Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Tapi gw suka


__ADS_3

...๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–...


Haikal membanting stir ke kanan, saat ada pemotor yang muncul dari arah berlawanan, lalu ia mengarah kan kembali ke jalurnya.


Brak.


Mobil yang dari tadi membuntuti mobil yang di tumpangi Pram, menghantamkan mobilnya pada bagian belakang mobil Pram dengan keras. Hingga mobil yang di kemudian Haikal, menghantam mobil yang ada di depannya.


Dengan ke mampuan yang di miliki Haikal, Haikal memanfaatkan perempatan yang ada di depannya, untuk meloloskan diri dari kejaran mobil yang ada di belakang nya.


Haikal berbelok ke kiri dan menarik gas dengan kecepatan tinggi, ia menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya. Meski itu bukan jalan untuk menuju tempat tujuannya, dan sekarang Haikal harus mengambil jalan yang cukup jauh untuk sampai ke kantor Pram.


"Bos, tidak apa apa kan?" Tanya Haikal.


"Tidak, lanjutkan saja jalan mu!" Ucap Pram.


Haikal melirikkan matanya kembali ke belakang, memastikan tidak ada lagi kendaraan yang mengikuti nya.


"Aman bos, mobil itu ke hilangan jejak kita." Ujar Haikal.


"Tetap was pada Haikal!" Ucap Pram dengan tatapan matanya yang tajam ke depan.


"Baik bos, tapi kira kira mereka siapa lagi ya, bos?" Tanya Haikal, "Apa mungkin mereka orang suruhan Tuan besar?"


"Siapa pun mereka, kita harus tetap was pada Haikal. Bisa saja yang kita anggap teman adalah lawan kita sendiri." Pram membuang nafasnya dengan kasar.


Ting.


Dreeet dreeet dreeet dreeet.


Pram mengeluarkan hapenya dari saku kemejanya, yang berada di balik jas hitamnya.


Matanya menatap tajam saat melihat notifikasi dari bank, dan ada beberapa panggilan dari Dev.


Pram lebih tertarik pada laporan dari bank dan mengabaikan panggilan tidak terjawab dari Dev, bahkan Pram tidak mencoba untuk menghubungi Dev kembali.


Notifikasi dari bank menunjukkan jika, terjadi transaksi dengan pembayaran dari salah satu kartu banknya dengan nominal yang fantastis.


Pram tertuju pada satu nama dan langsung menghubungi orang tersebut.


[ "Iya ka, ada apa?" ] Jawabnya dari sebrang sana dengan santai.


"Ada apa, ada apa, kau itu sedang belanja kebutuhan sekolah atau sedang merampok ku hah!" Tanya Pram dengan nada tinggi.


[ "Ya aku bukan hanya belanja kebutuhan sekolah ka, tapi kebutuhan ku untuk kerja kelak. Aku membeli beberapa kemeja, celana, semua kebutuhan ku untuk masuk kantor." ]


Pram mengerutkan keningnya, "Kebutuhan kantor? Kantor mana yang mau memperkerjakan orang yang belum berpengalaman seperti mu heh!" Tanya Pram dengan suaranya yang turun satu oktaf.


[ "Tentu saja kantor kaka, memang ada kantor mana lagi ka? Kaka akan mempekerjakan aku di salah satu hotel kaka kan?" ] Tebak Daren.

__ADS_1


Pram menggeleng gelengkan kepalanya, "Kita bicarakan nanti di kantor." Pram memutuskan sambungan teleponnya.


Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dasarrr bocah tengikkk, aku memang akan mempekerjakan nya di salah satu hotel ku. Tapi dia tidak akan menggunakan kemeja yang ia beli, dia akan mengenakan seragam dari kantor!


Haikal tetap melajukan mobilnya, dengan mengikuti petunjuk dari alat GPS yang terpasang di mobil, kini ia menuju gedung pencakar langit tanpa gangguan yang menghadang jalan mereka.


...๐Ÿ‚ Lobby hotel๐Ÿ‚...


Dev sudah berdiri di depan lobby hotel, tempat biasa ia menyambut bos besarnya.


Namun hingga waktu yang sudah lewat dari biasanya, mobil yang di tumpangi Pram belum juga terlihat di matanya.


Dev bahkan sudah menghubungi Dedi. Dedi bilang jika Tuan-nya Pram sudah berangkat dari kediaman seperti biasa.


Dev menghubingi Dega, tapi sayangnya Dega sedang tidak satu mobil dan mereka berbeda tujuan.


Haikal yang di hubungi pun tidak menjawab panggilan nya, Haikal tidak menyadari jika hapenya dalam mode silent.


Dev pun mencoba menghubungi nomor Nona Muda-nya.


"Mungkin Tuan sedang bersama dengan Nona, iya mungkin saja kan! Tidak ada salahnya aku coba hubungi Nona." Gumam Dev yang langsung mendiel nomor Naira.


Dua kali panggilannya tidak di jawab oleh Naira.


"Ayo dong Nona, di jawab telponnya!" Dev berjalan mondar mandir seperti teriskaan, menciba kembali untuk menghubungi Nona Muda-nya.


...๐Ÿ‚ Sekolah Naira๐Ÿ‚...


"Gak perlu, udah lo simpen aja. Kali aja nanti Elisa yang butuh itu jaket lo!" Ucap Serli dengan memaling kan wajahnya dari Juni.


Novi menyeringai, tuh kan bener tebakan gw. Juni naksir Serli. Apa perlu gw jedotin aja ya pala Serli biar ini anak nyadar, kalo Juni naksir dia.


Juni menatap nanar jaket yang ada di tangannya, apa mungkin Serli gak sudi pake jaket gw yang murah ini ya? Beda sama dia yang biasa pake barang mahal. Sadar Juni, lo suka sama anak yang berduit, sedang kan lo, siapa lo?


Naira mengerutkan keningnya dengan menatap Juni dan Serli secara bergantian, Juni kenapa sedih gitu ya, Serli juga nih, kebangetan.


Naira beranjak dari duduknya, dan tangannya merebut jaket yang ada di tangan Juni.


"Thanks ya, pasti di pake ko sama Serli." Ujarnya dengan senyum yang mengembang.


"Apaan si Nai!" Serli memicingkan matanya pada Naira.


"Udah pake aja, gw tau ko lo butuh ini!" Naira menutupi tubuh Serli dengan jaket Juni.


"Nanti gw balikin jaket lo!" Ucap Serli dengan ketus.


"Iya, kalo lo mau balik. Lo bisa bilang gw, biar gw anterin lo pulang." Ujar juni lagi.


"Iya." Jawab Serli dengan singkat.

__ADS_1


Juni kembali ke tempat duduknya dengan tangan kanannya mengepal gembira.


"Yes, jaket gw di pake juga sama Serli." Juni menoleh ke belakang, melihat Serli kembali dengan mata yang berbinar, senyum melengkung di bibirnya.


Novi mengukir senyum di bibirnya, mendapati tingkah Juni, "Pasti nubruk!" Gumam Novi yang membuat Naira dan Serli menoleh ke Novi yang duduk di belakang mereka.


"Nubruk apa?" Tanya Naira.


"Siapa yang nubruk?" Tanya Serli.


Novi menunjuk ke arah Juni yang masih menoleh ke arah Serli.


Bruk.


Juni menubruk meja yang ada di depannya. Karena pandangannya yang fokus ke belakang.


"Ngapa lo bro?" Tanya Irfan.


"Ngerem si lo!" Kedek Sopur.


"Hihihi, gak apa ko, gw gak apa apa." Ujar Juni dengan kikuk.


"Dasarrr aneh." Gumam Serli, tapi gw suka sama lo, gw maksainnn masuk sekolah, karena pengen liet lo tanding basket.


Hingga bel berbunyi, tanda pertandingan basket akan di mulai.


Tidak ada materi pelajaran di sekolah, yang ada hanya class meeting. Di mana semua kelas sedang tanding pada permainan basket, bola voli, futsal, bulu tangkis dan class meeting akan di tutup dengan penampilan mercing band, tari tarian.


Kini anak basket putra dari kelas Naira tengah tanding dengan kelas lain. Untuk menyemangati nya, anak putri ikut menonton penampilan mereka.


Di saat babak ke dua tim basket dari kelas Naira tanding, hape Naira bergetar.


Dreeet dreeet dreeet.


Dreeet dreeet dreeet.


"Hape gw kayanya getar nih. Gays gw mojok dulu ya, ada yang telpon dari tadi." Naira beranjak meninggal kan ke dua sahabatnya.


Naira menjawab panggilannya, saat ia sudah berada dari kejauhan dan keramaian.


"Pak Dev? Tumben pak Dev telpon." Gumam Naira.


"Iya pak, ada apa?"


...๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ...


......................


...๐Ÿ’– Bersambung ๐Ÿ’–...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐Ÿ˜Š


__ADS_2