
...💖💖💖...
Naira di dudukkan di depan bagian kursi penumpang, sedangkan Pram yang mengemudi.
"Anda yakin, pak mau membawanya sendiri?" Tanya pak Dedi yang melihat Pram menyuruh supir untuk mundur, Pram mendudukan dirinya di belakang kemudi.
"Apa aku terlihat sedang main main?" Ucap Pram dengan serius dengan mata menatap tajam.
"Udah pak Dedi tenang aja, kan di sini ada Naira!" Seru ku dengan memasang senyum semanis mungkin.
"Kalo begitu, hati hati Tuan, Nona." Ujar pak Dedi.
Pram menatap Naira yang sudah mengenakan sabuk pengaman, ia pun melajukan mobil sedan hitam mewahnya ke luar dari pelataran rumah.
Ku tatap wajah pak Pram yang tengah mengemudi, keren banget.
"Aku tahu, aku ini keren, kaya, pintar lagi," Pram menatap sekilas dengan senyum manisnya.
"Uuuuwek, gila pak Pram dari tadi lagi kenapa dah?" Ku sentuh kening pak Pram dengan punggung tangan kanan ku sambil berkata, "Normal kok!"
Pak Pram menyingkirkan tangan kanan ku dan membawanya dalam genggamannya, "Mulai saat ini, jangan panggil aku pak!" Serunya.
Ku tatap wajah pak Pram, Dih bisa gitu, kalo bukan manggil pak, terus gw harus panggil dia apa? Paman? Om? Eyang? Embah kangkung?
"Emang kenapa kalo aku panggil anda pak? Kan memang biasanya aku ini manggil anda pak Pram?" Tanya ku keberatan.
Pak Pram menepikan laju mobilnya dan menghentikannya.
Pak Pram menggenggam ke dua tangan ku, "Aku ini suami mu kan?" Tanyanya.
Pak Pram lagi kenapa sih?
"Bapak tadi salah minum obat ya? Kan bapak sendiri yang mau aku menikah dengan bapak, kalo pun aku menolak, keluarga dan semua karyawan papa dan karyawan ku yang akan jadi korbannya kan! Bapak gak lupa itu kan?" Tanya ku lagi.
Pahit memang tapi itu lah kenyataan hingga aku kini berstatuskan istrinya, pernikahan yang di dasari atas paksaan dan bukan karena cinta, entah apa pernikahan ini akan membawa ku pada kebahagiaan atau pada luka.
__ADS_1
Jeger.
Bagai tersambar petir saat Naira mengungkit alasannya hingga Naira lah yang kini menjadi pendamping hidupnya.
Pak Pram menatap ku dengan kecewa, apa dia tidak memiliki rasa atas apa yang sudah aku lakukan selama ini untuknya?
"Intinya sekarang ini aku adalah suami mu, jika kita sedang berdua aku mau kau panggil aku sayang, tapi jika di depan umum, kau panggil aku kaka." Ujar pak Pram yang kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Emmm kaka ya, masih masuk akal lah ya, secara aku ini 17 tahun dan pak Pram 25 tahun, kita terpaut 8 tahun. Tapi pak, aku pikir bapak itu umurnya udah kepala 3 loh."
Pak Pram menatap ku tajam, "Maksudnya, kau ini mau bilang kalo aku tua? Begitu, Naira Putri Wiguna!"
"Bukan aku yang bilang, bapak sendiri yang bilang tua." Tapi emang bener juga sih, aku sering memaki mu dengan kata rubah tua kan!
"Aku sudah bilang, jangan panggil aku pak, aku tidak setua itu Naira! Aku masih muda, masih tampan, aku gagah." Ujar pak Pram membanggakan dirinya sendiri.
"Iya aja lah dari pada benjol hahahah." Aku terkikik geli melihat raut wajah pak Pram yang menahan kesal.
Ku panggil pak Pram dengan nada semanja mungkin dengan mengerlingkan mata, "Sayang, godain eneng dong! Wahahaha." Tawa ku pecah mendengar ucapan ku sendiri, mungkin karena belum terbiasa malah terkesan geli di telinga ku.
Aku kembali bicara dengan pak Pram dengan mood serius, "Bapak gak salah mau saya panggil sayang jika kita sedang berdua?" Tanya ku tegas.
"Lupa kan jika kau keberatan!" Seru pak Pram acuh. Entah kenapa aku ingin sekali marah dengan mu, tapi untuk saat ini aku masih bisa menahannya Naiar.
"Pak!" Pak Pram menatap ku nyalang.
"Maksudnya sayang." Ku usap lengannya yang berotot seraya menjinakkan rubah eror, "Maaf ya, saya suka keceplosan manggil pak, hihihi." Ku tunjukan sederet gigi putih ku pada pak Pram.
Ku tatap pinggiran jalan yang menuju kedei start, banyak mobil yang tengah terparkir.
"Tumben banyak mobil." Ujar ku heran.
Bagus, Dev dan anak buahnya bereaksi dengan sangat cepat.
Pak Pram memarkir mobilnya di parkiran depan kedei. Ia turun dari mobil dan berjalan cepat ke arah pintu mobil yang mana ada aku di dalamnya.
__ADS_1
Hap.
Pak Pram membawa ku ke dalam gendongannya memasuki kedei start yang sudah beberapa hari ini aku tinggali.
Ku lihat ada beberapa meja yang terisi dengan para pelanggan. Ada ka Ayu yang berada di kasir dan ada pula Mega, Elsa, Novi yang standby di depan.
"Naira!" Seru Mega saat melihat ku ia pun langsung menghampiri ku.
"Hai Ga!" Aku melambaikan tangan pada Mega.
Mega mengarahkan pak Pram untuk mengikutinya, "Ayo sini, Nai, pak!"
Sungut pak Pram meski hanya dalam hati, Apa? Wanita ini memanggil ku pak? Apa aku memang setua itu? Apa aku tidak pantas di panggil ka?
Mega memilihkan meja yang dekat dengan kasir dan juga dapur, tau lah Mega ini, aku kan ingin temu kangen sama anak buah ku.
Pak Pram mendudukan ku di kursi dekat dinding ia juga mendudukan dirinya di samping ku.
"Naira! Ya ampun, kamu kemana aja sih!" Seru ka Ayu yang langsung heboh sendiri dan menghampiri meja di mana ku duduk.
Tanpa aku sadari ternyata para pengunjung yang datang memberi hormat pada pak Pram meski hanya dengan menundukkan kepalanya sedikit di saat pak Pram menatap mereka.
Namun hal itu di sadari oleh Novi yang memang sedang mengantarkan minuman ke salah satu meja pengunjung.
Sambil berjalan ke arah depan, jendela kitchen untuk menaruh nampan Novi membatin, ko mereka aneh ya? Tadi pelanggan yang aku antar minuman menundukkan kepalanya dan sekarang pengunjung lainnya yang bahkan aku baru pertama kali melihat mereka datang ke sini! Apa mereka ada hubungan dengan pria yang datang bersama dengan Naira? Tapi pria itu siapa ya?
Novi menatap curiga pria yang datang bersama dengan ku, alias pak Pram lah satu satunya pria yang di curigai Novi.
Angga menyambut ku dan langsung menghampiri ku, ia memberikan sapaan akrab pada pak Pram, "Malam, pak! Sehat Nai!"
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
__ADS_1
No komen julid nyelekit