Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Jangan panggil aku bapak


__ADS_3

...💖💖💖...


"Pak Pram!" Ku panggil namanya.


"Heeem!"


"Apa kaki bapak tidak pegel?" Tanya ku yang merasa terlalu berlebihan jika aku harus berada di pangkuannya, apa lagi pak Pram terus saja menggelayut manja di bahu ku udah tua gak berasa punya badan berat apa ya!


Pak Pram mengendurkan pelukannya dari pinggang ku, mengarahkan wajah ku untuk menatap wajahnya.


"Apa kau keberatan?" Tanya pak Pram dengan lembut.


Gilaaa pak Pram abis nelen apa ya? Apa salah makan apa gitu? Jadi lembut gini ngomongnya! Gw jadi geli dah, apa lagi liet sorot matanya ya elaaah teduh bener, bibirnya merah banget udah kaya cabe rawit penggugah napsu makan, ini beneran pak Pram bukan si?


Tatapan pak Pram seolah membawa ku larut dalam diam sibuk dengan pemikiran ku saat menilai setiap inci apa yang ada pada wajahnya.


Pram menarik sudut bibirnya ke atas saat pertanyaan yang ia tujukan pada Naira enggan mendapat jawaban, justru saat ini Naira tengah larut dalam menikmati pahatan wajah rupawannya.


Aku tahu kau merasa beruntung memiliki suami seperti ku, Naira! Aku gagah, tampan, aku kaya, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menolak ku, termasuk diri mu sendiri, Naira!


Dev melirik dari kaca spion mobil, hadeeeh kalo lagi jinak gini, tolong lihat situasi, ada aku yang jadi nyamuk, mesra mesraannya di rumah saja lah pak! Aku jamin sebentar lagi pak Pram pasti mendaratkan ciumannn panasss di bibir mungil Nona Naira.


Pram menahan tengkuk leher Naira dan membenamkan bibirnya di bibir mungil Naira, menyesapp bibir bawahnya lalu menggigittt kecil hingga Naira membuka mulutnya dan di manfaatkan Pram dengan meneroboskan lidahnya ke dalam mulut Naira, mengabsen setiap sudut mulut gadis yang kini tercengang, menatap Pram dengan membola.


Aihhh pak Pram maen nyosor aja, gak malu apa di sini masih ada pak Dev, "Emmmm... pak ma--" Tangan ku mendorong tubuh pak Pram agar melepaskan pagutannya, tapi sepertinya akan sia sia jika pak Pram sendiri belum mau melepaskan pagutannya, dia terus menahan tengkuk leher ku yang tidak bisa jauh dari wajahnya.


Otak ku sepertinya sudah gila, tidak bisa menahan hasrat jika terus seperti ini, apa aku harus membuang benih ku dalam rahim mu? Untuk menahan mu tidak jauh pergi dari ku!


Naira menghirup udara saat pak Pram melepaskan pagutannya, "Hous hous hous."


Pak Pram menyapu bibir ku yang basah dengan jempolnya.


"Dasar rubah tua, mesum! bisa gak sih kalo mau apa apa tuh bilang dulu!" Dumel ku bak petasan banting.


"Apa dengan aku bilang, kau akan membiarkan ku mencium mu?" Tanya pak Pram.


"Ya gak lah! Ngapain ngasih kalo bapak sendiri gak tau tempat! Gak malu apa di lietin tuh sama pak Dev!" Bibir ku mengerucut sebel, udah tua tapi gak punya malu, astaga pak Pram, sadar umur woy!


Dev yang tengah mengemudi hanya tersenyum simpul melihat kelakuan Nona mudanya yang masih belum terbiasa dengan perlakuan pak Pram. Haduh Nona, jangan bawa bawa diri ku dalam derita mu.


Pak Pram menatap tajam Dev, "Apa kau melihat sesuatu, Dev?"


"Tidak, pak!" Seru Dev datar.


"Ihs, mana mungkin pak Dev akan mengatakan lihat, pasti bapak kan yang nyuruh pak Dev buat bilang gak lihat?" Ku tatap tajam pak Pram.

__ADS_1


"Apa kau dengar apa yang di katakan Nona mu ini Dev?" Tanya pak Pram lagi.


"Maaf pak, saya tidak mendengar Nona bicara dengan saya!" Seru Dev yang membuat Naira semakin geram.


"Iiiih, nyebelin banget si!" Aku hendak turun dari pangkuan pak Pram namun ke dua tangannya yang kekar melingkar lagi di pinggang ku.


"Tetap lah seperti ini!" Pak Pram menyandarkan kepala ku di dadanya yang bidang.


Ku dongakkan wajah ku ke wajah pak Pram, "Apa bapak gak takut aku tertidur? Terus aku ngiler di baju bapak?" Tanya ku.


Pak Pram menatap wajah ku, "Ngiler?"


"Jangan bilang kalo bapak gak tau apa itu ngiler?" Ledek ku, pak Pram langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku memang tidak tahu, apa itu ngiler?"


Astagaaaa, pak Pram ngiler aja pake gak tahu, ku buang nafas ku dengan berat.


"Ada apa?" Tanya pak Pram.


"Gak usah bahas iler lah, oh iya pak Pram... bener ga yang 200 juta mau bapak kasih ke saya buat uang nafkah?" Tanya ku dengan mata berbinar.


Pak Pram Mengerutkan kening, "Apa kau belum mengecek saldo ATM mu?"


Tak.


Pak Pram menyentil kening ku.


"Awh, sakit ih!" Ku usap kening ku yang kena sentil tangannya.


"Apa sesakit itu?" pak Pram cemas dan ke dua tangannya menangkup pipi ku lalu meniupkan kening ku yang tadi di sentilnya.


Ku tepis tangannya, "Bapak lebay!" Seru ku.


"Bisa tidak, jangan panggil aku bapak lagi!" Pak Pram memeluk ku erat, "Telinga ku gatal setiap kau memanggil ku pak!"


"Itu panggilan yang cocok untuk mu, pak!" Ujar ku acuh.


"Astaga Naira! Setua itu aku di mata mu? Hingga tidak ada panggilan yang bagus untuk ku?"


"Emmmmm, apa ya? Om mesum?" Ledek ku.


"Sayang, cinta, atau apa lah panggilan untuk anak jaman sekarang pada kekasihnya."


"Apa? Sayang? Bapak lagi mimpi di siang bolong?" Tanpa perasaan aku bertanya seperti itu padanya

__ADS_1


Pak Pram berkata dengan dingin tanpa ekspresi di wajahnya, "Apa kau ingin lihat aku tidak berperasaan pada mu? Baru kau tidak akan memanggil ku pak!"


Suara pak Pram terdengar dingin dan mengerikan di telinga ku.


"Tidak perlu, biar aku fikirkan dulu panggilan apa yang cocok untuk bapak!" Seru ku dengan mengelus dadanya.


Aku berfikir keras, panggilan untuk anak jaman sekarang pada kekasihnya... gw aja belum pernah pacaran, gimana tau panggilan sayang buat pacar, tau tau sekarang gw udah nikah ama lu pak Pram dodol, rubah tua yang mesum tingkat dewa.


Tanpa terasa mobil sudah sampai di depan parkiran kedei start.


"Akhirnya kita sampe, pak!" Aku berseru senang, terbebas dari mikir panjang buat nyarin panggilan yang pas buat pak Pram.


Aku hendak membuka pintu, namun tangan ku di tahan oleh pak Pram.


Pak Pram menyuruh pak Dev untuk turun duluan, "Dev, kau turun duluan!"


"Baik, pak!"


Sebelum Dev menutup pintu mobil, ia menatap mata ku sebentar, habis lah kau Nona, cepat carikan nama panggilan yang cocok untuk pak Pram.


"Pak Dev, jangan turun!" Pinta ku namun sayangnya pak Dev tetap turun dari mobil dan menutup pintu mobil.


Kini tinggal lah aku berdua di dalam mobil bersama dengan pak Pram, pria yang tidak ingin lagi mendengar aku memanggilnya pak, aku harus panggil apa untuk mu, pak? Ku tatap wajah pak Pram.


"Sudah kau fikirkan, mau memanggil ku apa?" Pak Pram mengangkat dagu ku memaksa ku menatap matanya.


Ku panggil pak Pram dengan kata, "Kaka!"


Pak Pram menggelengkan kepalanya.


"Om?"


Pak Pram menggelengkan kepalanya lagi.


"Sayang jika kita di rumah, kaka jika kita di luaran! Setidaknya panggilan itu bertahan selama kau masih sekolah." Ujar pak Pram.


"Huuuh, baik lah."


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊


No komen julid nyelekit

__ADS_1


__ADS_2