Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Ke beruntungan atau ke malangan


__ADS_3

...💖💖💖...


"Nanti kita lanjutkan lagi sayang!" Pram langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Pram langsung ke luar dari dalam mobilnya, melihat apa yang terjadi.


Pram mengerutkan keningnya, "Apa kau tidak apa apa, pak?" tanya Pram dengan datar.


Pria dengan kaki kanannya yang buntung, dengan satu tongkat penyanggah tengah tersungkur di depan mobil Pram.


Dengan suara yang bergetar, ke dua mata yang menatap Pram dengan dendam, tangan mengepal, Doni berseru, "P- pak Pram! Kau pak Pram kan?" dengan berusaha bangkit dari posisinya yang tersungkur, melupakan jika dirinya sedang di kejar massa karena telah mencuri.


Karena mu... aku jadi seperti ini pak! Hanya karena ke salahan kecil ku, kau buat aku ke hilangan satu kaki, ke hilangan keluarga, ke hilangan pekerjaan. Hingga aku jadi seperti ini.


Pram menatap dengan penuh waspada, mendengar suara batin pria yang hampir saja ia tabrak, dengan Pram yang mundur satu langkah, siap dengan posisi tubuhnya jika mendapat serangan tiba tiba.


Aku rasa, saat ini aku sedang berhadapan, dengan salah satu pria yang pernah mendapatkan hukuman dari ku. Ke beruntungan atau ke malangan saat orang ini bertemu dengan ku kembali?


Dari belakang Pram, berlari beberapa warga dengan berbagai teriakan.


Pram menoleh ke asal suara, dan menatap si bapak secara bergantian.


"Maling, maling!"


"Tangkep woy malingnya!"


"Pak, dia maling pak, jangan biarin orang itu pergi pak!"


Pram menyeringai, menatap pria yang ada di hadapannya, dengan tongkat yang siapa melayang ke bahu Pram. Dengan gerakan yang mampu di baca Pram, Pram berhasil menangkis serangan yang di berikan ke arahnya.


Bugh.


Sreek.


Dugh.


Pram menendang perut lawannya hingga ia terjungkal ke aspak. Bersamaan dengan massa yang langsung menyergap si maling, pria dengan satu kaki buntung.


Bugh.


Bugh.


Bugh.


Prak.

__ADS_1


"Ampun, ampun, woy uhhhhh, akkkkk pak Pram... to- tolong sa- saya pak!" seru Doni dengan suaranya yang tertahan, menahannn rasa sakit yang kini ia rasakan pada tubuhnya


Bogemannn demi bogemannn di layangkan massa, yang emosi dengan pria yang kini babak belur di hakimi massa.


Tanpa perasaan, iba, atau niat untuk membantu, Pram justru mundur dari keramaian massa. Pram melangkah kan kakinya kembali ke dalam mobil tanpa halangan.


Pram kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak.


...☘️ Puncak☘️...


Hari ini seperti alam sedang memihak padanya, Haikal di mudahkan dengan tugasnya, di saat pengawal bayangan yang ia tugaskan sudah berada di tempatnya.


Naira masih tetap berada di halaman villa, bersama dengan teman teman satu sekolahnya. Melakukan kegiatan fisik yang menguras tenaga.


Hingga mendekati jam makan siang, baru lah semua siswa kembali masuk ke dalam villa, untuk makan siang dan di persilahkan untuk istirahat.


Naira yang memilih kembali ke kamarnya lebih dulu, langsung menghubungi Pram.


Namun rasa senang di hatinya tidak berlangsung lama, kini Naira menatap layar hape-nya dengan tatapan yang heran dan bingung.


Naira berdiri di depan jendela yang terbuka lebar, membuat semilir angin menerpa rambutnya.


"Ada apa dengan ka Pram... tiba tiba saja langsung memutuskan sambungan teleponnya, baru juga ngobrol sebentar. Begini ya rupa nya jika jauh dari mu, ka Pram! Dasar rubahhh mesummm, rubahhh payah, rubahhh gila, rubahhh nakalll, aku kangen!" Naira menghentakkan ke dua kakinya ke lantai, dengan bibir yang mengerucut.


Novi yang berada di depan pintu kamar, akhirnya tertawa terbahak bahak melihat tingkah sahabatnya. Sedangkan Naira berjingkat kaget, begitu mendengar tawa Novi.


"Sialannn lo, gw pikir siapa!" sungut Naira yang kini ikut menghampiri Novi, menyimpan hapenya di saku celananya.


"Ya abisnya lo, marah marah gak jelas, udah kaya bocah kecil yang abis di rebut gitu maeninnya." ledek Novi.


"Kampretttt lo, gw gak gitu kali. Lo ngapain ke sini?" tanya Naira.


"Kita makan siang yuk! Gw udah laper nih. Masih inget kan tar siang kita bakal ke mana?" Novi menguji ingatan Naira.


Tak.


"Awhh." pekik Novi.


Naira menjitak kepala Novi.


"Lo pikir gw amnesia, pake di tanya kaya gitu?" sungut Naira yang kini beranjak dari duduknya.


Tanpa terasa malam pun tiba, semuanya berkumpul di aula dengan mendudukan diri di kursi, ruang yang gelap dengan penerangan dari konektor.


Semua pasang mata, menatap layar besar yang terpampang di dinding. Menampilkan berbagai foto, kegiatan mulai dari orientasi, ujian, class meeting, perlombaan.

__ADS_1


Hingga bapak dan ibu guru, yang selama ini sudah membimbing muridnya, mengantarkan mereka pada kelulusan. Para siswa yang sudah menimba ilmu di sekolah SMA Pelita Jaya selama 3 tahun.


Ruang yang tadinya begitu hening, hikmat dengan lagu bunda yang menggema menambah melow suasana. Hingga ada beberapa siswa yang meneteskan air mata. Tidak terkecuali dengan Naira, Serli dan Novi.


Di saat lulus kelak, ia akan menghadapi yang namanya pendidikan baru, menempuh pendidikan kuliah, dan ada juga di antaranya yang langsung terjun ke dunia kerja.


Namun hal itu tidak berlangsung lama, di saat layar besar tidak lagi menampilkan foto, yang berhubungan dengan perjalanan selama 3 tahun siswa yang mengikuti pelepasan.


Beberapa foto pernikahan dan ke bersamaan Naira dan Pram silih berganti muncul di layar, membuat yang melihatnya langsung menatap Naira tidak percaya, ada yang menatapnya dengan hina, mencela, mencaci, dan tidak sedikit pula yang salut, kagum karena seorang Naira bisa memiliki Pram, seorang pengusaha muda yang terkenal sukses.


Selentingan, ocehan, hujatan, pujian, pun terdengar di telinga Naira.


"Wuuuuuuuu, tampang aja polos. Gak taunya udah nikah!"


"Jangan jangan udah hamil duluan tuh!"


"Wuuuuu sok polos!"


"Gak nyangka lo, kedok doang."


"Sttttt, jangan tertipu dengan tampang polosnya."


"Jangan berkata seperti itu, pasti ada alasannya kan Naira melakukan itu."


"Benar, kita dengar dulu apa alasannya, jangan menghakimi nya."


"Apa pun itu alasannya, udah usir aja dia dari sekolah!"


Naira menatap tidak percaya pada apa yang ia lihat, apa yang telinganya dengar. Acara perpisahan sekolah yang harusnya hikmat, kini berganti dengan badai untuk dirinya sendiri.


Naira beranjak dari duduknya, "A- aku bisa jelaskan ini!" ucap Naira dengan tangan terkepal, bulir bening terus membanjiri pelupuk matanya.


Apa yang aku harapkan bahagia, tapi ternyata pahit ku rasa, aku ingin memberi tahu kalian akan status ku, tapi bukan seperti ini caranya. Siapa yang sudah tega melakukan ini pada ku? Siapa yang sudah membongkar rahasia yang ku jaga selama ini begitu sadisnya?


Sementara sepasang mata yang kini bersama dengan mereka, dalam ruang yang sama, menatap Naira dengan senyum puas, menatap licikkk.


Akhirnya gw bisa menyakiti lo, Pramana Sudiro. Lo akan sakit, di saat lo melihat orang yang lo cintai merasa tersakiti. Gw gak bisa menyentuh lo, tapi gw bisa menyentuh istri lo! Menyentuh hati nya, hehehe.


"Apa kau bisa menjelaskan semua ini, Naira putri?" tanya kepala sekolah.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2