
...πππ...
"Bagai mana ini bisa terjadi?" Aji bertanya pada sekretaris pribadi yang berdiri di sampingnya.
Aji menggaruk kepalanya frustasi, "Memang ada yang salah dengan keputusan ku?" Tanya Aji lagi.
Sekretaris Aji pun menjelaskan pada atasannya itu.
"Oh, ternyata karena itu." Aji menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Jadi kita harus bagai mana, pak? Jika ini di biarkan terjadi yang ada para investor akan menarik saham mereka dari perusahaan." Ujar sekretaris Aji dengan membuang nafasnya kasar.
Aji diam tak bergeming dengan senyum yang terus mengembang, Aji tengah membayangkan jika rencananya untuk membawa Naira di hadapannya berjalan dengan lancar.
Jika orang ku berhasil membawa gadis itu, tidak akan menutup kemungkinan Pram akan memberikan setengah kekayaan yang di milikinya pada ku, hahaha dengan begitu aku tidak memerlukan para investor dunguuu itu, justru mereka yang akan datang dengan sendirinya menawarkan diri untuk menanamkan modalnya.
Dreet dreet dreet.
πΆ πΆ πΆ
Dering telepon di saku celana Aji terus menjerit.
"Pak, pak!" Sekretaris pribadi Aji menyerukan nama Tuannya, namun tidak mendapat respon dari Aji.
Prak prak.
Sekretaris pribadi Aji yang bernama Tito menepuk nepuk pundak Tuannya.
"Ada apa?" Tanya Aji dengan ketus.
"Maaf Tuan, itu telpon anda dari tadi terus berdering." Oceh Tito.
"Oh, begitu ya!" Aji merogoh saku celananya dan melihat nama si penelpon, orang yang sedang di tunggunya.
Aji melirik Tito yang masih berdiri di sampingnya, "Kau urus pekerjaan yang lain!" Aji mengusir Tito dari ruang rapat.
Aji langsung menjawab panggilan teleponnya setelah Tito menghilang di balik pintu.
Dengan tidak sabaran, Aji menanyakan langsung pada orang yang tengah menelponnya.
"Bagai mana? Apa kau berhasil? Apa gadis itu sudah mengaku ada hubungan apa dirinya dengan putra ku Pramana?"
Tut tut tut tut.
Panggilan telepon berakhir.
Aji mengerutkan keningnya, menatap layar hapenya.
__ADS_1
"Kenapa dia memutuskan panggilannya? Dia juga tidak menjawab semua pertanyaan ku! Biar ku hubungi balik nomornya, mungkin saja kan orang ku itu kehabisan pulsa." Aji berfikir positif dan tidak mau ambil pusing.
Dengan yakin aji langsung menghubungi nomor telepon yang tadi menghubunginya.
[ "Nomor telepon yang anda tuju di luar jangkauan, mohon hubungi beberapa saat lagi." ] Suara operator yang menjawab.
Aji beranjak dari duduknya berjalan mondar mandir, dengan hape yang menempel di telinga kanannya, ia berusaha menghubungi kembali orang suruhannya.
Wajahnya nampak gelisah saat berkali kali ia menghubungi orang suruhannya namun hasilnya sama, mesin operator yg menjawab panggilan teleponnya.
Prang.
Aji melempar hapenya ke lantai, saking kesalnya.
πDi tempat lainπ
Rumah yang tidak jauh dari keberadaan Hotel start.
Di situ lah saat ini orang orang suruhan Aji berada, dengan tangan dan kaki yang terikat, mulut yang di sumpal dengan lakban, mata yang di tutup dengan kain. Bahkan ada dari mereka yang keadaannya sangat mengenaskan, dengan tubuh yang babak belur karena di pukuli oleh anak buahnya Haikal.
Haikal tengah duduk seorang diri dengan tangannya menggenggam hape dari salah satu pelaku yang sudah menyerangnya tadi.
Haikal sudah tahu dalang dari penyerangan yang terjadi.
Sedangkan di atas meja ada beberapa hape hasil sitaan dari para pelaku lainnya.
"Hufh."
"Sekarang apa yang harus aku lakukan. Menunggu bos Pram kembali dari Jepang atau aku yang mengabari bos Pram?" Haikal menggaruk kepalanya dengan frustasi.
Haikal menghubungi Dega yang saat ini berada di kediaman Pramana.
"Apa ----"
Perkataan Haikal langsung di potong dengan pertanyaan Dega.
[ "Apa kau merindukan ku?" ] Tanya Dega dari sebrang sana.
"Sialll kau." Haikal mengumpat, mana mungkin gw merindukan lo, dasarrr bocah ini lama lama sama dengan bocah plangton itu!
[ "Ahahaha, ada apa dengan lo bang?" ] Tanya Dega yang terkekeh di sebrang sana.
"Tidak ada, gw butuh jawaban lo." Haikal berkata dengan ketus.
[ "Lo butuh jawaban apa dari gw, bang?" ] Tanya Dega yang tengah berdiri di depan pintu utama kediaman Pramana.
"Dari saat kembali sampai saat ini, apa ada yang berbeda dengan Nona Muda?" Tanya Haikal yang kini menegakkan posisi duduknya, wajahnya tampak tegang menunggu jawaban yang akan di berikan Dega.
__ADS_1
Haikal membatin, gw berharap gak ada perubahan pada diri Nona Muda, jika itu sampai terjadi, hidup gw yang akan jadi taruhannya.
[ "Nona Muda baik baik aja, bang... tidak ada yang berubah dari sikap Nona... lo tau kan Nona Muda itu ceria dan bawel apa lagi saat ini ada temannya yang selalu bersamanya."]
"Dega, perketat penjagaan di luar kediaman Pramana, jika perlu... tambah CCTV yang mengarah ke luar gerbang."
[ "Beres bang." ]
Haikal langsung memutuskan sambungan teleponnya dan bernafas dengan lega.
"Tapi biar bagai mana pun, bos pram berhak tahu atas apa yang menimpa Nona Muda tadi... apa pun resikonya, gw harus terima." Gumam Haikal.
πDi Jepangπ
Bila di Indonesia saat ini pukul 5 sore, maka di Jepang saat ini adalah pukul 7 malam.
Pram dan Dev sedang berada di dalam perjalanan menuju hotel tempat mereka menginap.
Dev yang sedang fokus pada jalan pun akhirnya membuka suara dan bertanya pada Tuannya Pram.
"Apa tidak seharusnya kita meninjau lokasi terlebih dahulu, pak? Sebelum kembali ke hotel!"
Pram melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya, "Hem, ku rasa tidak ada salahnya, ini juga masih terlalu dini untuk kembali ke hotel dan beristirahat kan!" Seru Pram yang menyetujui saran dari Dev untuk meninjau lokasi pembangunan hotel.
Dari kaca mobil Pram melihat pemandangan di luar, lampu lampu berkelap kelip menyinari jalan, sepanjang jalan banyak toko toko yang menjajakan dagangannya. Tidak sedikit pejalan kaki yang berjalan di terotoar.
Dalam diam pram memikirkan istri nakalnya.
Saat ini pasti Naira sedang sibuk di kedei, memantau para teman yang sekaligus karyawannya sendiri tengah sibuk dengan pengunjung, atau sedang berdebat dengan Ayu atau pun Novi, bertukar pikiran dengan Angga, entah lah... yang pasti anak itu tidak ada kata lelah menghabiskan waktunya. Jika wanita lain pasti akan menghabiskan waktu di rumah, bermalas malasan dengan kaki yang di gips, hanya Naira ku yang unik dan aneh, dengan tingkah nyelenehnya.
Dreet dreet dreet.
Hape Pram yang ada di saku jasnya bergetar.
Pram mengeluarkan hapenya dari dalam saku jasnya.
Ini pasti Naira yang sedang merindukan ku hingga ia menelpon ku. Pram menarik sudut bibirnya ke atas memikirkan jika orang yang sedang menghubunginya adalah Naira, istri kecilnya yang saat ini ia sedang rindukan.
Namun dugaannya meleset, saat melihat kontak yang muncul di layar hapenya adalah Haikal.
"Pram mengerutkan keningnya, mau apa Haikal menghubungi ku?" Gumam Pram yang masih bisa di dengar Dev di balik kemudi.
"Kenapa tidak di jawab saja, pak!" Seru Dev.
...πππππ...
Salam manis author gabut
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π