Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Peraturan aneh


__ADS_3

...💖💖💖...


Pak Dedi dan wanita itu membungkukkan badannya saat berada di depan pak Pram, hal itu pun di saksikan Serli.


Gila, keren banget temen papanya Naira ini! Orang hebat kali ini ya dia, sampe sampe orang harus hormat gitu


"Aku sudah mengambil keputusan, mulai saat ini, perawat ini yang akan merawat mu sampai kaki mu pulih." Ucap pak Pram tegas.


Aku di buat tercengang mendengar perkataan pak Pram, gila aja nih rubah tua, di kata gw anak kecil apa pake perawat segala!


"Perawat untuk ku? Yang benar aja, pak!"


"Iya untuk mu, siapa lagi di sini yang sakit kalo bukan diri mu, Naira!" Seru pak Pram dengan menarik sudut bibirnya.


Pak Dedi memperhatikan raut wajah pak Pram, apa aku tidak salah lihat, Tuan Muda Pram tersenyum pada Nona Naira, ini hal yang sangat langka.


Pak Pram memberi kode mata pada pak Dedi.


Pak Dedi langsung membungkukkan badannya, "Baik, Tuan Muda!" Serunya.


Ku lihat pak Pram langsung bangkit dari duduknya dan perawat itu juga bersiap dengan kursi rodanya, mereka berdua berjalan ke arah ku.


"Bapak mau apa?" Tanya ku saat pak Pram membungkuk di samping tempat ku duduk.


Dag dig dug.


Jeger jantung ku ... astaga mau lompat ini jantung ku. Ku pegang dada ku, jangan lompat ya!


Aku dapat mendengar detak jantung Naira, suaranya kencang sekali apa dia sedang nerves di saat aku dekat dengannya


.


Hap.


Pak Pram menggendong tubuh ku dan membawa ku pergi di ikuti perawat yang mendorong kursi roda.


Masa sih orang itu hanya teman dari papanya Naira? Tapi ko kayanya dia perhatian banget sama Naira, perlakuannya dia ke Naira juga gak kalah uhu, cara dia menatap Naira pun tidak kalah mencurigakan, tatapan orang yang lagi jatuh cinta.


"Naira!" Serli memanggil ku.


Gila, hampir aja aku lupa kalo di sini masih ada Serli sahabat ku.


"Pak, teman ku!" Seru ku menatap pak Pram.


"Kau!" Pak Pram menatap ke arah Serli, "Tunggu lah di sini, Naira hanya mengganti gipsnya.


"Apa aku boleh menemaninya, pak?" Tanya serli.


Pak Pram menoleh ke arah ku, sepertinya dia meminta persetujuan dari ku, aku pun mengangguk kan kepala ku dengan cepat dengan senyum yang semanis mungkin.

__ADS_1


"Baik lah."


"Yeeeeh." Aku bertepuk tangan riang.


Pak Pram menatap ku, mudah sekali membuatnya seperti ini.


Serli langsung berlari ke arah ku dan mengikuti kemana langkah pak Pram dan perawat itu berjalan.


"Boleh aku bertanya?" Tanya ku.


"Apa?" Jawab pak Pram singkat.


Irit banget sih jawabnya, aku mengerucutkan bibir ku.


"Bukannya kalo ganti gips itu di rumah sakit ya, pak? Dan harus dokter juga yang melakukan nya!" Tanya ku dengan melingkarkan ke dua tangan di leher pak Pram.


"Untuk mengganti gips bisa di lakukan oleh orang yang memiliki ke ahlian ortopedi, alias dokter ortopedi.


"Siapa nama mu?" Tanya pak Pram.


Pak Dedi langsung berdehem dengan menatap perawat itu.


"Saya Amarta, pak." Ujarnya.


"Dia itu asistennya dokter Samuel, Samuel juga yang sudah merekomendasikannya untuk merawat mu!" Seru pak Pram.


Aku tidak rela pria tengik itu sampai menyentuh sedikit pun kulit mu, jika ada wanita yang bisa melakukannya untuk mu, akan aku lakukan ... bodoh, aku harus meminta Dev untuk mencarikan dokter wanita sebagai dokter keluarga. Kenala baru terfikirkan oleh ku.


Astaga ini rumah tinggal apa rumah sakit? Isi ruangan ini lengkap banget dengan segala ke alat yang sudah pasti ada di ruang perawatan.


Serli pun takjub dengan membungkam mulutnya dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.


"Gila, pak Pram ini punya fasilitas lengkap kaya di rumah sakit, orang kaya mah ya emng bebas ya, mao kaya gimana juga." Gumam Serli.


Pak Pram membaringkan ku di atas ranjang pasien.


Pak Dedi hanya menunggu di depan pintu.


Pak Pram terus berdiri di samping kiri ku. Begitu pun dengan Serli yang berada di samping kanan ku.


Perawat itu mulai melakukan tugasnya dengan mengganti gipsnya pada kaki ku dan aku hanya diam memperhatikan perawat yang sedang mengganti gips yang ada di kaki ku


Gila Naira, lu hutang penjelasan sama gue, ini orang keren banget. Gw mao kalo di bagi modelan yang begi satu mah.


Di tempat lain.


Hotel Pelangi.


Dev tengah di sibukkan di kantor dengan segala kekacauan yang di buat Pram. Dengan seenak jidatnya Pram membatalkan semua janji, semua rapat yang akan di lakukan hari ini, semua jadwal yang sudah di buat jauh jauh hari kini jadi kacau dalam sekejap.

__ADS_1


Di tengah kesibukannya, Dev menyempatkan waktu untuk menghubungi Haikal.


Saat sambungan telponnya di angkat oleh Haikal.


"Halo!" Seru Dev.


"Iya ada apa, bos?" Tanya Haikal.


"Ada perintah dari bos."


"Apa itu?"


Patahkan satu kaki orang mu yang sudah membuat Nona Naira pincang, gara gara orang mu itu, Nona Naira jadi mengalami patah pada kaki kirinya.


"Beres beres, akan aku lakukan." Jawab Haikal dan menutup telponnya.


Beberapa saat kemudian Naira di biarkan menghabiskan waktu sorenya mengobrol dengan Serli di taman belakang dengan di dampingi perawat, Naira juga harus duduk di kursi roda, jika Naira menolak, ia tidak boleh ke luar kamar.


Peraturan aneh yang di buat oleh pak Pram membuat Naira sering kali membuang nafas kasar.


"Naira, kenapa nomor mu tidak aktif?" Tanya Serli sambil duduk di bangku taman menatap bunga yang sedang mekar.


"Hape gw sakit, minta di rawat."


"Hape lu sakit apaan, Nai?"


"Sakit hati hp gw di buat sakit." Ujar ku gemes saat mengingat wajah pak Pram saat menghancurkan hape ku dengan tangan dan kakinya.


"Sabar, Nai .. gw doain nanti lu bisa dapet ganti dari hape lu yang sakit." Ujar Serli.


"Boleh gw pinjem hape lu gak, Ser?"


Serli membola, "Buat apaan?" Tanyanya.


"Gw mau telpon seseorang."


Serli mengeluarkan hapenya dari saku seragam sekolahnya, "Nih." Menyodorkan hapenya ke arah ku.


Aku mengetikkan nomor di hapenya lalu ku tempelkan hape Serli ke telinga kanan ku.


"Ayo dong angkat, hal-."


Baru mau bilang halo, hape ada yang merebut dari tangan ku.


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊

__ADS_1


No komen julid nyelekit


__ADS_2