Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Mengancam Pramana Sudiro


__ADS_3

...💖💖💖...


"Kali ini, lo gak akan lepas dari gw!" seru seorang pria berwajah seram, menatap Naira dari kaca mobil, dengan tangan yang menggenggammm balok kayu siap di ayunkan ke kaca mobil bagian Naira duduk.


Bugh.


Plang.


Balok kayu jatuh ke tanah, saat seseorang mengayunkan kakinya dengan keras ke tangan pria sangar.


Dengan geram pria berwajah sangar membalikkan tubuhnya, dan ia langsung mendapatkan serangan tendangan di dada, membuatnya terhuyung ke belakang, dan tubuhnya terhempas ke mobil, lalu ambruk ke lantai.


Bugh bugh.


Begh.


Ke dua temannya juga mendapat kan serangan yang sama, terjadi baku hantam di ke dua kubu. Mereka saling adu ke kuatan.


Bugh bugh bugh, pak pak tak.


Dari dalam mobil, Heni membola, "Me- mereka siapa, Nai?" ke dua mata Heni melihat satu persatu. Pria berbadan sangar yang tadi menakutinya kini babak belur di pukuliii pria berbadan tegap berbaju hitam.


"Mereka orangnya ka Pram, mah." ucap Naira dengan yakin.


"A- apa? Orangnya nak Pram? Mereka tahu dari mana, jika kita dalam bahaya?" cecar Heni dengan tangan yang mencengkrammm, pinggiran kursi mobil yang ia duduki.


Naira mengerdikkan bahunya, menatap ke dua mata mamanya, "Entah lah mah, yang aku tahu... di mana pun aku berada, pengawal bayangan akan selalu bersama dengan ku, meski pun aku sendiri tidak mengetahui ke beradaan mereka. Seperti yang sekarang mama lihat."


Ke tiganya kini berhasil di bekuk, oleh pengawal bayangan. Ke dua tangan mereka berada di punggung mereka, dengan di kunci oleh pengawal bayangan.


Pram melangkah dengan pasti, meninggalkan rumah sakit. Setelah selesai menyelesaikan permasalahan dengan keluarga korban dan urusan dengan kepolisian.


Pram menyeringi, saat mendapati pengawal bayangannya. Berhasil membekuk 3 orang pria di dekat mobil, yang di dalamnya terdapat istri dan ibu mertuanya.


Rupanya aku belum bisa tenang meninggalkan Naira sendirian ya! Masih ada lagi... yang ingin mencoba mengusik ke tenangan Pram.


"Selamat malam bos!" seru salah satu pengawal bayangan, setelah membungkuk hormat pada Pram.


Pram hanya mengangguk kecil, Naira yang melihat Pram, langsung ke luar dan memeluk Pram.


"Mereka siapa, ka?" tanya Naira dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah Pram.


"Coba kau tanya mereka!" Pram membalikkan tubuh Naira, hingga Naira dapat melihat ke tiga pria yang tadinya sangar, kini berwajah bonyok karena habis di pukuliii oleh para pengawal bayangan.


Heni juga ikut turun, ke luar dari dalam mobil, berjalan menghampiri Naira dan Pram.

__ADS_1


"Apa mama baik baik saja?" tanya Pram.


"I- iya nak, mama dan Naira tidak apa apa. Untung saja ada mereka." ucap Heni, aku semakin yakin... nak Pram bisa menjaga putri ku.


Pram menyunggingkan senyum nya, "Selama ada aku, tidak akan ada yang berani menyakiti Naira, seujung kuku pun!" seru Pram dengan menatap datar sang ibu mertua.


Heni mengerutkan keningnya, kenapa aku merasa... nak Pram ini sedang menjawab perkataan ku ya? Aku kan bicara dalam hati!


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Naira dengan melangkah maju satu langkah, menatap tajam pria yang kini di pegangi pengawal bayangan.


"Kau tidak perlu tahu Nona, siapa yang menyuruh kami. Malam ini kami memang gagal dalam membawa mu pada Tuan kami, maka selanjutnya tidak akan ada kata gagal lagi, untuk rekan kami membawa mu pada Tuan kami kelak!" ucapnya dengan sinis.


Naira mengerutkan keningnya, otaknya sejenak berfikir, berarti masih ada dari mereka yang akan menculikkk ku gitu?


Naira menggeleng gelengkan kepalanya, "Enak saja kalo bicara, katakan pada ku! Siapa yang sudah menyuruh kalian? Emang kalian gak sayang, dengan nyawa kalian? Mau melakukan hal yang di luar ke inginan kalian, menyakiti orang lain!" sungut Naira dengan tangan mengepalll.


Pram menahan pergelangan tangan Naira, "Kau tidak perlu mengurusi mereka, sayang!" ucap Pram di telinga Naira.


"Kalian, bawa mereka." titah Pram.


"Siap bos!" ucap salah satu pengawal bayangan, dengan menyerettt tawanannya.


"Kalian tidak akan bisa hidup dengan tenang! Terutama kau Pramana Sudiro!" ucap pria sangar.


"Ka, apa mereka musuh kaka? Rekan bisnis kaka? Atau wanita yang pernah dekat dengan kaka?" cecar Naira saat sudah duduk di dalam mobil, sedangkan Pram sudah melajukan mobil yang ia kemudikan, meninggalkan rumah sakit.


Heni hanya mendengar kan ocehan putri dan menantunya. Ia baru akan bicara, setelah ada kesempatan untuk ia bicara. Untuk saat ini, ia akan menjadi pendengar yang baik, saat putri semata wayangnya sedang mengintrogasi suaminya Pram.


"Aku tidak tahu sayang, aku kan baru selesai menyelesaikan permasalahan kecelakaan. Saat kembali... aku malah melihat 3 orang yang sudah babak belur." ucap Pram dengan santai, dengan melirikkan matanya pada kaca spion mobil, melihat Naira yang duduk di kursi belakang.


Aku harus menyuruh Haikal, untuk menyelidiki siapa mereka... enak saja mau mengancam Pramana Sudiro, kalian yang akan lebih dulu masuk ke dalam liang lahat, sebelum kalian bisa menyentuh istri ku!


"Jika tadi aku tidak ingat pesan kaka, aku sudah ke luar itu dari mobil. Menghajar mereka satu persatu." ucap Naira dengan semangat berapi api, menunjukkan kepalannn tangannya di depan wajahnya.


"Jangan sayang, memang kamu tadi tidak lihat, itu orang mukanya nyeremin. Kalo kamu yang ke luar, entah apa yang akan terjadi dengan mu, nak!" seru Heni dengan khawatiran di wajahnya.


"Ihs mah, aku kan bisa bela diri. Aku aja pernah lo, menghajar beberapa orang yang pernah akan menculikkk ku." cerocos Naira, dengan bibir yang tidak bisa lagi di rem.


Heni begitu terkejut mendengar cerocosan putrinya, "Apa? Jadi sebelum ini, kamu juga pernah hampir di culikkk?" tanya Heni.


Naira langsung diam seketika, astaga... mati aku, jadi tadi aku keceplosan... bagai mana ini? Mama pasti akan sangat khawatir mendengarnya kan!


Heni mengguncang bahu Naira yang duduk di sampingnya, "Jawab mama sayang, apa ada yang terluka? Kenapa mereka bisa mau menculikkk mu?" satu tangan Heni menangkup wajah sang putri.


Naira melirikkan matanya pada Pram, ka Pram... bantu aku!

__ADS_1


"Ehem, mah... untuk beberapa hari ke depan, ada ke mungkinan besar akan ada surat panggilan untuk papa Atmaja, mengenai truk yang mengalami kecelakaan." terang Pram, mengalihkan perhatian Heni dari penculikan Naira.


Heni kembali duduk dengan tenang, mengajukan pertanyaan pada Pram, "Panggilan untuk papa? Apa kira kira yang akan mereka tanyai, nak Pram?"


"Seputar supir yang harusnya mengemudi, jika memang papa Atmaja terlibat di dalamnya, akan ada ke mungkinan status papa Atmaja akan menjadi tersangka!" terang Pram.


"A- apa? Papa akan menjadi tersangka?" tanya Heni dengan tergagap.


Naira langsung memeluk mamanya, "Ini gak akan mungkin terjadi kan ka? Ka Pram sudah menyelesaikan kan ka?" tanya Naira dengan tatapan yang penuh harapa pada Pram.


"Iya, aku sudah menyelesaikan nya, untuk masalah korban kecelakaan. Aku sudah mentransfer sejumlah uang pada pihak keluarga. Jadi mereka tidak akan mengajukan tuntutan." terang Pram dengan santai.


"Terima kasih banyak, nak Pram... kalo bukan nak Pram. Entah masalah ini akan jadi seperti apa." terang Heni.


"Sudah ke wajiban saya untuk membantu mama, kita kan keluarga." di belakang kemudi, Pram menyeringi.


Akan ku buat Atmaja terus tergantung pada ku! Hingga tidak ada celah bagi Atmaja, untuk menolak ke beradaan ku... untuk tetap berada di sisi Naira!


Sampai di rumah, ke tiganya turun dari mobil.


"Kalian berdua, istirahat lah... kalian juga pasti sudah sangat lelah. Sepanjang hari terus beraktivitas." ujar Heni.


"Mama juga istirahat ya! Ingat jangan lupa kasih tau papa, pelan pelan aja. Biar papa ngerti." Naira mengelusss punggung Heni, wanita yang sudah membawanya ke dunia.


"Iya, sayang!" Heni tersenyum bahagia, melihat Naira yang tampak dewasa, "Sudah... kalian naik gih! Bersih bersih dulu, baru pergi tidur!" titah Heni pada putri dan menantunya.


Pram dan Naira menaiki anak tangga, dengan tangan Naira yang melingkar di pinggang Pram.


"Love you ka Pram!" seru Naira dengan sederet gigi putihnya, yang ia perlihatkan pada Pram.


Pram hanya tersenyum, tanpa berniat untuk membalas ucapan Naira.


"Ihs jahat banget sih, bukannya di jawab gitu, malah di cuwekin! Dasarrr rubahhh gak peka, rubahhh gak romantis!" Naira mengerucut kan bibirnya, berjalan mendahului Pram.


Pram menatap punggung Naira yang berjalan meninggalkan nya, lalu mengerdikkan bahunya.


"Memang aku harus jawab apa?"


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2