Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Rapat


__ADS_3

...💖💖💖...


"Bisa kita mulai rapatnya!" Seru Pram dengan tegas.


Rafa berdiri di samping pintu bersama dengan Dev.


Rapat pun di mulai, Pram memimpin rapat dengan serius gayanya yang dingin, tegas, bijak sana penuh wibawa.


Para dewan direksi tidak ada yang menyela di saat Pram sedang memimpin jalannya rapat, tidak ada desas desus, semuanya fokus pada apa yang di sampaikan Pram.


Dalam diamnya Naira juga ikut menyimak apa yang di sampaikan Pram, berkali kali tangan Pram mendarat di bahu Naira. Di saat itu pula Naira tersenyum pada Pram, memberikan semangat untuk suaminya.


Naira membatin, jadi begini ya suasana kalo ka Pram lagi mimpin rapat, tegas, jauh itu dari kata mesummm. Pembawaannya juga tenang dengan sorot mata yang tajam, mampu membungkam semua peserta rapat untuk tetap diam.


"Kau, ke sini!" Pram meminta Rafa untuk mendekat padanya.


"Saya, pak?" Rafa menunjuk dirinya sendiri.


"Apa harus aku mengatakannya lagi!" Seru Pram dengan dingin.


"Sudah sana maju, kau tidak akan di telan bos!" Seru Dev yang hanya bisa di dengar Rafa.


Rafa melirik Dev sekejap, lalu melangkahkan kakinya berdiri di samping Pram.


"Mulai saat ini, Rafa yang akan menjadi direktur di perusahaan ini, apa ada yang keberatan dengan keputusan saya?" Satu tangan Pram terulur menepuk nepuk bahu Rafa.


Para dewan direksi saling tatap satu sama lain.


"Bagai mana, kau setuju?" Tanya Noer pada Amy yang duduk di sebelahnya.


"Aku setuju saya, pak Pram pasti sudah mempertimbangkan dengan matang." Terang Amy.


"Kau bagai mana?" Tanya Rini.


"Tapi apa alasan pak Pram ingin bocah itu jadi direktur?" Tanya Arsya, pria kurus, tinggi, dengan rambut klimisnya dalam diam meragukan kepemimpinan Pram.


"Iya, pengalamannya pasti belum jauh seperti pak Pram." Ujar Fatan, pria paruh baya dengan kaca mata minus dan perut buncit memandang remeh Rafa.


Pram menatap tajam pada ke dua pria yang tengah mengoceh, "Apa ada yang meragukan keputusan, saya?"


"Boleh saya tau apa alasan anda memilih pria itu menjadi direktur?" Tanya Arsya dengan sinis.


Pram menyeringai, kau yang ingin mempersulit langkah ku ya! Lihat apa kau masih berani meragukan ku jika sudah ku permalukan!


"Apa kau punya saran, Tuan?" Tanya Pram.


"Kenapa tidak pak Aji saja yang menjadi direktur di sini?" Tanya pria kurus dengan lantang.


"Bagai mana bisa seseorang yang tidak menghadiri rapat menjadi direktur? Apa dia pantas menjadi seorang direktur di saat rapat penting saja orang itu tidak hadir?"


Si Arsya pria kurus yang bicara dengan lantang kini wajahnya pucat pasi saat Pram melangkahkan kakinya mendekati kursi yang di duduki pria itu.


Naira mengikuti arah Pram melangkah, apa yang ingin ka Pram lakukan pada pria itu?

__ADS_1


"Pa- pak Aji ti- tidak mung- kin me- nyerahkan pe- perusahaannya pa- pada mu kan!" Dengan tergagap Arsya mengatakannya dengan tangannya yang sesekali menyeka peluh yang mulai menetes di wajahnya.


"Coba katakan sekali lagi? Aku tidak mendengar apa yang kau ucapkan!" Seru Pram dengan tangannya yang mencengkram bahu Arsya yang kurus.


Arsya dengan sulit menelan salivanya, lidahnya seakan kelu, bahunya terasa sakit dan semakin sakit saat Pram semakin memperkencanggg cengkramannn tangan kanannya.


"Aaaawh!" Arsya meringis kesakitan.


"Asal kalian tahu ya! Pria ini yang selama ini menanam modal kecil namun ingin mendapat ke untungan yang sama besar dengan kalian. Apa harus saya pertahankan pria seperti ini di perusahaan saya?" Pram mengedarkan pandangannya ke pada para dewan direksi.


Desas desus mulai terdengar, pada dewan direksi mulai berbisik bisik.


"Pantas saja, dia menanyakan berapa keuntungan yang aku dapat selama ini!" Ujar Amy.


"Aku pikir hanya aku saja yang di tanyakan keuntungan yang aku dapat." Ujar Noer.


"Jadi selama ini keuntungan yang kita perolehan masih harus di bagi untuknya? Sedangkan jumlah yang harusnya ia terima tidak sebanyak itu?" Tanya Rini.


"Wah kacau nih kalo begini caranya!" Seru Fatan.


"Pantas saja dia mau pak Aji yang menjadi direktur, biar pak Aji memberikan jumlah yang sama untuk ke untungannya! Saya tidak setuju kalo begitu." Ujar Dodo.


"Iya, berikan kami keuntungan sesuai dengan perjanjian." Ujar Noer dengan semangat.


Pram yang masih berdiri di belakang Arsya pun menyuruh Rafa untuk memperlihatkan di layar monitor bukti bukti persekongkolan Aji dan Arsya.


"Rafa, tunjukan buktinya, biar semua orang tau seperti apa culasnya pria yang ada di hadapan saya ini!" Seru Pram dengan dingin, satu tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.


Arsya terpojok, mau berkilah namun buktinya ada di depan mata. Sialan kau bocah tengik, sudah membuat ku malu, awas kau ya!


Arsya beranjak dari duduknya hendak menyerang Pram yang berdiri di belakangnya dengan tangannya yang kurus.


"Bajingannn kau! Sialannn!" Tangannya menyerang wajah Pram, namun sayangnya tangan Pram berhasil menangkis tangan Arsya yang kurus itu dan mendorong tubuhnya hingga pria itu terjerembah di lantai.


Bugh.


Dengan spontan Naira beranjak dari duduknya dan berlari ke arah Pram.


"Kaka tidak apa apa?" Tanya Naira dengan cemas.


Pram merekatkan satu tangannya di pinggang Naira, tatapannya teduh menatap mata bulat istri kecilnya.


"Dev, singkirkan pria ini!" Seru Pram.


Dev melangkah menyeret Arsya ke luar dari ruang rapat.


Arsya menyingkirkan tangan Dev dari tangannya, "Tidak perlu, aku bisa ke luar sendiri!" Sungut Arsya dengan tatapan tajam mengarah pada Pram, awas kau bocahhh sialannn. Akan ku balas semua perbuatan mu ini!


"Maaf atas ketegangan yang terjadi!" Seru Pram.


"Tidak apa pak. Wajar jika ada yang suka dan tidak dengan keputusan dalam rapat. Tapi pria itu memang sudah ke bangetan." Dengan ketus pak Dodo berkata, pria gendut dengan perut buncit.


Para dewan direksi yang di buat penasaran dengan sosok wanita yang bersama dengan Pram pun akhirnya ada yang bertanya saat Pram kembali membawa Naira untuk duduk di kursi yang di peruntukan untuk pemimpin rapat.

__ADS_1


"Maaf, pak... jika bapak tidak keberatan, wanita ini siapa ya bapak ya?" Tanya bu Rini, salah satu pemilik saham terbesar ke 3 di perusahaan yang baru di pimpin Pram.


"Iya, pak! Sudah cantik, manis lagi! Sayang saya tidak punya anak laki laki, jika saya punya pasti akan saya jadikan wanita ini sebagai mantu saya pak!" Seru Amy, wanita paruh baya yang memiliki saham terbesar urutan ke 2.


"Wah wah wah, rupanya kau punya daya pikat yang tinggi ya, sayang!" Seru Pram dengan menjawil hidung Naira.


"Waaah maaf pak, jadi kapan undangan sampai ke rumah nih?" Tanya Amy yang mengira jika wanita yang bersama Pram adalah kekasihnya.


"Kalian do'akan saja, segera akan kami adakan resepsi!" Seru Pram yang kini berdiri dengan tegak di belakang Naira.


"Jadi, kalian tidak keberatan dengan keputusan saya menunjuk Rafa sebagai direktur di perusahaan ini?" Tanya Pram sekali lagi.


"Tidak lah, kami cukup tahu jam terbang anda dalam mengurus perusahaan, pasti dengan di bawah pimpinan anda dan pak Rafa, perusahaan akan jauh lebih berkembang." Terang Noer, salah satu pemilik saham.


Brak.


Pintu di dorong dengan keras dari luar.


Semua mata tertuju pada pintu yang baru saja di dorong dengan keras.


"Apa apaan ini!" Seru Aji dengan nafas yang tersengal sengal di ikuti Azka yang berdiri di belakangnya.


Saat Dev ingin menghalangi Aji untuk masuk, Pram mencegahnya dengan gerakan kepalanya.


"Selamat datang, Tuan Aji! Bagai mana keadaan mu? Aku turut berduka ya atas wafatnya wanita perebut suami orang!" Seru Pram dengan langkah pasti maju mendekat ke arah Aji.


Naira membatin dengan tatapannya yang menatap punggung Pram, ada apa dengan ka Pram? Widia itu kan juga ibunya ka Pram, atau jangan jangan ibunya ka Pram wanita lain? Apa yang aku tahu soal ka Pram? Aku sepertinya tidak tahu banyak tentang ka Pram.


Aji geram dengan ucapan Pram, tangannya mengepal.


"Apa yang kau lakukan dengan perusahaan ku! Heh anak kuranggg ajarrr!" Seru Aji geram.


"Wah jadi kau mengakui ku sebagai putra mu? Setelah apa yang kau lakukan pada ku dan mendiang ibu ku?" Pram menatap sinis pada Aji.


Naira tertegun, jadi ibunya ka Pram sudah tiada? Tapi karena apa?


"Kalian di sini pasti bertanya tanyakan, hubungan ku dengan pria ini tidak lah layaknya seorang ayah pada putranya. Dev, coba kau putar rekaman itu. Biar semua orang yang ada di sini tahu, bagai mana bejatnyaaa kelakuan pria tua ini dan wanitanya itu!" Terang Pram.


Noer membatin, jadi kabar burung itu benar jika pak Aji dan pak Pram ayah dan anak. Tapi harusnya seorang anak mau membantu perusahaan ayahnya yang sedang mengalami krisiskan!


Amy membatin menatap heran pada Aji dan Pram, ada masalah apa di antara ke duanya? Selama ini bu Prita sangat setia hingga sampai akhir hayatnya namun sayang di saat bu Prita tidak kunjung ke perusahaan, dan jabatan sekretaris berpindah tangan pada bu Widia, saat itu lah cinta terlarang tumbuh di antara ke duanya.


Mata Aji membola saat bukti bukti perselingkuhannya dirinya dengan Widia terpampang nyata di layar monitor.


"Kau!" Aji geram.


...💖 Bersambung 💖...


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉

__ADS_1


__ADS_2