
...💖💖💖...
Ke duanya menyebrang jalan ke arah mobil yang terparkir.
Tiiiiiiiiiin.
Brak.
Punggung pengemudi motor yang hampir saja menabrak Naira, terkena tendangan Pram hingga motornya oleng ke kiri dan menubruk bodi belakang mobil sedan putih mewah Pram yang terparkir.
Dalam hitungan detik pengemudi motor itu langsung di kepung oleh beberapa orang yang berbadan besar. Tanpa bisa berkutik, pengemudi dengan helm yang masih menempel di kepalanya langsung di amankan ke dalam mobil yang tidak jauh dari sana.
Mobil melesat menjauh meninggalkan area kejadian, untuk menghindari terjadinya kehebohan. Apa lagi itu masih dalam ruang lingkup sekolah Naira.
Sedangkan Naira berada dalam dekapan Pram.
"Bodoh kau ini! Menyebrang harusnya lihat lihat dulu!" Omel Pram pada Naira yang masih berada dalam pelukannya.
Detak jantung Naira begitu kencang, hingga Pram dapat merasakan nya.
Sedangkan Serli, berhasil di tarik pergelangan tangannya, oleh pengawal bayangan yang di tugaskan oleh Pram untuk melindungi Naira.
"Makasih, pak!" Ucap Serli pada orang yang menyelamatkan nya.
"Saya tidak setua itu, Nona!" Gerutunya yang lantas membiar kan Serli menghampiri Naira.
"Lo gak apa, Nai?" Tanya Serli.
Pram merenggangkan pelukannya dari tubuh Naira. Dengan satu tangannya yang mendekap pinggang Naira hingga tetap merekat pada tubuhnya.
Naira membatin, apa yang terjadi barusan? Itu mimpi bukan sih?
Pram menjawab seruan hati Naira, "Mana ada yang mimpi, di saat nyawa mu hampir di ujung tanduk! Dasarrr bodohhh."
Naira menoleh ke arah Pram dengan bibir yang mengerucut, ke dua mata Naira memandang Pram dengan berbinar, malah ngatain gw bodoh! Tadi aja lu nyelametin gw! Dasarrr rubahhh payah!
Bugh.
Kaki kanan Naira menginjak kaki Pram dengan keras.
Tangan Pram yang merekat pada pinggang Naira pun terurai, "Awwhh. Kau ini!" Geram Pram.
"Bodo amat! Siapa suruh ngatain aku bodoh terus! Ka Pram tuh yang rubahhh payah!" Oceh Naira.
"Naira, gak enak kita di lietin sama yang laen!" Oceh Serli yang mendapati tatapan mata dari murid yang lain ke arah mereka berempat.
__ADS_1
"Bos!" Seru pria yang tadi menyelamatkan Serli memanggil Pram.
"Kau urus sisanya! Jangan lupa berikan laporannya pada ku!" Pram mengadahkan tangannya pada anak buahnya.
"Siap bos!" Pria berbadan besar itu menyerahkan kunci mobil pada Pram dari saku celana yang ia kenakan.
Lantas pria itu memasuki mobil sedan mewah putih Pram yang ringsek bagian belakang nya dan membawanya pergi menjauh dari sana.
"Kau bocah!" Pram berseru pada Serli yang berdiri di samping Naira.
"Saya pak?" Tanya Serli.
Naira ikut menatap Serli.
"Siapa lagi! Ikut dengan ku!" Pram mengajak Serli serta dengan tangannya yang langsung menggendong tubuh Naira.
Hap.
"Akh! Ka, aku bisa jalan sendiri! Malu ih... di lietin sama yang lain!" Gerutu Naira yang berada dalam gendongan tangan Pram.
Pram membawa Naira menuju sebuah mobil yang terparkir tidak terlalu jauh dari posisi nya kini.
Serli menggelengkan kepalanya, astaga ini pak Pram yang nora apa pak Pram yang bucin sih? Gw rasa pak Pram khawatir sama Naira, makanya Naira pake di gendong segala. Tapi mudah mudahan aja gak ada yang lecettt sama Naira. Tapi itu orang siapa ya, kayanya itu orang sengaja deh mau nabrak Naira.
"Persetannn dengan yang lain!" Rupanya teman mu ini cukup peka juga, untuk membaca situasi yang terjadi saat ini.
Pram menurunkan Naira di saat dirinya sudah berdiri di salah satu mobil berwarna hitam.
Pram membuka pintu mobil di sebelah kemudi dan mendorong punggung Naira untuk masuk dan duduk di dalam mobil.
Pram menutup pintu mobil saat Naira benar benar sudah duduk di dalamnya.
Pram menatap tajam Serli yang masih berdiri dengan matanya yang melihat ke arah Pram.
"Kau! Tunggu apa lagi? Cepat masuk!" Pram memberi perintah Serli untuk masuk ke dalam mobil.
"I- iya pak. Gila, galak banget!" Gumam Serli yang duduk di belakang kemudi dan menggeser duduknya jadi di belakang Naira.
Pram mengecek kondisi Naira sebelum mobil ia lajukan, "Apa kau baik baik saja?" Tanya Pram dengan tatapannya yang dalam pada Naira.
"Eh iya, a- aku baik ka!" Ucap Naira dengan tergagap.
Serli mengeluarkan botol minum dari dalam tasnya. Lalu menyerahkannya pada Naira, "Mending lo minum dulu, Nai!"
Naira menerima botol minum Serli dan meminumnya, "Thanks!" Ucap Naira saat menyerahkan kembali botol minum Serli.
__ADS_1
"Santai aja, Nai!" Ucap Serli.
Pram mengelusss kepala Naira, jika saja tadi aku terlambat, entah apa yang akan terjadi pada mu, Nai!
Pram melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju rumah sakit tempat tujuan awal Naira.
Naira menoleh ke arah Pram, "Orang itu siapa, ka?"
"Orang yang mana?" Tanya Pram dengan menoleh sesaat pada Naira lalu fokus kembali dengan jalan.
"Orang yang hampir saja menabrak ku dengan motornya! Apa kaka kenal dengan orang itu?" Tanya Naira dengan matanya yang menatap tajam Pram.
"Kau pikir, apa aku mengenalinya?" Pram berbalik bertanya pada Naira.
"Maaf pak, sepertinya orang tadi itu memang sengaja ingin menabrak Naira ya? Perasaan tadi kita udah liet kanan kiri, jalan sepi. Tau tau ada motor gitu aja!" Terang Serli.
"Kenapa orang itu mengincar ku, ka?" Tanya Naira.
Pram membuang nafasnya dengan kasar, "Karena kau istri ku! Pria tua itu sudah mengetahui status hubungan kita ini, kemungkinan besar itu orangnya Aji atau orang yang sama... dengan orang yang sudah menyuruh membakar kedei mu!"
Naira mengerutkan keningnya, "Jadi kedei ku sangaja di bakar orang ka? Siapa yang melakukan nya ka? Terus kaka kan putra kandungnya papa Aji, kenapa papa Aji ingin mencelakai ku?"
Serli hanya menatap Naira dan Pram secara bergantian, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Naira ya? Siapa itu Aji? Astaga semakin rumit saja, ternyata orang sukses itu di kelilingi dengan bahaya yang selalu mengintai mereka ya!
Pram melirikkan matanya yang tajam pada Serli lewat kaca spion mobil, "Aku tidak akan membiarkan Naira, berada dalam bahaya! Camkan itu!" Ucap Pram dengan tegas.
Naira menghentakkan ke dua kakinya, "Ih ka! Serli tuh gak ngomong apa apa! Kenapa pake natap Serli kaya gitu? Kaka suka sama Serli?" Celetuk Naira.
"Naira!" Seru Serli.
Satu tangan Pram menggenggammm pergelangan tangan Naira dengan tatapan matanya yang tajam.
"Sakit ka!" Naira merintih saat tangan Pram semakin kencang menggenggamnya.
"Jangan bodoh Nai! Kau itu segalanya untuk ku! Tidak ada yang bisa menggantikan mu!" Pram menghempaskan tangan Naira dengan kasar.
"Ya tapi gak usah gitu juga! Ngomong pake mulut kan bisa!" Naira mengusappp kan pergelangan tangannya yang di cengkrammm Pram dengan tangannya yang lain.
"Siapa suruh kau asal bicara! Aku tidak suka itu!" Ucap Pram datar tanpa ekspresi.
Dreeet dreeet dreeet.
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊