Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Pram tidak cemburu


__ADS_3

...💖💖💖...


"Aku baru tahu lo, ternyata ka Pram bisa nangis juga! Tapi aku penasaran, apa yang ada di dalam mimpi ka Pram? Kenapa ia begitu ke takutan untuk ke hilangan. Ke hilangan siapa ya?" Naira memutar bola matanya, menerka nerka apa yang terjadi dengan Pram.


Mentari pagi menyapa kamar yang di tempati Pram dan Naira. Pram lebih dulu bangun, mentap lekat wajah Naira yang masih terlelap.


"Aku tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika mimpi itu jadi ke nyataan. Aku tidak bisa ke hilangan mu!" Pram membelai lembut pipi Naira. Membuat Naira merasa terusik dan kini membuka ke dua matanya.


"Ka Pram sudah bangun? Kaka sudah tidak apa apa kan?" tanya Naira dengan suara parau khas orang bangun tidur, menggenggam tangan Pram yang di gunakan untuk mengelus pipi Naira.


"Aku tidak apa apa, selama kau ada bersama dengan ku!" Pram menyunggingkan senyumannya, menunjukkan bahwa ia tidak apa apa.


Naira melingkarkan tangannya di leher Pram, membuat Pram mencondongkan tubuhnya, berada tepat di atas tubuh Naira.


"Jangan seperti semalam lagi! Kau membuat ku takut ka!" ucap Naira dengan suara yang manja.


Pram menautkan keningnya dengan kening Naira, "Tidak akan, aku tidak akan membuat mu takut lagi!" harusnya aku kan yang merasa takut, aku tidak akan membiarkan Naira berada dalam bahaya. Anggap mimpi ku hanya lah kebodohan yang tidak akan pernah aku lakukan.


Pram menggendong Naira, membawanya ke kamar mandi, "Setelah mandi, kita langsung ke bandara ya! Kita sarapan di bandara saja!" ucap Pram.


"Apa pun itu, aku mah ayo aja!"


Tidak ada kegiatan lain selain mandi, hingga ke duanya sudah bersiap untuk kembali ke Indonesia.


"Apa tidak ada lagi yang ke tinggalan?" tanya Pram, saat melihat Naira yang sedang duduk di sofa memperhatikan belanjaannya.


Naira menggelengkan kepalanya, "Kita tidak perlu membawa pakaian kan?"


"Tidak, biarkan semuanya tetap berada di sini, jika suatu saat ada waktu. Kita akan berlibur lagi ke sini. Apa kau mau?" tanya Pram.


"Pasti mau, jika untuk berlibur. Selama aku pergi dengan mu, hehehe asal jangan ke jurang ya ka!" ucap Naira.


"Jurang cinta, mau?" tanya Pram dengan merogoh saku celananya.


"Ngelawak ka? Mana ada jurang cinta? Nestapa iya! Tapi aku maunya bahagia lah!"


Pram mengeluarkan kunci risort, lalu menyerahkan kunci risort pada Naira, lalu mengambil alih paper bag yang ada di tangan Naira, ia membawa semua belanjaan Naira, "Kau kunci lah pintunya!" titah Pram.


"Kenapa gak kunci hati mu aja ka? Biar gak berpaling gitu kaka dari aku!" ledek Naira dengan mengunci pintu risort.


Pram mengerutkan keningnya, "Tidak perlu, nama mu sudah terpatri dalam hati ku!" ucap Pram dengan menyunggingkan senyum.


"Ihs bisa aja lagi balikinnya." dengan centilnya, Naira mengerling kan matanya ke arah Pram.


Tin tin tin tiiiiin.


Naira terlonjak kaget, mendengar suara klakson mobil yang membengkakkan telinganya.


"Rese banget sih itu orang! Baru punya mobil apa ya!" sungut Naira dengan membalikkan tubuhnya, mencari mobil yang membunyikan klakson.


"Kalian lama sekali? Apa sudah selesai membuat adonannya?" ledek Toda yang kini ke luar dari mobil.


"Biar aku yang bawa kan ka! Tapi kaka yang bawa mobil ya!" Toda mengambil alih paper bag yang di bawa Pram, dan menyerahkan kunci mobil.


"Adik yang tidak tau aturan! Menyuruh ku membawa mobil! Apa gunanya kau hah?" sungut Pram.


"Gunanya aku ya mendampingi mu ka, sampai ke bandara dengan selamat!" ledek Toda.


Naira mendudukkan dirinya di kursi depan, samping Pram yang mengemudi.


"Apa yang lain tidak ikut?" tanya Naira yang mencari ke beradaan Zang dan Takeshi, yang tidak ada di dalam mobil.

__ADS_1


"Aku tidak tahu Zang ke mana, kalo Takeshi dari semalam dia tidak kembali."Toda mendudukkan dirinya di kursi belakang, yang ada di belakang Naira.


Naira menoleh ke arah Pram, "Apa mungkin ka, Takeshi masih bersama dengan Nona Keiko Hana?" tebak Naira.


Pram mengerdikkan bahunya, "Aku tidak tahu soal itu." Pram mulai melajukan mobil yang ia kemudikan, meninggalkan risort menuju bandara.


"Kaka ipar... kira kira kapan kau akan memberikan ku dan yang lain keponakan?" Toda menyandarkan dadanya di belakang kursi Naira.


"Eh mana aku tahu, kau tanyakan saja sama ka Pram! Kapan dia akan membuat ku berbadan dua!" Naira melirikkan matanya pada Pram.


"Secepatnya! Kau tidak ingat, semalam kan aku sudah berusaha keras, untuk membuat mu hamil!" ucap Pram dengan penuh kemenangan.


Naira mendengus dengan pipi merona, "Ihssss itu mulut kalo ngomong... enak banget si ka!"


Toda yang melihat Naira merona, mentertawakan nya, "Ahahaha kaka ipar malu ka? Astaga, kau itu tidak pantas di panggil kaka ipar, tapi adiknya ka Pram! Itu panggilan yang cocok untuk mu, ka!" ledek Toda.


Grap.


Sreek.


Naira mencengkram rambut Toda dan menariknya ke depan, membuat Toda meringis dan mengaduh ke sakitan.


"Awwwww aahhhhh sakit ka!" Toda memegangi kepalanya, yang bagian rambutnya di cengkram Naira.


"Makanya jangan meledek ku!" Naira melepaskannn cengkramann tangannya dari rambut Toda.


"Gila, tidak ka Pram, tidak kaka ipar, kalian sama saja! Sama sama eror!" Toda menyandar kan punggungnya pada sandaran kursi mobil.


"Makanya kau jangan membangun kan singa yang sedang santai! Hahahha!" ledek Pram dengan tergelak.


Sampai di bandara, ke tiganya langsung menuju restoran, mengisi perut mereka dengan menu sarapan yang menggugah selera.


"Pelan pelan makannya!" Pram menyapu sisa saus yang menempel di bibir Naira dengan jempolnya, bukannya di peperkan ke tisu, tapi Pram malah menjilatnya, "Cukup lezat." gumam Pram.


"Nanti kau akan merasakannya, Toda!" ejek Naira dengan santainya melanjutkan sarapannya, sesekali menyuapkan makanan ke mulut Pram.


Toda bergidik, "Jangan sampai aku mengalami hal yang sama dengan ka Pram! Apa itu! Tidak higienis!"


Pram menatap tajam Toda, "Jangan banyak bicara! Aku tidak meminta pendapat mu kan!" sarkas Pram.


Toda menggelengkan kepalanya, pasangan aneh yang sulit di terima nalar.


Dreeet dreeet dreeet dreeet.


Pram merogoh saku celananya, melihat siapa yang menghubungi nya.


[ "Tuan, pilot, co-pilot beserta pramugari yang bertugas, sudah berada di bandara sejak beberapa jam yang lalu. Tuan dan Nona, jadi kan kembali ke Indonesia?" ] tanya Dev saat Pram sudah menjawab panggilan teleponnya.


"Suruh mereka menunggu beberapa saat lagi, aku dan Naira sedang sarapan." ucap Pram dengan tegas.


[ "Baik, Tuan. Saya akan meminta mereka untuk menunggu." ]


"Siapa yang kaka minta untuk menunggu kita sarapan, ka?" tanya Naira saat Pram mengakhiri panggilan teleponnya.


"Mereka yang akan menemani penerbangan kita." Pram menyimpan hapenya di dalam saku celananya.


"Beda ya kalo bos tuh, bawahan yang selalu menunggu. Kalo di bayar mahal... aku rasa cukup setimpal." gumam Toda dengan pelan.


Pram mengerutkan keningnya, "Kau menyindir ku?" menatap datar Toda.


"Tidak ka, mana berani aku menyindir mu ka!"

__ADS_1


Naira beranjak dari duduknya, berkata dengan semangat, "Aku sudah selesai ka, ayo kita cus ke pesawat!"


"Ingat, apa yang aku katakan pada mu semalam." ucap Pram dengan berdiri di hadapan Toda.


"Aku akan mengingatnya, ka!" Toda memeluk Pram, lalu berkata dengan pelan, "Jika kaka punya stok wanita, yang lebih lempeng otaknya dari kaka ipar, jangan sungkan untuk berikan pada ku ya ka!"


Pram menjarak tubuhnya dari Toda, "Otak mu yang koslet!" dengus Pram.


Grap.


Toda langsung memeluk Naira, "Kaka ipar, jangan lupa kabari aku... jika ka Pram berhasil membuat mu berbadan dua!"


Sreek.


Pram menarik bahu Toda, hingga Toda menjauh dari tubuh Naira dan kini Pram merangkul bahu Naira.


"Jaga sikap mu! Kau lupa jika Naira adalah istri ku? Kau tidak boleh menyentuhnya!" sungut Pram.


"Ihs dasar pelit, akun hanya memeluknya sesaat, sebagai ucapan perpisahan!" gerutu Toda.


"Sama saja, dan aku tidak perduli itu!" Pram mengayunkan langkah kakinya, meninggalkan Toda yang kini menendang angin.


"Main lah kau ke Indonesia, Toda!" Naira melambaikan tangannya, dengan wajah yang menoleh ke arah Toda.


"Itu pasti kaka ipar!" teriak Toda.


Ke duanya kini berada di dalam pesawat jet, Pram sudah menyimpan barang barang yang akan Naira bawa di bagasi. Ke duanya duduk dengan tenang di kursinya masing masing.


"Boleh tidak, jika sudah di atas awan. Aku mengambil pemandangannya dari sini ka?" Naira melongokan wajahnya, di depan jendela yang ada di sisinya.


"Boleh saja, jangan lupa rubah mode hape mu!"


"Kita sudah sarapan dengan kenyang, apa kaka pilot, kaka copilot dan kaka pramugari sudah sarapan ka?" cicit Naira yang kini ingat dengan perkataan Pram, yang sudah membuat orang orang itu menunggu lama di dalam pesawat.


"Kau tanyakan saja mereka sendiri!" Pram menyilangkan ke dua kakinya, dengan tatapan yang mengarah pada Naira.


Dengan seringai di bibirnya Pram membatin, yang benar saja, kaka pilot dan kaka copilot... mereka berdua lebih pantas di panggil pak!


Naira menoleh ke arah pramugari yang berdiri tidak jauh dari mereka berada.


"Apa Nona membutuhkan sesuatu?" tanya pramugari setelah beberapa saat, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya lepas landas, meninggalkan bandara.


"Aku mau tanya, apa kaka pramugari, pilot serta kaka copilot sudah sarapan?" cicit Naira dengan polosnya.


Seketika membuat pramugari yang ada di depan Naira mengerutkan keningnya, menatap Naira dengan bingung, apa? Kaka? Apa semuda itu copilot dan pilot yang menerbangkan pesawat jet ini di mata mu, Nona?


Naira melambaikan tangannya di depan wajah pramugari yang tampak melamun, "Halooooo, kaka pramugari yang cantik, aku sedang bertanya dengan mu, kenapa kau hanya diam dan malah melamun?"


"Maaf Nona, pak Veri dan pak Jev sudah sarapan tadi bersama dengan kami." ucap pramugari dengan sopan.


"Owwwh begitu ya."


"Ada lagi, Nona?" tanya pramugari.


"Tidak, hanya itu saja!" Naira menatap Pram dengan heran, kenapa ka Pram tidak cemburu... saat aku bertanya tentang pilot dan copilot yang sudah sarapan apa belum ya? Aneh, kemari aja ka Pram marah sekali. Tapi kali ini acuh.


Pram menatap Naira dengan tatapan yang sulit di artikan, untuk apa aku cemburu dengan pria yang harusnya kau panggil pak? Aku jauh lebih muda, tampan dari mereka! Aku tidak perlu merasa tersaingi dengan mereka.


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


Makasih yang sudah dengan setia membaca sampe sekarang 😊😊


__ADS_2