
...💖💖💖...
Naira melangkahkan kakinya, hendak ke luar dari ruang kerja Pram.
Sreeek.
Bugh.
Pram menghentikan langkah kaki istrinya itu, menarik tangan Naira dan berakhir di atas pangkuan Pram.
"Bicara lah, apa yang ingin kau bicara kan?" Ucap Pram dengan menatap Nabila, putri dari pak Nabil yang baru saja melakukan meeting dengan nya.
"Kaaaa!" Naira berusaha turun dari pangkuan Pram, tapi ke dua tangan Pram menahannya dan menepuk paha Naira.
Plak.
"Ihss kaka mah!" Dengus Naira.
Nabila mengajak Pram untuk makan malam, di depan wanita yang di pikirannya adalah adik perempuan nya Pram.
"Baik lah, jujur saya tertarik dengan anda. Bisa jika nanti malam, anda meluangkan waktu untuk kita berdua makan malam bersama?" Nabila menatap Pram dengan penuh harap.
Naira langsung membulatkan matanya, dengan mulutnya yang sedikit menganga, gila ini cewe kirain rekan kerja, ternyata hama yang perlu di basmi.
Naira mendongak ke wajah Pram, dengan wajah yang masam, bibir mengerucut.
Perlu aku basmi nih hama ka, boleh kan kalo aku bertindak? Ayo kedipin satu mata ka Pram kalo setuju dengan ide ku ini!
Pram menyeringai, Pram mengedip kan satu matanya, setuju dengan apa yang akan Naira lakukan. Pram percaya dengan apa yang akan Naira lakukan.
Naira mengecup pipi Pram, ke dua tangan Naira pun kini mengalung di leher Pram.
Naira berkata dengan manja, "Sayang, di ajak tuh makan malam! Apa kamu gak ingin... minta izin sama istri sah? Istri sah denger lo." Naira menjeda perkataannya.
Naira mendekatkan bibirnya di daun telinga Pram, dengan mata nya yang melirik pada wanita yang ada di hadapannya kini.
"Ada wanita lain yang ngajak kamu makan malam, suami ku!" Seru Naira.
Membuat Nabila yang mendengar nya langsung menatap tajam, manusia yang ada di hadapannya kini secara bergantian.
Nabila beranjak dari duduknya, dengan ke dua telapak tangannya yang berada di atas meja.
"Tunggu tunggu, apa anda bisa menjelaskan pada ku, siapa wanita ini pak Pram?" Nabila bertanya pada Pram.
"Hei Nona, apa telinga mu sedikit sedang terganggu. Anak sekolah dasar aja pasti sudah tau status seseorang. Tanpa perlu bertanya!" Gerutu Naira.
"Pak Pram! Gadis ini adik perempuan mu kan!" Tebak Nabila.
Pram menggelengkan kepalanya, "Sayang nya wanita ini bukan adik perempuan saya, Nona Nabila."
"Owh jadi nama anda itu Nabila, kaka Nabila yang terhormat, kenal kan aku Naira putri, tunangannya ka Pram, setelah aku lulus sekolah. Kau lah orang pertama yang akan mendapat kartu undangan pernikahan kami!" Naira mengulurkan tangan kanannya di depan Nabila.
Nabila membola, "Apa? Tu- tunangan? Ja- jadi, kalian akan segera menikah?" Tanya Nabila dengan terbata bata.
"Tidak sopan, mengabaikan seseorang yang ingin berjabat tangan dengan mu, Nona!" Sindir Pram, saat melihat uluran tangan Naira, belum juga di balas oleh Nabila.
Pada hal Pram sendiri selalu mengabaikan orang lain.
Naira tersenyum simpul pada Nabila, "Tidak apa jika ka Nabila menolak uluran tangan ku." Naira menarik kembali tangan kanannya yang terulur.
__ADS_1
"Eh maaf, a- aku hanya terkejut saja. A- aku Nabila. Maaf jika aku tadi dengan lancang mengajak pak Pram untuk makan malam berdua dengan ku, bagai mana jika kita makan malam bersama! Kita makan malam bertiga. Apa kau mau Nona?" Kini Nabila mengulur kan tangan kanannya di depan Naira.
Nabila tersenyum ramah pada Naira, yang sudah menikah saja masih bisa cerei, bagai mana dengan kalian yang baru bertunangan. Bukan hal yang sulit bagi ku!
Naira membalas uluran tangan Nabila dengan tulus.
"Dengan senang hati, kami akan datang memenuhi undangan mu, Nona!" Ujar Naira tanpa meminta persetujuan dari Pram, yang langsung mengiyakan nya, untuk memenuhi undangan makan malam Nabila.
"Baik lah kalo begitu, saya permisi. Maaf sudah mengganggu waktu kalian berdua." Nabila pamit undur diri dari ruang kerja Pram.
Kini hanya tinggal Naira dan Pram berdua.
Tap.
Naira beranjak dari pangkuan Pram, dengan ke dua kakinya yang menepak lantai.
"Kau mau ke mana, sayang?" Tanya Pram, saat melihat Naira melangkah ke arah sofa, tempat ia menaruh tas sekolah nya.
"Aku mau ke restoran yang ada di hotel ini ka!" Naira mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya.
"Biar kau di temani Haikal!" Ujar Pram.
"Tidak perlu... aku bisa sendiri, ka!" Naira melambaikan tangannya, tanpa berbalik untuk melihat ke arah Pram.
Ceklek.
Naira ke luar dari ruang kerja Pram.
Pram menyeringai, "Pasti kau akan kembali sayang! Dalam hitungan ke 3. 1, 2, --"
Ceklek.
"Kaaaa, di lantai berapa restoran di hotel ini?" Tanya Naira dengan suaranya yang khas.
"Lantai 8."
"Oke terima kasih!" Naira menutup pintu dengan kasar.
Brak.
Membuat Pram terperanjat dengan menggelengkan kepalanya.
"Astaga anak itu, benar benar!" Gumam Pram.
Ia langsung menghubungi Haikal.
...🍂Di ruang kerja Dev🍂...
"Apa menurut mu, akan terjadi pertengkaran antara Nona Muda dan bos Pram?" Tanya Haikal.
Karena bagai mana pun, Dev sudah membiarkan seorang wanita, masuk dan menunggu Pram di ruang kerjanya. Di saat Naira yang sedang berada di sana juga.
Dreeet dreeet dreeet.
"Bos Pram!" Ujar Haikal saat melihat layar hapenya, siapa orang yang tengah menghubunginya.
"Iya, bos?" Tanya Haikal.
[ "Ikuti Naira di lantai 8." ] Titah Pram yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, Dev melihat Naira tengah melintasi ruang kerjanya, lewat dinding kaca besar berwarna hitam yang terapat di ruang kerjanya.
"Itu kan Nona Muda! Mau apa Nona sendirian?" Gumam Dev.
Haikal beranjak dari duduknya, dengan memasukkan kembali hapenya ke dalam saku celananya.
"Mau ke mana kau?" Tanya Dev dingin.
"Menjalankan tugas baru!" Haikal melangkah meninggalkan ruang kerja Dev.
Haikal membatin, semoga saja Nona aman selama berada di lingkungan hotel ini.
Naira menginjak kan kakinya, di restoran yang terdapat di hotel Pram.
Naira nampak kagum dengan apa yang di lihatnya, gila ini mah keren banget. Pasti mahal, sekali makan di sini, eh tapi tenang... kartu dari ka Pram kan masih di dompet gw, aman lah ya. Cus lah masuk.
Naira di sambut ramah, oleh karyawan yang bertugas saat itu.
"Selamat datang Nona!" Seru karyawan wanita dengan seragam nya yang lengkap, menunduk hormat pada Naira.
"Ah iya, terima kasih. Oh iya mba, di mana saya bisa mendapatkan disert ya?" Tanya Naira.
"Dari sini Nona lurus saja, nanti di depan ada restoran khusus disert, Nona bisa menemukan berbagai disert di sana." Ujarnya ramah.
"Oh gitu ya, emmm kalo karyawan yang bernama Aisyah, apa dia masih bekerja di sini mbak?"
"Aisyah?" Tanya karyawan restoran.
"Iya, Aisyah. Waktu itu ka Aisyah pernah mengantarkan ice krim ke salah satu ruang kerja bos." Ucap Naira lagi.
"Nanti Nona bisa bertanya langsung pada karyawan disert." Ujarnya lagi.
"Oh gitu ya, terima kasih ya atas bantuannya mbak." Ucap Naira, yang lantas melangkah ke arah restoran, yang menghidangkan aneka disert.
Wanita yang di tanya Naira membatin, siapa ya cewek itu? Ko bisa Aisyah kenal sama Nona muda itu, siapa ya bos yang di maksud nya? Apa salah satu pemegang saham di hotel ini? Gak mungkin kan, kalo yang di maksud bos itu Tuan Pramana Sudiro! Itu Nona lembut banget, Tuan Pramana Sudiro terkenal dingin dan kejam.
Naira mendudukan dirinya, di kursi yang ada di lantai atas, dekat dengan pembatas. Setelah mengambil beberapa disert yang di inginkan di atas piringnya, Naira menikmati disert nya dengan pandangan yang menyapu ruang mencari sosok Aisyah.
Haikal masuk ke dalam restoran, matanya menyapu setiap sudut ruang. Mencari sosok Nona Muda-nya.
Haikal melangkah semakin dalam, "Itu Nona Muda!"
Seorang pria dewasa menghampiri meja Naira, ia berujar saat sudah berdiri di depan meja Naira.
"Halo Nona cantik, sendirian aja nih. Perlu saya temani gak?" Tanya seorang pria berkemeja putih, dengan tatapan matanya yang mesummm melihat Naira.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊
__ADS_1