Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Surat pernyataan


__ADS_3

...🍂🍂🍂🍂...


Naira hanya tersenyum pahit mendapati jawaban Angga.


Untuk kenyamanan kaki kiri Naira, akhirnya Naira pulang ke rumah nenek Widya dengan menaiki taksi sedangakan Angga mengikuti nya dari belakang.


Tengah malam lewat taksi yang di tumpangi Naira sampai di depan rumah Widya, Angga memarkir motor Naira dan membantu Naira turun dari dalam taksi.


Widya kaget bukan main, mendapati cucu perempuan nya pulang dengan di papah Angga dengan kaki kiri yang memaki gips.


"Ya ampun, Naira... kaki kamu kenapa ini?" Widya menghampiri Naira dan membantunya berjalan masuk ke dalam rumah.


"Gak apa, nek... cuma luka dikit." Naira tetap tersenyum meski merasa nyeri di bagian kakinya.


Dengan bantuan Angga dan Widya, Naira mengistirahatkan tubuh nya di atas kasur dengan bersandar pada kepala ranjang..


Widya ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk Naira meminum obat yang di berikan dokter.


"Gw langsung pulang ya, Nai!" seru Angga yang berpamitaan pada Naira.


"Thanks ya, bang buat hari ini... gw udah banyak nyusahin lu."


Angga berdiri di samping Naira dan mengusap kepala nya sayang, "Gak apa, gw gak ngerasa di susahin sama lu... ada juga gw yang gak enak sama lu, gw gak bisa bantu banyak buat masalah lu Nai." ujar Angga ngalor ngidul.


"Bagi gw, lu udah banyak nolong bang... udah gw susahin pula... sekali lagi makasih ya bang!" ucap Naira tulus.


"Iya sama sama." bagi Angga, Naira malaikat penolong nya, apa pun akan Angga lakukan untuk nya mengingat jasa Naira sudah terlalu banyak untuk Angga dan keluarga nya.


Angga bisa seperti ini juga berkat Naira yang merubah kehidupan dan perekonomian keluarga kecil nya.


"Besok, biar gw temenin lu ya, Nai?" pinta Angga.


"Gak usah bang, biar gw sendiri aja." tolak Naira.


"Tapi kan lu lagi kaya gini, mana bisa lu pergi ke sana sendirian, Nai?" Angga mencemaskan Naira, rasa khawatir menyeruak saat tau besok Naira akan bertemu kembali dengan Pram di tambah lagi Naira tidak bisa membuktikan bila ayah nya Atmaja tidak bersalah.


"Gw tau apa yang lu pikirin bang... lu tenang aja, gw bisa jaga diri ko." oceh Naira berusaha meyakinkan Angga.


"Iya udah, kalo gitu gw balik ya!" Angga menyerahkan kunci motor pada Naira.


"Di bawa aja dulu, bang.. itu motor nya, dari pada jalan kaki kan apa lagi ini udah larut banget."


"Beneran ini, Nai?" tanya Angga.

__ADS_1


"Iya beneran, bang."


"Lu gak takut, kalo motor lu nanti gw jual? apa gw bawa kabur gitu, Nai?" tanya Angga dengan wajah serius.


"Kaga bakalan berani lu, bang... kalo lu mao bawa kabur kan udah dari kemana kemaren, ini malah lu diem bae, apa lagi sama duit kedei, kalo lu punya niet jelek, udah lu bawa lari itu duit." ujar Naira dengan terkekeh tau jika Angga hanya bergurau.


"Au amat, Nai.... gw mau cari yang halal buat ngempanin anak bini gw."


"Nah itu tahu jawaban nya, bang." ledek Naira.


Setelah berpamitan dengan Widya, Angga pulang ke rumah dengan membawa serta di metik hijo lumut atas permintaan Naira.


Malam nya Naira mengigau, dengan suhu tubuh yang demam efek dari kakinya yang luka.


"Tolong, jangan sakiti papa, hiks hiks, jangan, jangan pram." Naira langsung tersentak bangun dari tidur nya dengan nafas yang terengah engah.


Widya yang mendengar, langsung ke kamar Naira yang berada di sebelah nya.


Widya duduk di pinggir kasur Naira, "Kamu kenapa, Naira?" tanya Widya dengan mengusap peluh yang bercucuran di kening Naira.


"A- aku mimpi, nek... mimpi ku itu seperti nyata, papa meminta ku untuk pergi menjauh, tapi di saat yang bersamaan Pram sedang menyakit papa, pria itu menyiksa papa, papa juga sudah terluka dan berdarah darah, nek... aku takut nek." Naira langsung memeluk erat Widya.


"Sabar ya, sayang... itu cuma bunga tidur, tidak akan mungkin menjadi nyata, papa mu pasti baik baik saja, tidak terluka sedikit pun." oceh Widya berusaha menenang kan hati Naira dengan tangannya mengusap punggung Naira.


Ya Allah tolong lindungi Atmaja di mana pun ia berada, persatu kan lah kami bersama ya rob. batin Widya.


"Kita sholat tahajud dulu yu, sayang... meminta dan memohon perlindungan atas keselamatan papa mu." ucap Widya.


Widya dan Naira menjalan kan sholat tahajud untuk meminta perlindungan kepada sang pencipta.


🍀🍀🍀


Pagi hari nya Naira memaksakan diri untuk menemui Pram seorang diri, meski Angga sudah memaksa untuk ikut serta, tapi di halangi oleh Naira.


Naira menumpangi taksi untuk sampai ke rumah yang di jadikan markas oleh pram, tempat di mana papanya Atmaja di sekap oleh pram.


Pram yang sudah menantikan kehadiran Naira berjalan mondar mandir di dalam ruang kerjanya.


Merasa Naira datang untuk mengakui kesalahan orang tuan nya dan akan menuruti semua perkataan pram.


Tok tok tok.


"Nona Naira sudah ada di depan, pak... apa sudah boleh masuk?" tanya Dev.

__ADS_1


"Masuk saja." Pram langsung duduk dan duduk membelakangi pintu.


Dev membuka kan pintu untuk Naira dan mempersilahkan nya untuk masuk ke dalam ruang kerja Pram.


Di dalam ruang kerja kini hanya ada Naira dan Pram yang tengah duduk membelakangi Naira.


Pram tidak mendengar suara tongkat penyanggah / kruk yang Naira gunakan, pikirannya hanya di penuhi rasa senang karena tidak lama lagi ia akan memiliki Naira dan akan membuat hidup Naira menderita hingga ia sendiri yang meminta untuk di habisi dan mengemis untuk di bebaskan.


"Ehem, aku sudah datang pak Pramana Sudiro." ketus Naira, yang sebenarnya sedang menutupi rasa tidak enak badan nya.


Dasar gadis kecil, sudah kalah masih berani berbicara ketus dengan ku. batin Pram.


Pram memutar kursi yang ia duduk kan hingga menghadap ke Naira, sambil berkata, "Tidak bisa kah kau ---." Pram membola seketika saat melihat Naira yang kini berdiri dengan alat bantu tongkat penyanggah dengan wajah pucat dan mata sayu.


Ada apa dengan kakinya? kenapa ia menggunakan tongakt? dan apa itu? pasti ia merias wajahnya agar terlihat pucat, mata sayu nya hanya akal akalan belaka, apa ini salah satu tipu muslihat nya agar aku merasa iba dan kasihan pada nya? batin Pram.


"Ehem." Pram berdehem.


"Apa bukti yang kau cari sudah kau dapat kan? atau memang benar papah kebanggan mu itu terbukti bersalah? bermain curang?" cecar Pram.


Hati Naira sakit dan terluka saat pram berkata hal butuk tentang Atmaja.


"Papa ku orang yang sangat menjunjung kejujuran, tidak mungkin ia bisa berbuat curang pada mu, apa lagi sampai menipu mu!" ucap Naira meluapkan kekesalannya.


"Oooh, kau masih membela nya hem! mana bukti nya jika papa mu tidak bersalah? ada buktinya tidak?" bentak Pram.


"A- aku memang tidak bisa membuktikan nya, tapi suatu saat pasti Allah akan membuktikan nya pada mu!"


"Jangan bawa bawa Tuhan jika memang benar bersalah. Sekarang, duduk lah." Pram menggeser map coklat yang ada di hadapan nya ke kursi yang ada di hadapan nya, kursi yang akan di duduki Naira.


Naira duduk dan membaca berkas yang ada di dalam map coklat tersebut.


"Apa apaan ini, kenapa isi Surat Pernyataan nya seperti ini, heh?" ucap Naira dengan kesel.


"Aku tidak perlu bertanya, kau suka atau tidak dengan isi surat itu kan! sekarang kau hanya punya 2 pilihan, tandatangani atau nyawa orang tua mu yang menjadi ganti nya?" Pram menyodorkan pulpen ke Naira.


"Bukan hanya nyawa papa mu yang menjadi taruhan nya, tapi juga ada ibu, adik, nenek dan semua karyawan papa mu mau pun karyawan yang ada di kedei mu.. semua keputusan ada di tangan mu!" Pram menarik sudut bibirnya dengan sorot mata tajam dengan kedua tangan yang saling bertautan di atas meja, menanti kan Naira untuk menandatangani surat pernyataan yang ia buat.


Kali ini ku pasti kan kau tidak akan herkutik Naira. batin Pram.,


Bersambung....


...💖💖💖💖...

__ADS_1


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊


No komen julid nyelekit 😊


__ADS_2