Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Niet awal


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Dreeet dreeet dreeet dreeet.


Pram merogoh hapenya yang ada di dalam saku celana yang ia kenakan.


Hatinya melunak, amarahnya menyurut, matanya yang mamancarkan api ke marahan kini berganti dengan tatapan mendamba. Mendambakan seseorang yang tengah menelponnya.


Pram merijek panggilan teleponnya dan kini ia menggantinya dengan panggilan video pada nomor yang baru saja menghubungi nomor telepon Pram.


[ "Kaka sedang apa? Tadi kata bang Haikal... kaka sibuk, ko bisa video call?" ] Tanya Layla di balik layar hape Pram.


Pram menatap wajah Naira yang ada di layar hapenya dengan senyum yang mengembang.


Naira mengarahkan layar hapenya pada Ayu, Mega dan Angga yang tengah duduk bersamanya di sebuah meja, Naira kini tengah mengadakan meeting di kedei bersama ke tiga karyawan yang paling Naira andalkan.


Bagi Naira, karyawannya bukan hanya sekedar karyawan tapi melainkan saudara dan keluarga yang harus saling di jaga dan di hargai pendapatnya.


Namun beberapa detik kemudian kening Pram mengkerut saat matanya menagkap jika Naira bukan berada di kediaman Pramana melainkan di kedei.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sana, Nai?" Tanya Pram dengan suara yang dingin dan datar, seketika senyumnya hilang dari wajah tampannya.


[ "Tentu saja aku sedang berdiskusi ka, sudah kaka lanjut kerja saja ya, aku juga lagi mao meeting penting ini bareng bang Angga, mega dan ka Ayu. Dah kaka, love love sekebon kembang matahari." ]


Pram tampak kesal dengan apa yang sudah di lakukan Naira. Mau marah dan menghukum istri kecilnya, Pram harus berfikir 2 kali mengingat mood Naira kini yang sedang tidak terkendali.


Pram mengusap wajahnya dengan kasar, "Dasarrr bocah nakalll!"


Pram menghubungi Haikal, "Pandangan mu jangan sampai lepas Haikal dari Naira! Jika sampai terjadi sesuatu pada Naira, itu akan menjadi tanggung jawab mu! Kau tau apa hukumannya kan!


[ "Iya bos, pandangan saya tidak akan lepas dari Nona. Saya dan Nona berada si jarak yang cukup dekat. ]


Pram mendengus kesal, "Ihs, jangan lama lama kalian berada di sana!"


[ "Iya bos, tidak akan lama bos. Nona hanya melakukan meeting, setelah meeting selesai, saya akan membawa kembali Nona Muda ke kediaman Pramana bis tenang saja. ]

__ADS_1


Pram memutuskan sambungan teleponnya.


Berkutat kembali dengan berkas yang masih menumpuk di depannya di atas meja kerjanya.


πŸ‚Di tempat lainπŸ‚


Setelah mengakhiri video call nya dengan Pram, Naira tidak membuang waktunya dengan begitu saja. Ia memulai meeting nya dengan yang lain di dalam kedei di salah satu meja.


"Gila lo, Nai... gak takut gitu pak Pram bakal marah sama lo?" Mega geleng geleng kepala melihat Naira yang tampak acuh saat memutuskan sambungan teleponnya tadi dengan Pram.


"Ya gak lah Mega, ngapain takut." Orang gw lagi dateng bulan, ka Pram gak bakal berani kasih hukuman yang ada malah ka Pram yang takut gw hukum hahahhaha.


Naira mentertawakan ke tidak berdayaan Pram saat menghadapinya di kala sedang datang bulan. Pram menjadi harus ekstra sabar dalam menghadapi tingkah Naira.


"Lo pake cara apa Nai, biar pak Pram bisa lo jinakin gitu?" Tanya Ayu dengan menyelipkan anak rambutnya di balik telinga, siap mendengarkan resep yang akan Naira katakan.


Naira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Di kata ka Pram itu singa kali mah pake jinak. Bagen gitu juga kan ka Pram itu orang, Ayu!" Seru Naira dengan menatap sebal pada Ayu, huh dasarrr Ayu, seenaknya aja kalo ngomong tuh! Kalo ngomong gak pake di saring dulu itu mulut!


Mega menyenggol lengan Ayu saat melihat Naira yang tengah bet mood karena ucapannya yang baru saja Ayu katakan mengenai Pram.


"Ya lanjut lah? Kapan lagi kita bisa bahas kaya gini. Mumpung ka Pram kaga ngintilin gw bae!" Sungut Naira.


"Jadi rencana lo kali ini mau bangun apa Nai?" Tanya Mega dengan menatap serius pada Naira.


"Kedei aja, gimana? Tapi kita bukanya di mall, gimana? Ide bagus gak tuh?" Tanya Naira dengan wajah yang berbinar.


"Apa lo gak mau coba buka usaha lain gitu, Nai? Mengembangkan sayap usaha kalo kata orang gedongan mah Nai!" Seru Angga.


"Nah ide bagus tuh Nai, kira kira apa ya yang enak? Usaha yang pastinya bakal rame terus, gak ada musiman gitu!" Oceh Mega.


Naira tampak berfikir sebelum melakukan, "coba yang lain, ada ide gak kalo kita mau kembangin usaha ini lagi?" Ujar Naira meminta pendapat dari semua karyawan yang ada di kedei saat itu.


"Kalo toko pakaian, gimana Nai? Lengkapin dengan sepatu dan tas. Kayanya boleh juga itu, Nai!" Seru Ayu.


Pada dasarnya Ayu ini hobi belanja namun apa lah daya, Ayu harus berjuang seorang diri untuk mencukupi ke hidupannya dengan anak satu satunya di tambah dengan orang tua yang kini hanya ibu yang tinggal ia miliki.

__ADS_1


"Toko pakaian ya, kalo ibu ibu lagi belanja pasti ada rasa bete yang menghinggapi hati pasangannya dan anak kecil yang emang ikut serta juga bakal rewel karena ibunya ke lamaan belanja." Naira tampak menimang dengan ke putusan usaha apa yang akan ia ambil.


Angga bersuara, "Emang niet awal lo gimana, Nai?" Tanya Angga yang melihat raut wajah bingung Naira.


"Kalo dari awal sih pengennya buka restoran bang, yang ada bagian out door, kan enak tuh kalo malam, bisa nikmatin pemandangan langit yang cerah." Terang Naira.


"Terus kalo ujan, apa masih bisa di nikmatin, Nai?" Tanya Mega.


"Iya juga ya, pasti bakal tempias itu kalo ujan." Gumam Naira.


"Gimana kalo Nona cari ruko yang cukup besar, di dalamnya ada kafe kecil untuk kaum pria buat ngopi sambil nunggu istri atau pacarnya belanja."


Haikal menjeda perkataannya saat menyeruput secangkir kopi yang di sajikan Novi tadi.


Haikal membatin dengan tatapan yang mengarah pada Novi yang sedang melayani beberapa pengunjung, lumayan enak juga buatannya.


"Terus apa lagi, bang?" Tanya Naira yang di buat penasaran dengan saran yang akan di katakan oleh Pram.


"Nona bisa menjual pakain wanita, pria dewasa dan anak anak. Bukan hanya terfokus pada pakaian wanita, tapi Nona juga bisa saja menambah barang barang apa saja yang bisa Nona jual." Terang Haikal.


Naira tampak puas dengan apa yang di katakan Haikal, "Gw tinggal perlu menambahkan beberapa permainan anak." Terang Naira memadu padankan dengan ide yang di berikan Haikal.


"Boleh juga itu sarannya di ruko atau bisa juga sewa tempat, sekalian gitu biar gw bisa tinggal gratis hehehehe." Oceh Ayu.


"Ruko ya?" Tanya Naira.


"Emang bajet lo ada berapa, Nai?" Tanya Angga.


......................


...πŸ’– Bersambung πŸ’–...


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2