Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Berkhianat


__ADS_3

...💖💖💖...


Pram memicingkan matanya dengan bibir yang meremehkan, masak ia... bocah ini bisa ke luar dari dalam ruang rawat hanya dengan bantuan jepit rambut? Tidak mungkin, ini pasti ada seseorang yang membantunya!


"Istirahat lah, aku akan ke luar sebentar!" Pram meninggalkan Naira seorang diri di kamarnya.


Aaaha, mumpung ka Pram lagi gak ada, mending cek hape... pasti ini grup udah rame.


Aku meraih hape ku yang ada di atas meja kecil dekat kepala ranjang.


"Bener kan tuh!" Gumam ku yang kini membaca chat grup lewat hape.


Novi [ Ya ampun, Naaaai! Lu gak masuk lagi? ]


Serli [ Kemana lu? ]


Novi [ Woy penganten, lagi belah duren lu ya? ]


Serli [ Woy bacot lu jaga Novi! Emang lu kata Naira itu apaan pake di belah? ]


Novi [ Alah lu Ser, kaya gak tau aja kalo cowok sama cewek lama lama di dalam kamar ngapain lagi kalo bukan nyetak anak hahahaha. Secara Nai ama pak Pram sudah merid hihihi. ]


Serli [ Hus! Di kata Naira mesin pake di cetak hahaha. ]


Naira [ Suweeee lu pada, awas lu ya kalo ketemu! ]


Novi [ Nongol juga batang idung lu! Abis bersemedi lu? ]


Serli [ Lu sehat kan Nai? ]


Novi [ Dodol lu Ser, kan kaki Nai masih di gips.... kaga sehat lah!]


Serli [ Bukan itu maksud gw, egeee lu Nov! ]


Naira [ Ah kaleng rombeng lu pada, berisik! Hape gw berisik sama chatan lu! ]


Serli [ Lu gak ada kabar ke kita, lu sehat kan Nai? ]


Naira [ Gw amnesia, puas lu! Ahahaha 🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️ ]


Novi [ Woy, jangan lari lu! ]


Serli [ Woy bayar utang lu, maen minggat bae lu. ]


Novi [ Awas singa lu ngamuk Nai hahaha. ]


Sudut bibir ku tersenyum membaca chat Novi dan Serli, kadang kalian nyeselin, sama kaya ka Pram.


Dring dring dring


🎶 🎶 🎶 🎶

__ADS_1


Aku mendengar suara dering telepon dari atas meja kecil yang ada di samping kepala ranjang sisi ka Pram tidur.


"Itu kan hape ka Pram! Tumben, biasanya ka Pram gak pernah jauh dari hape... emmm siapa yang telpon ya?" Aku di buat kepo dengan si penelpon yang melakukan panggilan pada ka Pram.


Dari atas kasur, tubuh ku beringsut untuk dapat meraih hape ka Pram, di saat hape ka Pram sudah, di tangan ku.


...Caliing...


...Karin...


Aku hanya bisa melihatnya, tanpa berniat untuk menjawabnya.


"Model itu lagi, mau apa dia menelpon ka Pram?" Gumam ku.


Akhirnya dering telpon itu mati sendiri. Ku taruh hape itu di atas kasur, dekat dengan diri ku yang memilih melihat lihat hotel ka Pram yang baru di buka lewat pencarian embah gugel dengan posisi tiduran.


"Waaah keren ini mah, lengkap banget fasilitas hotel ka Pram, bisa nongki nongki ini." Celetuk ku.


Di saat tengah fokus pada embah gugel, di saat itu pula dering telpon hape ka Pram menjerit jerit.


Pram masuk ke dalam ruang kerjanya, duduk di kursi kerjanya dengan membuka laptop yang ada di atas meja kerjanya.


Dari CCTV Pram melihat Aji memasuki pintu utama tanpa hambatan, di saat itu pula ada seorang maid yang menghampiri pak Dedi yang tengah berdiri di depan pintu rawat bersama dengan seorang maid wanita.


Pak Dedi pergi meninggalkan pintu ruang rawat bersama dengan maid yang tadi menghampirinya dan menyisakan seorang maid yang masih setia berdiri di depan pintu ruang rawat.


Dari CCTV memperlihatkan maid itu meninggalkan pintu ruang rawat Naira tidak lama setelah itu Aji mengetuk pintu dengan berseru.


Pram melihat pintu ruang rawat Naira di buka dari dalam di saat pak Dedi dan maid wanita belum juga kembali ke tempat yang seharusnya, berjaga di depan pintu rawat.


Naira ke luar dari ruang rawat dengan santainya, dasarrr bocah nakal, benar benar tidak bisa diam.


Naira berdiri di balik dinding pembatas dan menguping pembicaraan Pram dan Aji.


Pram menarik sudut bibirnya ke atas, apa bocah nakal itu mengerti dengan apa yang ia dengar? Kenapa tadi Naira tidak meminta ku untuk menjelaskannya? Atau memang bocah nakal itu tidak ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan ku?


Lewat telpon yang ada di atas meja kerjanya Pram memanggil pak Dedi.


"Ke ruang kerja ku!"


Tidak menunggu waktu lama, pak Dedi mengetuk pintu ruang kerja Tuannya.


Tok tok tok tok


Suara Pram terdengar mempersilahkan pak Dedi untuk memasuki ruang kerjanya, "Masuk!"


Pak Dedi masuk ke ruang kerja Pram, lalu berdiri di depan meja kerja Pram.


Pak Dedi membungkuk hormat, "Tuan memanggil, saya?"


"Kenapa kau lalai, Dedi!" Tanya Pram dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan tangan kanan yang memijat pangkal hidungnya.

__ADS_1


Haduuuh mati lah saya, "Maaf Tuan, tadi ada maid yang membutuhkan bantuan saya di dapur!" Seru pak Dedi.


"Panggil Haikal dan perintahkan untuk membawa maid yang tadi berjaga di depan pintu rawat dan maid yang membutuhkan bantuan mu itu ke markas!"


Mata pak Dedi membola seketika, mendengar Pram meminta Haikal untuk membawa ke dua orang itu ke markas, "Apa? Ke markas Tuan?" Tanya pak Dedi memastikan indra pendengarannya.


Pram menatap tajam pada Dedi, "Apa kau tuli, Dedi?" Suara Pram yang dingin kini membuat kesan ruang kerja Pram horor.


"Ba- baik, Tuan akan saya laksanakan!" Pak Dedi langsung meninggalkan ruang kerja Pram.


Pak Dedi membatin saat akan ke luar dari ruang kerja Tuan Pram, ada apa ini? Apa yang akan Tuan lakukan pada ke dua maid itu?


Di saat pak Dedi hendak menutup pintu ruang kerja Pram.


"Pak Dedi, ka Pram ada di dalam?" Tanya ku yang berdiri di belakang pak Dedi dengan tangan mengganggam hape ka Pram.


Pak Dedi mengurut dada kirinya dengan tangan kanannya. Astaga Nona Naira, sejak kapan Nona Naira ada di sini?


Pak Dedi berjingkat kaget meski tidak mengeluarkan suara, tapi aku tahu jika suara ku mengagetkannya.


Tangan kanan ku menepak lengan pak Dedi yang tidak menghiraukan pertanyaan ku.


Plak.


"Iiih si pak Dedi mah malah diem... ka Pram ada gak di dalam?" Tanya ku lagi.


"A- ada Nona, Tuan ada di dalam, emmm saya permisi Nona!" Pak Dedi berjalan meninggalkan ku setelah ia membungkukkan badannya pada ku.


"Pak Dedi kenapa ya? Aneh banget!" Celetuk ku.


Kini mata ku menatap pintu ruang kerja ka Pram, apa aku juga perlu mengetuk pintunya ya?


Tok tok tok tok


Pram berfikir jika itu adalah pak Dedi yang mengetuk pintu.


"Masuk Dedi!" Pram menyuruhnya masuk dengan pandangan Pram yang fokus pada layar laptop.


Aku memasuki ruang kerja ka Pram, gila ka Pram pialanya banyak banget, itu pasti penghargaan selama ia jadi pengusaha sukses.


"Kenapa kau kembali? Apa kurang jelas yang aku ucapkan pada mu, Dedi! Perintahkan Haikal untuk membawa ke dua maid itu ke markas!" Seru Pram dingin dengan tangannya fokus menari nari di atas keyboard pada laptop.


Aku menatap ka Pram dengan bingung, maksud ka Pram apaan ya? Haikal? Markas? Maid?


...🍂 Di hotel Star, Bintaro 🍂...


Karin membuat keributan di meja resepsionis. Karin beradu argumen dengan Reina.


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2