Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Mengenali suara Dev


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Kening Naira mengkerut, "Apa sih yang sedang kalian bicarakan?"


Pram menoleh pada Naira dengan kening yang mengkerut, "Tidak ada!" Jawabnya datar tanpa ekspresi.


"Ihs bohong banget, aku punya telinga kali ka!" Naira menarik daun telinganya dengan kesal, menunjukkan nya pada Pram, "Nih aku punya telinga, nih liet, liet nih ka! Ada kan tuh telinganya!" Sungut Naira dengan perasaan yang dongkol.


Haikal melirik kan matanya ke arah spion mobil, melihat tingkah Nona Muda-nya yang sedang di landa keingin tahunan yang tinggi.


Haikal membatin, efek dateng bulan kali ya, jadi Nona kaya gitu!


Pletak.


Tangan Pram menjitak kepala Haikal, "Tidak usah ikut campur! Kemidikan saja mobilnya dengan benar!" Seru Pram dengan dingin.


Naira mengerutkan keningnya lagi dengan menatap heran pada Pram yang dengan ringannya menjitak kepala Haikal, "Hah? Perasaan bang Haikal gak ngomong apa apa ka!"


"Memang tidak mengatakan apa apa, hatinya yang bicara!" Seru Pram dengan santainya.


Naira menangkup pipi Pram dengan ke dua tangan mungilnya, "Kaka bisa membaca pikiran orang ya? Bisa tau isi hati orang juga? Jawab ih, malah diem aja!" Naira mencecar Pram dengan pertanyaan pertanyaan yang terlontar dari bibirnya.


Haikal melirik sekilas bosnya lewat kaca spion mobil, sebenarnya aku juga ingin tahu, bos Pram akan menjawab apa pertanyaan Nona itu ya? Ayo dong bos, di jawab, aku juga ingin mendengar jawaban mu, bos!


Pram menatap tajam Haikal yang bertemu pandang saat Haikal akan melirik dirinya kembali lewat kaca spion mobil.


Haikal memalingkan pandangannya, mampus gw, pake ke tawan lagi!


Melihat tidak ada jawaban dari Pram, membuat jiwa usil Naira menyeruak, ka Pram pasti gak akan nolak nih.


Pram mengerutkan keningnya menunggu apa yang akan Naira lakukan, apa yang mau di lakukan bocah nakalll ini!


Naira beranjak dari duduknya dan mendudukan dirinya di pangkuan Pram dengan menyamping.


Naira berkata dengan suara yang mendayu dayu, ke dua tangannya melingkar di leher Pram, "Ka Pram, beneran gak mau kasih tau aku!"


Pram menatap dingin Naira, dasarrr istri nakalll, mau menggoda ku di saat sedang datang bulan! Hem, mau menyiksaaa ku ya? Kita lihat, aku atau kau yang akan tersiksaaa!


Pram menyeringai, yang buat Naira semakin agresif untuk menggodanya.


Satu tangan Naira menggelayut manja pada leher Pram dengan jemarinya yang usil menjawil dagu Pram.


Tangan satunya dengan bergerak liar menyusuri dada bidang Pram yang berbalut kemeja dan jas.


"Ka Pram, ayo dong jangan buat aku penasaran!" Rengek Naira dengan suara yang mendayu dayu.


Telinga Haikal lagi lagi tercemar dengan suara yang Naira timbulkan saat merayu Pram.


Aiih Nona, aku geli mendengarnya!


Bugh.


Satu kaki Pram menendang kursi belakang Haikal. Ke dua tangan Pram melekat pada punggung dan perut Naira, menahan tubuh mungil istrinya saat ia menendang kursi yang sedang di duduki Haikal.


"Tuh kan, tuh kan!" Naira memicingkan matanya, menatap curiga pada Pram.


"Haikal, kita kembali ke rumah. Skejul ulang jadwal hari ini!" Seru Pram dengan suaranya yang dingin tidak ingin di bantah.


"Beres bos!" Haikal memutar kembali mobilnya menuju kediaman Pramana dengan semangat.


Naira membola,. "Kenapa kembali ke rumah ka? Kita kan mau ke kedei!"


Pram menyeringai sebelom menjawab pertanyaan Naira, "Menurut mu, kita mau apa, hem?" Pram menahan dagu Naira dan membenamkan bibirnya pada bibir merah muda Naira.

__ADS_1


Pram membiarkan Naira menyesappp bibirnya, memilinnn lidahnya, dengan gemas Naira menyesappp lidah Pram hingga dalam, bukan Pram yang ke walahan, tapi Naira sendiri yang ke walahan karena tangan Pram meremasss salah satu gunung kembar Naira.


"Emmmmhhh."


πŸ‚VillaπŸ‚


"Pergi kau dari hadapan ku!" Aji membaringkan tubuhnya dengan memunggungi Daren, dasarrr anak pungut yang tidak berguna!


Daren mengelus lengan Aji, "Maafkan perkataan Daren pah, mungkin menyinggung perasaan papah."


Tangan Aji menepis tangan Daren dari lengannya.


"Azka! Bawa ke luar anak ini! Aku tidak sudi melihatnya!" Aji mengusir Daren dari kamarnya.


Azka menunduk patuh, "Maaf Tuan Muda Kecil, biarkan Tuan besar istirahat!"


"Daren tinggal dulu ya, pah!" Daren beranjak dari duduknya di ikuti oleh Azka yang ikut ke luar dari kamar Aji.


Ceklek.


Azka menutup pintu kamar Aji.


"Ada yang perlu saya bicarakan pada Tuan Muda Kecil!" Seru Azka yang berjalan lebih dulu dari Daren.


"Baik lah." Daren melangkah mengikuti langkah kaki Azka.


Azka mendudukkan dirinya di kursi yang ada di ruang tamu, di ikuti Daren.


"Bi Nami, kau juga duduk lah!" Azka menyuruh bi Nami untuk ikut duduk.


Bi nami mengerutkan keningnya, "Ke napa dengan saya, Tuan? Tuan Azka bicara saja dengan Tuan Muda Kecil."


"Duduk lah bi, apa perlu aku melaporkan mu ke polisi dengan sikap mu yang hanya diam saja saat melihat Nyonya Widia menyakiti Nyonya Prita!" Azka mengatakannya dengan tatapan yang tajam pada bi Nami.


Bi Nami membatin dan mendudukkan dirinya di kursi, sebenarnya apa yang pak Azka ke tahui!


"Bigini Tuan Muda Kecil, pak Aji sudah menanda tangani surat pernyataan pengalihan perusahaan menjadi milik pak Pram, di tambah lagi dengan pak Pram yang memunculkan CCTV rumah lama, rekaman video yang di buat oleh dokter dan juga suster yang saat itu menangani Nyonya Prita. Semua mengarah pada bi Nami dan juga Nyonya Prita." Ujar Azka mengatakan apa yang ia luhat saat di ruang rapat.


"Apa hubungannya dengan saya, pak?" Tanya bi Nami.


"Dengan tidak langsung, bi Nami ikut andil memberikan obat yang membuat Nyonya Prita semakin memburuk keadaannya!"


"Tapi kan saya hanya di perintahkan oleh Nyonya Widia!" Bi Nami mengatakannya dengan suara yang naik satu oktaf.


"Santai saja bi! Bukannya karena bi Nami ingin menguasai harta Nyonya Prita?" Azka menyeringai.


Deg.


Bi Nami membatin, pak Azka tidak mungkin tahu, "E- enak sa- saja kalo bicara! Jangan asal nuduh ya pak!"


Daren di buat bingung dengan keadaan sekarang, dirinya menatap bergantian pak Azka dan bi Nami.


Daren membatin, siapa yang bisa aku percaya di antara ke dua orang ini? Pak Azka yang sudah bekerja lama pada papah Aji, yang juga kaki tangan papa Aji. Atau bi Nami yang hanya sekedar pelayan di villa ini?


πŸ‚Di hotel baruπŸ‚


Dev memarkirkan mobilnya di parkiran, mengenakan kaca mata hitam yang menutupi sepasang mata tajamnya sebelum ia melangkah ke luar dari dalam mobil.


Langkahnya berjalan dengan pasti memasuki lobby hotel.


"Ada apa pak Dev kembali?" Tanya Meta yang bertugas di bagian resepsionis.


"Bukannya pak Pram tadi bersamanya ya?" Tanya Melan yang sama sama berjaga di meja resepsionis.

__ADS_1


"Mana gw tau, begooo lo. Gw kan tadi tanya sama lo!" Sungut Meta.


Dev menghentikan langkah kakinya di meja resepsionis, "Kalian tahu di mana bu Sesil saat ini?" Tanya Dev pada ke dua resepsionis tanpa membuka kaca mata hitamnya.


Meta dan Melan sama sama mengerutkan keningnya, mereka saling pandang, mengabaikan sosok Dev yang sedang menunggu jawaban dari mereka.


"Ada apa dengan pak Dev yang menanyakan bu Sesil?" Meta bertanya pada Melan dengan gerakan kepalanya yang di angkat sedikit.


"Mana gw tau, mending kita tanya sama pak Dev aja langsung!" Seru Melan.


Dev mengerutkan keningnya dengan memicingkan ke dua matanya, dasarrr karyawan aneh. Di tanya bukannya menjawab malah mereka saling bertanya satu sama lain!


"Ehem ehem, kalian mau saya beri SP3!" Seru Dev dengan suara yang tegas.


Meta menjawab, "Tidak mau, pak!"


"Cepat katakan di mana bu Sesil menajer kalian yang baru saat ini berada!"


"Anu pak, bu Sesil sedang berada di ruang rapat lantai 4, Bu Sesil langsung mengadakan rapat dadakan kepala devisi yang baru di bentuk pak!" Ujar Melan.


"Terima kasih infonya!" Dev berseru dan berjalan menuju lift.


Si kotak besi yang akan membawanya ke lantai 4, tempat di mana wanitanya berada.


"Kali ini aku harus menjelaskannya pada Sesil. Kenapa juga sih pak Pram pake memberikan jabatan manajer pada Sesil! Masih banyak wanita lain yang bisa di andalkan. Kenapa harus wanita ku! Bagai mana dengan si gemoy Desi! Siapa yang akan mengasuhnya saat Sesil tidak berada di rumah!" Dev terus menggerutu seorang diri selama di dalam lift. Menumpahkan rasa kesalnya pada bosnya Pram yang sudah memberikan jabatan manajer hotel pada Sesil, istrinya.


Di ruang rapat, suasanya menyeramkan, menegangkan tampak jauh saat rapat yang sedang di pimpin oleh Sesil tengah berlangsung.


Sesil mendudukan Desi yang baru berusia 4 tahun di kursinya. Sedangkan pengasuhnya berdiri di samping Desi.


"Jadi, kalian mengerti kan apa yang saya katakan!" Tanya Sesil pada kepala devisa yang menghadiri rapat.


"Mengerti bu."


"Untuk para pekerja baru yang baru saja bergabung, bagai mana bu? Apa mereka di ikut sertakan dalam acara kali ini?" Tanya kepala devisi bagian HRD.


"Kau juga kepala HRD baru kan di tempat ini? Apa harus aku melarang mu untuk ikut serta?" Sesil menatap tajam pada wanita matang yang sedang mengajukan pertanyaan padanya.


"Maaf bu!" Serunya dengan menundukhan kepalanya.


Tok tok tok tok.


Dari arah luar pintu rapat di ketuk.


Sesil menatap tajam ke arah pintu, "Siapa yang berani mengganggu jalannya rapat!" Gumam Sesil.


Tok tok tok tok.


"Ini aku Dev!" Seru Dev dari balik pintu rapat.


"Papah!" Desi berceloteh saat mengenali suara Dev saat menyerukan namanya.


Sesil menarik sudut bibirnya ke atas menatap wajah Desi yang menggemaskan, "Masuk!" Sesil mempersilahkan Dev untuk masuk ke dalam ruang rapat.


Ceklek.


......................


...πŸ’– Bersambung πŸ’–...


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2