
...πππ...
"Siapa suruh kau asal bicara! Aku tidak suka itu!" Ucap Pram datar tanpa ekspresi.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Pram yang berada di dalam saku celananya bergetar. Ia langsung menyambungkan aerphon yang terpasang di salah satu telinganya.
[ "Kami sudah berhasil menyelidiki, siapa pria yang hampir saja mencelakai Nona Muda, Tuan." ]
Suara seorang pria terdengar memberikan laporan dari hasil investigasi nya pada pria yang tadi hampir saja membuat Naira celaka.
Naira terus memperhatikan wajah Pram saat menerima panggilan telepon dari seseorang yang tidak ia tahu.
Ka Pram sedang berbicara dengan siapa sih?
"Siapa yang menyuruhnya?" Tanya Pram dengan melirik sekilas wajah Naira.
[ "Masih di perintahkan oleh orang yang sama Tuan, Nona Karin." ]
"Apa Haikal bersama dengan kalian?"
[ "Tidak bos." ]
"Kalian urusan pria bayaran itu! Jangan meninggalkan jejak!"
[ "Beres bos, pasti akan kami lakukan dengan baik." ]
Naira membatin dengan keningnya yang mengkerut, pria bayaran? Jadi yang hampir membuat gw celaka itu cuma orang bayaran? Terus siapa yang nyuruh orang itu?
Serli membatin, gila bener pak Pram, udah tau bae siapa yang tadi mau buat celaka Nai, orang orang hebat nih yang kerja sama pak Pram.
Tangan Pram terulur mengusap kepala Naira, mengatakannya dengan lembut, "Maaf tadi aku menyakiti mu!"
"Hem!"
Mobil yang Pram kemudikan sampai di pelataran parkir rumah sakit.
Di saat Naira hendak membuka pintu mobilnya, Pram menghalangi nya.
"Tunggu dulu, Nai!" Seru Pram menbuat Naira menoleh ke arahnya.
"Ada apa lagi, ka?"
"Kalo gitu, biar saya ke luar duluan ya! Kalian, selesaikan aja masalah kalian dulu!" Oceh Serli yang ke luar dari dalam mobil dengan senyum yang mengembang.
Pram meraih tangan Naira yang tadi ia cengkrammm, tangan lainnya mengambil sesuatu di dasbor mobil.
Dengan telanten dan hati hati Pram mengolesi krim obat pada pergelangan tangan Naira yang meninggalkan jejak tangannya.
"Ka!" Seru Naira.
"Hem?" Pram menatap mata bulat Naira.
"Apa yang akan, kaka lakukan pada orang bayaran itu?" Tanya Naira dengan serius.
"Apa kau sungguh ingin tahu?" Pram menyelipkan anak rambut Naira ke belakang telinganya.
"Jawab ka! Orang itu pasti punya keluarga ka! Bagai mana dengan keluarganya... jika kaka sampai menghabisiii nya? Kaka tidak akan menghabisiii nyawa pria itu kan?"
Pram mengerutkan keningnya mendengar ocehan Naira, "Lalu apa yang ingin kau lakukan dengan pria bayaran itu? Apa kau ingin aku melepaskan nya begitu saja? Membiarkan pria itu menyakiti mu kembali?"
"Ya kasih pelajaran yang setimpal ka, tapi jangan di habisiii nyawanya. Kasian loh orang tuanya pasti lagi nungguin anaknya pulang!"
__ADS_1
Pram menggelengkan kepalanya, dasarrr anak ini, hati mu terlalu lembut untuk menghadapi kejamnya dunia ku, Nai!
Pram tidak menjawab perkataan Naira, ia turun dari dalam mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Naira.
"Ka!" Rengek Naira.
Pram mengamati penampilan Naira dengan keningnya yang mengkerut, Pram membuka jas yang ia kenakan dan menggenakan nya pada tubuh Naira.
"Ini kan jas mu! Kenapa harus aku yang kenakan?" Naira di buat bingung dengan tingkah Pram.
Pram menggenggammm jemari Naira. Melangkah memasuki koridor rumah sakit menuju ruang rawat Novi dan Ayu.
"Aku hanya tidak ingin mereka berfikir, jika aku ini tengah jalan dengan putri ku." Oceh Pram dengan tersenyum pada Naira.
"Emang kaka setua itu, emang baru nyadar apa!" Ucap Naira dengan ketus, sejak kapan ka Pram peduli dengan pandangan orang!
"Makanya, cepat lah kau mengandung anak ku!" Pram menatap tajam perut Naira yang masih rata.
"Ka Pram mau banget buat aku hamil? Terus gimana dengan sekolah ku? Aku ingin kuliah!"
"Kehamilan mu, tidak akan menghalangi mu untuk tetap melanjutkan pendidikan mu!" Seru Pram.
Kalo aku hamil, bagai mana dengan penampilan ku? Perut ku akan membesar sama seperti ibu itu?
Naira menatap heran pada penampilan seorang wanita muda, yang tengah hamil besar tengah ke sulitan berjalan dengan di gandeng seorang pria. Dua orang itu melewati Naira dan Pram saat mereka berpapasan.
Pram merangkul bahu Naira, "Mau seperti apa pun penampilan mu, kau itu tetap cantik di mata ku!"
Naira mencubit pingang Pram, "Awas aja kalo sampe pada kenyataan. Nantinya kaka berubah! Aku tinggalin kaka, ampe ke lubang semut pun... kaka gak akan bisa nemuin aku!" Ucap Naira dengan tatapan matanya yang tajam.
Pram menyeringai, tangannya terulur menyentuh dagu Naira.
"Sayangnya, aku tidak akan memberi mu kesempatan untuk melarikan diri dari ku! Suami mu ini akan memberikan mu pengawalan yang ketat." Ucap Pram dengan serius dan membenamkan bibirnya pada bibir Naira.
Cup.
Ceklek.
Pram membuka pintu rawat dan membiarkan Naira masuk ke dalam bergabung dengan teman temannya.
Naira menoleh ke belakang saat Pram tidak mengikuti langkah kakinya untuk masuk ke dalam.
"Ka Pram gak mau ikut masuk?"
"Kau masuk lah lebih dulu! Ada yang harus aku selesaikan!" Oceh Pram.
"Ka Pram gak akan pergi jauh kan?" Aku takut ka Pram akan membuat masalah, atau ka Pram benar benar akan menghabisiii nyawa pria bayaran tadi?
Pram yang sudah beberapa langkah dari Naira kini menghampiri Naira kembali.
"Tidak usah menghawatirkan ku! Aku hanya ingin menelpon Dev, menanyakan soal kantor!" Tangan Pram menangkup wajah Naira dan melumattt bibir Naira sesaat lalu melepasss kan nya.
Maaf, aku harus berbohong pada mu Nai!
Ayu berseru dari dalam ruang rawat, "Astaga mata gw tercemar!"
"Lebay lo ka!" Oceh Novi.
"Jangan lama lama, ka!" Ucap Naira yang akhirnya membiarkan Pram untuk menghubungi Dev di luar ruang rawat.
Pram mengangkuk kecil, menutup kembali pintu ruang rawat.
Pram mendudukan dirinya di kursi stainless yang tidak terlalu jauh dari ruang rawat inap.
__ADS_1
Pram tidak menghubungi Dev, mekainkan Haikal.
"Bagai mana cara mu bekerja Haikal?" Oceh Pram dengan suaranya yang penuh penekanan.
[ "Ada apa, bos?" ]
"Mengawasi Karin saja tidak becus!"
[ "Memang apa yang sudah di lakukan Nona Karin, bos? Sejak tadi aku terus memantau pergerakan Nona Karin, dia tidak melakukan apa apa bos." ]
"Yang pasti kau sudah lengah, Haikal! Karin menyewa orang, untuk mencelakai Naira!"
[ "Apa bos? Bagai mana bisa bos?" ]
"Aku tidak ingin tahu Haikal, bagai mana pun caranya... kau berikan Karin pelajaran! Atau kalo perlu habisiii nyawanya agar wanita itu tidak lagi berbuat ulah!"
Tak tak tak.
Suara langkah kaki sedang menuju ke arah Pram.
Pram menyeringai, saat melihat bayangan orang yang tengah berjalan ke arahnya dari pantulan lantai.
Pram mengakhiri panggilan teleponnya dengan Haikal.
"Apa yang membuat mu ke luar?" Tanya Pram datar tanpa menoleh ke arah orang yang berdiri di depannya.
πDi tempat lainπ
"Sialll gara gara wanita itu, bos marah sama gw!" Apa mungkin saat gw menemui Novi, Nona Karin menyuruh orang itu untuk bergerak?
Haikal terus mengamati Karin yang berada di salah satu restoran mewah, tengah melakukan sesi wawancara dengan salah satu media cetak.
Sedangkan Haikal berada di meja lain terus mengamati Karin dengan tangannya yang mengepal.
"Kalo sudah begini, aku harus bergerak, lagi pula hubungan di antara Elsa dan Nona Karin ini sudah tampak jelas." Gumam Haikal.
Setelah selesai dengan urusannya, Karin meninggalkan restoran dengan mengemudikan mobilnya seorang diri.
Begitu pun dengan Haikal yang mengikuti mobil Karin dari belakang dengan mobilnya, "Ini kesempatan buat gw!"
Haikal menghubungi anak buahnya lewat aerphon yang terpasang di telinganya, "Kalian bersiap! Target sebentar lagi melewati posisi di mana kalian berada."
Haikal mencengkrammm setir kemudi, "Kali ini lo gak akan lolos, Nona Karin!" Haikal menyeringai.
Di jalan yang sepi mobil Karin berhenti. Haikal pun menghentikan laju mobilnya, mengamati apa yang akan Karin lakukan.
Karin melangkah turun dari mobilnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Cepat singkirkan motor kalian ini! Menghalangi jalan ku saja!" Karin marah marah mendapati motor yang melintang tergeletak di aspal, menghalangi jalan mobilnya.
"Hai Nona! Apa mata mu buta! Kau tidak lihat teman ku ini sedang terluka parah!" Oceh pria yang tengah membantu temannya untuk berdiri dengan kaki yang berdarah darah
"Persetan dengan teman mu, mau dia mati pun, aku tidak perduli!" Ucap Karin sinis.
"Bukan dia yang akan mati, tapi lo!" Ucap Haikal yang sudah berdiri di belakang Karin.
Karin menoleh ke arah suara yang berada di belakang nya
Bugh.
......................
...π Bersambung π...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! π