Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Helikopter


__ADS_3

...💖💖💖...


"Anak mama sudah bisa berkata dengan bijak!" Heni mengelusss kepala Naira.


"Aku kan sudah besar, mah!"


"Oh iya ka, kapan kaka kembali ke Bintaro?" tanya Dito pada Naira.


Pram melirikkan jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, Pram memberikan perintah pada Haikal yang berdiri di depan pintu mobilnya.


Haikal mengangguk patuh, "Maaf Nona Muda, sudah waktunya kita berangkat!" ucap Haikal dengan membukakan pintu mobil, agar Naira bisa segera masuk ke dalamnya.


"Hati hati ya, sayang!" Heni mengantar Naira sampai masuk ke dalam mobil.


"Jaga diri mama, papa dan Dito! Aku jalan ya!" Naira melambaikan tangannya pada Heni, Heni juga ikut melambaikan tangannya pada Naira.


"Mama titip Naira ya, nak Pram!" seru Heni dengan tatapan mengarah pada Pram.


Pram hanya menyunggingkan senyumnya.


Mobil yang di tumpangi Naira dan Pram, kini berlalu meninggalkan rumah orang tua Naira, menuju villa yang Pram bangun untuk sang istri.


Di dalam perjalanan, Naira terus berceloteh, ada saja pertanyaan yang ke luar, meluncur bebas dari bibir mungilnya. Seolah ia melupa kan siapa orang yang sedang di ajaknya bicara.


"Kaka tau gak, dulu itu kalo ujan... ikannya banyak banget ka, pada muncul di permukaan." Naira menunjuk sungai yang mengalir deras di sisi jalan.


"Kalo itu dulu aku pernah kemping di sana ka! Taman nasional, asri banget ka!" ucapnya lagi saat melewati taman nasional.


"Tapi ngomong ngomong, apa yang papa bilang waktu itu ada benernya juga, villa yang kita tempati itu kapan di bangun ka? Dulu kan itu hanya tanah lapang yang terbentang luas, dan sekarang sudah berdiri villa yang megah, milik ka Pram lagi." Naira memeluk lengan Pram, menatap sepasang mata elang, yang kini menatapnya teduh.


"Itu bukan villa ku, sayang. Tapi villa mu, itu ku bangun khusus untuk mu, dengan aku sendiri yang membuat diseinnya." terang Pram.


Naira langsung menegakkan duduknya, menatap Pram dengan tidak percaya, ke dua tangan Naira terulur menangkup wajah Pram.


"Coba ulangi perkataan mu, ka! Apa aku salah dengar ya!" ucap Naira di depan bibir Pram, takut jika telinganya akan salah mendengar lagi.


"Nona tidak salah mendengarnya, bos memang bisa membuat disein rumah." jawab Haikal tanpa di minta untuk bicara.


Pram malah menatap datar Haikal dengan suaranya yang dingin, "Siapa yang mengizinkan mu untuk bicara Haikal!"


"Maaf, bos." Haikal kembali fokus pada jalan dan setir kemudi.


"Waaah apa lagi yang aku tidak tahu dari ke ahlian mu ini, ka?" Naira memainkan alisnya naik turun.


"Tidak ada, hanya itu. Apa kau tidak lelah, dari tadi terus mengoceh?" tanya Pram yang kini menyandarkan kepala Naira di dadanya, mengelusss kepala Naira, mengecup kepala Naira.


"Aku tidak lelah hanya sekedar mengoceh ka, ini kan kali pertama ku kembali lagi ke Bandung setelah ujian. Kita mau ke mana lagi sih ka?"


"Kau pernah naik helikopter, hem?"


Naira menggelengkan kepalanya.


"Naik pesawat?"


Naira menggelengkan kepalanya lagi, "Memang ada apa dengan helikopter dan pesawat? Biayanya mahal, mending naik mobil." ujar Naira dengan polosnya.


"Tempat yang paling jauh kau kunjungi?" tanya Pram.


"Bandung, Bintaro."

__ADS_1


Haikal memarkirkan mobilnya, saat ia sudah memasuki pekarangan villa milik Tuannya.


"Ayo turun." dengan semangat, Pram turun dari mobil, sebelum Haikal membukakan pintu mobil untuk Pram.


Haikal yang melihatnya hanya geleng geleng kepala, meski di hati ada rasa senang, dapat melihat senyum yang terukir di bibir Tuan nya, tau deh yang mau jalan jalan ke Jepang!


"Kau juga bisa menyusul kami!" seru Pram pada Haikal, Pram menggenggammm jemari Naira yang kini sudah berdiri di samping nya.


"Serius bos, aku bisa menyusul bos?" tqnya Haikal dengan antusias.


"Setelah tugas yang aku berikan pada mu, dapat terselesaikan dengan baik. Tanpa tersisa! Ingat itu!" tekan Pram.


Naira mengerutkan keningnya, "Tugas apa lagi, yang ka Pram berikan ke bang Haikal?"


Pram tidak menjawab Naira, ia mengabaikan pertanyaan yang di berikan Naira.


"Kau masuk lah dulu, nanti aku akan menyusul mu!" Pram mendorong punggung Naira, agar Naira bisa masuk lebih dulu ke dalam rumah.


"Jangan lama lama! Aku bosan kan di rumah terus ka!" sungut Naira yang belum tahu, jika ia akan di ajak terbang oleh Pram.


Haikal menghampiri Pram, saat Pram memberikan kode Haikal untuk lebih mendekat.


"Apa kau mendapatkan informasi, dari 3 pria yang berhasil di aman kan semalam?" tanya Pram dengan wajah datar.


"Mereka masih tutup mulut, bos." terang Haikal.


"Siksaaa mereka, jika mereka masih saja bungkam! Aku ingin secepatnya kalian dapatkan informasi, siapa dalang di balik penculikan Naira semalam!" ucap Pram dengan tangan mengepalll.


"Siap bos, pasti aka saya usahakan. Untuk mendapatkan informasi yang bos mau." ujar Haikal.


"Aku titipkan urusan kedei Naira, dan kantor pada mu dan Dev! Jika sudah mendapatkan informasi yang jelas, baru kabari aku! Kau mengerti kan, Haikal!" tanya Pram dengan menatap tajam Haikal.


"Kurang ajarrr kau! Berani kau berbuat seperti ini pada bos mu!" sungut Pram.


"Jika bos banyak bicara, bos akan ke tinggalan pesawat!" oceh Haikal.


"Dasar, aku pergi menggunakan heli dan jet pribadi ku, tidak akan mungkin aku terlambat!"


Pram melangkah masuk ke dalam rumah, melihat Naira yang merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, dengan ke dua kaki yang berada di pegangan sofa.


Pram mengerutkan keningnya, "Kau sedang apa?"


"Tentu saja menikmati hari ku yang akan membosankan, liburan di dalam villa." celetuk Naira.


Hap.


"Akh."


Pram membawa Naira naik ke lantai atas, menuju kamarnya dengan ke dua tangan Pram, yang menggendong tubuh Naira, Naira melingkarkan tangannya di leher Pram.


"Setelah ini, aku tidak akan membiarkan mu berkata bosan!" Pram menyeringai.


"Dasar ka Pram, rubahhh mesummm! Aku gak mau ya kita main kuda kudaan lagi, aku cape mengimbangi mu ka!" ucap Naira dengan manja.


Pikiran Naira sudah traveling, jika Pram akan melakukan penyatuannn lagi padanya.


Pikiran mesummm Naira, pasti setelah ini ka Pram akan mengunci ku di dalam kamar, melakukan itu lagi dan lagi, besar sekali tenaga mu ka Pram, apa gak lelah terus bercocak tanam di dalam sana! Naira menatap miliknya dengan nanar.


Pram tergelak, "Hahahhaha dasar kau bocah, jadi sejauh itu pikiran mu pada ku, hem? Kau bayangkan aku akan melakukan nya pada mu lagi saat ini? Wah kau sudah terkena virus mesummm ternyata ya!"

__ADS_1


Pram menurunkan Naira dari gendongannya dan mengambil kan mantel untuk Naira dan dirinya kenakan dari dalam lemari.


"Aku harus pakai ini? Memang kita mau ke mana si ka?" tanya Naira dengan tatapan yang bingung, Pram yang ada di hadapannya kini menjadi sosok yang misterius. Sosok yang sulit untuk di tebak.


"Apa ada yang ingin kau bawa? Hape, dompet? Atau apa gitu!" tanya Pram.


"Kita gak bawa baju ka? Kita mau nginap apa gak sih? Aku kan gak tau... apa aja yang harus di bawa kalo ka Pram, gak bilang kita mau ke mana!" protes Naira.


"Kita akan terbang ke Jepang! Tidak perlu membawa pakaian, semuanya sudah di siapkan." terang Pram.


Naira membola dan ternganga, "Apa? Kita ke Jepang? Sekarang? Hanya berdua?" cecar Naira dengan ke terkejutan nya.


"Tidak usah banyak bertanya! Helikopter sudah menunggu kita dari tadi!" Pram menggenggammm pergelangan tangan Naira, membawanya menaiki anak tangga menuju atap rumah, yang ternyata landasan helipad.


Naira mengenakan tas selempang nya dengan hape, dompet dan lip blam di dalamnya.


Dengan tatapan kagum, Naira geleng geleng kepala, melihat pilot dan copilot yang ada di dalam pesawat, tengah duduk di belakang kemudi.


"Ini beneran helikopter ka? Apa aku sedang bermimpi?" celetuk Naira.


Cup.


"Ini nyata, sayang!" Pram mengecup Naira, membuktikan jika wanita itu tidak sedang bermimpi.


Pram membantu Naira menaiki helikopter, dengan baling baling yang sudah mulai berputar.


Setelah semuanya sudah aman, baru lah sang pilot menerbangkan helikopter nya. Membuat Naira terus menggenggammm jemari Pram.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak ingin melihat pemandangan dari atas sini, hem? Semuanya tampak kecil, coba kau lihat itu!" Pram mengarahkan Naira untuk melihat ke bawah.


"Waah iya ka, lihat itu kecil bangat. Astaga seseru ini ka naik helikopter. Rumah mama dan papa, di mana ka? Apa kita sudah melewatinya? Bang Haikal, mana bang Haikal, ka?" cerocos Naira.


"Sudah lah, aku pusing mendengar pertanyaan mu, lebih baik kau sandarkan saja sini kepala mu di lengan ku! Nikmati perjalanan ini!" sungut Pram yang di buat pusing sendiri, dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil sang istri.


"Ihss ka Pram, aku serius. Apa kita akan melewati Bintaro?" tanya Naira lagi.


"Hem."


"Ihs ka, habis ini kita mendarat di mana ka?" tanya Naira lagi.


"Apa kalian berdua, ada yang bisa menjawab pertanyaan istri kecil ku ini?" tanya Pram pada pilot dan copilot dengan suara datar.


"Kita akan mendarat di bandara Sukarno Hatta, Nona. Setelah itu Nona dan Tuan, akan di antar oleh rekan saya yang lain. Dengan menggunakan pesawat jet pribadi menuju bandara Narita." terang pilot bewajah bule, namun faseh berbahasa Indonesia.


Naira menutup mulutnya dengan ke terkejutannya kembali, "Ya ampun, aku pikir oppa ini tidak bisa berbahasa Indonesia, ternyata aku salah."


"Saya sudah cukup lancar berbahasa Indonesia, Nona." ucap sang pilot.


"Kalo begitu, siapa nama mu, oppa?" tanya Naira.


"Ehem ehem, kau di larang bertanya hal yang tidak ada kaitannya dengan lokasi." terang Pram dengan hati yang memanasss, melihat Naira yang mudah sekali akrab dengan sang pilot.


Menyesal aku... sudah menyuruh pilot dan copilot ini untuk menjawab pertanyaan Naira!


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


__ADS_2