Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Mengintrogasiii Pram


__ADS_3

...💖💖💖...


"Maaf Nona, apa Nona sudah reservasi tempat sebelumnya?" tanya security dengan tatapan yang menyelidik, hanya anak kecil yang sedang mencari mangsa!


Naira mengerutkan keningnya, menatap tajam scurity yang menghalau langkah kakinya.


"Apa? Mau masuk ke dalam restoran ini harus reservasi tempat sebelumnya?" tanya Naira meyakin kan indra pendengarannya.


"Maaf, pak Madi. Biarkan wanita ini masuk. Dia adalah istri dari Tuan Pramana Sudiro, Nona Muda saya!" ucap Haikal yang kini berdiri di samping Naira.


"Apa anda sedang bergurau, pak? Mana mungkin wanita ini adalah istri dari pak Pramana Sudiro, jangan mengada ada kalian berdua. Ingin mendapatkan uang lebih dengan cara menipu saya? Sorry, saya sudah sering berhdapan dengan orang macam kalian! Lebih baik kalain pergi dari sini, sebelum saya bertindak kasar!" sungut pak scurity yang bernama Madi, dengan menahan kesal serta tatapan sangar, ia perlihatkan pada Naira dan Haikal.


Sreek.


Tanpa di duga, scurity itu mendorong Naira yang hendak menerobos masuk, hingga membuat Naira jatuh terduduk di atas lantai.


"Akkkhhh." pekik Naira.


"Anda baik baik saja, Nona?" Haikal membantu Naira berdiri dengan memegangi ke dua lengan Naira.


Naira menggeleng, "Aku hanya ingin melihat ka Pram! Aku belum tenang, jika aku belum melihatnya." ucap Naira.


Haikal menatap tajam pak Madi, "Lihat nanti... jika sampai Tuan Pramana mengetahui perbuatan anda! Jangan salah kan saya, jika anda ke hilangan pekerjaan!" ancam Haikal.


Madi mendecih meremehkan, "Cihhh, memang siapa anda? Saya tidak takut dengan ancaman anda!"


"Lebih baik kita kembali ke mobil, Nona. Saya akan mengusahakan untuk menghubungi Tuan." ucap Haikal yang tidak tega melihat Naira berwajah sendu.


Naira menuruti apa yang di katakan Haikal, apa benar yang di katakan bang Dega, ya Allah perlihatkan lah jalan mu. Hamba ingin melihat suami hamba, jika benar ia baik baik saja, sudah cukup membuat hati hamba merasa tenang.


Haikal berdiri di depan pintu masuk, membiarkan Naira di dalam.mobil di temani oleh seorang bodyguard bayangan.


Haikal membuang nafasnya dengan lega, saat panggilan teleponnya akhirnya di jawab oleh Pram, setelah beberapa kali mencoba menghubunginya namun di abaikan.


[ "Maaf bos, jika saya mengganggu waktu meeting anda." ]


"Memang kau mengganggu waktu meeting ku, ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Nai?" tebak Pram.


[ "Kami berada di depan restoran KFT, bos... Nona Muda mengetahui jika mobil yang bos tumpangi mengalami kecelakaan, dan sekarang Nona ---" ]


Pram menyela ucapan Haikal, "Tidak perlu di lanjutkan, aku akan menemuinya!"


🌷🌷🌷


Setelah selesai menjawab panggilan teleponnya, Pram mengakhiri meeting kali ini lebih awal.


"Ada apa pak Pram? Apa ada hal yang sangat mendesak?" tanya wanita dewasa berparas cantik bernama Rumini, calon relasi baru untuk hotel Pram, dengan setelan kantornya menambah kesan betapa modisnya penampilan Rumini.


Pram hanya menatap datar tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan calon relasinya itu.

__ADS_1


"Meeting kali ini saya akhiri sampai di sini, saya akan mempelajari lebih jauh proposal yang anda berikan, untuk hasilnya biar nanti sekretaris saya yang akan menghubungi anda." ucap Pram dengan tegas.


Rumini tersenyum kecut dengan menatap Pram menahan kesal, apa di matanya... gwe ini kurang cantik? Kenapa pak Pram terkesan cuek dengan penampilan gwe?


Rumini dan sekretarisnya mengikuti Pram beranjak dari duduknya, dan mereka saling berjabat tangan.


"Saya harap, kita bisa menjalin kerja sama, pak Pram!" ucap Rumini dengan suaranya yang sensualll.


"Kita lihat saja ke depannya ya! Karena saya bukan tipikal orang yang memberikan janji, tapi lebih berpegang pada bukti dan kinerja." ucap Pram datar.


Rumini dan sekretarisnya Ihsan mengikuti langkah kaki Pram, meninggalkan ruang yang mereka jadikan tempat meeting.


"Pak Pram bukan lelaki yang mudah untuk di dekati, Nona!" gumam Ihsan dengan pelan.


"Jangan sok tau kau!" gerutu Rumini.


"Jika pak Pram tidak ke beratan, saya bisa menemani bapak untuk pergi ke rumah sakit. Memeriksa kondisi bapak lebih jauh lagi!" ujar Rumini.


"Tidak perlu repot repot. Sudah ada seseorang yang akan menemani saya ke rumah sakit!" ucap Pram datar.


Ke tiganya ke luar dari restoran mewah itu. Melewati pak Madi sang scurity yang berdiri di depan pintu masuk.


Haikal membuka pintu mobil untuk Naira, saat matanya melihat Pram yang ke luar dari restoran, "Bos sudah selesai meeting, Nona!"


"Benar kah?" Naira langsung ke luar dari mobil dengan tidak sabaran, matanya berbinar senang.


Bugh.


Naira memeluk erat tubuh Pram, "Aku menghawatirkan mu! Huwaa!" Naira menangis sejadi jadinya dengan wajah yang terbenam di dada bidang Pram.


Rumini dan Ihsan menatap heran apa yang mereka lihat di hadapan nya.


Pram menyerahkan tas kerjanya pada Haikal, dengan lembut, Pram mengelusss punggung Naira.


"Aku sudah tidak apa apa!" Pram menghujani pucuk kepala Naira dengan kecupan, "Jangan menangis lagi!" ucap Pram dengan lembut.


"Apa aku sedang bermimpi? Siapa wanita itu! Kenapa pak Pram tampak begitu menyayanginya?" gumam Rumini.


Security yang melihatnya di buat menciut dengan wajah piasss, astaga... sepertinya aku sudah melakukan kesalahan besar, sudah melarang bocah itu masuk! Bahkan tadi aku sempat mendorongnya! Semoga saja mereka berdua tidak mengadukan aku pada pak Pram! Bisa tamat riwayat ku!


Pram membola, kurang ajar, berani sekali scurity itu mendong mu!


Pram menjarak tubuhnya dari Naira dengan memegangi lengan Naira, "Apa ada yang terluka dengan tubuh mu?" tanya Pram dengan mengangkat sedikit kepalanya, menelisik tubuh Naira.


Naira menggelengkan kepalanya dengan cepat, berkata dengan bawelnya, "Aku tidak apa apa! Kaka yang terluka! Biar aku obati luka kaka di mobil! Atau kita ke rumah sakit aja! Periksa keadaan kaka!" Naira memeluk kembali tubuh tegap Pram dengan sisa isakan tangisnya.


"Jika kau terus seperti ini, bagai mana kita bisa ke rumah sakit hem?" tanya Pram dengan lembut.


Rumini, Ihsan, Madi yang mendengarnya geleng geleng kepala, dengan pemikiran mereka masing masing.

__ADS_1


Haikal menatap sinis Madi, di mana wajah sangar mu pak scurity! Sekarang baru kau perlihatkan wajah piasss mu!


"Ehem ehem apa wanita ini adik pak Pram? Adik pak Pram sangat menyayangi pak Pram ya! Beruntung bapak memiliki adik seperti ini!" cicit Rumini.


Naira menjarak tubuhnya dari Pram, menatap lekat wanita yang berbicara dengan Pram.


"Maaf, Nona siapnya ka Pram? tanya Naira dengan tatapan curiga pada Pram.


"Dia, pihak yang aku temui untuk meeting!" ucap Pram dengan merangkul bahu Naira, berjalan berlalu meninggalkan Rumini dan Ihsan.


"Kau urus scurity itu! Patahkan tangan yang ia gunakan untuk mendorong wanita ku!" ucap Pram setelah Naira masuk ke dalam mobil.


"Beres bos! Aku siap laksanakan!" ucap Haikal dengan seringai di wajahnya.


Pram membiarkan bodyguard bayangan yang mengemudikan mobil, sedangkan ia duduk di kursi belakang bersama dengan Naira, yang kini sedang mengintrogasiii Pram bak penjahat yang tertangkap polisi.


Naira mendongakkan wajahnya, menatap Pram, menyentuh keningnya yang lebam Pram, bah kan rasa takutnya pada Pram hilang sudah, berganti dengan cicitan Naira yang berapi api dengan nada penuh kesal, air matanya terus menerobosss membanjiri pipinya.


"Apa ini sakit? Kenapa kaka tidak langsung ke rumah sakit aja? Kenapa malah melanjutkan meeting? Sepenting itu kah pertemuan kali ini? Apa kaka tidak menyayangi nyawa kaka sendiri? Bagai mana jika ada luka yang serius? Bagai mana jika terjadi sesuatu dengan kaka hah? Apa ka Pram ingin membuat ku menjadi janda hah!"


Bugh bugh pak.


Naira memukul dada bidang dan lengan Pram, melampiaskan rasa kesalnya.


"Agghhh!" Pram pura pura merintih saat Naira memukul lengannya kanannya.


"Tuh kan bener! Pasti sakit, pasti terjadi apa apa, gimana kalo tangan kaka patah!" ceketuk Naira dengan menarik lengan kanan Pram, menggulung lengan jas dan kemeja Pram.


Pram tergelak dengan ucapan Naira, "Mana mungkin lengan ku patah, yang benar saja kamu Nai!"


Bugh.


Naira menggeprak lagi, lengan kanan Pram yang sudah tergulung jas dan kemejanya dengan bibir mengerucut.


"Gak tau apa kalo orang lagi khawatir!" gerutu Naira dengan meniup lengan Pram yang lebam.


Cup.


Pram mengecup bibir Naira.


"Ekhhh ko aku baru nyadar, bang Haikal ke mana ka?" tanya Naira dengan menatap kursi depan yang ada di samping kemudi, yang kini kosong tak berpenghuni.


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


Makasih yang sudah dengan setia 😉

__ADS_1


__ADS_2