Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Mbah gugel


__ADS_3

...💖💖💖...


"Oke. Kalo gitu, makasih bang atas informasinya." Naira menutup panggilan teleponnya.


"Biar aku tunggu ka Pram di bawah deh!" ucap Naira pada dirinya sendiri.


Bugh.


Tubuh Naira menubruk sesuatu yang ada di depannya, saat membalikkan tubuhnya.


"Auuuhhhh hidung ku, sakit sekali!" Naira mengelusss hidungnya, dengan memperhatikan apa yang ia tubruk di depannya.


"Makanya kalo jalan itu pakai mata mu, sayang!" Pram mendorong kening Naira, dengan jari telunjuk kanannya, yang ia tempelkan pada kening Naira.


Naira menyeringi, "Ihs sejak kapan jalan itu pake mata? Jalan pake kaki lah! Kaka aja yang kenapa tiba tiba berdiri di belakang ku? Kurang kerjaan aja sih!" sungut Naira dengan mengalungkan tangannya di leher Pram, ia berjinjit kecil untuk mengecup bibir Pram.


Bersikap manis biar Pram gak aneh aneh 🤭


Tangan kiri Pram menahannn dan menekan pinggang Naira, hingga merapat pada tubuhnya, sementara tangan kanannya berada di tengkuk leher Naira, menahannya untuk lebih lama lagi membenam kan ke dua benda kenyal itu.


Pram menyesappp bibir Naira, membuka mulutnya dengan lidahnya, mengabsen setiap deretan gigi Naira, menari narikan lidahnya di dalam mulut sang istri, dengan perlahan membelittt lidahnya dengan lidah Naira, menyesappp lidah nya hingga membuat Naira hampir ke habisan nafas, melepaskannn pagutannn nya dan kembali menyesappp manisnya bubur Naira kembali.


Pram menggendong Naira, dengan ke dua kaki Naira yang melingkar di pinggang Pram. Pram menahannn bobot tubuh Naira dengan memegangi bokonggg Naira dengan tangannya kirinya.


"Kau mau ke mana, hem?" tanya Pram dengan tangan kanannya, mengangkat dagu Naira untuk menatap wajah Pram.


"Aku berniet untuk menunggu kaka di lantai bawah, tapi ternyata kaka sudah di sini!" Naira menggambar abstrak jemarinya di dada Pram.


"Benarkah? Untuk apa kau menunggu ku?" tanya Pram yang pura pura terkejut.


"Gak usah pura pura ka, aku tau ko kaka sudah lama berdiri di belakang ku!" seru Naira.


"Owh begitu ya? Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" Pram mendaratkan tubuhnya di tepian kasur, dengan Naira yang masih nyaman dalam gendongannya.


Naira menangkup wajah Pram yang mulusss tanpa celah, dengan ke dua tangannya, "Karena kaka sudah bertanya, baik lah akan aku jawab. Antar aku ke toko terdekat ka, ada yang harus aku beli." Naira memainkan alisnya naik turun.


"Ada bayarannya ya! Dan ini tidak gratis." Pram menatap dalam, gundukan kembar yang ada di balik sana, kian hari kian membusung padat.

__ADS_1


"Jangan mesummm, ka!" Naira mendekatkan bibirnya pada telinga Pram, "Sebentar aja, jangan lama lama." Naira membatu Pram, membuka kancing jas, yang masih melekat di tubuh atletis Pram.


"Mana bisa cuma sebentar, sayang? Aku mana puasss!" Pram menyelusuppp kan tangannya di balik dress Naira, menyusuri pangkal paha sang istri, hingga semakin dekat dengan kain penutupnya.


"Jangan nakal, ka!"


Beberapa menit kemudian ke duanya sudah polos, dengan posisi duduk, Pram memangku Naira dan mengarahkan miliknya memasukiii tubuh sang istri yang berada di atasnya.


"Auuuuuhhh, emmmmmhhh." Cicit Naira saat miliknya di bobolll masuk milik Pram yang meneganggg.


Ke dua tangan Pram merekat di pinggang Naira, mulai menaik turunkan sang istri, membuat si kembar menyendulll nyendulll mengikuti ritme Pram.


Pram menatap tajam puncak si kembar, aku rasa ada yang berbeda dengan puncak si kembar, warna nya lebih gelap dari biasanya, apa mungkin ini pertanda? Atau hanya pemikiran ku saja?


Pram menyesappp serta memilinnn, menggigit kecil ke dua puncak kembar Naira secara bergantian, membuat Naira melenguhhh dan erangannn kembali memenuhi ruang kamar. Sebagai bukti penyatuan ke dua nya, yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya sudah berapa kali, Pram menjamahhh Naira dalam seminggu terakhir.


Setelah 2 jam kemudian, kini ke duanya sudah berada di dalam mobil. Dengan Haikal yang seperti biasa, menjadi supir sekaligus bodyguard untuk Naira.


"Ka! Itu tokonya ka! Kenapa di lewatin gitu aja!" omel Naira saat toko yang hendak ia tuju. Di lewati begitu saja oleh Pram.


Pram bahkan tidak berniat, untuk menghentikan Haikal yang tengah mengemudi kan mobilnya, meski Haikal tampak berkali kaki melirik Tuan-nya itu lewat kaca spion mobil.


"Jalan saja terus Haikal, aku sudah mengatakan nya pada mu kan tujuan ku!" ucap Pram datar pada Haikal.


"Baik bos." jawab Haikal tanpa berani membantah.


"Emang kita mau ke mana lagi sih, ka? Kan aku cuma minta di anter ke toko, aku nih masih harus nyiapin kado lo, buat temen ku!" keluh Naira dengan menyandarkan punggungnya pada dada Pram yang bidang.


"Lihat saja, nanti juga kau akan tahu." Pram menarik sudut bibirnya ke atas, "Aku menepatin janji ku, kan!" ucap Pram kembali.


"Iya tapi ini kita mau ke mana ka? Toko yang aku tuju itu sudah terlewat jauh ka!"


Pram memiringkan tubuh Naira, menarikkk ke dua kaki jenjang Naira ke atas kursi mobil.


Pram diam seribu bahasa, menatap lekat wajah Naira, yang kian berseri di ke dua mata Pram.


Mobil yang di kemudian Haikal, memasukiii parkiran Bintaro plaza.

__ADS_1


"Ka Pram ada janji sama orang di sini?" Naira mengatakan apa yang ada di pikirannya pada Pram.


"Aku tidak ada janji dengan siapa pun di sini. Pekerjaan ku sudah selesai dengan berakhirnya meeting yang tadi aku jalani. Sekarang hanya ada waktu ku dengan mu!" Pram mengenakan kaca mata hitam, yang terselip di saku kemejanya.


Batin Pram, berdasarkan informasi yang di berikan mbah gugel, harus mengajak pasangan untuk berjalan jalan, beri ke jutan, memiliki waktu untuk bersama yang cukup, agar saat pasangan berada jauh dari ku, ia akan merasakan rindu yang teramat. Semoga saja apa yang di katakan mbah gugel itu benar adanya.


Naira mengerutkan keningnya, "Dalam rangka apa nih ka?" Tumben banget kaka ajak aku ke sini." Ceketuk Naira yang kini turun dari dalam mobil.


"Apa ini bisa di sebut dengan kencan?" Tanya Pram dengan polos.


Naira membola, "Ha?"


"Sudah, ayo jalan!" Pram menggenggam jemari Naira, menyusuri lantai, memasuki wilayah mall yang mulai menyambut ke duanya dengan dinginnya ac ruangan.


"Kau ingin beli apa, untuk teman mu itu? Bukan untuk pria kan?" tebak Pram.


"Ihs mana aku tahu... kado yang aku beli, siapa nanti yang akan mendapatkan nya. Ini kan acara tuker kado, mengkin di selingi dengan game." Pikir Naira.


"Selama di puncak, kau harus jaga makanan mu! Jangan tidur terlalu larut, jaga jarak mu dengan teman laki laki mu. Aku tidak mau mendengar atau pun melihat, kau berada dekat bersama dengan laki laki." Pram terus menggerutu, saat ke duanya menaiki eskalator menuju lantai atas.


Naira memicingkan matanya, menatap tajam Pram, "Mendengar dan melihat? Maksud ka Pram? Kan besok kaka ada acara ke Singapura kan? Kaka bukan ke puncak kan?" tanya Naira dengan penuh penekanan.


Pram tampak gagap untuk menjawab pertanyaan Naira, langkah kakinya terus membawa Naira sampai ia berhenti di restoran jepang.


"A- anu itu maksud ku, kita makan dulu yu!" Pram mengalihkan perkataannya, dengan membawa Naira masuk ke dalam restoran itu.


"Ka Pram butuh minum deh ini mah!" gumam Naira.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊

__ADS_1


__ADS_2