
...πππ...
Pram mengerutkan keningnya dan menatap Naira sepintas, akhirnya aku mendapatkan benda yang kau pikir itu berarti Nai.
"Benda apa itu?"
[ "Hanya hape butut yang sudah tidak bisa lagi di gunakan bos, layarnya juga sudah hancur." ]
Hape butut yang layarnya sudah hancur.
"Coba kau foto hape butut itu lalu kirimkan gambarnya pada ku... satu lagi Haikal, jangan lupa untuk kau perbaiki! Besok pagi benda itu harus sudah ada di meja kerja ku!" Ucap Pram dengan mudahnya.
[ "Apa? Memperbaikinya, bos?" ] Tanya Haikal dengan ke terkejutan nya.
"Jangan banyak bicara! Kerjakan saja apa yang aku katakan!"
Pram mengakhiri sambungan teleponnya dengan kesal.
Melajukan mobilnya dengan kencang untuk bisa cepat sampai di kediaman Pramana.
Pak Dedi membukakan pintu mobil untuk Pram.
"Selamat datang kembali, Tuan!"
"Hem!"
Pram hanya berdehem dengan berjalan ke arah pintu mobil sebelahnya, di mana Naira berada.
Dengan ke dua tangan kekarnya, Pram membawa Naira ke luar dari mobil dengan menggendongnya.
"Apa situasi aman, selama aku tidak ada di sini?" Tanya Pram saat dirinya memasuki kediamannya dengan pak Dedi yang mengekori nya dari belakang.
"Aman terkendali, Tuan." Ucap pak Dedi.
Pram memasuki lift, dengan mata nya yang tajam menatap pak Dedi.
"Antar secangkir kopi ke kamar ku!" Perintah Pram sebelum pintu lift tertutup.
"Baik, Tuan." Jawab pak Dedi meski tidak di dengar lagi oleh Pram.
Pak Dedi melangkah ke arah dapur dan meminta koki untuk membuat kan secangkir kopi ke sukaan Pram.
πDi kamarπ
Pram membaringkan tubuh Naira di atas kasur yang empuk dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Mimpikan aku ya, sayang!" Seru Pram di telinga Naira yang lantas mengecup bibir Naira dengan sekilas.
Cup.
Pram mendudukan dirinya di kursi panjang yang terdapat di ujung tempat tidurnya, mengeluarkan hapenya dari dalam saku celananya.
Mata Pram tertuju pada foto yang di kirim kan Haikal padanya.
__ADS_1
Matanya menatap tajam, mengingat kembali pada benda yang ada dalam foto itu.
"Aku seperti pernah melihat hape ini, di mana ya?" Gumam Pram.
Tok tok tok tok.
"Tuan, ini saya Dedi. Boleh saya masuk!" Ucap pak Dedi dari depan pintu kamar Pram.
"Masuk lah!" Seru Pram tanpa memalingkan wajahnya dari layar hape-nya.
Ceklek.
Pak Dedi memasuki kamar Pram dan melihat Pram yang tengah duduk di kursi panjang dengan matanya yang fokus pada layar hape.
Pak Dedi membatin, pasti Tuan Pram sedang gelisah. Sampai Tuan Pram butuh kopi untuk menemani malamnya.
"Maaf Tuan, kopinya mau di letak kan di atas meja atau mau langsung Tuan minum?" Tanya pak Dedi yang kini berdiri di depan meja yang terdapat di dekat pintu masuk kamar Pram.
"Letakkan saja di sana!" Ucap Pram dengan beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah sofa, di mana pak Dedi meletakkan secangkir kopi yang ia minta.
"Apa ada yang Tuan butuhkan lagi selain kopi?" Tanya pak Dedi.
"Apa kau bisa memberikan ku alasan, kenapa seseorang masih menyimpan benda yang sudah tidak bisa lagi di gunakan? Benda itu rusak misalnya." Ujar Pram.
Pak Dedi mengerutkan keningnya, "Maksud Tuan, benda itu rusak tapi masih di simpan dan bukan di buang saja?"
Pram mendudukan dirinya di sofa, tangannya terulur memperlihatkan layar hapenya pada pak Dedi.
Pram menyimpan hapenya di atas meja, merain secangkir kopi yang di mintanya dan menyeruputnya perlahan.
"Itu milik Naira, temannya yang menjadi korban kebakaran di kedei... menyelamatkan benda ini dari lantai atas hingga ia menjadi salah satu korban kedei start."
"Jika Nona Muda masih menyimpan hape itu, itu artinya ada sesuatu di balik hape jadul itu, Tuan." Ujar pak Dedi.
Pram mengerutkan keningnya, seolah bertanya pada pak Dedi dengan sorot matanya yang bertanya tanya.
"Maksud saya begini Tuan, bisa jadi Nona Muda mendapatkan hape itu dengan cara yang tidak mudah, atau itu hape pemberian seseorang untuk Nona Muda." Ujar pak Dedi yang menyampaikan pendapatnya.
Pram menyeruput kembali kopinya dan menyerahkan cangkirnya pada pak Dedi.
Pram menatap Naira dengan tajam, "Apa menurut mu, ada ke mungkinan jika hape itu pemberian kekasihnya untuk Naira?"
"Maaf Tuan, kalo untuk itu... saya tidak bisa menjawab. Apa tidak sebaiknya Tuan tanyakan saja pada Nona, biar lebih jelas Tuan!" Ujar pak Dedi.
"Berani kau memberikan ku perintah?" Tanya Pram dengan suaranya yang penuh penekanan.
"Maaf, Tuan saya tidak bermaksud memberikan Tuan perintah, saya hanya memberikan Tuan saran... dari pada Tuan hanya menebak nebak tidak jelas." Ucap pak Dedi.
Pram mengusir pak Dedi dari kamarnya dengan mengibaskan tangan kanannya.
Pak Dedi menunduk hormat, "Kalo begitu saya permisi Tuan!" ucap pak Dedi yang lantas meninggal kan kamar Pram.
Pram beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamar mandi, mencuci mukanya di depan westafel dengan air dingin dari keran.
__ADS_1
Pram menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada di hadapan nya.
"Jika sampai Naira mendapat kan hape itu dari seorang pria, akan aku habisiii pria itu... beraninya kau Naira. Masih menyimpan benda pemberian laki laki lain. Hanya aku seorang yang boleh kau anggap penting dalam hidup mu!" Tangan Pram mencengkrammm erat pinggiran westafel.
Pram berusaha memejamkan ke dua matanya saat ia sudah membaringkan tubuhnya di kasur, menatap wajah polos Naira yang terlelap dengan nyenyak.
Pram mencondongkan wajahnya dekat pada wajah Naira, "Awas saja jika dalam mimpi pun kau masih memimpikan pria lain!" Ucapnya pelan yang lantas memberikan ke cupan di bibir mungil Naira.
Cup.
Pram menggeser kepala Naira, hingga menjadikan lengannya sebagai bantal untuk kepala Naira.
Tangannya melingkar di perut Naira, menghirup rambut Naira yang wangi dan berusaha memejamkan ke dua matanya kembali, angannya jauh membayangkan dirinya yang hidup bahagia dengan Naira dan dua orang anak yang lucu lucu.
"Aku harap yang memberikan hape itu bukan pria, melainkan hasil dari usaha mu sendiri untuk mendapat kan nya dengan jerih payah mu!" Ujar Pram.
πDi tempat lainπ
Di tengah malam buta, Haikal tengah berada di sebuah apartemen mewah yang berada di pinggiran Bintaro.
Haikal mendudukan dirinya di sofa dengan ke dua matanya yang mengantuk menatap tajam pada benda butut yang tengah di perbaiki alias di servis oleh adiknya pak Dev.
Seseorang yang paling di andalkan dalam urusan haickers dan servisss.
"Kenapa enggak lo buang aja sih, bang! Hape butut kaya gini juga! Udah ketinggalan jaman ini hape!" Dumelnya.
"Lo ngomong sono sendiri sama bos Pram, berani kaga lo?" Ucap Haikal yang menantang Dava untuk mengatakannya langsung pada Pram.
Dava bergidik ngeri dengan tangan nya yang tetap mengotak atik hape tak berbentuk dengan matanya yang jeli menyatukan kembali komponen yang baru karena komponen yang aslinya telah rusak.
"Dih gila aja gw bang, ngomong langsung ama bos Pram?" Tanya Dava.
"Lah ya iya lo, masa gw! Berani gak lo. Ngomong sono sama bos Pram. Kalo lo gak mau perbaikin itu hape, lo mau buang itu hape!" Seru Haikal.
"Lah ya gw kaga berani bang, kalo urusannya udah sama bos Pram. Mundur teratur dah gw mah!" Ucap Dava.
"Payahhhh lo!" Sungut Haikal.
"Lo sendiri, gak berani kan bang?" Tanya Dava.
"Kalo gw berani nyuruh buang itu hape, ngapain gw sekarang ada di tempat lo? Udah lo perbaikin deh itu hape, besok pagi itu barang udah harus ada di meja kerja bos!" Sungit Haikal dengan meluruskan ke dua kakinya di atas sofa dan memejamkan ke dua matanya.
"Gini banget ya nyari duit, mentang mentang bos. Seenaknya kasih tugas, malah gw lagi mimpi ketemu janda, hadeeeh. Janda apa kabar mu?"
......................
...π Bersambung π...
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen ππ
__ADS_1