berstatus suaminya kini, matanya menyelidik, "Buat apa ganti pakaian? Kan kita gak ke mana mana! Pikunnn ya? Ka Pram sendiri yang mengatakan itu!" Naira mengatakannya dengan ketus.
Bukannya bersikap romantis, Pram langsung meraih tangan Naira dan membawanya dengan cara di panggul.
"Aakkkhh."
Bugh bugh bugh.
"Kaka ihhhhhhh, apa apaan sih! Turunin gak!" Naira memukulll mukulll punggung Pram dengan tangannya.
"Tidak akan!" Pram mengatakannya dengan dingin.
"Iihhhhsss, nyebelin banget sih! Turunin, aku lagi kesel nih sama kaka, turunin!" Naira terus mengoceh meski mereka berdua kini sudah berada di dalam lift.
Ting.
"Tuan, Nona ----"
Pak Dedi yang berada di depan pintu lift menajamkan matanya saat melihat Tuan-nya tengah memanggul tubuh Naira, sedang Naira sendiri terus mengoceh.
"Pak Dediii! Tolongin!"
Pram menyuruh Dedi diam dengan gerakan alisnya yang menukik tajam. Seolah memberikan perintah pada Dedi untuk diam, sedangkan kakinya terus melangkah di ikuti Dedi yang mengekori Tuannya.
"Pramana Sudiro! Turunin gak!" Naira mengataknnya dengan suara yang naikbsatu oktaf.
Setelah sampai di halaman rumah Naira melihat samar samar, dari ke jauhan ada sesuatu yang berbeda di halaman tempat Pram tengah berpijak, ini gak mungkin kan? Gimana bisa?
Pram menurunkan Naira dari bahunya, "Apanya yang tidak mungkin untuk ku lakukan? Semua ini nyata kan!" Seru Pram dengan suaranya yang lembut menghembuskan nafasnya yang segar di telinga Naira.
Tangannya mengucek ucek ke dua matanya, "Ini gak salah? Beneran ada? Waaaaaah mauuuuuu!" Naira berlari ke arah tukang bakso seperti anak kecil yang akan mendapatkan mainan ke sukaannya.
"Hai! Kau melupakan ku!" Seru Pram yang melangkah ke depan menyusul istri kecilnya.
Sedangakn anak buahnya yang ada di halaman tampak terkejut saat melihat bosnya yang berjalan di belakan Nona Muda-nya dengan piyaman pink polkadot, motif dan warna yang sama seperti yang sedang Naira kenakan.
Dega menyenggol lengan Haikal yang berada di paviliun, berusaha menahan tawanya, "Puuuufhhh astaga, lihat itu! Bos mu? Gak salah itu pake pink?"
Haikal menajamkan matanya melihat ke arah yang di tunjuk oleh Dega, astaga bos bos, betapa besar pengaruh mu Nona untuk Tuan ku.
"Kau tahu Haikal, saat kau merasakan jatuh cinta, kau akan seperti bos! Melakukan apa pun demi cinta!" Ujar Dega.
__ADS_1
"Persetan dengan cinta." Kilah Haikal.
"Itu karena kau belum merasakannya!" Kilah Dega.
Juni melihat Naira yang kini sudah berdiri di samping kang bakso, memesan bakso ke sukaannya.
"Pak, mau satu ya!" Seru Naira.
"Beres Nona!" Apa ini ya pemilik rumah megah ini? Beruntung sekali jadi Nona ini, bisa melakukan ini semua dengan uangnya.
"Astaga Nai, suami lo bener bener keren!" Seru Juni yang sedang menikmati mertabak bersama dengan Ayu.
"Iya Nai keren, pak Pram gak ada duanya deh." Seru Ayu.
Naira mengerut kan keningnya dan menghampiri ke duanya, "Ko kalian bisa ada di sini?" Naira mendudukan dirinya di kursi yang memang sudah di sediakan, karena dia pikir Pram hanya mendatang kan pedagangnya saja tapi ternyata Pram melakukan lebih.
"Siapa lagi kalo bukan pak Pram, Nai!" Seru Angga dari arah lain dengan tangannya yang membawa bubur kacang ijo di mangkuk.
Di saat kang bakso ingin mengantarkan pesanan Naira yang sudah jadi, Pram menghentikan nya, "Biar saya saja, pak!" Seru Pram dengan suaranya yang datar.
Kang bakso memperhatikan wajah Pram yang tampan di tambah tubuhnya yang atletis di balik piyami pink polkadot yang tengah melekat di tubuhnya. Ini baru suami hebat, saya aja gak mau kalo di suruh pake baju pink.
"Silahkan Tuan, maaf Tuan... in ---"
Kenapa mereka semua mempermasalah kan warna piyama ku? "Iya saya suaminya, suami hebat kan!"
Kang bakso membola, "Hah? Saya kan mengatakannya dalam hati?"
Pram mengambil alih mangkok bakso yang di pesan Naira dan membawanya pada sang pemesan.
"Maaf Nona, pesenan anda!" Seru Pram dengan tangannya yang meletakkan semangkuk bakso di hadapan Naira.
"Lama banget sih! Gak tau apa aku tuh udah laper!" Gerutu Naira yang ke mudian menarik lengan Pram hingga Pram terduduk di sebelah Naira.
Juni menahan tawanya melihat Pram, pria kejam mengenakan piyama berwarna pink, astaga pak Pram bisa juga bersikap kocak kaya gini, "Puuufffh."
Pram menatap tajam Juni dan Juni menyadari Pram yang tengah menatapnya tajam.
Gila serem ih pak kalo kalo lagi kaya gitu, gak jadi kocak deh.
"Pak Pram, terima kasih atas apa yang sudah bapak lakukan!" Seru Angga dengan mendudukan dirinya di depan Pram.
"Aku melakukannya untuk wanita ku! Kau tidak perlu sungkan." Ucap Pram datar.
"Emang apa yang ka Pram lakukan?" Naira menyuapkan bakso ke depan mulut Pram dan di lahap langsung oleh Pram.
Pram menggelengkan kepalanya pada Angga.
"Tidak ada, Nai!" Banyak yang udah pak Pram lakuin buat lo Naira, mungkin ini yang di namakan cinta suami kejam buat lo. Di balik sikap kejamnya, ada sisi lembutnya buat lo seorang.
"Novi ke mana?" Tanya Mega dengan tangannya yang membawa pecel lele dan mendudukkan dirinya di bangku di antara Ayu dan Juni.
"Paman Haikal!"
......................
...π Bersambung π...
...πππππ...
Salam manis author gabut π
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen ππ