
...💖💖💖...
Kruk kruk kruk.
"Perut siapa tuh bunyi?" Tanya Naira dengan menatap Pram dan yang lainnya bergantian.
Pram menggelengkan kepalanya.
Serli pun ikut menggelengkan kepalanya saat Naira menatapnya.
"Hehehehe sorry, perut gw demo minta di isi." Celetuk Novi dengan wajah merona alias malu.
"Tuh kan, nasib baik kita Nai. Dapet teraktiran dari Novi. Hahahha." Ledek Serli.
Tidak berselang lama Pram menepikan laju mobilnya di salah satu sebuah parkiran resto yang ada di pinggir jalan.
Pram melepas jas yang melekat pada tubuhnya, membiarkan kaca mata hitam menengger di matanya, tangan kemejanya ia gulung sedikit.
Naira yang memperhatikan Pram di buat mengerutkan keningnya, "Ka Pram tuh mau makan atau mau cari perhatian cewek sih?" Sindir Naira dengan bibirnya yang mengerucut, ke dua tangannya berada di pinggang, menatap tajam Pram.
"Au nih pak Pram, tadi aja udah keren. Sekarang malah tampilan nya makin keren." Ucap Novi dengan polosnya.
Prak.
Serli menggeprak lengan sahabatnya Novi yang ember bocor.
"Congorrr lo di jaga ege! Bibir Naira noh makin tajem bae majunya!" Ujar Serli.
"Kalian ribut sekali, mau makan atau mau berdebat?" Tanya Pram datar.
"Ka Pram ih, penampilannya jangan gitu!" Naira merajuk dengan ke dua tangannya yang terulur untuk membenarkan gulungan baju suaminya itu.
Serli hanya geleng geleng kepala melihat Naira, makin ke siniin makin posesif juga nih anak, nyadar gak ya kalo Naira posesif sama pak Pram.
"Kau benar Ser, makin ke sini. Nai ku ini semakin peduli dengan apa yang aku kenakan, mungkin kah itu posesif? Atau Naira sedang menunjukkan rasa cintanya pada ku?" Pram menatap lekat, wajah Naira yang tersenyum puas. Dengan lengan kemeja Pram yang kembali seperti semula tanpa di gulung.
"Widih cinta datang dengan sendirinya." Ledek Serli.
"Hahaha bucin lo pada berdua." Ledek Novi.
Naira dan Pram berseru dengan kata yang sama.
"Berisik!" Seru Naira dengan menatap sebel Novi.
Berisik!" Seru Pram dengan suaranya yang dingin.
Tos.
Serli dan Novi saling bertos ria saat mendengar seruan sepasang sejoli yang berbeda usia ini tampak kompak.
__ADS_1
Mereka berempat makan di meja yang sama, dengan hidangan yang lezat dan tampak menggugah selera.
Tampak Pram yang sesekali menyuapkan hidangan dari piringnya ke dalam mulut Naira, begitu pun sebaliknya.
Serli dan Novi menggeleng gelengkan kepalanya melihat Naira dan Pram.
Serli memainkan alisnya naik turun, "Lo nyadar gak sih, kita di sini udah berasa kaya nyamuk."
"Iya bener, gw pikir tuh gw doang. Ternyata lo juga sama, tapi kita ini nyamuk yang kalem loh, kaga nakalll kita mah." Ujar Novi dengan jailnya.
Dari meja lain, sepasang mata tajam, dengan bulu mata badai mencetar, terus menyorot ke arah Pram yang mengenakan kaca mata hitam.
Wanita itu menyeringai, siapa sih tuh cowok, udah keren, ganteng, gagah, aiih pasti isi dompetnya tebel nih, boleh lah gw deketin. Paling itu cewek cuma adiknya atau hanya sebatas sugar babynya. Gak akan ada satu pun pria yang bisa menolak belayan tangan gw! Gw akan dapetin lo cowok tampan!
Pram yang menghembuskan nafasnya dengan kasar, mendengar seruan hati wanita yang tidak berada jauh dari mejanya kini.
Pram menyeringai dengan tangan nya yang membelai lembut pipi Naira, "Ada yang ingin mencoba mendekati ku, sayang!" Ujar Pram dengan berbisik di telinga Naira.
"Coba aja, kalo berani menghadapi Naira!" Gumam Naira dengan yakin.
"Kalian lagi ngomongin apa sih?" Tanya Serli yang heran dengan tingkah ke duanya.
"Tau nih, ini semua pak Pram kan yang bakal bayar?" Tanya Novi yang kini mempermasalahkan dengan siapa yang akan membayar hidangan yang ada di atas meja.
Pram meraih gelasnya dan meminumnya.
Tak tak tak.
"Hai, Tuan. Boleh saya bergabung dengan meja anda!" Ucapnya dengan ramah namun tangannya bergerak liar di lengan Pram yang kekar.
"Apa kau tidak lihat, kursi di meja ini penuh. Masih banyak meja lain yang kosong, Nona!" Tolak Pram dengan datar tanpa memalingkan perhatiannya dari Naira.
"Sorry mbak, itu tangannya gatellll ya?" Ledek Novi dengan menunjuk tangan wanita dengan gaun dada rendah memperlihatkan gundukan kembarnya sedikit.
Dengan sikapnya yang tenang, Naira tetap menyantap makanan nya, namun hatinya bergemuruh. Ke dua tangannya tampak gatelll ingin memberi pelajaran pada wanita yang dengan berani menyentuh suaminya.
Ka Pram berani diem aja, di saat ini cewek megang tangannya, awas aja lo ka. Tidur di luar kamar, gak sudi gw tidur sekamar bareng lo ka! Mata Naira mengekor ke arah wanita yang ada di sampingnya.
Pram mengerutkan keningnya, ancaman mu benar benar mengusik otong ku, sayang!
Sreeek.
Pram menyingkirkan tangan wanita itu dengan kasar dari lengannya.
"Akkhhh, aku suka dengan pria seperti mu!" Pekik wanita yang kini menyandarkan tubuhnya pada kursi yang Pram duduki.
"Dasarrr wanita gak tau malu!" Sungut Serli.
"Kalian, anak kecil... sekolah aja yang rajin. Ini urusan ku dengan pria tampan ini!" Jemari wanita itu mendarat di bahu Pram.
__ADS_1
"Wah Nai, minta di kasih pelajaran nih cewek!" Sungut Novi dengan menggulung lengan seragamnya.
"Gak usah ngotorin tangan buat sampah gak guna." Oceh Naira dengan santai.
"Heh bocahh! Lo anggap gw sampah?" Wanita itu menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Alhamdulillah kalo situ nyadar." Ujar Naira dengan menunjukkan jari telunjuk kanannya ke arah atap yang ada di atas kepalanya.
"Apa? Berani lo kata gw ini sampah! Gw ini pemilik resto ini. Kalo pun gw mau, gw bisa usir lo dari resto ini. Dasarrr bocah bau kencur!" Sungutnya dengan kesal pada Naira.
Naira memiringkan duduknya, menatap tajam pada wanita yang mengaku pemilik restoran.
"Gak salah, pemilik resto? Tapi kelakukan mines, gak malu kalo saya viralin video embak yang berusaha merayu tunangan saya ini?" Ucap Naira dengan penuh penekanan.
"I- iya, saya pemilik resto. Anda tidak percaya kan jika saya ini pemilik restoran." Ucapnya dengan bangga namum tergagap, sial bagai mana jika pemilik aslinya tahu jika aku hanya mengaku ngaku saja.
Pram menyeringai, "Sayang, apa perlu aku hubungi pemilik resto ini?"
"Wah ngku ngaku nih si mbak!" Ledek Serli.
"Un- untuk apa di hubungi, aku ini pemiliknya! Mau apa kalian?"
Seorang pria paruh baya datang menghampiri meja Pram, "Selamat sore Nona dan Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
Novi berseru dengan kemenangan, "Ini pak, ada uler keket ganggu makan kami aja! Pake ngaku yang punya resto." Sungut Novi dengan matanya yang meremehkan si wanita.
"Maaf kan atas kelancangan putri saya ini, Tuan dan Nona. Emmmm anda Tuan Pramana Sudiro kan? Pemilik hotel bintang 5 itu? Wah suatu ke hormatan restoran ini bisa di kunjungi oleh anda pak Pram!"
Mampus gw, salah pilih mangsa.
Pram mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya dan meletakkan nya di atas meja.
Pram beranjak dengan menggenggam jemari Naira, "Anda sangat jeli dalam mengenali orang ya!" Puji Pram.
"Ah pak Pram ini bisa saja dalam memuji." Ucapnya dengan tersenyum puasss.
"Pak, tangan putri bapak itu gatelll. Jangan lupa di obatin ya!" Sindir Naira dengan melangkah meninggalkan meja di mana mereka makan.
Serli dan Novi berjalan di belakangnya.
"Anak bapak nakal tuh! Godain suami orang!" Ledek Novi pada pria yang tadi mengenali Pram.
"Apa yang sudah kamu lakukan, nak?" Tanya pria tua itu pada putrinya yang tadi mencoba mendekati Pram.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊