Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Terlibat atau tidak


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


[ "Apa bocah sialannn itu yang menjadi korbannya? ]


"Maaf Nona, saya kurang tahu. Saat saya ingin memastikan siapa yang menjadi korbannya, tidak tahu datang dari mana... banyak pria dengan berbadan besar datang ke arah kedei."


[ "Apa kau tahu siapa mereka?" ]


"Tidak Nona, saya tidak tahu siapa mereka."


[ "Untuk sementara waktu kau bersembunyi dulu, sisa bayarannya sudah aku kirim ke rekening mu!" ]


Tanpa menunggu jawaban, wanita itu memutuskan sambungan teleponnya.


Haikal merebut kembali hape si pria itu.


"Aku sudah melakukan apa yang kalian minta, sekarang bebas kan aku dari tempat ini!" Seru pria itu.


Haikal menyeringai, "Kau pikir aku ini bodoh melepaskan mu begitu saja?"


"A- apa maksud kalian?" Pria itu berusaha berdiri.


Tapi Haikal mengarahkan pistolnya ke arah jantung si pria.


Dor.


Bugh.


Pria itu terkapar di lantai dengan matanya yang terbuka.


"Bagai mana selanjutnya?" Tanya Dega.


"Kabari bos Pram lah, baru kita ambil tindakan untuk uler keket itu!" Seru Haikal melangkah meninggalkan ruang eksekusi.


"Tubuhnya mau di apakan, bos?" Tanya pria yang berdiri di depan pintu saat melihat pria yang ada di dalam ruang eksekusi sudah tewas.


"Pelurunya ke luarkan dulu dari tubuhnya, baru mayatnya bisa kau berikan pada cicak besar yang ada di penangkaran." Oceh Haikal dengan mengelap ke dua tangannya pada handuk kecil yang di berikan pria yang ada di depannya.


Haikal memberikan perintah pada Dega sebelum ia menaiki motor sport yang terparkir di pelataran parkir markas.


"Kau kirim orang untuk mengawasi setiap gerak gerik Karin."


"Lalu kau mau ke mana?" Tanya Dega.


"Rumah sakit, kau mau ikut?" Tanya Haikal dengan dingin. Tubuhnya yang kekar menunggangi motor sport kesayangannya.


"Ihs pasti ingin menemui bocah plangton itu?"


Haikal meminta Dega untuk lebih dekat darinya. dengan gerakan jari tangan kanannya.


Tak.


Haikal menjitak kepala Dega dengan kerasss.

__ADS_1


"Aaawwwhhh!"


"Bukan urusan mu, aku mau melihat bocah itu atau bos!" Sungut Haikal yang lantas memacu motor sportnya dengan kecepatan tinggi.


πŸ‚Rumah sakitπŸ‚


Novi sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Sedangkan Ayu masih berada di dalam ruang operasi.


Di ruang perawatan ada ibunya Novi yang menungguinya bersama dengan Naira dan Pram.


Sedangkan Novi sendiri masih memejamkan ke duanya matanya karena efek obat tidur.


Ibunya Novi mendudukkan dirinya di kursi yang berada dekat di samping ranjang rawat.


"Kamu anak ibu yang kuat, nak! Kamu pasti bisa melewati ini semua!" Ucap ibunya Novi yang tampak tegar.


Naira menghampiri ibunya Novi dan berdiri di samping ibunya Novi.


Tangannya Naira terulur mengusap lembut punggung wanita oaruh baya yang usinya sama dengan ibunya, hanya bedanya ibunya Novi tampak keriput di wajahnya.


"Maafin Nai, ya bu! Nai juga gak tau kenapa bisa ada musibah kaya gini!" Ucap Naira dengan penyesalan.


"Ini bukan salah kamu, Nai. Ibu tidak menyalahkan mu atas musibah yang menimpa Novi. Memang anak ibu aja yang ceroboh." Ucap si ibu dengan tulus.


"Coba saja Novi menyelamatkan dirinya dari pada barang barang yang ada di lantai 2, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini, bu!" Ucap Naira.


"Novi hanya mencoba menyelamatkan apa yang menurut nya bisa di selamatkan apa lagi barang itu berarti untuk mu, Nai!"


Naira mengerutkan keningnya, "Barang yang berarti, bu?" Seingat ku tidak ada barang yang berarti di lantai atas.


Tok tok tok.


"Boleh saya masuk, Tuan!" Ucap Haikal yang tahu jika Pram berada di ruang rawat Novi.


Pram mendekati Naira dengan tangannya yang merekat pada pinggul Naira lalu Pram mengecup keningnya.


"Tunggu lah di sini, ada yang ingin aku selesai kan dengan Haikal!"


Naira hanya menganggukkan kepalanya menatap punggung Pram yang kini hilang di balik pintu rawat.


"Pria itu sangat mencintai mu, nak!" Ujar si ibu pada Naira.


Naira menoleh ke arah ibunya Novi, "Hehehe maksud ibu, ka Pram?"


Ibunya Novi mengangguk kan kepalanya, "Kapan Novi bisa mendapatkan pacar seperti mu, nak Naira! Pria yang sangat mencintainya dan mau melindungi Novi dengan segenap jiwa dan raganya."


"Tidak lama lagi, bu!" Ujar Naira dengan senyum mengembang di bibirnya, ibu tidak tahu saja kalo Novi sepertinya sudah dalam masa penjajakan dengan bang Haikal, apa mereka sudah jadian ya?


Pram bersama Haikal berada di luar ruang rawat Novi.


Pram melihat CCTV markas lewat hapenya menyaksikan apa saja yang terjadi pada saat pria yang menjadi tersangka tengah berbicara di telpon dengan wanita yang menyuruhnya.


Pram menyimpan kembali hapenya ke dalam saku celananya.

__ADS_1


"Aku minta kau selidiki Elsa dan Juni! Aku curiga mereka juga terlibat dalam hal ini, sangat ganjal jika ke duanya bisa lolos dari kebakaran." Ucap Pram dengan tatapan matanya yang tajam di tambah suaranya yang datar terkesan tegas.


Haikal menjawabnya, "Baik, bos!"


"Untuk Karin, cukup kau awasi pergerakan wanita itu. Jika semuanya sudah jelas, terlibat atau tidak Elsa dan Juni, baru kau habisiii Karin. Apa pun yang terjadi, langsung habisiii orang orang yang terlibat dalam pembakaran kedei."


"Siap, bos!"


Pram melihat Haikal yang hanya diam dan tidak melakukan apa apa membuatnya mengernyitkan dahinya.


"Tunggu apa lagi, Haikal?" Tanya Pram.


Haikal tampak ragu dengan matanya yang melirik ke arah pintu rawat Novi, aku ingin melihat bocah plangton, apa dia sudah baikan? Bagai mana keadaan nya?


Pram mendengus, "Dasarrr pria payah, masuk sana kalo kau benar benar ingin tahu keadaannya!"


Haikal menoleh ke arah Pram, "Terima kasih bos, atas pengertian nya." Ucap Haikal yang lantas masuk ke dalam ruang rawat Novi.


Pram geleng geleng kepala, untuk mengatakan pada ku saja kau sangat sulit Haikal, bagai mana kau bisa menghadapi wanita tua yang ada di dalam sana? Benar benar anak buah yang payah!


Ceklek.


Haikal masuk ke dalam ruang rawat di ikuti Pram yang juga menyusulnya.


Pram berdiri di depan pintu menunggu anak buahnya untuk maju mendekat pada ranjang rawat Novi dan menanti apa yang akan di lakukan Haikal pada wanita tua yang duduk di dekat ranjang rawat Novi.


Haikal mengangguk hormat pada Naira, namun tampak canggung untuk berhadapan dengan wanita paruh baya yang berada di samping Naira.


Naira melihat ke arah Haikal yang berdiri di dekat kakinya Novi, "Nah ini dia, ibu... aku tinggal dulu ya! Kalo ada apa apa, katakan saja pada pria ini ya bu!" Naira mencium pungging tangan kanan ibunya Novi.


Ibunya Novi mengerutkan kening nya, "Kenapa dengan pria ini, nak?"


Naira berbisik sebelum melangkah menjauh dari ibunya Novi, "Calon mantu!"


Ibunya Novi membola, menatap heran pada Haikal, pria ini tampak dewasa di usianya yang matang, apa iya putri ku berjodoh dengan pria macam ini?


Naira menggenggam tangan Pram, membawanya ke luar meninggal kan kamar rawat Novi.


"Ayo ka, kita lihat ka Ayu, apa dia sudah selesai di operasi!" Seru Naira.


Di luar ruang rawat, saat berada di koridor rumah sakit. Pram menghentikan langkahnya dan membuat Naira ikut menghentikan langkah kakinya juga.


"Ada apa lagi ka?" Tanya Naira dengan polosnya.


"Benda penting apa yang kau tinggalkan di kedei, lantai atas?" Tanya Pram dengan matanya yang menatap tajam Naira.


......................


...πŸ’– Bersambung πŸ’–...


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2