Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Bukti palsu


__ADS_3

"Apa Tuan?" Tanya Nami.


Nami membatin saat melihat Tuan-nya, apa yang sebenernya Tuan inginkan? Tadi saat berangkat Tuan tampak baik baik saja, tapi kenapa Tuan kembali dalam ke adaan marah seperti ini? Ini pasti ada yang mengganggu pikiran Tuan Aji.


"Katakan Nami, katakan apa yang kau ke tahui tentang Widia? Rahasia widia yang selama ini ada di tangan mu! Katakan Nami!" Aji berseru dengan suara yang naik 2 oktaf.


Sreeek.


Prang.


Tangan Aji menyapu apa saja yang ada di atas meja dan nakas, semuanya pecah, barang antik, guci, vas bunga, figura, semuanya jatuh ke lantai tak berbentuk lagi.


Nami tampak syok dan kaget melihat sikap Tuan-nya yang tidak bisa lagi terkentrol.


Tangan Nami membekap mulutnya sendiri, menahan rasa yang ingin ia tumpahkan, ingin rasanya berteriak, tapi yang ada Tuan-nya akan semakin marah.


Kini Nami tahu apa yang sudah menyebabkan Aji begitu marah padamya.


Azka masuk ke dalam rumah dan melihat Tuan-nya yang tengah frustasi di buatnya.


"Pak, tenangkan diri anda pak!" Seru Azka.


Aji menatap Azka dengan matanya yang memerah, wajahnya merah padam, tangannya mengepal, keningnya mengkerut, "Suruh wanita tua itu bicara, apa yang sudah ia ketahui selama ini! Baru aku akan bisa tenang Azka!" Jari telunjuk kanan Aji menunjuk pada sosok Nami.


"Katakan Nami, apa yang kau tau mengenai Nyonya Widia dan Nyonya Prita. Kenapa kau sekejam itu Nami, Nyonya Prita selama ini sangat baik pada mu!" Terang Azka yang membuat hati Nami semakin terpukul.


Nami yang tidak tahu apa apa kini di persalahkan, orang yang seharusnya bertanggung jawab adalah Widia sendiri, tapi karena Widia yang sudah tiada, kini Aji meminta penjelasan pada Nami, saksi kunci ke burukan dan ke bejatannn hati Widia.


"Maaf Tuan, saya tidak tahu apa apa. Itu semua Nyonya Widia yang melakukannya Tuan, saya sungguh tidak tahu apa apa Tuan!" Nami berseru dengan berlinang air mata, ia tidak ingin di jebloskan ke jeruji besi, bayangannya akan hidup di penjara sudah membutnya bergidik ngeri apa lagi jika ia yang harus berada di sana, rasanya tidak sanggup untuk Nami menjalaninya.


Azka membawa Tuan-nya untuk duduk di kursi.


Aji memyandarkan punggungnya pada kursi, dengan mata yang terpejam, "Aku tidak habis fikir dengan mu Nami!" Suara Aji melemah.


"Maaf Tuan, Nyonya Widia mengancam akan memenjarakan saya jika sampai saya buka mulut pada Tuan besar, jika saya sampai mengatakannya pada Tuan, maka saya akan di laporkan ke polisi karena sudah membantu rencana Nyonya Widia maaf Tuan, saya sungguh minta maaf Tuan." Nami duduk bersimpuh di depan Aji, ke dua tangannya mengentuh kaki Aji, berharap Tuan-nya masih memberikannnya maaf dan tidak melaporkannya pada pihak ke polisian.


"Bagai mana dengan Prita!" Seru Aji.


Azka mengambilkan air untuk Tuan-nya Aji.


"Saya sempat ingin membawa Nyonya Prita ke rumah sakit, tapi saat itu Nyonya Widia datang dan mencegah saya untuk membawa Nyonya Prita, sebagai gantinya Nyonya Widia memberikan saya obat dan mengaku jika itu akan membuat kondisi Nyonya Prita membaik, Tuan."


"Kenapa kau itu bodohhhh sekali Nami, kau tahu semua rencana jahat Widia, tapi selama itu pula kau diam tidak berani berkata apa pun pada ku, Nami!" Aji geleng geleng kepala, selama ini Widia sudah membodohi ku! Sejahat itu kah Widia pada ku?


"Sebaiknya bapak minum dulu!" Azka menyodorkan segelas minuman pada Aji.


Aji meraih gelas yang di berikan Azka padanya, dan menengguknya.


Dalam diam Azka terus menatap tajam Aji, dasar bos tua tidak tahu diri! Selama ini kau tidak pernah terlontar kan kata terima kasih dari bibir mu, yang ada hanya umpatan, cacian dan makian. Sekarang kau rasakan itu di khianati oleh orang terdekat mu sendiri, sakit bukan!


Aji merasakan detak jantungnya berdetak tidak karuan, nafasnya terasa sesak.

__ADS_1


Deg deg deg deg.


Prang.


Gelas yang ada di tangan Aji terlepas begitu saja dari tangannya dan jatuh ke lantai.


Tangan Aji menekan dadanya yang terasa sakit, "Aaaakkkh sakit, jan- tung ku, a- apa i- ini!" Mata Aji membola pada Azka.


Azka menyeringai, "Apa dada bapak sakit?" Tanya Azka dengan santainya.


Nami beranjak dari posisinya, di buat bingung dengan keadaan yang sekarang menimpa Tuan-nya.


"Tuan, ada apa Tuan? Apa yang Tuan rasakan?" Tanya Nami dengan tangannya yang mengguncang lengan Aji.


Dengan jari telunjuk kanannya Aji menunjuk ke arah Azka, "Kau beri apa minuman ku tadi hah! Jawab!" Aji membentak Azka dengan suara yang tercekat.


"Tidak saya beri apa apa pak, itu hanya air putih." Azka membantu memapah Aji, "Ayo bi jangan diam saja, bantu saya bawa bapak ke kamarnya!" Terang Azka pada Nami.


"Kau bedebah Azka!" Seru Aji dengan tubuh yang tidak bisa lagi di kuasainya.


"Bapak tenang saja, obat itu hanya akan membuat bapak tertidur untuk sesaat, biar bapak bisa istirahat dengan cukup, membuang pikiran jelek bapak meski hanya sesaat." Seru Azka.


Nami menutupi tubuh Aji dengan selimut hingga sebatas dada.


Azka berdiri melihat Aji, "Kasihan sekali nasib mu pak, coba saja kau itu tidak bernafsu pada kekayaan pak Pram, aku rasa kalian pasti akan hidup damai." Azka mengajak Nami ke luar dari kamar Tuan-nya.


"Sekarang bagai mana?" Nami Bertanya pada Azka.


"Tuan Muda Kecil, jika anda sudah selesai dengan pelajaran sekolah, jika anda berkenan datang lah ke villa, Tuan membutuhkan anda." Ujar Azka saat Daren menjawab panggilan teleponnya.


[ "Ada apa lagi dengan papa?" ]


"Nanti biar saya jelaskan di sini, Tuan Muda Kecil."


[ "Baik lah, kirimkan alamat villanya." ]


"Baik Tuan Muda Kecil." Azka memutuskan sambungan teleponnya dan memgirim kan alamat villa pada Daren.


πŸ‚Hotel pusatπŸ‚


"Pokonya aku harus bertemu dengan Pram! Ada yang ingin aku katakan padanya!" Seru Sita yang kini ngotot pada Haikal untuk bertemu dengan Pram.


Haikal menatap tajam pada Sita, "Maaf, tapi saat ini pak bos sedang tidak ingin di ganggu!" Jelas pak Pram tidak ingin di ganggu, di ruangannya kan sekarang sedang ada Nona Muda.


Reina mengerutkan keningnya, pak Pram pasti sedang bersenang senang dengan wanita muda yang tadi bersamanya.


Sita menerobos masuk tanpa memperdulikan Haikal dan pengawal lainnya, aku harus memberikan bukti palsu ini pada Pram, maka dengan begitu posisi ku akan aman sebagai pacar Pram! Persetannn dengan kekasih pertama dan ke dua.


Haikal menghubungi Dev, "Pak Dev, Sita menerobos masuk menuju ruang kerja pak Pram."


[ "Dasarrr bodoh kalian, mencegah satu wanita saja harus aku yang turun tangan!" ] Dev langsung menghalau di depan pintu lift.

__ADS_1


Sedangkan pengawal yang lain menyusul ke lantai atas dengan lift lainnya dan ada juga yang melewati tangga darurat.


"Aku mencintai mu, sayang!" Seru Pram dengan tatapan penuh nafsuuu pada Naira.


"Benarkan?" Naira menautkan keningnya pada kening Pram.


"Yes, sayang!" Pram menangkup pipi Naira dan membawanya dan ciumannn terdalam lagi dan lagi, bibir mereka saling bertauttt mencurahkan rasa yang ada pada diri mereka.


Tangan Pram menyusuri tubuh Naira. Pram menggendong Naira dan membawanya ke ruang rahasia yang terdapat di ruang kerjanya tanpa melepaskan tautannn bibirnya dari bibir Naira.


Pram mengunci pintu rahasia tersebut dan membaringkan Naira di atas tempat tidur.


"Ini ruang kerja atau hotel ka? Lengkap banget ada kamarnya gini!" Seru Naira saat Pram melepaskannn pagutannnnya.


"Ini kan memang hotel, tempat ini khusus untuk ku, melepasss lelah." Pram membukaaa kancing dress pada dada Naira, membuat si kembar yang kenyalll nampak menyembulll.


Pram mengecap si kembar, memberinya gigitan kecil dan memyesappp nya.


"Kaaaa, aku kan lagi halangan!" Seru Naira dengan desahannn yang meluncur dari bibirnya dan tubuhnya yang menggeliat ke gelian dengan setiap sentuhannn yang di lakukan Pram.


"Tidak apa, aku masih bisa bermain dengan tangan mu, setidaknya tubuh mu masih bisa ku nikmatiii!" Gumam Pram dengan hembusan nafas menyeruak pada kulit mulusss Naira yang tidak terlepas dari sapuannn bibirnya.


Kamar rahasia yang di lengkapi dengan kedap suara dan hanya bisa di akses oleh Pram karena menggunakan sidik jari Pram.


Di luar ruang kerja Pram.


Sita membuat keributan.


"Jangan halangi aku Dev, aku tahu bos kalian pasti ada di dalam kan! Biarkan aku masuk!" Seru Sita yang hendak masuk ke dalam ruang kerja Pram.


"Anda jangan coba coba membuat ke gaduhan Nona!" Dengan gerakan kepala, Dev memberikan perintah pada Haikal untuk menyeret Sita ke luar dari lantai atas, lantai di mana hanya di peruntukan untuk ruang kerja Dev dan Pram.


"Jangan coba coba kalian menghalangi saya ya! Atau kalian ingin saya menyebarkan ini pada media!" Sita mengeluarkan map coklat dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada Dev.


"Aku tidak takut, tunjukkan saja pada media jika kau punya muka!" Paling hanya gertakan, ingin bermain main ya kau dengan pak Pram!


"Aku tidak main main, Dev! Ini adalah bukti aku dan Pram ada hubungan!"


"Hubungan apa? Hubungan satu malam?" Haikal bertanya dengan nada suara yang mengejek.


"Kau!" Sita geram mendengar dirinya di ledek oleh Haikal.


......................


...πŸ’– Bersambung πŸ’–...


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2