Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Jahil


__ADS_3

"Kau berani melakukannya? Hem? Tamat riwayat kedei start mu!" Ancam Pram dengan seringai di bibirnya.


Aku menyingkirkan kedua tangan ku dari wajah ku tapi aku masih memejamkan kedua mata ku dan menahan dada nya, aku menyentuh kulit nya yang halus, belum lagi roti sobek nya, tanpa sadar malah tangan ku meraba dada nya, turun ke perut kotak nya.


Pram menyeringai, mendapati sentuhan dari jari lentik Naira.


"Bilang saja jika kau mengingin kan nya!" Seru Pram dengan menggenggam pergelangan tangan kanan ku lalu mengecup nya.


Ide jahil tiba tiba muncul di kepala ku, tapi di coba saja lah kali aja berhasil, "Maaf, pak Pram!" Seru ku.


"Maaf untuk apa?"


Bugh.


Dengan sekuat tenaga aku mendorong dada Pram dengan kedua tangan ku dari atas tubuh ku.


Pram jatuh terjerembab di atas lantai dengan ke dua kaki berada di atas.


"Awwwwh, bokong ku!" Pram merintih sambil memegangi bokongnya yang mencium lantai.


Aku langsung buru buru bangun dari posisi ku, berdiri dengan kaki kiri untuk menopang berat badan ku.


"Cepat, bantu aku berdiri!" Pram menjulurkan satu tangannya ke arah ku, meminta ku untuk membantunya berdiri.


Apa? Membantunya berdiri? Kalo aku sampai membantunya berdiri, buat apa aku tadi membuatnya terjatuh. Aku tersenyum semanis mungkin di hadapannya.


"Maaf, pak Pram... aku tidak bisa membantu mu!" sambil melambaikan tangan padanya, aku berjalan cepat dengan menyeret kaki kanan ku menuju ke arah pintu.


"Naira! Berhenti, berhenti kata ku!" Ucap Pram dengan suara meninggi.


"Terserah apa kata mu pak Pramana Sudiro, aku haus mau minum!" Ucap ku.


Brak.


Aku menutup pintu dengan membantingnya.


Pram berjingkat mendengar pintu yang di banting oleh Naira.


"Anak itu! Berani kau ya pada ku!" Pram berdiri sendiri dengan tangan mengusap usap bagian tubuhnya yang mencium lantai lalu berjalan menuju walk in closed ia memakai kaos lengan celana pendek dan kaos putih lengan pendek hingga memperlihatkan bentuk tubuhnya.


Pram baru ingat jika Naira tadi berjalan dengan satu kaki kiri dan kali kanan di seret.


Bodoh kenapa aku baru ingat, dengan cara jalannya yang seperti itu, dia pasti akan kesulitan untuk menuruni anak tangga.


Pram berdecih, "Anak ini, membuat ku repot saja!" Pram menyusul Naira dengan berlari.


Dari ujung tangga, Pram melihat Naira kesulitan untuk menuruni anak tangga dengan satu kakinya.


"Kapan kaki ku ini bisa sembuh, tidak akan sesulit ini aku menuruni anak tangga, anak tangganya lagi...ini kenapa banyak kaya gini sih!" Dumel Naira dengan satu tangan berpegangan pada pegangan tangga.


Hap.

__ADS_1


Naira merasakan tubuhnya melayang, "Eh, ko tubuh ku bisa terbang gini?" gumam ku.


Ternyata aku salah, Pram menggendong ku menuruni anak tangga dan membawa ku hingga ke dapur dengan kedua tangan kekarnya.


"Apanya yang terbang?" Tanya Pram dengan sorot mata tajam dan kata katanya yang terdengar datar di telinga ku.


"Lepas, pak... saya bisa jalan sendiri!" Aku memukul bahu kekar Pram yang kini berbalut kaos putih.


"Baik, aku lepas...tapi tau resikonya?"


Aku menggeleng.


"Punggung mu patah!"


Aku memundurkan kepala ku ngeri mendengernya, "Iiihh yang bener aja, udah satu kaki ku patah." Menatap kaki ku yang masih di gips, "Masa sekarang mau punggung ku yang di buat patah juga? Di kata aku peyek remahan apa yang patah patah." Cicit ku dengan kedua tangan melingkar di lehernya.


"Apa itu peyek remahan?" Tanya Pram dengan wajah penuh tanya.


"Yaaah gimana sih, masa pengusaha hebat sekelas Pramana Sudiro gak tau apa itu peyek remahan."


Pram menggelengkan kepalanya.


Aku menarik kepalanya agar mendekat ke bibir ku, lalu aku berbisik, "Kalo mau tahu jawabannya, cari di mbah gugel...gampang kan?" ledek ku lalu tertawa lepas.


Dengan mata memicing Pram menatap tajam pada ku, "Anak ini bisa tertawa lepas hanya dengan mengejek ku? Apa apaan ini! Jatuh harga diri ku di depan bocah yang baru aku nikahi ini." Pram geleng geleng kepala.


Sampai di dapur, Pram mendudukan ku dengan hati hati di kursi.


Pram membuka kulkas lalu mengambilkan air minum kemasan botol lalu membuka tutupnya dan menyodorkannya pada ku.


Aku menatapnya, Udah cakep, kadang galak tapi perhatian sih, tapi gak seru kalo langsung aku ambil minumnya, perlu di jahilin sekali lagi ini hihihi.


"Hei, ini ambil...malah melamun." Ujar Pram lagi.


Aku menggelengkan kepala ku dengan mengerucutkan bibir ku.


"Kenapa tidak mau? Tadi kata mu haus!" Pram mendudukan dirinya di kursi yang ada di sebelah ku.


"Aku tidak mau air dingin."


"Lalu maunya apa?" Tanya Pram tidak sabaran.


"Teh manis hangat." Ucap ku cepat.


"Apa?"


"Teh manis hangat." Aku mengulang lagi perkataan ku.


"Di sini tidak ada pembantu, tidak ada yang bisa membuatkannya untuk mu!" Serunya.


Jari telunjuk ku menunjuk ke arah Pram.

__ADS_1


Pram kini menunjuk jari telunjuknya pada dirinya sendiri, "Apa? Kau mau aku yang membuatkannya untuk mu?"


Aku mengangguk lagi.


Pram mendecih, "Cih, kau itu banyak maunya ya!" Pram berdiri dan berjalan menuju kitchen set, membuka pintunya dan mengambil panci kecil lalu mengisinya dengan air dari keran.


Sambil menunggu airnya mendidih, Pram mengambil dua buah cangkir dan memasukkan kantong teh ke masing masing cangkir, lalu memasukkan beberapa sendok teh gula ke dalamnya.


"Pak Pram." Aku memanggil Pram.


"Apa lagi?" Pram menoleh ke arah ku yang sedang menopang dagu dengan kedua tangan yang ada di meja.


"Gulanya satu sendok lagi!" Pinta ku.


"Ini sudah manis!"


"Di lidah ku itu kurang manis, pak." Ujar ku.


"Mau diabetes kamu, makan gula banyak banyak?" Omel Pram.


"Ihs, bilang aja pelit, takut gulanya habis!" Gerutu ku kesal.


"Pelit? Mau berapa sendok lagi?" Tanya Pram dengan memegang sendok.


"Satu sendok teh lagi, pak!" Seru ku.


"Baik lah." Pram menuangkan satu sendok teh gula pasir lagi ke dalam cangkir milik ku.


Air yang di masak Pram sudah mendidih, Pram langsung menuangkan air panasnya ke dalam cangkir secukupnya, lalu menambahkannya dengan air dari dispenser yang adem.


Matanya membulat sempurna melihat lampu yang menyala di dispensernya.


"Bodohhh, ada air panas dari dispenser kenapa juga aku memasaknya?" Gerutu Pram tapi masih bisa di dengar oleh ku.


"Ahahahhaha, pak Pram baru nyadar ya kalo bapak itu ternyata memang bodohh?" Hari ini sungguh berani aku menjahili dan mentertawakan Pram, entah dari mana ini datangnya keberanian ku.


"Berani kau mentertawai ku?" Tanya Pram.


"Mana berani." Aku menutup mulut ku dengan kedua tangan, "Tapi kan sayang kalo aku gak ketawa pak, hahahha."


Pram menaruh cangkir teh milik ku di atas meja.


"Sudah jangan tertawa, minum dulu tehnya!" Seru Pram.


Dari balik pintu dapur, sepasang mata terus mengawasi interaksi keduanya sedari tadi dengan senyum merekah.


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Hayooooo, siapa itu yang ngintip? 🤭🤭

__ADS_1


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊


No komen julid nyelekit


__ADS_2