
...πππ...
Sedangkan Chika yang berada dalam gendongan Naira sampai menatap ke arah wajah Pram dengan bibir yang mengerucut dan pipi yang mengembung.
Chika membatin dengan matanya yang menganak sungai, paman ini jahat sekali!
"Huwaaa huwaa huwaaa." Chika menangis sejadi jadinya.
Naira di buat bingung dengan tingkah Chika, "Tadi baik baik aja!" Gumam Naira sambil menggoyang goyangkan tubuh Chika yang ada dalam gendongannya.
"Biar Chika sama bapak, neng!" Ucap si bapak tua, tangan keriputnya mengambil alih Chika dalam gendongan Naira.
"Dasarrr cengeng!" Pram mencibir Chika yang terus saja menatapnya meski tidak lagi menangis, ada apa lagi dengan bocah itu, seperti sedang mengibarkan bendera perang pada ku!
Naira bersungut saat melihat Pram dan Chika bergantian, tangannya mencubit dan melintir pinggang Pram.
"Ka Pram ihs sama anak kecil aja kaya gitu ngelietinnya!" Ucap Naira yang mengira Pram cemburu dengan Chika hingga Pram menjitak kepalanya.
"A- a-- ahhh." Pram merintih dengan tangannya yang menggenggam tangan Naira yang berada di pinggangnya.
Sedangkan anak buah Pram kini berdiri di depannya, astaga bos di mana wibawa anda, sama istri aja takut!
Pram mengerutkan keningnya dan menatap tajam bawahannya itu, tangan Pram membawa tangan Naira yang tadi mencubit pinggang nya mendekat pada bibirnya lalu bibir Pram mengecupnya.
"Persetannn dengan wibawa, jika istri ku senang... mau apa kau?" Oceh Pram dengan suaranya yang datar.
Naira di buat bingung dengan Pram yang langsung mengomel pada pria yang berdiri di hadapannya kini.
"Ka Pram ngomong apa sih?" Tanya Naira dengan polosnya.
Pria yang berada di depannya kini hanya bisa tertunduk patuh, "Maaf, bos!" Ucapnya seakan menyesel dengan perkataan batinnya yang berani mengomentari Pram.
"Antar mereka ke rumahnya masing masing!" Seru Pram yang memberikan perintah dengan mengahkan wajanya pada Angga, Rion dan Mega.
"Siap, bos." Ucapnya patuh dengan menunduk hormat.
"Kami pamit dulu, Nai, pak Pram!" Ucap Mega pada Naira dan Pram.
Angga menjabat tangan Pram, "Terima kasih pak atas bantuan nya!" Ucap Angga dengan tulus.
"Tidak usah sungkan pada ku!" Ucap Pram dengan wajarnya yang datar seiring dengan suaranya yang datar.
Pram menepuk bahu Rion dengan berkata, "Istirahat kan dulu kaki mu, jika sudah membaik baru kembali pada pekerjaan mu!"
"Ini tidak apa ko, pak. Masih bisa untuk berjalan." Ucap Rion yang berjalan dengan menyeret kakinya yang luka tertimpa puing atap kedei yang terbakar.
"Oh iya Nai, untuk kedei jadi gimana? Kedei pasti berantakan dan puing puing -----"
Pram memotong perkataan Mega pada Naira, membuat Angga, Rion, Naira dan Mega menatap ke arah Pram.
__ADS_1
"Kalian tidak perlu memikirkan soal kedei, yang terpenting saat ini, pulihkan keadaan kalian... 2 sampai 3 hari aku rasa cukup untuk kalian beristirahat di rumah. Untuk persoalan kedei, itu sudah di urus oleh orang ku!" Ucap Pram dengan serius.
Angga menepuk bahu Naira, "Gak salah lo pilih pak Pram, Nai... bener bener pria yang bisa di andalkan!" Angga memuji Pram.
Pram menatap tajam tangan Angga yang menengger si bahu Naira, "Ehem, jaga tangan mu jika tidak ingin kehilangannya!"
Angga langsung menyingkirkan tangannya dari bahu Naira, "Maaf maaf, pak!"
Pria yang akan mengantarkan ke tiganya pulang pun berdehem, "Ehem ehem."
"Ya sudah pak, tolong kabari jika ada perkembangan pada Ayu dan Novi!" Ucap Angga sebelum melangkah meninggalkan ruang di mana Ayu di rawat.
Beberapa saat kemudian.
Di dalam ruang rawat Ayu yang terdapat sofa tamu di sana lah kini Pram, Naira dan bapak tua alias Bowo tengah berunding untuk membahas masa pemulihan Ayu pasca operasi.
Chika tertidur di atas ranjang lain yang memang sengaja di sediakan untuk pak Bowo dan Chika di ruang yang sama dengan Ayu.
"Maaf pak, neng Naira... bapak jadi terus menyusahkan kalian." Ucapnya yang merasa tidak enak hati.
"Ini sudah menjadi tanggung jawab kami, pak... selaku owner kedei itu sendiri." Ucap Pram dengan tegas.
Naira menatap Pram dengan takjub, gw bangga ama lo ka, gak salah kalo lo jadi pengusaha sukses. Pasti udah banyak bangat rintangan dan masalah berat sekali pun yang udah lo hadapin ka, gw aja bingung ngadepin masalah sepelik ini. Gw juga belum tau siapa yang udah tega membakar kedei gw.
Pram tersenyum menatap Naira, tangannya menggenggam jemari Naira, "Selama ada aku di sisi mu, kau itu tidak perlu merasa bingung menghadapi masalah seperti ini!"
Naira mengerutkan keningnya, "Kaka dapat membaca pikiran ku lagi?"
"Apa bapak bisa membaca pikiran seseorang?" Tanya pak Bowo.
Tok tok tok tok.
Pintu ruang rawat Ayu di ketuk dari luar oleh seseorang.
Ceklek.
Seorang wanita dengan pakaian baby sister masuk bersama dengan dokter Samuel.
Naira menoleh ke arah Pram, "Itu bukannya seragam baby sister ya ka?"
"Iya." Jawab Pram singkat.
"Selamat malam semuanya." Ucap dokter Samuel yang lantas mendudukan dirinya di sofa dengan Pram.
Sementara suster itu hanya berdiri di tempatnya menatap yang ada di ruangan dengan tatapan canggung dengan senyum yang mengembang.
"Perkenalkan nama mu!" Ucap dokter Samuel pada suster itu.
"Nama saya Maura, Tuan... saya yang sudah di tugaskan dokter Samuel untuk mengasuh Nona Chika selama ibu Ayu dalam perawatan." Ucap Maura.
__ADS_1
Pak Bowo angkat bicara dengan raut wajah bingung, "Tapi pak dokter, jika sampai menyewa jasa baby sister untuk Chika... saya tidak sanggup untuk membayar nya, untuk makan saja saya dan Chika berganting dari gaji putri saya Ayu."
Naira menoleh ke arah Pram.
Pram ikut menatap wajah Naira seakan tahu apa yang akan di katakan Naira padanya, Pram lantas membawa kepala Naira menyandar pada dadanya yang bidang.
"Bapak tidak usah pikirkan soal biaya, saya hanya membantu apa yang bisa saya bantu untuk keluarga bapak, apa lagi Ayu ini salah satu karyawan kedei dari awal kedei itu di buka. Bukan begitu, sayang!" Pram meminta Naira untuk membenarkan perkataan nya.
"Iya pak, apa yang di katakan ka Pram itu benar. Aku rasa bapak membutuhkan tenaga bantuan untuk menjaga Chika." Naira menatap Chika yang masih terlekap.
Dokter Samuel beranjak, "Berhubung sudah selesai tugas ku di sini, aku kembali ke ruangan ku ya!"
"Thanks atas bantuan mu!" Ucap Pram.
"Sama sama."
Pram melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya, "Sepertinya kita harus kembali pulang, sayang!" Ucap Pram dengan lembut pada Naira.
Pram beranjak bersama dengan Naira, meninggalkan pak Bowo dan suster Maura.
"Saya pamit dulu ya, pak!" Ucap Pram pada pak Bowo.
"Sekali lagi terima kasih banyak ya pak, atas apa yang sudah bapak lakukan pada keluarga saya." Ucap pak Bowo dengan menitikan air mata haru, bisa bertemu dengan orang sebaik Pram.
πMenuju kediaman Pramanaπ
Naira yang sudah mengantuk kini tertidur pulas saat Pram tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sesekali Pram menoleh dan menikmati wajah polos Naira yang terlelap dengan bersandar pada sandaran kursi mobil.
Benda apa yang sebenarnya Naira simpan hingga benda itu amat berarti baginya? Kenapa hanya Novi yang mengetahui itu? Sedang kan aku tidak tahu apa apa.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Pram yang berada di saku celananya bergetar.
Ia memasangkan hendset pada telinganya untuk menjawab panggilan teleponnya.
[ "Bos, orang ku menemukan benda yang bos cari." ] Ucap Haikal yang berada di kedei.
Pram mengerutkan keningnya dan menatap Naira sepintas, akhirnya aku mendapatkan benda yang kau pikir itu berarti Nai.
"Benda apa itu?"
......................
...π Bersambung π...
...πππππ...
__ADS_1
Salam manis author gabut π
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen ππ