Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Tidak konsisten


__ADS_3

...💖💖💖...


Pram menunggu Naira, dengan mendudukan dirinya di tepian kasur, yang berada persis di depan pintu toilet, ke dua tangannya menyilang di depan dada.


"Sedang apa anak itu! Lama sekali!" Gumam Pram.


Pram melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Sudah mendekati waktu untuk meeting."


Pram beranjak dari duduknya, melangkah ke arah lemari dan mengeluarkan dress sebatas lutut, untuk di kenakan Naira nantinya.


Ceklek.


Naira mengerutkan keningnya, melihat Pram tengah memegang dress di tangannya.


Naira menatap Pram dengan nakal, "Ka Pram sedang apa? Apa yang akan kaka lakukan pada dress itu? Dress itu juga, gak akan mungkin muat lah ya di tubuh ka Pram." Ledek Naira, Naira melangkah ke arah Pram.


"Kau kenakan ini!" Pram menyerah kan dress itu pada Naira, "Aku tunggu kau di luar, ok!" Pram mengecup kening Naira, sebelum meninggalkan istrinya di dalam ruang pribadinya.


"Ihsss dasarrr suami aneh, di ledekin malah gak bales. Orang mah bilang apa kek gitu! Hidup ka Pram terlalu datar." Gerutu Naira.


Naira kembali lagi masuk ke dalam toilet, selang beberapa menit ia kembali ke luar, dengan mengena kan dress yang sudah di pilihkan oleh Pram.


"Sepatunya ganti ini aja deh."Gumamnya sendiri, dengan tangannya yang meraih heels di rak sepatu.


Naira memutar dirinya di depan cermin, "Dress yang ada di lemari ini... selalu pas dengan ukuran tubuh ku, apa ini juga selera ka Pram?" Gumam Naira.


Sementara Dev, mengetuk pintu ruang kerja bosnya, Pram.


Tok tok tok tok.


"Tuan, ini saya Dev. Apa boleh saya masuk?" Tanya Dev.


"Tumben sekali anak itu mengetuk pintu. Biasanya akan langsung masuk, tanpa mengetuknya terlebih dahulu." Pram mengenakan jas hitamnya lalu mengancingnya.


"Masuk lah, Dev!" Seru Pram.


Ceklek.


Dev masuk ke dalam ruang kerja bosnya, "Di mana Nona Muda, Tuan?" Tanya Dev saat mendapati, hanya bosnya saja yang ia lihat.


Pram menatap tajam Dev, "Kau ke sini ada perlu dengan ku, atau istri ku heh?" Tanya Pram dengan tegas.


"Maaf, Tuan." Dev hanya menunduk, pencemburu sekali Tuan Pram ini!


"Biar saja, masalah untuk mu?" Sungut Pram, "Apa kepala devisa sudah berkumpul di ruang meeting?" Tanya Pram lagi, dengan mendudukan bobot tubuhnya di sofa, sedangkan Dev berdiri di depannya yang berjarak dengan meja.


Dev melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya, "Masih ada beberapa waktu lagi Tuan, untuk memulai meeting." Ujar Dev.


Ceklak.


Naira ke luar dari ruang pribadi Pram. Membuat Pram semakin terpana di buatnya.

__ADS_1



Dev menggelengkan kepalanya, dengan menatap diri Naira yang berbalut dress putih, ini beneran Nona Naira?


"Kau benar benar cantik, Nona!" Puji Dev.


Istri ku memang selalu cantik setiap saat, malaikat ku yang tanpa sayap, yang mampu membuat ku terbang... saat berada di atas tubuhnya. Sialll, seketika otak ku traveling di atas ranjang dengan Naira.


"Ehem, kau lupa masih ada aku di sini, Dev!" Tatapan membunuhhh, langsung terpancar dari ke dua mata Pram.


"Maaf Tuan. Kita langsung jalan sekarang Tuan!" Dev mengingatkan kembali tujuannya.


Naira menghampiri Pram, "Aku beneran harus ikut nih ka?" Naira menyelipkan anak rambutnya, di balik telinganya.


"Harus lah, sekalian kau belajar memimpin rapat kepala devisi. Kau harus tau... mana kepala devisi yang bisa di pertahankan, dan mana yang harus di ganti " Pram merangkul bahu Naira dengan tangannya, membiarkan Dev berjalan di depan mereka berdua.


Langkah kaki ke tiganya memasuki lift, membawanya pada lantai lain yang berisikan beberapa ruang rapat, kantor kepala devisi dan juga ruang karyawan berdasarkan devisinya.


Naira membuang nafasnya dengan kasar, "Kira kira, rapatnya bakal berjalan lama gak ka?" Naira sedikit gugup, karena ini kali pertama bagi Naira, di ikut serta kan Pram dalam hal meeting.


"Kita lihat saja nanti ya! Tidak usah teganggg, ini tidak jauh berbeda dengan kau yang memimpin rapat di kedei." Ujar Pram.


"Enak aja kalo ngomong, ini dua hal yang jauh berbeda ka!" Naira mencubit pinggang Pram.


"Sama sayang!" Pram menggenggammm jemari Naira lalu mengecupnya.


Dev membuka pintu ruang meeting. Dan membiarkan Pram serta Naira memasuki ruang meeting terlebih dahulu.


"Selamat siang semuanya!" Ucap Pram dengan dingin.


Auranya di dalam ruang meeting seketika menjadi panasss, wajah tegang nampak pada orang orang yang menghadiri meeting, tapi kali ini ada yang berbeda. Jika biasa nya meeting akan di pimpin oleh Pram, dan Dev yang hanya berdiri. Dev siap mendepakkk orang orang yang akan lengser dari posisinya.


Kali ini Pram membawa seorang wanita muda yang cantik, anggun, namun ramah, bagi yang memantau perkembangan bisnis, akan tahu siapa itu Naira.


Wanita muda yang di gadang gadang adalah kekasih pertama Pram, berbeda dengan yang tidak tahu perkembangan. Akan menatatap Naira dengan tatapan sinis. Berpikir jika Naira, merupa kan salah satu teman ranjang untuk Tuannya, Pram.


Pram duduk di kursi pimpinan, sedangkan Naira duduk di sisi kanan Pram, setelah Dev menarik kursinya ke belakang dan membiar kan Nona Muda-nya untuk duduk.


"Sebagain dari kalian di sini, pasti sudah tahu siapa wanita yang ada di samping saya ini!" Ucap Pram dengan tangannya yang terulur ke arah Naira.


Sedangkan Dev berdiri di belakang Nona Muda-nya.


"Bukannya Nona ini adah kekasih Tuan yang pertama?" Tebak salah seorang wanita yang berusia 32 tahun, yang bernama Dewi.


"Kau tidak salah menebak bu Dewi, tapi dalam jangka waktu 3 minggu dari sekarang, kami akan meresmi kan pernikahan, dan kalian tahu kan itu maksudnya apa, hingga saya mengajaknya untuk menghadiri meeting kita kali ini!" Ucap Pram tegas.


"Waah selamat Nona, selamat pak Pram." Ucap Dewi dengan di ikuti yang lainnya meski dengan menunduk kepalanya.


"Tapi kalian jangan senang dulu! Dari beberapa kepala devisi, kenapa di sini hanya ada satu kepala devisi, yang kurang berkembang dalam penanganan nya? Apa kau menemui kendala, pak Haris?" Pram menatap pria yang paling ujung kursinya.


"Maaf pak Pram, saya sudah melakukan tugas saya semaksimal mungkin, hanya saja dana yang di berikan dalam pemeliharaan gedung amat kecil pak, mengingat sekarang semua harga serba naik." Kilah Haris dengan suaranya yang bergetar, duduknya pun tidak lagi tenang.

__ADS_1


"Rara, kau bagian accounting kan? Berapa nominal yang di berikan pada pak Haris, dalam pengelolan gedung selama satu bulan." Tanya Pram pada Rara, meski tatapannya tetap tajam mengarah pada Haris.


Rara membuka lembaran buku laporan, yang ada di hadapannya. Baru saja Rara akan menjawab, Haris lebih dulu memotong perkataan Rara.


"Sekitar delapan ---"


"Bu- bukan itu masalahnya, pak. I- itu ada ke---" Dengan wajah piasss, Haris tidak bisa berkelit, saat Pram mengangkat satu tangannya.


"Dev!" Pram berseru menyebut nama Dev.


"Baik Tuan!" Dev melangkah ke arah di mana Haris duduk.


Naira mengerutkan keningnya, menatap heran pada Dev dan suaminya, kali ini, apa yang akan ka Pram lakukan?


"Tidak apa sayang, kau tidak perlu khawatir seperti itu!" Ucap Pram dengan menyeringai.


"Kau mau tinggal kan ruang meeting ini seorang diri, atau perlu menunggu Tuan memberikan aku perintah, untuk mengusir mu?" Tanya Dev yang kini berdiri di samping kursi Haris.


"Bi- biar sa- saya ke luar sendiri, pak Dev!" Haris menyeka peluh yang ke luar dari dahinya.


"Anak pintar, kau tau kan... setelah ini harus berkata apa pada, Tuan?" Dev membantu menarik kursi Haris, saat pria itu beranjak dari duduknya.


"A- akan saya lakukan Tuan." Haris melangkah dengan langkah kaki yang berat, untuk menghampiri Pram.


"Memang apa yang sudah di lakukan, pak Haris?" Tanya Yenni, kepala devisa house keeping.


"Yang aku dengar, pak Haris menggelapkan sejumlah dana, untuk pemeliharaan gedung." Ucap Bowo, kepala devisi marketing dan sale.


Naira yang samar samar mendengarnya pun membuang nafasnya dengan kasar, apa mungkin ka Pram kurang besar memberinya gaji? Sampai ia harus korupsi dulu gitu?


"Ma- maaf pak Pram, sa- saya hilaf. Sa- saya a- akan mengembalikan uang perusahaan yang sudah saya ambil." Ucap Haris dengan suara yang bergetar, wajah yang tertunduk, kaki yang gemetar.


"Apa kau tahu Haris, kau sudah mencoreng nama baik ku di depan istri kecil ku ini!" Pram menatap hangat Naira.


Kepala devisi yang menghadiri meeting, di buat tercengang dengan pengakuan bos besarnya ini.


"Ha? Istri kecil? Jadi pak Pram dan Nona ini sudah menikah?" Celetuk Yenni.


"Iya, kalo sudah menikah... memang kenapa? Apa ada masalah dengan kalian?" Tantang Pram dengan ke dua tangan yang saling menauttt di atas meja.


"Masalahnya ya di ka Pram, pemimpin tapi mencontohkan pada anak buah... yang tidak konsisten dengan perkataan kaka!" Ejek Naira dengan melipat ke dua tangannya di depan dada.


Dev yang mendengarnya langsung menutup mulutnya dengan tangannya, menahan tawa akan pengakuan Nona Muda-nya. Anda benar benar sangat berani Nona!


Pram menelan salivanya dengan sulit, "Apa kalian sependapat, dengan apa yang di katakan istri kecil ku ini?" Tanya Pram dengan beranjak dari duduknya.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2